Archive for the ‘Renungan Natal’ Category
ALLAH DATANG MEMULIHKAN HIDUP MANUSIA
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Minggu- 03 Januari 2010
Hari Minggu Kedua setelah Natal
Yeremia 31:7-14 Mazmur 147:12-20 Efesus 1:3-14 Yohanes 1:1-9, 10-18
Pernahkah Anda melihat seekor elang perkasa meliuk-liuk di atas udara? Apa yang Anda pikirkan mengenai binatang yang satu ini? Tentu terlintas di pikiran bahwa sang elang adalah penguasa langit yang diberi kodrat dari Sang Pencipta untuk menjadi “raja” di udara; terbukti elang dikaruniai umur yang paling panjang jika dibandingkan saudara – saudara unggas lainnya. Seekor elang dewasa mampu bertahan hidup sampai umur 70 tahun. Namun, tahukah Anda bahwa setiap elang dewasa ketika memasuki usia ke-40 tahun harus membuat keputusan yang berat dalam hidupnya? Suatu perubahan besar menanti dan keputusan yang besar harus mampu diputuskan. Hal ini terjadi karena paruhnya tidak mampu lagi menangkap mangsa karena kepanjangan dan bengkok ke dalam hingga hampir menyentuh dada. Demikian juga dengan cakarnya yang menua, mengakibatkan sulit mencengkeram mangsanya. Hal lain yang terjadi dengan berjalannya usia adalah bertambah lebat dan berat bulu sayapnya yang mengakibatkan sang elang sulit terbang tinggi. Hanya ada dua pilihan berat yang harus dipilihnya, mati kelaparan atau menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Proses ini mengharuskan ia terbang ke atas puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan. Pertama-tama, elang harus menghantamkan paruhnya berkali-kali pada batu sampai terlepas dari mulutnya. Setelah paruh terlepas, sang elang harus menunggu sampai paruh barunya tumbuh kembali. Proses kedua, sang elang juga harus mencabut cakarnya yang menua untuk membiarkan tumbuhnya cakar yang baru. Proses terakhir adalah mencabut satu per satu bulu di sekujur tubuhnya. Inilah proses yang panjang dan menyakitkan yang harus dijalani selama lima bulan. Bagaimanapun, berkat proses inilah si elang mampu hidup 30 tahun lebih lama. ( Dari Buku Champion ).
Pertama-tama perlu kita ketahui, bahwa karya pemeliharaan yang dilakukan Tuhan atas binatang adalah melalui naluri mereka. Berbeda dengan kita, sebagai ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya di muka bumi ini. Sebab aspek kehidupan kita sangat luas sampai menyentuh bidang rohaniah, maka kita melihat hebatnya karya pemeliharaan dan pemulihan yang dilakukan oleh Tuhan. FirmanNya yang kita baca hari ini menunjukkan bagaimana Allah datang memulihkan hidup kita. Tadi kita membaca bahwa Tuhan sudah memulihkan si elang melalui nalurinya, sekarang kita juga mau melihat betapa Tuhan memulihkan kita melalui cara yang lain!
Mengapa hidup manusia perlu dipulihkan? Dari Injil Yohanes yang kita baca tadi tertulis dan tersirat lima hal yang menyebabkan mengapa manusia perlu dipulihkan.
Pertama, sebab manusia tidak percaya kepada Yesus (Yohanes 1:7b). Padahal dalam ayat yang sangat terkenal , yaitu Yohanes 3:16, dikatakan bahwa yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Bisa ditarik kesimpulan, jika manusia tidak mau mempercayaiNya maka akan binasa dan tidak memperoleh hidup yang kekal. Kita dapat membayangkan betapa hancur hati Allah melihat begitu banyak manusia yang akan mengalami kebinasaan serta tidak beroleh hidup yang kekal. Lalu, inilah yang dilakukan oleh Allah, Ia mengutus AnakNya yang tunggal Yesus Kristus sang Firman itu untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dibayang-bayangi kebinasaan!
Kedua, sebab manusia tidak mengenal Yesus (Yohanes 1:10). Dapat juga dikatakan bahwa manusia tidak mau mengenalNya. Dalam kurun waktu yang cukup, banyak orang sudah diberi kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus, tapi tetap saja tidak bersedia! Belum lagi mengenal dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus sebagai Sahabat dan Juruselamat.
Ketiga, sebab manusia tidak mau menerima Yesus (Yohanes 1:11). Padahal Yesus sudah memberikan diriNya supaya Ia menjadi milik kita! Jika manusia memiliki Yesus Kristus secara pribadi dalam hidupnya, alangkah bahagianya sebab Yesus adalah segala-galanya bagi kita. Karena tidak percaya, tidak mau mengenal, maka tidak mau menerima Yesus dan akhirnya tidak memiliki yang paling berharga dalam hidup ini. Itulah nasib buruk yang sangat menyedihkan. Supaya manusia terhindar dari keterlanjuran ini, maka Allah bermurah hati mau datang untuk memulihkan hidup manusia.
Keempat, sebab manusia tidak hidup dalam kasih (Yohanes 1:17). Hanya kasih yang dari Allah saja yang murni dan sejati, maka sangat dibutuhkan oleh semua manusia di dunia. Tapi manusia yang tidak mengutamakan persekutuan dengan Allah semakin kehilangan kasih, seperti pelita yang kehabisan minyak. Maka berangkat dari kasihNya, Yesus sang Firman yang hidup itu datang mewakili Allah untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dicabik-cabik oleh kebencian, dendam, iri, dengki dan egoisme.
Kelima, sebab manusia tidak hidup dalam kebenaran (Yohanes 1:17). Manusia lebih menyukai dosa, penyelewengan, kejahatan sehingga tidak bisa bergaul dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah sudah retak, sehingga hanya bisa diperbaiki oleh Allah. Yesus Kristus adalah sang Kebenaran (Yohanes 14:6) yang selain dapat mengajarkan kebenaran Allah juga dapat membenarkan manusia di hadapan Allah. Kita yang salah di hadapan Allah akan dianggap benar, karena Allah yang Maha Adil mau memandang Yesus sebagai wakil kita, dan menerima karyaNya untuk menebus kita.
Mengapa Yesus mempunyai kedudukan sentral dalam hidup kita? Hal itu dijelaskan dalam ayat ke-18 dengan sangat indahnya: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”
Maha Tinggi Allah menyebabkan kita tidak dapat menghampiriNya. Juga karena Allah itu Roh, maka kita tidak dapat melihatNya. Keadaan kita yang hina dina karena dosa, menyebabkan kita tidak mungkin dapat bergaul dan diperkenan oleh Allah. Tapi , tiba-tiba saja manusia tersentak oleh kejutan besar bahwa Allah sudah keluar dari “tempat persembunyianNya”. Kini Allah dapat dilihat dan diraba ( IYohanes 1:1) Yesus Sang Anak Tunggal yang berada dalam jalinan kasih kekal dengan BapaNya itu, sudah datang memperkenalkan Allah kepada kita. Di dalam Yesus maka Allah menjadi sangat dekat dengan kita, karena Ia mau memakai kemanusiaan kita. Di sini ada satu cerita mengenai Kerajaan Inggris. Konon pernah terjadi peristiwa yang sangat unik sebagai berikut: Suatu hari bertemulah Edwart putera mahkota yang masih belia waktu itu, dengan Tom Canty seorang remaja yang berasal dari keluarga miskin. Perawakan dan wajah mereka ternyata sama persis seperti pinang dibelah dua. Lalu tercetus ide gila yang disepakati oleh mereka berdua, yaitu mulai hari itu mereka bertukar pakaian dan peran. Dapat kita bayangkan alangkah nyaman hidup Tom Canty, tetapi sebaliknya Edwart sangat menderita sebab mempunyai orang tua miskin yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan yang kasar! Kebenaran dari kisah ini boleh saja meragukan, tapi jangan sekali-kali meragukan kisah lain yang tercantum di dalam Alkitab kita tentang Anak raja diatas segala raja, bahkan Anak Allah di sorga yang telah bersedia menjadi manusia biasa. Anak Allah bersedia mengenakan kemanusiaan kita, agar dapat mewakili kita dan mengangkat harkat dan status kita menjadi anak-anak Bapa yang di sorga (Matius 5:45). Dengan demikian Allah di dalam Yesus Kristus sudah melakukan pengorbanan besar untuk memulihkan hidup kita, yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu sepanjang hayat dikandung badan!
Allah Bapa ada di balik semua ini! Dalam Efesus 1:3,4 kita diajak untuk memuji-muji Allah, sebab Ia sudah merencanakan, dan mewujud nyatakan, satu berkat rohani yang sorgawi, ketika Ia mengutus Kristus Yesus kepada kita. Selanjutnya dikatakan bahwa di dalam Yesus itu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus tak bercacat di hadapanNya. Dari sini kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sangat mengasihi kita, dan merencanakan untuk selalu bersekutu dengan Dia baik di dunia maupun di sorga. Kerinduan Allah yang sangat kuat inilah yang menyebabkan Allah dalam kasihNya rela mengutus AnakNya ke dunia. Oleh korban Kristus diharapkan kita menjadi tahir, menjadi kudus tak bercacat sehingga dimungkinkan atau dipulihkan untuk bisa bergaul dengan Allah dalam sukacita sorgawi.
Roh Kudus tidak tertinggal. Ketika rencana Allah dilaksanakan oleh Kristus, maka injil keselamatan segera menjadi sangat penting untuk ditanggapi oleh umat manusia. Kalau sudah begitu karya Roh Kudus tidak boleh dilupakan oleh setiap orang (Efesus 1:13-14).
Tidak ada seorang berdosa yang bisa bertobat tanpa karya Roh Kudus. Hati kita bisa percaya kepada isi Injil hanya kalau digerakkan oleh Roh Kudus. Itu berarti Roh Kudus yang mempertemukan kita kepada Yesus Kristus. Kita tahu sekarang mengapa Roh Kudus merupakan jaminan keselamatan kita, sebab iman kita dikerjakan olehNya dan barang siapa beriman maka pasti diselamatkan.
Keberadaan sebagai umat Tuhan juga penting! Kecenderungan kita yang pantas adalah memandang Tuhan sebagai yang terpenting dan terutama, tapi jangan sampai lalu mengabaikan keberadaan kita sebagai umat Tuhan! Sebab Tuhan dari dulu sampai sekarang juga memandang kita sebagai umatNya yang penting, sampai hidup kita yang sudah rusak dipulihkanNya. Dan itu dikerjakan melalui pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. Dalam Yermia 31 tadi kita dapat merasakan betapa besar perhatian Tuhan terhadap umatNya. Tuhanlah yang berinisiatif untuk membebaskan umatNya dari tanah pembuangan, karena mau memulihkan hidup mereka. Tuhan bersedia hadir di Sion, supaya umatnya bersorak-sorai dan berseri-seri karena kebajikanNya. Tuhan berjanji akan melimpahkan berkat-berkat gandum, anggur, minyak serta mengubah perkabungan menjadi kegirangan. Dari dulu dan selalu Allah memikirkan kebaikan untuk kita, sampai kita bisa merasa sangat terharu jika melihat hidup kita selama ini yang dilimpahi kasih sayang. Maka berdosa besar jika kita sampai berani menghina Tuhan dengan pikiran kita bahwa kuasaNya terbatas, kasihNya merosot, keadilanNya tidak terbukti, kesetiaanNya diragukan. Bersama Pemazmur 147:5,6 mari kita mengakui kebesaran , kekuatan, dan kebijaksanaanNya, serta menegakkan kembali orang-orang yang tertindas!
KETAATAN MEMBAWA SUKACITA
Mikha 5:2-5a Lukas 1:47-55 Ibrani 10:5-10 Lukas 1:39-45
Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:
Tinggal sertaku, hari t’lah senja,
G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!
Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )
Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.
Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu, Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:
Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.
Kedua : Karena keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !
Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.
Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!” Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya. Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!
Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri tanpa menunggu
perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan. Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20 ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu. Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!
Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang dikatakan sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah Raja eschatologis, dan Raja damai.
Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!
Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Jawaban Doa
“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)
Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.
Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.
Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.
Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]
SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.
Ketaatan Maria
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)
Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.
Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]
SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.
Persembahan Raja
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)
Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.
Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.
Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.
Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]
SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.
Jangan Menahan Kebaikan
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)
Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.
Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?
Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!
Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].
SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.
Biasa, Diubah Jadi Luarbiasa
“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)
Phillips Brooks, adalah seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem, tahun 1865. Tiga tahun kemudian, saat menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.
Brooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.
Dalam syair itu dikatakan bahwa Betlehem adalah kota yang senyap. Hal itu beralasan, karena Betlehem adalah kota yang kecil. Dia kalah gemerlap dengan kota Yerusalem. Meski begitu, Allah lebih memilih “kota mungil” ini sebagai kelahiran Juruselamat.
Apakah Anda merasa seperti kota Betlehem? Kecil, sepi, tidak gemerlap dan tidak banyak orang yang memperhatikan. Ketahuilah, Allah tidak memedulikan penampilan dan kemampuan kita. Allah hanya menghendaki kemauan kita untuk dipakai-Nya. Bukanlah Allah itu Mahakuasa? Dia mampu mengubah orang-orang biasa seperti Petrus dkk menjadi rasul yang luarbiasa. Dia pun sanggup memerlengkapi kita sesuai dengan kebutuhan panggilan pelayanan-Nya [Purnawan].
SMS from God: Kecil bukan berarti tidak berharga. Allah mampu mengubah kita menjadi besar asalkan kita memberikan diri secara total.
Berkat
Bacaan: Yohanes 1: 1-18
DAVID adalah anak seorang pengusaha yang terkenal. Ayahnya bijak dan penuh kasih. Pada suatu hari ia ingin menghitung berapa banyak yang telah diberikan Ayahnya kepadanya: “Sejak lahir aku dipelihara dan diberi perhatian,” kata David kepada dirinya sendiri, “Saat aku sakit Ayah selalu menjaga dan merawat aku dengan sabar. Ketika aku disakiti temanku, Ayah menghiburku. Ketika dalam kesulitan, Ayah memberikan bimbingan. Saat aku menginjak dewasa, Ayah mulai memikirkan masa depanku. Dia mencarikan pendidikan yang terbaik dan menyiapkan rumah. Tapi aku sering tidak puas dengan apa yang sudah dia berikan. Aku sering kecewa ketika ia tidak sama pendapatnya denganku.” Akhirnya David tidak dapat menghitung lagi berapa banyak yang telah diberikan oleh ayahnya. Akhirnya David berjanji akan menceritakan kebaikan ayahnya, menaati ayahnya dan berusaha memberikan yang terbaik kepadanya. Apakah kita pernah menghitung berapa banyak berkat yang telah kita peroleh dari Bapa kita di Sorga? Kita tidak mungkin dapat menghitungnya lagi? Atau mungkin kita tidak sempat menghitungnya karena sudah melupakannya. Apakah kita sudah menceritakan kebaikan Bapa kita dalam kehidupan kita sehari-hari? Atau kita masih belum puas dengan apa yang telah diberikan-Nya pada kita? Marilah kita melangkah pada tahun baru dengan keyakinan, “Sampai di sini Allah sudah menyertai saya, Eben Ezer. Maka Allah pasti akan menyertai saya di tahun depan.” BERAPA BANYAK KELIMPAHAN RAHMAT TUHAN YANG TELAH KITA TERIMA SELAMA TAHUN INI?
Pertumbuhan
Bacaan: Lukas 2: 36-40 dan I Yohanes 2: 12-17 SETIAP orangtua akan berbangga hati jika anaknya bertumbuh dewa sa dan makin terampil dalam berbagai hal. Bangga karena anaknya makin pandai memainkan piano; bangga karena tahu mengucapkan salam; bangga karena anaknya makin pandai menggambar. Dalam bacaan hari ini, kita melihat sukacita Maria dan Yusuf yang melihat pertumbuhan yang dialami Yesus. Untuk mengalami pertumbuhan kita memerlukan makanan, kesehatan dan kemauan untuk bertumbuh. Untuk mengalami pertumbuhan rohani, kita membutuhkan makanan rohani yaitu firman Tuhan. Kita juga membutuhkan kuasa Tuhan untuk menghilangkan penyakit-penyakit yang ada dalam kerohanian kita. Di samping itu, kita harus punya kemauan meninggalkan kehidupan yang lama dan meneladani Yesus. Dalam bacaan hari ini disebutkan bahwa anak-anak, bapa-bapa, orang muda, dan semua umat tebusannya harus meninggalkan keduniawian. Itu artinya. bukan hanya anak-anak saja yang dapat bertumbuh melainkan kita semua perlu mengalami pertumbuhan dalam iman. Bagaimana dengan pertumbuhan iman Anda? Apakah Anda telah menjadi kebanggaan dan sukacita Bapa kita? Marilah mulai memperhatikan kehidupan rohani. Kita harus memberikan makanan kepada rohani kita dengan setiap hari merenungkan firman Tuhan. Sudahkah Anda menjaga kesehatan rohani dengan menghilangkan sakit hati dendam iri hari dan kepahitan? Apakah Anda punya kemauan bertumbuh dewasa dalam iman? ANAK ITU BERTAMBAH BESAR DAN KUAT, PENUH HIKMAT DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADANYA
Cita-cita
Bacaan:
Lukas 2: 22-35
SETIAP orang tua tentu mempunyai cita-cita. Orang tua merasa akan puas hidupnya apabila bisa melihat anaknya di wisuda Sarjana, syukur-syukur Doktor. Ada orang yang merasa puas apabila telah menikahkan anaknya yang bungsu. Kalau yang bungsu sudah menikah, nah rasanya hidup sudah penuh, Syukur-syukur orang tua itu masih boleh menimang cucu yang lucu-lucu.
Pada Injil hari ini, kita memperoleh teladan orang tua yang hebat, yaitu Simeon. Simeon itu orang suci, orang benar, dan saleh. Hidupnya hanya dibaktikan bagi satu cita-cita, yaitu boleh melihat sang Penebus, sang Penyelamat umat manusia. Ia memohon kepada Tuhan agar sebelum matanya tertutup selama-lamanya ia diperkenankan melihat Mesias.
Dan, Allah mengabulkan doa Simeon. Setelah ia melihat Yesus, bahkan menatang-Nya, ia berani berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera!”
Dengan kata lain, Simeon sudah puas, cita-citanya telah terpenuhi karena telah menyaksikan kehadiran sang Penebus umat manusia.
Apa yang paling membuat Anda merasa puas dalam hidup? Apa sebenarnya kerinduan Anda? Apa cita-cita Anda? Kalau cita-cita dan kerinduan itu hanya seputar keberhasilan dan prestasi keluarga atau anak, jabatan, posisi dalam masyarakat, maka kita ini belum sungguh sesuai dengan sabda Tuhan. Marilah kita meneladani Simeon yang meletakkan kepuasan, kerinduan, dan kepenuhan hidup kepada kedatangan Kristus sendiri dalam hidup kita, baik hari ini, besok, maupun saat kematian kita nanti.
MANAKAH KERINDUAN HIDUP KITA YANG SESUNGGUHNYA?
ANUGERAH BAGI YANG MENCARI- NYA
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya.
Renungan Minggu, 4 Januari 2009
Yesaya 60:1-6 Mazmur 72:1-7 Efesus 3:1-12 Matius 2:1-12
Apakah Saudara mempunyai perasaan seperti saya, bahwa pengalaman rohani dari umat Tuhan zaman dulu , dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah merupakan pengalaman kita juga? Setidaknya, ada kemiripannya. Saya kira hal ini sangat penting, sebab sekiranya kita tidak berada di dalam pengalaman dan kehidupan mereka, sekiranya kita tidak bisa menyatu dengan mereka sebagai keluarga besar umat Tuhan, maka pemberitaan firman Tuhan dalam Alkitab hanyalah merupakan pemaparan sejarah semata, dan maksud serta harapan Tuhan dengan demikian tidak tercapai! Sekarang mari kita cermati Firman Tuhan yang sudah kita baca tadi, yang menyangkut anugerah Tuhan.
Pertama: Anugerah Tuhan Untuk Menjadi Terang. Yesaya 60 yang kita baca tadi melukiskan keadaan umat Tuhan sesudah pulang dari Pembuangan Babil. Ke depan mereka pasti mengharapkan banyak hal, tapi harapan mereka sebagai umat Tuhan haruslah bisa selaras dengan harapan Tuhan atas mereka.Yang seperti ini penting untuk kita Saudara, sebab memasuki Tahun Baru biasanya kita mempunyai sekeranjang harapan, dan semua itu langsung saja kita pohonkan perwujudannya kepada Tuhan. Seolah kita tidak mau menyediakan ruang dan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan harapanNya atas kita. Karena Tuhan adalah sumber terang dan Ia adalah Terang yang kekal, maka di sini kita melihat betapa Tuhan menghendaki agar umatNya juga menjadi terang. Dan untuk itu harus ada kebangkitan, kesadaran dan upaya. Maka firman Tuhan: Bangkitlah! Saudara, ini memang perintah, namun mengandung anugerah.UmatNya, termasuk kita semua disuruh bangkit, disuruh menjadi terang, berarti diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi kepanjangan tangan bagi berkat yang akan dipancarkan Tuhan ke seluruh dunia. Ingatlah sabda Tuhan Yesus di Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia”.Bukankah ini merupakan anugerah yang sangat berarti dari Tuhan, jika kita di jadikan terang dan dapat menerangi kehidupan banyak orang serta mendatangkan kehangatan, penyuluhan dan suksacita. Kalau begitu anugerah Tuhan telah memunculkan kebahagiaan.Tapi apakah itu “kebahagiaan”? Aristoteles Filsuf Yunani yang hidup 300M berujar:”Kebahagiaan adakah penggunaan semua kemungkinan dalam diri seseorang untuk kebahagiaan orang lain.” Saudara, sesungguhnya kita mempunyai banyak kemampuan dan kesempatan yang belum kita kembangkan bagi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.Biasanya hal itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Ada cerita tentang orang kaya yang menerima telpun dari Pak Camat, mengharap bantuannya karena di wilayah itu ada kebakaran. Si kaya tidak mau turun tangan sebab ia sibuk mengawasi tukang-tukang yang sedang memugar gedungnya. Sesudah pekerjaan di rumahnya rampung, barulah ia keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut sebab melihat kenyataan bahwa semua penduduk desanya sudah pergi mengungsi ke lain daerah.Dengan demikian tinggal dia seorang yang masih tertinggal dengan gedung megahnya. Tiba-tiba dia merasa seperti sedang dikucilkan dan dihukum oleh masyarakat!
Ke dua: Anugerah Tuhan Melalui Kehadiran Anak Raja. Apa yang kita jumpai dalam Mazmur 72 tadi Saudara? Harapan umat Tuhan kepada raja dan kepada anak raja, atau raja yang baru sebagai penggantinya. Untuk raja yang baru, di harapakan agar memerintah dengan adil.Di sini muncul harapan lahirnya “Raja Adil”.Bicara tentang “Raja Adil” saya lalu ingat sebuah cerita tentang seorang raja Persia pada zaman dulu. Seorang raja yang suka berincognito atau menyamar menjadi rakyat biasa dan bergaul dengan lapisan masyarakat yang paling bawah, agar dapat memerintah dengan adil .Suatu ketika raja Persia yang satu ini tinggal bersama keluarga miskin di sebuah gudang kosong di bawah tanah.Karena sudah terjalin hubungan yang akrab maka ia tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya, ia berterus terang mengenai jati dirinya dan mempersilahkan kepala keluarga miskin itu untuk mengajukan permohonan yang pasti akan dipenuhinya. Yang menarik dari kisah ini adalah ketika kepala keluarga yang miskin itu tidak mau memohon apa pun juga.Ia hanya menyampaikan kekaguman serta keharuan hatinya, demikian:”Baginda telah rela meninggalkan istana untuk tinggal di tempat kumuh ini.Sudi makan seadanya bersama kami sekeluarga.Baginda telah membawa kegembiraan besar bagi kami.Baginda telah memberikan diri Anda dan semua ini sudah lebih dari cukup, bahkan merupakan anugerah bagi kami semua!” Saudara, di sini kita bisa belajar tentang anugerah, yaitu tatkala harkat kita sebagai manusia dihargai oleh sesama dan penguasa hidup kita! Raja adil yang didambakam dalam Mazmur 72 tadi jika benar-benar muncul maka merupakan anugerah besar bagi seluruh rakyat.Jika raja memerintah dengan adil, memberantas penindasan, orang miskin diperhatikan nasibnya, tentu dengan sendirinya muncul kemakmuran . Juga dikatakan damai sejahtera akan berlimpah!Apa yang diungkap di sini, termasuk cerita tentang raja Persia tadi sepertinya mengajak kita untuk memperhatikan Yesus Kristus, raja di atas segala raja itu. Semua hal yang baik dan yang terbaik yang dimiliki oleh seorang raja, ada pada Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita merupakan anugerah yang sangat besar yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu di sepanjang hayat!
Ke tiga: Anugerah Tuhan Berupa Jalan Masuk Bagi Siapa Saja. Dalam Efesus 3 yang kita baca tadi ditekankan sebagai kejutan besar bahwa Tuhan sudah membuka lebar- lebar jalan untuk memasuki keselamatanNya, tanpa memandang yang hina maupun yang non Yahudi. Dalam Alkitab kita dapat melihat keberpihakan Tuhan kepada mereka yang diremehkan oleh sesamanya. Dimulai dengan Habil, Yusuf, Daud, para nelayan, janda miskin, anak-anak kecil, orang-orang kusta , Bartimeus dan seterusnya. Tapi jika Tuhan kemudian juga berpihak kepada Saulus atau Paulus, maka itu adalah suatu anugerah yang luar biasa. Paulus yang sepantasnya ditolak, malah diberi jalan masuk. Paulus yang seharusnya dihukum berat karena menjadi “penganiaya Kristus” malah dijadikan teman sekerja Allah yang dipercayai untuk menyebarkan injil Kerajaan Allah. Akal sehat kita tak mampu memahami rencana dan cara kerja Tuhan. Emosi kita cepat membutakan mata untuk melihat betapa konsekuen Tuhan terhadap pelajaranNya, bahwa kita harus bisa mendoakan dan mengasihi musuh. Tahulah kita sekarang mengapa Tuhan merangkul Paulus yang merasa paling hina itu, karena mempunyai rencana besar melalui hambaNya ini untuk dapat merangkul sebanyak mungkin orang yang merasa tidak layak, termasuk mereka yang non Yahudi.Hidup dekat dengan Tuhan membuat kita sadar bahwa kita semua sedang tinggal bersama di dalam sebuah rumah besar yang bernama dunia. Dalam Rumah Dunia yang dianugerahkan Tuhan ini semua bangsa dipanggil untuk hidup damai sejahtera dalam Yesus Kristus.Itulah tujuan akhir Tuhan di dunia ini, supaya dapat dilanjutkan di Rumah Tuhan yang mulia di surga! Jadi pada dasarnya kerinduan hati Tuhan adalah agar semua manusia di dunia beroleh selamat dan hidup kekal (Yohanes 3:l6}.
Ke empat: Anugerah Bagi Yang Mencari. Pencarian orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, sungguh sangat menarik. Kisah itu sudah kita kenal semenjak kita masih kecil. Sekarang kita mau memahaminya sebagai sebuah kisah yang menyentuh hati dan menggugah semangat. Pencarian mereka bertolak dari keyakinan hati yang sangat mendalam dan mantap. Pencarian mereka disertai kesedian besar untuk menghadapi segala bentuk tantangan dan resiko.Tapi pencarian mereka juga merupakan anugerah dari Tuhan sebab ada pendampingan dan pengarahan Tuhan, terutama sekali juga ada hasil besar yang mereka raih, yaitu perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus yang kelahiranNya dihiasi dengan bintang-bintang di agkasa! Pelajaran apa yang dapat kita tangkap dari pencarian orang-orang majus ini? Pertama: Niat baik harus ditopang dengan usaha dan cara yang baik pula. Ke dua: Selalu akan ada campurtangan Tuhan untuk setiap kegiatan manusia jika dapat menunjang rencanaNya. Ke tiga: Yesus hadir bagi yang miskin atau kaya, yang buta huruf maupun yang cendekiawan, yang dekat atau jauh, yang menarik diri maupun lebih-lebih yang sedang mencari Dia.
Apakah Saudara pernah mendengar bahwa dalam perjalanan orang-orang majus itu, mereka sempat bertemu seseorang yang sangat tertarik untuk bergabung dengan mereka. Rombongan orang majus juga tidak berkeberatan bahkan dengan tulus mengajak orang itu untuk bersama-sama mencari dan menyembah anak raja yang baru lahir itu., namun pada saat terakhir ia membatalkan niatnya! Cerita tambahan seperti ini tentu saja tidak tertulis dalam Alkitab, tapi rasanya cocok juga untuk mengingatkan banyak orang yang masih ragu-ragu menemui dan menyembah Yesus.Bahkan cocok juga untuk mendorong kita yang sudah beriman kepada Yesus Kristus, namun sangat minim dalam kiprah pelayanan sampai akhirnya kontribusi kita dalam pengembangan Kerajaan Allah juga tidak seberapa.
Keluarga
Bacaan:
Lukas 2: 22.39-40
DI ZAMAN modern ini, di kota-kota besar, muncul kelompok-kelompok yang menggunakan istilah “keluarga”. Misalnya, Ikatan Keluarga Trah Ponco Wiryodinoto (berdasarkan keturunan); Ikatan Keluarga Sumatera Utara (berdasar etnis dan asal usul); Ikatan Keluarga alumni SMA Negeri 109 (berdasar tempat pendidikan); Ikatan Keluarga Bank “X”(berdasar bidang dan tempat kerja). Di tengah gejala hidup individualisme, masyarakat perkotaan ternyata membutuhkan suasana pemersatu yang memberi tempat untuk berkomunitas. Kata “keluarga” diperluas dari ikatan darah/keturunan menjadi ikatan yang membentuk persaudaraan layaknya satu keluarga.
Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan dan merupakan satu keluarga. Dari segi iman kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta segala bangsa. Allah menjadi Bapa semua orang. Secara lebih jelas tegas Yesus mengajarkan doa yang dimulai dengan kata-kata: “Bapa kami yang ada di surga”. Melalui penjelmaan-Nya, Yesus hadir di tengah-tengah keluarga bangsa manusia.
Maria dan Yusuf menjadi ibu dan bapa Yesus. Keluarga kudus Nazaret ini menunjukkan hubungan kekeluargaan yang tidak hanya berdimensi kemanusiaan, tetapi juga berdimensi ilahi. Yesus menegaskan siapa saja yang menjadi anggota keluarga-Nya, “ Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, adalah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”(Matius 12:50). Inilah makna keluarga dari sudut pandang iman.
SEMOGA PESTA KELUARGA KUDUS SEMAKIN MEMPERERAT
KEKELUARGAAN KITA
Refleksi
Bacaan:
I Yohanes 1:1-4
SEORANG guru meminta para murid kelas 3 SMU untuk menulis 5 kelebihan dan 5 kekurangan dari teman sebangkunya. Keesokan harinya sang guru membacakan daftar kelebihan dan kekurangan itu. Para murid menanggapinya dengan beragam.
Ada yang tersenyum; ada yang berbisik-bisik: ”Aku tidak tahu bahwa ternyata aku berarti bagi orang lain.” Para murid merasa sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lain. Mereka belajar memahami kelebihan dan kekurang di dalam diri mereka.
Beberapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di Vietnam. Sang guru menghadiri pemakaman bekas murid itu. Seorang tentara menghampiri guru itu dan bertanya,”Apakah Anda guru matematika Mark?” Sang guru menggangguk. Tentara itu lalu berkata,“Mark banyak membicarakan tentang Anda”
Selesai pemakaman, bekas teman-teman sekelas Mark dan sang guru menemui orangtua Mark. “Kami akan memperlihatkan sesuatu pada Anda,” kata ayah Mark sambil mengambil dompet dari sakunya.
Dompet itu dibawa Mark ketika ia tewas. Sang guru langsung mengenali itu adalah kertas daftar kelebihan dan kekurangan yang pernah dibuatnya. Sang guru menangis terharu.
Lima hari lagi kita akan memasuki tahun baru 2009. Saatnya bagi kita melihat dan kekurangan kita. Kita perlu berhenti sejenak, merenungkan dan berdoa meminta penyertaan Tuhan.
INILAH SAAT ANDA UNTUK BERHENTI DAN MELIHAT DIRI
Waspada
Bacaan:
Matius 10:17-22
TANGGAL 20 Oktober 2008 dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Klaten dengan KA Sancaka pagi saya mengobrol-ngobrol dengan Bapak sebelah tempat duduk saya. Kami mengobrolkan berita di koran. Sekarang pembunuhan, kejahatan ada dimana-mana. Bila kita rajin membaca koran, mendengar radio, TV, kita akan mendapat banyak informasi mengenai banyak hal yang terjadi dalam jagat raya ini.
Genaplah firman Tuhan supaya waspada terhadap segala sesuatu. Kata “waspada” dalam bahasa Yunani adalah “blepete” yang artinya “lihatlah, perhatikanlah, perdulikanlah.”
Firman Tuhan mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak selalu nyaman, indah, dan tenteram, tetapi juga terdapat penderitaan, penganiayaan, penghambatan, dan penyiksaan. Dunia akan mengalami pelbagai pergolakan yang membawa manusia ke dalam kesukaran hidup.
Kegentingan dunia hari-hari ini terjadi karena manusia lebih mementingkan persoalan pribadi daripada menemukan kehendak Bapa. Tanda bahaya sudah ditiup tetapi banyak orang tidak mendengar isyarat ini.
Waspadalah, jika penganiayaan itu terjadi kita tidak perlu khawatir karena Allah akan mengaruniakan Roh-Nya untuk menguatkan kita. Siapa yang waspada dan berjaga-jaga dan yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT
Hadiah
Bacaan:
Yohanes 1:1-5, 9-14
SEPANJANG sejarah, orang terkenal sering mengalami kesulitan dalam memilih hadiah. Ratu Victoria jelas sangat putus asa ketika, memberikan gunung Kilimanjaro kepada Kaisar Wilhem sebagai hadiah ulang tahun. Ada juga Cleopatra yang memberikan dirinya kepada Caesar terbungkus dalam permadani.
“Waktu” merupakan salah satu hadiah yang penting. Hadiah yang sebenarnya dari orang Majus kepada Yesus bukan hanya mur, emas, dan kemenyan saja, tetapi waktu dan jerih payah membawa hadiah. Itulah yang menjadi hadiah utamanya.
Injil Yohanes 1:1-5, 9-14 mengatakan bahwa Firman dari Allah adalah perwujudan dari Kristus itu sendiri. Kristus sendiri telah menjadi manusia dan berada di tengah-tengah dunia ini. Bahkan Dia telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosa manusia.
Maka dalam hari Natal ini kita diajak untuk mengenang dan bersyukur, karena saat inilah Juru Selamat lahir ke dunia.
Saran bingkisan Natal:
Untuk musuhmu, maaf.
Untuk seorang lawan, toleransi.
Untuk seorang teman, hatimu.
Untuk seorang pelanggan, pelayanan.
Untuk semua, kemurahan hati.
Untuk setiap anak, contoh yang baik.
Untuk dirimu sendiri, rasa hormat.
SELAMAT HARI NATAL, BERKAT TUHAN MELIMPAH UNTUK ANDA SEKELUARGA DAN KOMUNITAS ANDA
Sinar
Bacaan:
Lukas 1:1:67-79
TAHUKAH Anda, bahwa tanpa Thomas Alva Edison, malam Natal ini mungkin tidak akan segemerlap sekarang. Siapa dia? Thomas Alva Edison adalah penemu lampu pijar. Dialah orang yang membuat dunia ini bersinar untuk pertama kalinya. Dibutuhkan lebih dari 1000 kali kegagalan terlebih dahulu sebelum akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah lampu. Dunia bersinar berkat Thomas Alva Edison.
Jauh sebelum Thomas Alva Edison menerangi dunia ini, Yesus telah lahir untuk menerangi hati kita. Lukas 1:67- 79, berisi tentang Zakharia yang dalam naungan Roh Kudus ingin memberitahukan tentang kedatangan sang Juruselamat. Seperti sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan bumi, begitulah Allah datang (ay 78).
Dengan sinar,Allah datang untuk menerangi mereka yang ada dalam kegelapan (ay 79). Sinar yang terang akan membebaskan kita dari kegelapan (ay 68-74). Yesus akan membebaskan kita dari dosa yang kita lakukan.
Pohon jeruk akan bertunas jika mendapatkan sinar matahari. Perlahan-lahan dia akan tumbuh besar dan menghasilkan buah jeruk yang menyehatkan manusia.
Kita adalah orang-orang yang mendapat sinar terang Allah. Selayaknya kita pun berbuah dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Sudahkah kita berbuah bagi sekeliling kita?
ALLAH MENGUNJUNGI KITA LAKSANA FAJAR CEMERLANG
DALAM NAMA YESUS KITA SAMBUT TAHUN BARU
Bilangan 6:22-27 Mazmur 8 Filipi 2:5-13 Lukas 2:15-21
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Tahun Baru 1 Januari 2009
Ada kisah tentang sebuah nama yang dilupakan.Terjadi dalam suatu temu kangen siswa SMU.Ketika mantan Kepala sekolah yang menjadi guru favorit para siswa muncul,maka secara spontan mendapat sambutan yang sangat hangat disertai tepuk tangan yang meriah.Bapak Kepala sekolah yang terkenal sangat perhatian kepada para siswanya itu langsung saja digojlok oleh anak-anak agar menyebutkan nama setiap mantan muridnya. Sangat mengagumkan bahwa kepala sekolah yang dulu merangkap menjadi guru mata pelajaran sejarah itu mampu mengingat dan menyebutkan nama setiap siswa, …..kecuali nama seorang mantan siswi yang justeru selalu duduk di baris terdepan! Dengan dilupakan namanya maka langsung saja muncul macam-macam perasaan di hatinya: kecewa, sedih, sakit, malu, rendah diri dan entah apa lagi.Jika semula dia begitu mengagumi Pak Guru itu, kini berubah menjadi sangat membencinya! Ternyata nama bisa menjadi begitu besar artinya dalam kehidupan kita. Apa arti Nama Tuhan bagi Tuhan dan bagi kita? Mari kita coba menengok Nama Tuhan,sampai sejauh mana namaNya itu begitu penting bagi kita?
Pertama: Nama Yang Berwibawa Ada Di Dalam BerkatNya.
Nama yang berwibawa sudah dikenal oleh umat Tuhan sejak dahulu kala dalam zaman Perjanjian Lama, itulah nama YHWH. Sebenarnya bukanlah nama itu pada dirinya yang hebat dan dahsyat, namun yang memiliki nama itu, sang pribadi Tuhan yang kudus dan mulia! Selanjutnya, karena Tuhan itu Roh , tidak tampak, maka namaNya menjadi semakin mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu dapat mewakili kehadiran, keberadaan dan pribadiNya. Itu sebabnya dalam Sepuluh Firman, hukum yang ke tiga berbunyi:”Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, …” Keluaran 20:7. Dapat dikatakan bahwa nama Tuhan sudah menyatu dengan pribadiNya. Itulah sebabnya segala berkat yang disampaikan harus kita yakini bahwa berasal dari Tuhan dan disahkan dalam namaNya.Dalam Bilangan 6:27 kita melihat keinginan Tuhan agar namaNya tak terpisahkan dari berkat yang disampaikan. Dan dalam Bilangan 6 itu kita melihat bahwa berkat Tuhan yang dibubuhi namaNya ternyata adalah berkat yang sangat dibutuhkan oleh umatNya. Berkat dari imam waktu itu diucapkan ketika umat Tuhan akan mengadakan perjalanan di padang gurun. Padang gurun memiliki dua makna teologis: Tempat tinggal setan yang penuh dengan tantangan, dan juga lambang ketidak pastian. Memasuki Tahun Baru 2009, ada baiknya kita disadarkan bahwa seperti sedang memasuki padang gurun.Ke depan kita memang merasa sedang dicegat oleh berbagai macam tantangan. Krisis global saja sudah cukup dahsyat dampaknya, mampu menggunduli kekuatan serta keceriaan pada setiap aspek kehidupan kita. Maka ketidak pastian pun otomatis menyusul, mendatangkan was-was, tanda tanya besar bahkan bisa berdampak masa bodoh serta sikap apatis! Tapi dalam suasana hati seperti itu dan situasi yang sangat tidak menguntungkan, hari ini Tuhan minta agar kita mau menyambut berkat Tuhan yang menantang iman kita serta membangkitkan semangat kita. Bahwa Tuhan mau melimpahkan berkatNya dan siap melindungi.Mau menyinari dengan wajahNya, untuk memberi kasih karunia, berpihak kepada kita dan memberi damai sejahtera! Jika semua ini diurai, diresapi dan dinikmati dalam suatu kesungguhan pastilah akan membuat jiwa kita merasa segar dan puas.
Ke dua: Nama Yang Mulia Memberi Kekuatan Kepada Kita. Itulah yang kita baca dalam Mazmur 8 tadi.Dua kali kita baca “Betapa mulianya namaMu”,di ayat 2 dan10. Selanjutnya diterangkan kepada kita bahwa sesungguhnya Tuhan sudah memperlengkapi kita manusia dengan berbagai potensi, tentunya sebagai berkat Tuhan, sejak kita masih bayi. Jika Anda membaca Buku Pdt.Yahya Wijaya, Ph.D. dengan judul Kemarahan,Keramahan Dan Kemurahan Allah maka Mazmur 8 ini dikupas dengan sangat apiknya, dibawah judul Potensi Manusia. Baiklah sepintas saya ungkap di sini.Di samping berbagai kemampuan yang lain, sesungguhnya manusia sudah dikaruniai Tuhan kemampuan spiritual dan moral.Sejak bayi kita sudah diberi Tuhan kemampuan untuk mengalahkan lawan Allah, yaitu segala kejahatan, kekacauan, kuasa yang menimbulkan permusuhan dan dendam. Inilah kemampuan terpendam untuk menjadi mitra Allah, untuk berada di pihak Allah dalam mengalahkan kejahatan serta segala sesuatu yang melawan Allah. Sangat disayangkan bahwa banyak orang tidak mau mengembangkan potensinya untuk mengalahkan kejahatan, hanya karena terpancang pada potensi-potensi yang lain, misalnya potensi untuk menjadi sakti, pandai dan berkuasa.Dalam kerangka seluruh alam semesta, betapapun saktinya, pandainya dan berkuasanya manusia, ia tidak istimewa. Manusia menjadi begitu mulia bukan karena kemampuannya itu, melainkan karena kemampuannya untuk menjadi kawan Allah, maka disebut “hampir serupa dengan Allah”. Segala potensi manusia seperti potensi dalam bidang iptek, budaya bahkan memanfaatkan daya adikodrati menjadi penting dan mulia apabila dikembangkan bersama-sama dengan potensi untuk menjadi kawan Allah.Maka pemazmur mengajak kita untuk mengagumi Allah dan pekerjaanNya serta memuji Allah.Jika hidup kita diisi pujian, mengagumi Allah dan pekerjaanNya, maka potensi kita untuk mengalahkan lawan Allah akan bertumbuh terus. Demikianlah antara lain yang dapat kita baca dalam buku yang sangat bagus itu. Jadi Saudara, Allah yang mulia itu sudah memberkati kita semenjak bayi dengan potensi yang maha penting, yaitu potensi untuk menjadi kawan Allah dan melawan segala kejahatan. Jika potensi yang satu ini kita kembangkan bersama potensi-potensi yang lain, misalnya di bidang iptek bahkan adikodrati maka kita sungguh akan menjadi makhluk Tuhan yang sangat berguna dalam KerajaanNya.
Ke Tiga: Dalam Nama Yesus Para Gembala Menyambut Lembar Hidup Baru. Lihatlah Saudara apa yang terjadi sesudah para malaekat meninggalkan mereka dan kembali ke sorga.Pertama-tama tentu saja para gembala itu merasa telah memperoleh pengalaman yang sungguh sangat luar biasa. Dan akan menjadi lebih hebat, sekiranya mereka menyadari bahwa hanya mereka saja yang dikaruniai penglihatan serta peristiwa dahsyat itu oleh Allah yang Maha Pemurah. Mereka baru saja dimanjakan bahkan diangkat harkatnya setinggi-tingginya oleh Allah sendiri sebagai manusia yang boleh berada dalam pujian dan kemuliaan sorgawi seperti itu. Dan yang paling mengherankan justeru mereka yang diberi kehormatan oleh Allah untuk menerima berita kelahiran Sang Mesias Sesudah semuanya itu terwujud, maka kini para gembala Efrata itu memasuki lembar hidup yang baru.Mereka memasuki lembar hidup yang baru, dengan kekaguman yang baru, dengan perasaan yang luar biasa, baru saja “di-orangkan” , dimanjakan , dihargai serta dipandang penting oleh para malaekat dan Tuhan sendiri! Sesungguhnya semua kegiatan sorgawi di Efrata itu terjadi hanya karena Yesus Kristus telah lahir.Hanya karena nama Yesus diberitakan atau disebutkan oleh Allah melalui malaekatNya.Kita dapat mengatakan bahwa Yesus adalah merupakan berkat terbesar. Dalam namaNya itu seluruh umat manusia dilimpahi berkat Allah yang tiada taranya. Hal itu dilukiskan dalam pengalaman para gembala.Andai mereka itu bukan para gembala, andai mereka itu adalah para raja di dunia ini sekalipun, maka berkat yang diterima tetap maha besar.
Ke Empat: Dalam Nama Yesus Ada Kuasa Sebagai Tuhan.Itulah yang kita baca dalam Filipi 2 tadi.Yang mengherankan bahwa kuasa namaNya tidaklah muncul melalui peperangan atau kekerasan, tapi justeru melalui kasih dan pengorbananNya.Semakin Yesus mengajarkan dan mengamalkan kasihNya, merendahkan diri sampai tidak memperhitungkan kesetaraanNya dengan Allah, maka namaNya menjadi semakin berbobot, sebab Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama. Di sini kita melihat betapa Allah merasa sangat puas sebab Yesus Kristus telah berhasil merampungkan tugas sebagai juru selamat manusia secara sempurna Kita sungguh berbahagia Saudara, sebab oleh karya Roh Kudus dimampukan melihat kenyataan bahwa sedemikian menyatunya Allah Bapa dan Allah Putera.Juga kita berbahagia sebab dalam nama Yesus kita beroleh berkat keselamatan untuk jiwa raga dan seluruh kehidupan kita seutuhnya. Dalam kebahagiaan seperti itu, dalam nama Yesus mari kita sambut tahun baru 2009.Kita yakini bahwa dalam nama Yesus tahun ini hidup kita akan terpelihara karena Tuhan menyinari dengan wajahNya dan memberi kita kasih karunia.Mari dalam nama Yesus kita bertekad mengembangkan potensi kita untuk mengalahkan lawan Allah, yaitu segala kuasa jahat yang akan merusak hidup kita! Berdasarkan berkat Yesus Kristus , mari tahun baru ini kita hadapi dengan kekaguman yang baru pula untuk memandang segala kemuliaan Tuhan di segala aspek kehidupan kita.Akhirnya, dengan semangat pengorbanan Yesus yang mempunyai nama di atas segala nama , mari kita selalu siap melayani pekerjaan Tuhan yang luas dan penting itu!
Tindakan
Bacaan:
Lukas 1:57-66
MELIHAT sebuah lukisan abstrak, dapat menimbulkan pertanyaan: “Ini
lukisan atau cat tumpah?” Sebenarnya, sebuah lukisan abstrak pasti mengandung makna.
Ketika seorang pelukis menggerakkan kuas catnya, setiap gerakannya pasti mengandung makna. Gerakan tangan pelukis ini menggambarkan kehidupan manusia. Setiap tindakan manusia mengandung makna. Misalnya, mengedipkan mata, itu memiliki berbagai makna: mungkin sedang sakit mata atau menggoda seseorang.
Elisabeth berbuat sesuatu yang bertentangan dengan tradisi. Menurut tradisi Yahudi, yang memberi nama anak adalah bapaknya.Akan tetapi Elisabeth tetap memberi nama anaknya yang baru lahir dengan nama Yohanes.
Tindakan Elisabeth yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain, menghasilkan satu peristiwa luar biasa. Yohanes menjadi pembuka jalan bagi Yesus.
Dari awal kelihatan abstrak, akhirnya menjadi satu hal yang nyata dan merubah kehidupan manusia. Elisabeth tetap memberi nama Yohanes karena dia yakin bahwa Tuhan menyertai.
Apa yang sedang kita lakukan dalam pekerjaan, pelayanan, dan kegiatan Anda? Apakah semuanya itu dilakukan dengan penuh makna? Ingatlah bahwa setiap tindakan kita pasti mengandung makna.
Karena itu, jangan main-main dengan tindakan Anda. Tapi jangan takut karena Tuhan menyertai. Take the risk because God always bless us !
SETIAP TINDAKAN MENGANDUNG MAKNA SEBAGAI UTUSAN TUHAN
Tanggung Jawab
Bacaan:
I Samuel 1: 24-28
MARI mengingat kembali perasaan ketika pertama kali mengantar anak ke
sekolah. Mungkin Anda merasa takut kalau anak kita menangis karena masuk ke lingkungan baru. Mungkin pula Anda tidak menunggui anak di sekolah karena percaya bahwa guru dapat mendidik anak menjadi anak yang berguna.
Dinamika mengantar anak ke sekolah ini serupa dengan peristiwa yang dialami oleh Hana dan Elkana.
Hana termasuk orang tua yang percaya dengan Tuhan sehingga mau dengan sepenuh hati menyerahkan anaknya pada Tuhan. Pada ayat 28 dinyatakan bahwa Hana menyerahkan seumur hidup anaknya kepada Tuhan.
Satu hal yang menjadi alasan Hana menyerahkan anaknya pada Tuhan ialah ucapan syukur karena Tuhan sudah memberikan anak dan menyertai hidup mereka.
Bagaimana Anda? Apakah Anda sudah menyerahkan anak dengan sepenuh hati dan ucapan syukur? Dengan menyerahkan kepada Tuhan berarti ada tanggungjawab.
Orangtua adalah tokoh kunci dalam proses kemandirian anak. Bentuk tanggungjawab yang kita lakukan ialah belajar mengucap syukur seperti yang dilakukan Hana dan Elkana. Kita mengucap syukur karena Tuhan sudah mempercayakan seorang anak untuk dididik sesuai ajaran Tuhan.
YA TUHAN SEMOGA ANAK-ANAK YANG ENGKAU PERCAYAKAN PADA KAMI DAPAT BERKEMBANG DENGAN RANCANGAN MIMPIMU
Percaya
acaan:
Lukas 1 : 26-38
ALLAH mengutus malaikat Gabriel menemui Maria untuk memberitahukan bahwa dia akan mengandung seorang anak laki-laki yang bernama Yesus
Ini mengejutkan Maria karena saat itu sedang bertunangan dengan Yusuf. Bagaimana mungkin itu terjadi? Jawab malaikat itu kepada Maria :”Roh Kudus akan turun ke atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau” (ay.35). Maria menanggapinya dengan ketaatan:
”Sungguh aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay.38).
Dalam kehidupan kita, kita tidak luput dari berbagai persoalan yang berat. Pergumulan hidup seperti ini juga telah dihadapi oleh umat Tuhan di sepanjang abad. Melalui berbagai persoalan kita bisa belajar: Pada saat kita merasa lemah, menghadapi jalan buntu dan tidak mampu, maka Allah memberi pertolongan tepat pada waktunya, sehingga iman kita diteguhkan.
Pada saat kita mempercayakan hidup kita kepada Allah dan mengikuti kehendak-Nya, kita akan menjadi alat Tuhan dalam karya keselamatan-Nya. Marilah kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah dan ikut ambil bagian dalam pekerjaan Allah di GKI Klaten ini. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus (Kolose 3:17).
PERCAYA ALLAH DAN RELA TERLIBAT DENGAN KARYANYA MESKIPUN TIDAK SELALU JELAS BAGI KITA











