Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archive for the ‘Renungan Natal’ Category

Jangan Khawatir

Bacaan:
Matius 6 : 25-27

SETIAP orang pasti pernah mengalami ketakutan. Perasaan takut adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tapi kalau rasa takut itu telah menguasai kehidupan kita, maka hal itu dapat menjadi beban hidup yang sangat berat.

Dalam Matius 6: 25-27, Yesus mengajarkan agar kita menikmati hidup ini tanpa rasa khawatir. Itu bukan berarti Yesus tidak paham tentang persoalan hidup yang dihadapi orang lain.
Yesus justru tahu persis kebutuhan pokok manusia yaitu makanan, minuman dan pakaian.
Yesus juga paham jika seseorang mengalami kekurangan, maka dia akan merasa khawatir. Dalam hal ini, Yesus mengajar agar kita hidup dengan iman, sehingga kehidupan kita tidak melulu tertuju pada perkara-perkara duniawi.
Yesus lalu membuat perbandingan: “Hidup lebih penting daripada makanan” dan “Tubuh lebih penting dari pada pakaian”.
Maksudnya, manusia itu lebih penting daripada perabot dan perlengkapannya.

Perbandingan kedua: Manusia itu lebih berharga daripada burung-burung. Jika Allah saja memelihara burung, apalagi terhadap manusia. Dengan demikian apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Marilah kita hadapi hidup ini dengan mengucap syukur. Kita harus mengimani bahwa Allah menyertai dan memelihara kita dengan luar biasa. Kekhawatiran yang tidak wajar membuat beban hidup kita semakin berat.
Hadapiah hidup ini dengan gembira, sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur (Amsal 17:22).

KETAKUTAN MEMBUAT BEBAN HIDUP SEMAKIN BERAT

Kelahiran

Bacaan:
Lukas 1:5-25; Hakim 13:2-7;24-25a

KELAHIRAN seorang anak itu sangat mengembirakan hati ibu-bapaknya dan seluruh keluarganya. Sang ayah sudah menyiapkan nama anaknya, sang ibu juga telah menyiapkan pakaian bayi serta peralatan bayi di kamarnya.
Bacaan-bacaan hari ini mengisahkan hal yang sama, yaitu berita kelahiran Simson pada keluarga Manoah dan istrinya, serta kelahiran Yohanes Pembaptis pada Zakharia dan Elisabet istrinya. Ciri khas kelahiran dua tokoh besar itu hampir sama: lahir dari seorang ibu yang sebelumnya disebut mandul. Kelahiran mereka memang dikehendaki Allah demi suatu perutusan tertentu.

Nubuat malaikat mengenai anak yang dikandung itu menyatakan perutusan yang akan diterima oleh anak itu, yakni: ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah dan mempersiapkan suatu umat yang layak bagi Tuhan.

Setiap anak yang lahir sebenarnya adalah karya Allah yang mengagumkan dan ajaib,bukan hanya tokoh Simson,Yohanes Pembaptis, atau pun Yesus. Setiap anak adalah karya Allah yang ajaib. Kita perlu sadar bahwa setiap anak yang lahir membawa perutusan hidupnya sendiri dari Allah.
Ada tugas tertentu di masa depan yang harus dilaksanakan selama hidup oleh anak itu, entah apa dan di mana. Orangtua ditugaskan untuk membesarkan, menjaga dan mendidik agar anak itu siap menjalankan utusan dari Penciptanya!

SETIAP ANAK YANG LAHIR SEBENARNYA ADALAH SEBUAH KARYA ALLAH YANG MENGAGUMKAN DAN AJAIB

Silsilah

Bacaan:
Matius 1:1-17

ADA hal menarik dalam pembukaan injil Matius. Matius memulai tulisannya dengan menceritakan silsilah Mesias melalui Abraham. Di dalam silsilah ini terdapat nama-nama yang sebenarnya “ tidak pantas “ masuk dalam kategori keturunan Abraham yang mewarisi sifat taat, percaya kepada Allah.
Antara lain Tamar, yang melakukan perbuatan asusila, juga Rahab, dia adalah seorang wanita tuna susila yang menolong dua orang pengintai ketika mereka memasuki kota Yerikho.
Namun semuanya tidak mengubah sejarah silsilah Yesus. Matius mau menunjukkan bahwa Yesus juga lahir sebagai orang yang biasa-biasa saja. Yang lahir dari keturunan orang-orang yang gagal untuk melakukan kehendak Allah.

Kegagalan yang dilakukan oleh para pendahulu keturunan orang Yahudi itu tidak menyurutkan Allah untuk merealisasikan Rencana Keselamatan Allah bagi dunia. Kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Allah memakai kegagalan itu untuk menggembleng manusia agar terus percaya kepadaNya, sehingga mereka akan mendapat keberhasilan.

Menjelang kita memasuki masa raya Natal, kita diajak untuk menelusuri hidup pribadi dan keluarga kita. Kita bersyukur melalui Yesus Kristus,Allah berkenan menjumpai kita. Sekalipun kita adalah manusia yang berdosa, yang sering kali mengalami kegagalan dalam hidup kita, namun Allah menyediakan jalan agar kita dapat mengalami kemenangan, keberhasilan.

KEGAGALAN HANYALAH SUKSES YANG TERTUNDA

Tertindas

Bacaan:

Zefanya 3 :1– 2, 9–13

MANUSIA selalu mencari jalan untuk mengatasi persoalan sedang dihadapi. Namun kadang jalannya yang dipilihnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Lebih-lebih jalan yang dipilih oleh para pemimpin juga berseberangan dengan Allah. Inilah yang dikritik oleh nabi Zefanya.

Pada zaman Zefanya, bangsa Israel ditindas oleh bangsa Asyur atau Babel yang menjadi negara adidaya saat itu. Kehidupan bangsa Israel sangat memprihatinkan. Di Yerusalem terdapat ketidakadilan sosial, penindasan ( Zef 3:1); para pemimpinnya tidak mendengarkan teguran dan kecaman , tidak percaya Tuhan, tidak menghadap Allah( Zef 3 : 2).

Hal inilah yang mendorong Zefanya untuk melakukan reformasi keagamaan. Zefanya berupaya membangun kembali semangat untuk kembali kepada Allah,. Untuk memperbaharui keyakinan mereka yang telah lama hanyut oleh penindasan negara Asyur dan Babel.

Apakah saat ini Anda sedang berada dalam penindasan? Mungkin Anda ‘ditindas’ oleh himpitan ekonomi, persoalan rumah tangga, pekerjaan atau penyakit yang menahun.

Ingatlah bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini semua diperhatikan Allah. Allah tidak pernah tertidur.

Allah akan memberikan sukacita sebagai ganti dukacita. Kita yang berjalan dalam kegelapan akan melihat TerangNya yang ajaib .

Sang Penebusmu akan datang. Dia akan datang membebaskan yang tertindas.

ORANG YANG TERTINDAS BERSERU DAN TUHAN MENDENGARKANNYA

Diplomatis

Bacaan:
Bilangan 24: 2-7;15-17a

KITA sering menjumpai orang yang suka mengutuki orang lain. Sebenarnya hal ini tindakan yang tidak terpuji.
Bilamana seorang sangat kecewa dan benci pada seseorang, sering keluarlah kutukan, sumpah serapah dari mulutnya. “Awas kamu”, “kamu akan kena batunya!”, “Awas kamu akan celaka!”
Bacaan hari ini menarik untuk diikuti. Semula Bileam, seorang pelihat, diminta oleh Balak, raja Moab, agar Bileam mengutuki bangsa Israel. Tetapi karena Bileam menaati apa yang dikatakan Yahwe, Allah Israel, ia malah memberkati umat Israel.
Demikianlah, Bileam yang mestinya diminta mengutuki tetapi malah memberkati! Umat Israel mestinya terancam oleh upaya raja Moab, tetapi malah dilindungi oleh Tuhan melalui Bileam.
Kita renungkan hal ini: Tuhan senantiasa melindungi dan memberkati umat-Nya melalui berbagai cara dan orang.
Termasuk juga kalau ada orang yang berniat jahat dan mau mengutukinya.
Ketika para imam kepala dan pemuka bangsa Yahudi mau memperdaya Yesus soal kuasa, Yesus pun menjawab dengan cerdas, diplomatis tetapi kena!

Demikianlah sebenarnya kalau Tuhan sedang bekerja: cerdas, diplomatis tetapi pas- kena! Marilah kita percaya saja pada perlindungan dan berkat Tuhan, dan tidak usah percaya pada kekuatan dalam bentuk apa pun dari sesama kita yang memang tidak mempunyai kehendak yang baik!

TUHAN MELINDUNGI KITA MELALUI TINDAKAN YANG CERDAS, DIPLOMATIS TETAPI KENA-PAS!

Number One

Bacaan:
Yohanes 1: 6-8, 19-28

MENJADI orang number one itu memang banyak enaknya. Makanya susah lengser. Hanya orang berjiwa besar yang mampu melakukannya. Yohanes Pembaptis adalah orangnya.
Ia tahu diri dan tidak memanipulasi. Ketika orang-orang Yahudi mempertanyakan apakah dirinya Mesias atau Elia atau seorang nabi yang akan datang, ia jujur menjawab: Bukan! Mesias adalah seorang tokoh yang datang dari Allah, lahir dalam garis keturunan Daud, dan akan menciptakan damai di bumi.

Elia adalah seorang nabi pembantai nabi-nabi palsu Baal, yang di akhir hidupnya terangkat ke langit dengan jasadnya. Orang-orang Yahudi yakin bahwa ia akan datang kembali sebelum kedatangan Mesias. Mereka juga percaya bahwa kedatangan Mesias itu akan didahului dengan munculnya seorang nabi.
Namun, Yohanes bukan salah satu dari mereka. Ia hanya pemberitahu agar orang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Mesias. Lagi pula ia hanya bisa membaptis dengan air.
Sebagaimana air bisa membersihkan orang dari kotoran yang melekat padanya, pembaptisan dengan air menjadi lambang pembaptisan dalam Roh oleh Mesias yang dapat menghapus dosa-dosa manusia.

Berhadapan dengan Mesias, Yohanes merasa kecil tiada arti. Ia pun tahu diri dan mengarahkan orang kepada-Nya. Ia tahu dengan siapa dia berhadapan. Ia merendahkan diri. Ia teladan bagi kita. Jangan kita menyombongkan diri tetapi marilah kita mengantarkan orang kepada Yesus.

BIARLAH DIA SEMAKIN BESAR DAN AKU SEMAKIN KECIL

Tamu

Bacaan:
Matius 17: 10-13

KALAU Anda kedatangan tamu yang sebenarnya tidak Anda tunggu-bagaimana sikap Anda? Anda tolak? Atau Anda berusaha mengenal dan mencari informasi tentang orang itu? Apabila kita mau menemui dan berusaha mengenal tamu kita itu, kita akan lebih tahu siapa dia sesungguhnya.
Bisa jadi orang ini adalah orang penting, lebih penting daripada tamu yang sebenarnya kita tunggu-tunggu.

Sikap orang Yahudi yang sombong dan congkak karena merasa dirinya paling unggul membuat mereka selalu meremehkan orang-orang yang tidak memenuhi standar mereka.
Pada hal standar itu tidak didasarkan pada kebenaran firman Tuhan, tetapi pada kepentingan dan keinginan hati mereka. Karena sikap suka meremehkan orang lain ini, mereka tidak mengenali Yohanes Pembaptis.
Mereka bahkan menolak Yesus yang gencar diberitakan oleh Yohanes Pembaptis. Mereka tidak (mau) mengenal Yesus yang sebenarnya adalah sang Mesias yang mereka tunggu-tunggu selama ini.

Hari ini kita diajak untuk berusaha mengenal Yesus sang Mesias lebih dekat, dengan cara senantiasa membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Kita mohon hikmat dan pimpinan-Nya agar bisa semakin
mengenal dan merasakan hadirat-Nya, baik di dalam kehidupan kita sehari-hari dan ibadah kita agar tidak lagi hanya menjadi sekadar rutinitas belaka.
Pada gilirannya, orang lain akan mengenal Kristus lewat sikap dan perbuatan kita

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG. JIKA ANDA MENYAYANGI KRISTUS, MAKA ANDA HARUS MENGENALNYA

Tamu Penting

Bacaan:
Yesaya 48: 17-19

KEDATANGAN tamu penting biasanya didahului dengan kehadiran para pembantunya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, agar perjalanan sang tamu ke tempat tujuan dapat berjalan lancar. Kedatangan Kristus juga dipersiapkan Allah Bapa dengan terlebih dahulu mengirim Yohanes Pembaptis.

Namun orang-orang Yahudi mengabaikan Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah yang mengemban misi khusus. Mereka justru mengejeknya sebagai orang gila. Orang-orang Yahudi menutup rapat mata, hati dan telinga mereka terhadap nubuat-nubuat dan janji-janji Allah yang telah disampaikan sejak zaman nenek moyang mereka, tentang Mesias yang akan memberikan berkat yang besar dan luar biasa kepada bangsa Israel.
Orang-orang Yahudi, yang notabene adalah umat pilihan Allah, juga menunjukkan sikap sangat memalukan.
Mereka bersikap kekanak-kanakan. Mereka sibuk berteriak-teriak sendiri tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya mereka teriakkan dan lakukan, sehingga mereka justru tidak bisa mendengar pesan-pesan penting yang disampaikan kepada mereka.
Saat ini kita diingatkan agar tidak hanya sibuk dengan kepentingan-kepentingan kita sendiri, sampai tidak ada lagi waktu untuk mendengar pesan-pesan penting dari Tuhan yang disampaikan lewat firman-Nya.
Mulai saat ini, mari kita dengarkan dan sambut panggilan-Nya dengan menyerahkan hati dan diri kita untuk dipakai sebagai alat-Nya bagi mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.

KAMI MENIUP SERULING TETAPI KAMU TIDAK MENARI; KAMI
MENYANYIKAN KIDUNG DUKA, KAMU TIDAK BERKABUNG

Aku Selalu Bersamamu

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”- (Yesaya 41:10)
Tahun 1989, gempa bumi yang dahsyat mengguncang Armenia. Guncangan yang hanya empat menit itu menewaskan lebih dari 30 ribu orang. Di tengah kepanikan, seorang ayah berlari menuju sekolah anaknya. Sampai di sana, dia mendapati gedung itu sudah rata dengan tanah.
Sambil menatap puing-puing sekolah, dia teringat janji yang pernah dia ucapkan kepada anaknya, “Apapun yang terjadi, Ayah selalu bersamamu.” Dia berlari ke pojok belakang gedung. Di situlah lokasi ruang kelas anaknya. Dia mulai menggali puing-puing.
Beberapa orangtua murid berusaha menghentikannya. “Sudah terlambat.” “Mereka sudah mati.” “Tidak ada gunanya.” Demikian kata mereka. Bahkan polisi dan pemadam kebakaran juga menyarankan ayah ini agar pulang saja.
Akan tetapi ayah itu tetap menggali reruntuhan. Dia menggali selama 8 jam… 12 jam… 24 jam… 38 jam, hingga akhirnya ketika menggulingkan sebongkan balok besar dia mendengar suara yang lemah.
“Armand!” Dia meneriakkan nama anaknya. “Ayah? Ini aku Ayah!” jawab anaknya,”Aku sudah bilang teman-teman, tidak usah khawatir. Ayah sudah berjanji akan selalu bersamaku.” (“Chicken Soup for the Soul.”)
Bapa di sorga sudah berjanji bahwa akan selalu menyertai kita. Dalam segala persoalan kehidupan, Bapa berjanji akan meneguhkan dan menolong kita. Dia bahkan mengulurkan tangan-Nya untuk menuntun kita dengan tangan kanan-Nya yang membawa kemenangan. Masalahnya, sama seperti anak kecil, kita sering enggan menyambut uluran tangan-Nya. Kita merasa mampu mengatasinya dengan kekuatan sendiri. Hingga akhirnya, ketika terantuk batu, barulah kita menangis dan mengadu pada Bapa kita.[Wwn]
SMS from God: “Allah sudah berjanji selalu menyertai kita. Sayangnya, kita sering mengabaikan kehadiran-Nya bersama kita.”

Kuk yang Ringan

“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Matius 11:29-30)
Ada sebuah legenda tentang masa muda Yesus. Ketika itu, Yesus berprofesi sebagai tukang kayu yang terkenal di Nazaret. Banyak orang dari tempat jauh yang memesan kuk buatan Yesus, karena bermutu bagus.
Setiap kali ada pelanggan yang datang bersama sepasang sapinya, Yesus lebih dulu mengukur tinggi dan lebar bahu setiap sapi. Dia lalu mengukur jarak di antara dua sapi. Setelah itu Yesus mengerjakan kuk sesuai dengan ukuran itu. Beberapa minggu kemudian, pelanggan datang lagi sambil membawa sepasang sapinya. Yesus memasangkan kuk ke bahu kedua sapi. Karena sudah diukur dengan cermat, kuk itu menempel dengan pas di bahu sapi. Kedua sapi itu merasa nyaman dalam menanggung kuk itu.
Di dalam perumpamaan tentang kuk ini seolah-olah terjadi sebuah paradoks. Di satu sisi Yesus mengundang orang yang memikul beban berat supaya datang kepada-Nya. Akan tetapi setelah itu, Yesus malah memasang kuk pada orang itu.
Dalam hal ini ,Yesus ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa dengan menjadi pengikut-Nya tidak secara otomatis semua masalah hidup langsung hilang. Meski begitu, Yesus memberi janji bahwa kuk made in Nazaret itu “enak:. Dalam bahasa Yunani, kata “enak” biasa digunakan oleh tukang jahit, yang artinya “sudah pas”. Sesuai dengan ukuran badan.
Ketika memasang kuk untuk kita, Yesus sudah mengukur kapasitas kita dengan cermat. Itu sebabnya, ketika kita mengenakan kuk itu, kita merasa nyaman. Selain itu, kuk itu juga dirancang untuk berdua. Mitra Anda dalam memikul kuk itu adalah Yesus sendiri. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa beban-Nya itu ringan.[Wwn]
SMS from God: “Hidup ini memang berat. Akan tetapi menjadi ringan jika dipikul bersama Yesus.”

Anak-anak yang Dipandang Rendah

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. – Matius 18:10

Ada orang bilang, masa anak-anak adalah masa yang menyenangkan karena masih polos dan belum mempunyai beban pikiran.  Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.  Jika kita tengok di simpang empat jalan atau di stasiun kereta api, kita akan mendapati anak-anak yang tidak bisa menikmati masa anak-anaknya.  Mereka dikenal sebagai anak-anak kalanan. Ada yang terpaksa menggelandang karena tekanan ekonomi, ada pula yang kabur dari rumah karena tidak tahan mendapat siksaan orang tua.
Dari cerita mereka, kehidupan jalanan sungguh keras.  Mereka yang mengais-kais makanan dengan menjadi pengamen atau pengasong itu harus selalu waspada dari kejaran petugas Tramtib.  Jika tertangkap, maka siksaan fisik yang diterimanya.  Mereka juga sering mendapat perlakuan seksual yang menyimpang. Itulah sebabnya, anak-anak jalanan sangat potensial tertular Penyakit Menulasr Seksual (PMS) dan HIV-AIDS. Dari cerita aktivis LSM, anak-anak jalanan sering kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak karena mereka tidak mempunyai KTP. Tanpa KTP, jangan harap akan dilayani.
Dalam ayat nats malam ini, Tuhan mengingatkan supaya kita jangan meremehkan anak-anak.  Sudahkah kita menghargai anak-anak?  Bagaimana perhatian gereja Anda pada komisi Sekolah Minggu atau pelayanan anak-anak lainnya?  Apakah dana dan fasilitas yang disediakan sudah memadai?  Selain itu, di luar sana juga masih banyak anak-anak yang dipandang rendah oleh masyarakat dan negara.  Apakah Anda akan ikut-ikutan memandang rendah mereka atau justru bersedia menjadi “malaikat” mereka?

BAPA DI SORGA TIDAK INGIN SATU ANAK PUN YANG HILANG

Ketaatan Maria

Perikop: Lukas 1:26-38
Nats:
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  (Lukas 1:38)
Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.
Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya.  Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]
SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Kawan Sejati

YESUS Kawan yang sejati bagi kita yang lemah.

Kawan Sejati Tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya.

Oh, betapa kita susah dan percuma berlelah,

bila kurang pasrah diri dalam doa padaNya.

Adakah hatimu sarat, jiwa-ragamu lelah?

Yesuslah Penolong kita; naikkan doa padaNya!

Biar kawan lain menghilang,

Yesus Kawan yang baka.

Ia mau menghibur kita atas doa padaNya.

(KJ. 453)

Lagu ciptaan Joseph M.Scriven ini menyadarkan kita bahwa orang Kristen tidak kebal terhadap kesulitan hidup. Namun di tengah kesulitan hidup itu, seorang Kristen harus sadar bahwa kita memiliki pengharapan dalam Tuhan.

Tuhan mengingatkan kita bahwa Ia selalu ada di samping kita, karena Ia adalah Sobat kita yang setia.

Hal ini juga berlaku juga menjelang pembebasan Israel dari Babilonia. Nabi Yesaya menyerukan Israel mempersiapkan diri, agar dapat menyambut Allah, Juruselamat.

Yohanes Pembaptis menggenapi nubuat ini. Dia adalah suara yang berseru di padang belantara untuk mempersiapkan jalan bagi kelahiran Yesus Kristus.

Sekarang pun TUHAN sedang menyapa. Dia ingin mengingatkan, bahwa waktu kedatangan-Nya sudah dekat. Sebab itu kita harus mempersiapkan diri. Persiapan itu bukan hanya untuk menyongsong Natal Kristus, tetapi terlebih lagi untuk menyongsong kedatangan-Nya kembali.

SIAPKANLAH HATI DAN PIKIRANMU MENYAMBUT DIA, YESUS KRISTUS: TUHAN DAN MUKHALIS KITA!

Hadiah

Bacaan:
Matius 9:35 – 10:1,6-8

APABILA teman akrab Anda menawarkan hadiah kepada Anda dan Anda mencoba untuk membayarnya, apakah itu masih dapat disebut hadiah? Tentu tidak! Demikian juga dengan apa yang Yesus lakukan ketika Ia datang ke dunia.
Ia memberikan hadiah terindah bagi kita, sebagai pemenuhan janji Allah. Hadiah yang diberikannya berupa kasih karunia yang dapat kita lihat lewat tugas pewartaan dan kuasa melakukan mukjizat-Nya yang kemudian diberikan kepada para rasul baik itu lewat pengajaran dan juga penyembuhan.
Ingatlah bahwa Yesus adalah perwujudan belas kasihan Allah yang sempurna kepada manusia. Ia adalah Sang Gembala yang baik, yang selalu rindu untuk mempersatukan domba-domba-Nya. Ayat ini begitu ‘pas’ untuk menggambarkan situasi saat ini, yaitu bahwa ada banyak orang yang rindu untuk menerima Kabar Gembira, sedangkan jumlah para pekerja/pewarta Kabar Gembira itu sedikit.
Kita telah diangkat untuk menjadi anggota Kerajaan-Nya. Itu adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma. Namun, apakah kita sudah sungguh-sungguh layak disebut sebagai anggota Kerajaan-Nya? Apakah kita sudah membuka mata hati kita agar kita dapat melihat tuaian di sekitar kita? Ingatlah bahwa kita telah menerima karunia pengampunan dosa.
Oleh karenanya kita harus memberitakan pengampunan dan memakai kekuasaan mereka untuk menyembuhkan dengan cuma-cuma. Hal ini bukan merupakan ‘hak’ seseorang, melainkan ‘karunia’ yang diberikan bagi kita.
Marilah kita belajar seperti Yesus yang belas kasih-Nya tidak pandang bulu.

ANDA TELAH MEMPEROLEH DENGAN CUMA-CUMA, MAKA BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA

Mesias

Bacaan:
Matius 25:31-46

ADA sebuah gereja yang mengalami masa-masa sulit. Anggotanya ting-gal lima orang dan usia mereka di atas 60 tahun. Maka jemaat itu memutuskan untuk meminta nasihat pendeta sepuh yang sudah lama emeritus (pensiun).
“Saya tidak punya nasihat yang jitu untuk masalah kalian,” kata pendeta sepuh itu, “tapi saya hanya bisa memberitahu sebuah rahasia: Salah satu dari kalian adalah Mesias. “ Mereka pun pulang dengan rasa penasaran. “Benarkah ada Mesias di antara kami?” tanya mereka dalam hati.
Hari-hari berikutnya terlihat ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka memutuskan untuk melayani Mesias itu dengan baik. Masalahnya, mereka tidak tahu secara pasti, siapa Mesias itu. Karena itu mereka memperlakukan anggota jemaat yang lain dengan baik dan penuh rasa hormat. Sebab satu di antara mereka pastilah Mesias itu.
Ketika waktu berlalu, orang-orang di sekitar gereja melihat aura keramahan dan saling menghormati terpancar di wajah lima anggota gereja kecil itu. Mereka tertarik untuk datang ke gereja itu lagi. Mereka lalu mengajak anggota keluarga dan teman-teman sehingga jumlah jemaat di gereja kecil itu mulai bertambah-tambah.
Yesus menegaskan bahwa pada akhir zaman, semua orang akan dipisahkan menjadi dua kelompok: kelompok orang yang peduli dan kelompok orang yang cuek terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika zaman itu tiba, maka sudah terlambat untuk mulai peduli.
Sekaranglah saatnya untuk mulai peduli. Itu yang akan menentukan nanti Anda akan berada di kelompok yang mana.

PERHATIKAN LINGKUNGAN ANDA. ADA BANYAK HAL YANG DAPAT ANDA LAKUKAN BAGI ALLAH.

Waktu

Bacaan:
Lukas 6:46-49

SEORANG anak ingin sekali ditemani oleh papanya untuk bermain. Tapi papanya terlalu sibuk. “Berapa sih gaji papa untuk tiap jam?” tanya sang anak. Papanya menjawab, “Papa digaji 100 ribu/jam.”
“Saya punya uang 50 ribu. Maukah papa bermain denganku selama setengah jam?” tanya anak.
Ilustrasi ini menggambarkan perlunya waktu bersama anak. Waktu yang Anda berikan untuk mendampingi anak menunjukkan bahwa Anda menghargai dan kebersamaan mereka.
Kehadiran fisik saja tidak cukup, jika perhatian Anda tercurah di tempat lain. Misalnya Anda mengajak anak bermain di kebun binatang, tapi Anda tetap mengurusi pekerjaan dengan handphone.
Anda menemani anak belajar sambil membaca koran. Ini menunjukkan Anda tidak tulus mendampingi anak. Kebersamaan ini harus disertai dengan pencurahan perhatian sepenuhnya kepada anak. Ini yang disebut waktu berkualitas.
Kehadiran Anda merupakan hadiah yang tergantikan bagi anak-anak Anda. Anak membutuhkan orangtua untuk mendampingi dalam belajar, mengerjakan PR, mengajarkan sopan-santun, membacakan cerita, makan bersama, jalan-jalan santai, bergosip bersama dll. Hal ini akan menambah kedekatan emosional antara orangtua dengan anak.
Usia anak-anak adalah masa pembentukan pondasi bagi kehidupan. Jika kita mendampingi anak pada masa emas ini, maka kita telah meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi anak.

MASA ANAK-ANAK TIDAK DAPAT DIULANG. JIKA ANDA MELEWATKANNYA, ANDA MEMBUANG KESEMPATAN EMAS.

Injil

Bacaan:
I Korintus 9:16-19,22-23

FRANSISKUS Xaverius (1506-1552) Mewartakan adalah seorang misionaris yang begitu terkenal. Ia menjelajahi tanah Asia selatan, Asia Tenggara (termasuk Kepulauan Nusantara) dan Asia Timur.
Fransiskus Xaverius adalah seorang pemberani, seorang yang bernyali untuk memberikan hidup bagi Injil.
Dengan semboyan Ad Maioren Dei Gloriam (Demi lebih Besarnya Kemuliaan Tuhan), Fransiskus Xaverius berubah menjalani perintah Tuhan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Fransiskus Xaverius meneladani Rasul Paulus.
Rasul Paulus mewartakan Injil bukan untuk mencari upah sebab boleh mewartakan Injil saja sudah merupakan upah baginya.
Kita semua yang terpesona akan pribadi Yesus Kristus dipanggil untuk mewartakan Injil dengan penuh keberanian seperti Fransiskus Xaverius. Di mana pun kita berada, mestinya Injil diwartakan, entah bagaimana caranya.
Langkah itu sebetulnya mempunyai nilai memenangkan orang lain, di mana pun dan siapa pun yang kita jumpai.
Perwujudannya dapat memakai berbagai cara: bersikap ramah, hormat kepada orang lain, gemar menolong, rendah hati, jujur, hidup ugahari, tekun dan ulet dalam bekerja.
Dan semuanya itu hendaknya tampak dalam kegembiraan. Itulah suatu langkah yang tepat guna dan sarana yang mengena kepada mereka yang belum mengenal Kristus!

DI MANA PUN KITA BERADA, MESTINYA INJIL DIWARTAKAN, ENTAH BAGAIMANA CARANYA

Terimakasih

Bacaan:
Lukas 10: 21-24

BANYAK alasan orang bergembira. Orang bergembira karena lulus ujian, naik kelas, diterima di perguruan tinggi pilihannya, mendapat pekerjaan, ketemu jodoh.
Orang mudah bersyukur setelah penantian yang cukup lama dikabulkan, yaitu mendapatkan buah hati. Kebahagiaan melebihi yang dibayangkan bisa membuat orang terkagum-kagum dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Apakah kita (hanya) bisa bersyukur bila mengalami hal-hal yang membahagiakan? Apakah dengan hal-hal yang tampaknya kecil di mata kita, kita tidak bisa bersyukur? Kesehatan adalah anugerah yang paling besar. Bagaimana kita dapat bekerja, belajar, melayani orang lain bila tubuh kita tidak sehat? Bagaimana kita akan membantu orang lain bila pernapasan kita terganggu? Udara segar yang kita hirup setiap saat dengan gratis semestinya sudah bisa membuat kita bersyukur.
Mengapa tidak? Apakah kita merasa bahwa itu sudah semestinya? Bila demikian sikap kita, memang tidak mudah untuk bersyukur.
Sudah dari kecil orang tua mengajarkan kita untuk mengucapkan kata “terima kasih”. Sepantasnya kita mudah mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang kita terima, tidak hanya barang, tetapi juga pelayanan, perhatian, dsb.
Dua kata yang mudah untuk diucapkan, tetapi dalam kenyataannya menjadi kata yang sulit untuk keluar dari mulut kita. Yesus sudah mengajak kita untuk bersyukur kepada Bapa atas semua yang dialami-Nya. Kalau tidak mulai sekarang kita melatih kembali, lalu kapan lagi?

UCAPKANLAH KATA “TERIMA KASIH” DENGAN SEPENUH HATI

Kumpul

Bacaan: Matius 8:5-11

MENGAPA orang datang berkumpul? Ada seribu satu alasan. Berkumpul karena diundang pesta, diundang hajatan, arisan atau persekutuan. Orang berkumpul di sekitar lapangan saat ada pertandingan olahraga. Di banyak keluarga, komunitas orang suka berkumpul menghadap suatu benda yang namanya televisi!
Bacaan hari ini menyebutkan kapan bangsa-bangsa akan berkumpul dan berduyun-duyun datang bersama: Saat Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, saat Tuhan mengundang semua bangsa makan bersama dalam Kerajaan Surga! Itulah gambaran akhir zaman, saat

Tuhan menyelesaikan seluruh karya penyelamatan-Nya atas segala bangsa. Tuhan akan mempersatukan dan mengumpulkan semua bangsa. Saat itu akan terjadi damai, karena pedang akan ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas!

Pada hari ini umat manusia memang terpecah belah oleh berbagai hal: suku, ras, kulit, agama, bahasa, wilayah, adat dan budaya, pendidikan, dsb.
Sabda Tuhan dalam bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya dan aslinya semua umat manusia, dari mana pun dan kapan pun, dipanggil untuk bersatu dan bisa hidup bersama! Jaminannya hanya ada satu: Tuhan sendiri.
Tuhan itu adalah kasih! Maka, kunci pengikat dan pemersatu umat manusia akhirnya adalah KASIH, bukan uang, bukan agama, bukan karena adanya satu pemerintah dan satu hukum apa pun termasuk hukum sebuah agama!

PEDANG AKAN DITEMPA MENJADI MATA BAJAK, TOMBAK MENJADI PISAU PEMANGKAS

Berjaga-jaga

Bacaan: I Korintus 1: 3-9

MULAI hari ini kita memulai masa Adven. Kata adven berarti “kedatangan Tuhan”, baik kedatangan Tuhan yang pertama, yaitu yang kita rayakan pada hari Natal nanti, maupun kedatangan Tuhan yang kedua, yakni pada akhir zaman. Kata kunci untuk menantikan kedatangan Tuhan ialah berjaga-jaga! Itulah sabda Tuhan pada Injil hari ini.
Berjaga-jaga tidak perlu membayangkan seperti sikap pengikut sekte tertentu. Yang mereka lakukan adalah menjual semua harta kekayaan mereka dan kemudian berkumpul di suatu tempat sambil memuji Tuhan dan berdoa menunggu waktu yang sudah diramalkan oleh “orang pintar” tentang kedatangan Kristus.
Berjaga-jaga itu tidak perlu kita lakukan dengan cara tegang dan melotot menantikan Tuhan yang akan datang. Berjaga-jaga itu kita lakukan dengan melanjutkan tugas hidup kita sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Rasul Paulus memberi petunjuk yang jelas :”Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”. Artinya, kita telah mempunyai semua sarana, alat, kesempatan yang kita perlukan agar kita menjadi siap menyongsong Tuhan yang akan datang. Kita memiliki kitab suci yang berisi sabda Tuhan, perjamuan kudus, baptis atau sidi, ibadah, persekutuan kelompok, kebaktian kategorial, saat teduh, dan berbagai bacaan rohani. Tinggal bersedia berjaga-jaga dan menunggu dengan setia.

KITA TIDAK KEKURANGAN DALAM SUATU KARUNIA PUN SEMENTARA KITA MENANTIKAN PENYATAAN TUHAN YESUS KRISTUS

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Retret Pasutri KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Bakar, bakar, bakar!
Wise Words
sms inspiratif