Archive for the ‘Warta Jemaat’ Category
Happy Hour Komisi Musik [1]
Lebih dari seratus aktivisi komisi musik GKI Klaten mengadakan acara keakraban di Kaliurang, Minggu 29 Agustus. Pada pukul 18.30, dengan menumpang 2 bus, beberapa mobil pribadi dan sepeda motor, mereka meluncur ke lereng gunung Merapi. Sesampai di wisma Duta Wacana, tanpa membuang banyak waktu segera berjalan kali menjelajahi pinggiran kali Adem.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan sharing dari Bpk Hendri Sutaki dari Pertemuan Raya Pemusik Gereja.

Pelatihan Liturgi Kreatif
Komisi Ibadah GKI Klaten menyelenggarakan pelatihan pembuatan liturgi kreatif, di Narwastu, 22 Agustus. Dalam pelatihan terbatas ini, pdt. Joas Adiprasetya dari GKI Pondok Indah memberikan bekal tentang cara mempermak liturgi hingga membuat liturgi Minggu menjadi lebih kreatif.
Video klip ini terbagi dalam 7 segmen, masing-masing berdurasi sekitar 10 menit. Ini adalah video klip ke-1
Layanan SMS GKI Klaten

Ikuti layanan SMS GKI Klaten. Layanan ini mengirimkan info ttg kegiatan gereja, ayat hari ini, berita duka dan berita penting lainnya. Layanan ini GRATIS. Untuk daftar, ketik NAMA dan ALAMAT/PERSEKUTUAN WILAYAH ANDA. Contoh: “Kirana Wilayah 1-2″, lalu kirim ke 0896-7152-3152.
Anda juga dapat mengirimkan info penting untuk disebarkan ke jemaat. Misal berta duka atau butuh donor darah
Sunatan Massal
Persekutuan Wilayah 3-4, GKI Klaten mengadakan aksi sosial sunatan massal, tanggal 26 Juni 2010. Kegiatan yang digelar di balai desa Kabupaten (namanya memang begitu) ini diikiuti oleh 22 anak yang siap memasuki usia akil balik.
Untuk mengawali penyunatan, lebih dulu diselenggarakan pembacaan doa oleh ulama setempat. Setelah itu, penyunatan dilakukan oleh tenaga medis dari Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten.
Tiga hari kemudian, dilakukan perawatan luka dan pembukaan kassa pembalut.
Ibadah Kamis Putih
Ibadah Kamis putih di GKI Klaten dilayani oleh pdt. Phan Bien Ton, pukul 17.00 dan 20.00. Dalam ibadah ini dilaksanakan prosesi pembasuhan kaki sebagai simbol untuk saling mengasihi dan saling melayani.
Di akhir ibadah, tidak seperti biasa, tanpa pengutusan dan benediksi [berkat]. Penatua mematikan keempat lilin sebagai bentuk penghayatan pada masa sengsara Yesus. Hanya satu lilin yang dibiarkan tetap menyalakan untuk menandakan bahwa dalam situasi apa pun, api pengharapan itu tetap menyala. Dilaksanakan pula pelucutan hiasan mimbar hingga telanjang untuk semakin memaknai penghayatan akan sengsara Kristus. Haiasa dan bunga mimbar ini baru akan dipasang kembali pada Minggu Paskah nanti.
Ibadah Rabu Abu [3]
Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan
Ibadah Rabu 2
Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan
Video Rabu Abu [1]
Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan.
Ibadah Rabu Abu
Meski diguyur oleh hujan yang sangat lebat, namun tak menyurutkan sekitar 200 orang untuk menghadiri ibadah Rabu Abu di GKI Klaten, 17 Februari mulai pukul 18.00. Ibadah yan dipimpin oleh pdt. Pelangi Kurnia Putri ini mengawali masa puasa pra paskah selama 40 hari.
Dalam ibadah ini jemaat mengoleskan abu ke dahi masing-masing sebagai simbol pertobatan dan untuk memasuki masa penghayatan sengsara Kristus. 
Paduan Suara Majelis
Suasana ibadah
Pnt. Budi Nugroho Sulaiman
Pnt. Teguh Harmanto
Pnt. Sigit Djentoro
Bpk. Kristianto Widodo dan Sdri. Dinna DP
Cik Lin
Antrean
Rayap-rayap Keluarga [2]
Kerena sifatnya yang diam-diam seperti gaya rayap, maka banyak keluarga yang terlambat melakukan pencegahan dan penyelamatan, tidak antisipatif. Tanpa disadari, lama kelamaan kekasih menjauh dan asing: “Kau bukan seperti yang dulu lagi,” kata sebuah lagu. Perhatian, suasana hati, kepekaan, terhadap pasangannya makin menurun. Ada sesuatu yang menariknya menjauh dari kekasihnya dalam rumah.

Suami isteri tidak lagi merasakan home sweet home yang menjadi dambaan semula. Kasih pengantin baru memudar. rona wajah kegembiraan keluarga menjadi pucat dan mengkuatirkan seperti wajah orang sakit.
Baiklah kita mengenali dua macam rayap itu:
1. Rayap Kesibukan
Salahs atu ciri yang menonjol dalam dunia modern kita sekarang adalah kesibukan dan gerak cepat. Setiap anggota keluarga ditarik keluar rumah seharian untuk menunaikan tanggung jawab dan tugas di pundaknya. Entah demi pemenuhan kebutuhan dasar ekonomis, atau berkaitan dengan pengembangan diiri dalam keilmuan dan karier, atau sebagai upaya penyesuaian diri dengan temuan modern. Hal ini membuat orang tidak bisa tidak kecuali harus sibuk dan bergerak cepat.
Baik pada bidang karier/profesi, maupun pelayanan sosial dan keagamaan. Tanggung jawab itu melahirkan kesibukan yang bisa berantai dari jam ke jam.

Dalam buku Katekisasi Pernikahan GKI SW Jateng, ditulis: “….kehidupan kita seringkali nampak seperti koper yang hampir koyak karena terlalu banyak isinya. Celakanya orang yang terlalu sibuk dianggap seorang yang berhasil. padahal sibuk tidak sama dengan berkelimpahan atau hidup efektif.” Dan pertanyaan-pertanyaan mendasar sering tidak sempat lagi diberi tempat. Misalnya untuk apa hasil yang kuperoleh dari semua kesibukanku ini? Apakah diriku dan orang lain di sekitarku sungguh-sungguh membutuhkan kesibukanku?
Bersambung…
Rayap-rayap keluarga [1]
Keluarga kita sekarang ini ditempatkan dan bergulat di tengah arus zaman yang kuat, bukan di “air yang tenang”–Mzm 23. Dalam arus itu, keluarga bergulat untuk menjaga keseimbangan sambil terus maju. Kita berdoa dan berharap keluarga kita siap, bijak, terampil dan kuat menghadapi arus zaman yang banyak mengharu biru hidup berkeluarga, tak terkecuali keluarga Kristen.
Pembinaan untuk pasangan suami isteri yang diselenggarakan oleh Komisi Dewasa GKi Klaten, 30 Desember 2009 dengan pembicara pdt. Melanthon Bombong dari GKi Taman Cibunut

Pdt.Melanthon Bombong
Rayap-rayap Keluarga
Pengaruh arus zaman itu tidak dalam satu-dua haru atau seminggu akan mengubah jalan hidup keluarga. Juga tidak dalam gemuruh suara yang mengancam. Ia berproses perlahan dan senyap. laksana rayap yang secara perlahan dan diam-diam mengubah bambu menjadi serbuk, demikianlah bahaya itu merambah keluarga kita secara lateb. Sangat mungkin keluarga kita tidak menyadari karena “wajahnya” tidak tampak sebagai ancaman melainkan menawan hati, bahkan bisa dianggap sebagai alternatif baru dalam life style modern.
Jadi kerjanya semacam oeprasi bawah tanah, silent operation. Suatu tampilan manus dan percakapan yang memberi semangat hidup namun sangat berbahaya (Kej. 3). pasangan muda yang diawali dengan romansa hidup dalam kasih sayang dan penuh pengertian antara keduanya, bualn-bulannya penuh madu, perlahan-lahan berubah. Keadaan semakin lama semakin tak dapat ditutup-tutpi lagi dan dalam waktu beberapa tahun berubah menjadi dingin disusul keadaan yang memburuk, hubungan retak.
Kuis Tebak Nama
GKIKlaten.com mengadakan KUIS TEBAK NAMA. Berikut ini adalah foto kegiatan Sekolah Minggu GKI Klaten tahun 1974. Silakan tebak, siapa nama anak yang menerima hadiah dari Sinterklas dalam foto ini. Petunjuk: Dia masih menjadi anggota jemaat GKI Klaten saat ini. Kirimkan jawaban Anda pada email: Info@gkiklaten.com. Disediakan buku “Tuhan Yesus tidak Tidur” bagi 2 pemenang. Kuis ditutup tanggal 31 Januari 2010.

Siapa nama anak yang berbaju kuning?

Ini hadiahnya, buku “Tuhan Yesus tidak Tidur.”
Selamat Natal dari Komisi Anak
Komisi Anak GKI Klaten mengucapkan: “Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010″
Perayaan Natal Sekolah Minggu
Sekolah Minggu GKI Klaten telah mengadakan perayaan Natal tanggal 18 Desember 2009 di GKI Klaten. Perayaan yang dihadiri lebih dari 300 anak dari induk, bajem Pesu, bajem Mireng dan pos Karangri ini dimeriahkan dengan pertunjukan operet kelahiran Yesus
Surat Penggembalaan BPMS dalam rangka Natal
Badan Pekerja Majelis Sinode
GEREJA KRISTEN INDONESIA
Surat Penggembalaan dalam rangka Natal 2009
Saudara-saudara anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi,
Ada fenomena menarik dalam berbagai peristiwa penting yang terjadi pada tahun 2009 ini. Fenomena itu adalah lahirnya kesadaran rakyat untuk membela mereka yang dinilai telah menjadi korban penindasan. Dalam kasus yang menyudutkan dua petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lebih dari sejuta rakyat yang pengguna Facebook secara spontan menyatakan dukungannya kepada Bibit dan Chandra. Dalam kasus Prita, dukungan rakyat diwujudkan melalui aksi damai, yaitu mengumpulkan koin guna membantunya membayar denda kepada RS. Omni Internasional. Hebatnya, jutaan rakyat berbondong-bondong rela memberikan koin mereka untuk Prita. Koin yang terkumpul pun melebihi nilai yang mesti dibayar. Reaksi spontan rakyat menjadi kekuatan yang memaksa aparat, pemerintah dan pengadilan mengubah keputusan mereka. Bibit dan Chandra dibebaskan dan bahkan dikembalikan pada fungsi mereka sebagai anggota KPK. Sedangkan dalam kasus Prita, RS Omni Internasional langsung
mencabut tuntutannya. Kedua fenomena ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia telah “lahir kembali”. Sinergi kekuatan rakyat ‘kecil’ mampu membuka borok kebohongan para petinggi yang selama ini memicu ketidakadilan dan penindasan. Rakyat Indonesia lahir kembali. Rakyat tidak mau dibohongi. Tidak rela ditipu! Rakyat Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan obyek dungu yang cuma tahu menantikan apa pun keputusan para petinggi. Rakyat Indonesia lahir kembali menjadi sebuah gerakan, yaitu gerakan damai. Suatu gerakan tanpa senjata! Tanpa kebencian! Bahasanya adalah bahasa moralitas yang sejuk. Bahasa rakyat adalah bahasa perdamaian. Bahasa perdamaian selalu muncul dari kematangan, dari hati nurani. Melawan gerakan rakyat adalah melawan panggilan untuk berdamai: berdamai dengan hati nurani itu sendiri. Itulah peristiwa natal!
Nun jauh di Betlehem pada 2000-an tahun lalu, Yesus lahir dalam kesederhanaan tetapi dalam kedamaian. Malaikat Tuhan pun menyambut kelahiran Sang Mesias dalam nyanyian “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Luk. 2:14). Yesus lahir di tengah perselingkuhan agama dan politik yang menyebabkan penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil. Para elite hidup tanpa hati nurani. Perdamaian absen dari hati penindas dan dalam eksistensi yang tertindas. Pada saat itulah Yesus hadir! Ia hadir di saat petinggi kehilangan arah. Saat jelata kehilangan asa. Saat semua jalan seolah buntu! Saat alternatif pun tiada! Yesus lahir saat sinar lilin pengharapan redup. Saat kegelapan! Kekelaman! Dalam Kegamangan hidup! Yesus hadir dan lahir. Ia sudah di sana! Ia hadir sebagai bayi yang kecil, seolah tidak berdaya.

Pesan yang mau disampaikan pada peristiwa natal itu adalah ini. Betapa pun kecilnya, pengharapan itu selalu ada di sana. Pengharapan tidak pernah hilang dan tidak boleh hilang. Dunia akan berjalan anarkis tanpa keterlibatan Allah. Allah hadir memberi hati yang damai kepada para penindas. Yesus lahir menyediakan perdamaian bagi yang ditindas. Perdamaian adalah situasi tanpa kebencian, tanpa penindasan, tanpa permusuhan dan peperangan. Perdamaian adalah saat semua orang menyapa yang lain sebagai saudara dan saudari. Perdamaian adalah saat kita menggeliat dalam gerakkan untuk melayani dan berbagi. Perdamaian adalah saat mereka yang mendapatkan pelayanan menatap anda dengan haru dan berbisik nyaris tanpa suara “terima kasih!” Perdamaian adalah saat anda berdamai dengan diri anda, dengan semua orang bahkan dengan yang memusuhi anda. Perdamaian adalah seperti bayi Yesus yang terus bertumbuh dan ditumbuhkan. Perdamaian harus dipelihara dan dijaga setiap detik. Perdamaian adalah jati diri kita sebagai manusia sejati ciptaan Allah, Sang Pengasih!
Dalam kerangka pemaknan natal seperti itu, Badan Pekerja Majeli Sinode Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA mengucapkan Selamat hari Natal 2009 dan Tahun baru 2010. Kiranya pengharapan dari Tuhan kita Kristus memberikan kekuatan dan perdamaian bagi kita semua.
Pdt. Dr. Albertus Patty Pdt. Dr. Lazarus H. Purwanto
Ketua I Sekretaris Umum
Lancaran Wiyosipun Gusti [pelog 6]
Menyongsong Natal dengan lagu-lagu berbahasa Jawa. Lancaran “Wiyosipun Gusti”, pelog 6, dibawakan oleh karawitan Pusporini, Karangdowo, Klaten, Jateng

Natal Komisi Usia Lanjut
Paduan Suara komisi Usia Lanjut membawakan lancaran Ngarengarga pelog 6. Mereka tampil dalam perayaan natal Komisi Usia Lanjut, GKI Klaten di rumah bapak Suhardjo di desa Ringinputih, Karangdowo, Klaten
Natal Kowulan
Menyongsong Natal dengan melihat lagu Natal dalam nuansa budaya Jawa. Himne “Ya Tuhan Tiap Jam”, dinyanyikan oleh Persekutuan Ruth dengan iringan karawitan “Pusporini.”
Mereka menyanyikannya dalam perayaan Natal Kowulan di rumah bapak Suharjo, Karangdowo, Klaten




































