
Beberapa minggu setelah gempa bumi Mei 2006, kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Tujuan utamanya adalah sebagai pemulihan trauma bagi para korban gempa dashyat ini. Kami mengundang Edo Kondologit, Nindy Ellesse, Albert AFI, dsb. Sebelum mereka tampil, acara akan dibuka dulu oleh band pembuka dari GSJA Filipi. Menurut jadwal, band pembuka seharusnya tampil pukul 18.00.
Hampir seluruh pemain band sudah siap, tapi ada satu pemain yang belum nongol juga. Namanya Vega.
Ditunggu 5 menit, dia belum kelihatan juga. Sepuluh menit berlalu, Vega belum kelihatan hidungnya! Yudha yang menjadi stage manager mulai panik. Sebab tanpa Vega, maka keseluruhan acara belum bisa dimulai.
Yudha mulai hilir mudik keluar masuk pintu utama dengan wajah gelisah. Persis seperti setrika yang panas. Di kepalanya mulaikeluar asapnya. Karena kasihan melihat Yudha, maka saya memutuskan untuk menunggu di luar gedung. Yudha saya minta untuk masuk saja.
Memasuki menit ke-15 kepanikan mulai menjalar ke semua panitia. Mellaui walkie talkie saya umumkan bahwa kalau sampai 18.20 Vega belum juga muncul, acaranya harus dimulai meski tanpa band pembuka. Karena situasinya demikian tegang, maka saya berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Saya berbicara via walkie talkie: “Yudha, bilang sama Vega ya…lain kali jangan pakai Vega tapi suruh ganti Jupiter MX aja biar cepet kayak angin!”
Semua panitia yang memegang walkie talkie langsung tertawa. “Ha…ha…ha….betul Vega diganti aja Jupiter MX” timpal beberapa rekan.
Eh, tak berapa lama kemudian Vega pun muncul. Saya langsung mengarahkan dia untuk berjalan ke panggung sambil berkata “Vega besok kamu ganti Jupiter MX ya…biar tidak terlambat!”
Mendengar hal itu Vega hanya bengong. Dia semakin kebingungan ketika panitia yang lain ikut senyum-senyum mendengar gurauan saya.
Anda yang baca ini pasti sudah mengerti kan antara Vega dan Jupiter MX? Kalau belum mengerti silakan lihat iklan motor Yamaha (Bernike Rwb).


















0