Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archive for the ‘Cuma Ada di Klaten’ Category

Vega, Vega

Beberapa minggu setelah gempa bumi Mei 2006, kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Tujuan utamanya adalah sebagai pemulihan trauma bagi para korban gempa dashyat ini. Kami mengundang Edo Kondologit, Nindy Ellesse, Albert AFI, dsb. Sebelum mereka tampil, acara akan dibuka dulu oleh band pembuka dari GSJA Filipi. Menurut jadwal, band pembuka seharusnya tampil pukul 18.00.

Hampir seluruh pemain band sudah siap, tapi ada satu pemain yang belum nongol juga. Namanya Vega.

Ditunggu 5 menit, dia belum kelihatan juga. Sepuluh menit berlalu, Vega belum kelihatan hidungnya! Yudha yang menjadi stage manager mulai panik. Sebab tanpa Vega, maka keseluruhan acara belum bisa dimulai.

Yudha mulai hilir mudik keluar masuk pintu utama dengan wajah gelisah. Persis seperti setrika yang panas. Di kepalanya mulaikeluar asapnya. Karena kasihan melihat Yudha, maka saya memutuskan untuk menunggu di luar gedung. Yudha saya minta untuk masuk saja.

Memasuki menit ke-15 kepanikan mulai menjalar ke semua panitia. Mellaui walkie talkie saya umumkan bahwa kalau sampai 18.20 Vega belum juga muncul, acaranya harus dimulai meski tanpa band pembuka. Karena situasinya demikian tegang, maka saya berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Saya berbicara via walkie talkie: “Yudha, bilang sama Vega ya…lain kali jangan pakai Vega tapi suruh ganti Jupiter MX aja biar cepet kayak angin!”

Semua panitia yang memegang walkie talkie langsung tertawa. “Ha…ha…ha….betul Vega diganti aja Jupiter MX” timpal beberapa rekan.

Eh, tak berapa lama kemudian Vega pun muncul. Saya langsung mengarahkan dia untuk berjalan ke panggung sambil berkata “Vega besok kamu ganti Jupiter MX ya…biar tidak terlambat!”

Mendengar hal itu Vega hanya bengong. Dia semakin kebingungan ketika panitia yang lain ikut senyum-senyum mendengar gurauan saya.

Anda yang baca ini pasti sudah mengerti kan antara Vega dan Jupiter MX? Kalau belum mengerti silakan lihat iklan motor Yamaha (Bernike Rwb).

Takut,…..tidak Bisa Tidur

Saya merasa senang sekali ketika menerima telepon dari bpk. Sigit Djentoro bahwa saya diminta untuk melakukan pra-perkenalan di GKI Klaten. Pra perkenalan dilaksanakan selama tiga bulan dari Oktober-Desember 1998.
Ketika itu saya baru saja sampai di Klaten. Belum genap sehari di Klaten, saya mendapati tamu pertama saya, yaitu bpk. Djoko Soedibjo. Waktu itu adalah hari Jum’at. Seperti biasanya, setiap hari Jum’at sore diadakan persekutuan kelompok. Hari itu sebenarnya Pak Joko mendapat jatah memimpin di kelompok 7-8, di rumah bpk. Agus Handoyo (Seng Han).
“Bagaimana kalau Anda yang memimpin kelompok 7-8, nanti sore?” kata pak Djoko mengutarakan maksudnya. “Kan, bisa sekalian perkenalan.” Begitu alasannya.
Karena alasannya seperti itu dan sebagai orang baru, saya pun menyanggupinya. Meskipun dalam hati sebenarnya merasa deg-degan juga. Saat persekutuan dimulai, jantung saya mulai berdegup kencang. Ketika giliran menyampaikan firman Tuhan itu tiba, saya berdiri di hadapan jemaat. Anehnya, suara saya tidak terdengar kalau saya gugup, hanya saja … keringat saya keluar segede biji-biji jagung! Itulah kenangan manis pertama, dikerjain oleh pak Djoko.
Kenangan manis kedua adalah ketika saya datang lagi ke Klaten untuk melaksanakan perkenalan, bulan September 1999. Waktu itu saya dijemput oleh ibu Wiem Seimahuira lalu dibawa ke rumah bpk. Budi Hakim untuk tinggal di sana karena Pastori sedang direnovasi.
Dari pagi hingga siang hari tidak ada permintaan untuk melayani, tapi setelah jam makan siang ada permintaan agar saya memimpin upacara tutup peti. Pengalaman ini membuat saya tetap bisa tidur malamnya karena ada banyak anak kos yang menemani he..he…he…
Berbicara mengenai pelayanan upacara kematian, ada beberapa kenangan yang melekat dan berkesan hingga kini. Suatu malam, sekitar pukul 22.00, ada seorang ibu yang dipanggil Tuhan. Bersama dengan pak Darjanto dan ibu Roestanta, saya datang ke rumah almarhumah.
Sesampai di sana, jenazah sedang dibersihkan dan ditutupi dengan kain. Saya tidak berani untuk melihatnya, karena saat itu merasa takut banget. Peristiwa itu masih terbayang-bayang sesampai di Pastori. Akibatnya malam itu saya tidak bisa tidur
Untuk itu mengatasi ini, saya memiliki resep manjur. Setiap kali usai memimpin upacara kematian, selama seminggu kemudian saya ‘mengorbankan” tidur siang. Dengan demikian, malamnya saya bisa langsung tidur lelap karena siangnya sudah capek. Inilah beberapa kenangan saya yang berkesan.
Pdt. Pelangi Kurnia Putri

Sweet Memories dari Jemaat GKI Klaten

S ebelum aku melayani di GKI Klaten, aku tak pernah punya kesan apa-apa setiap kali akan melewati kota ini. Kota Klaten yang hanya berjarak 32 km dari Yogyakarta dan di masa kecilku aku sering diajak almarhum ayahku ke Klaten. Yang kuingat adalah toko “Florida” yang menjual ayam panggang.
Ketika aku kuliah di Salatiga, aku sering lewat Klaten tanpa kesan yang berarti. Begitu pula ketika aku melayani di GKI Masaran, setiap hari Jum’at aku bolak-balik lewat kota ini. Ditambah lagi kalau ada rapat komisi Klasis atau pertemuan lain. Tak ada kesan.
Baru setelah aku bekerja di GKI Klaten, kota Klaten menjadi bagian dari diriku. Jalan-jalan yang kulewati menjadi berarti bagiku karena di jalan-jalan itu aku mengalami saat-saat yang menyenangkan: mengunjungi orang-orang tertentu, memimpin persekutuan wilayah, makan bubur lethok…..aduh, nikmatnya!
Di GKI Klaten, aku lebih banyak berkhotbah di Bakal Jemaat dan Pos Jemaat. Di Jemaat aku lebih banyak melayani jemaat lanjut usia dalam persekutuan Kowulan, paduan suara Kowulan, jalan-jalan pagi setiap Sabtu, bidston pagi dan kursus ketrampilan di Pastori.
Para jemaat yang lanjut usia menyambutku dengan hangat dan akrab sehngga aku kerasan, merasa at home di Klaten. Seolah-olah sudah puluhan tahun aku di sini.
Dua tahun berjalan sangat cepat dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagiku. Aku tak akan melupakan orang-orang yang pernah memanjakan aku, antara lain sdri. Lan Hyang, tante toko Muncul (bu Sigit), bu Padmo, Mak Oedip, bu Dalyo, mbak Nur dan Sioe Ing. Sebagian dari mereka sudah dipanggil Tuhan.
Sekarang, setiap kali aku melewati “gereja Jago”, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh kalbuku. Happy Birthday GKI Klaten.
Debora K. Tioso

Jemaat yang Akrab dan Ramah

Jemaat GKI Klaten adalah jemaat yang ramah, solider, familiar dan memiliki semangat pelayanan yang tinggi. Selama sembilan tahun melayani di GKI Klaten, iklim semacam ini sungguh saya rasakan. Misalkan setiap ada kegiatan Bulan keluarga, diadakan lomba di SD Kristen III. Kami merasakan betapa akrabnya anggota jemaat.
Keakraban nampak juga dalam kegiatan sepeda bersama. Selain itu, keberadaan komisi perkunjungan menunjukkan betapa tingginya kepedulian gereja terhadap anggota-anggotanya.
Kepedulian tersebut juga dinampakkan terhadap pendetanya. Menjadi pendeta di GKI Klaten pasti kenyang jasmani-rohani. Kenyang jasmani karena banyak anggota jemaat yang punya toko roti he…he…he…. Dan kenyang rohani karena ada bidston pagi.
Ada hal unik lagi di GKI Klaten, yaitu seorang calon anggota jemaat yang minta dilayani katekisasi secara privat, setiap hari dari pukul sembilan malam sampai pukul satu pagi. Yah….memang tidak sia-sia, sebab akhirnya dia lebih pintar dari gurunya.
Bagi saya, sesuatu yang indah dan membanggakan serta mengesankan adalah karena boleh ditahbiskan menjadi pendeta di jemaat GKI Klaten ini. Kepedulian jemaat GKI Klaten bukan hanya dinampakkan secara internal, tetapi juga secara eksternal yaitu kepada masyarakat dan lingkungannya.
Akhirnya, pesan saya, kiranya karunia Tuhan yang indah ini terus dipertahankan bahkan ditumbuhkan di tengah kehidupan masyarakat modern yang cenderung semakin mementingkan diri sendiri. Dalam usia ke-40 tahun ini, GKI Klaten semakin menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Selamat Ulang tahun. Selamat menjadi berkat. Tuhan menyertai.
Cirebon, 6 Februari 2007
Pdt. Sugeng Daryadi A.S
Ibu Vera Sophie Tunas

Pengalaman Pertama Donor Darah

T ahun 1981, jemaat GKI Klaten meneguhkan seorang calon pendeta, lulusan baru dari sekolah teologi, sebagai tua-tua khusus. Sebagaimana layaknya lulusan baru, sang calon pendeta, yaitu saya, Purboyo, punya banyak sekali idealisme dan gagasan bagi jemaat GKI Klaten. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan “bulan pelayanan”. Tujuannya adalah memotivasikan warga jemaat untuk secara bersama maupun sendiri-sendiri menjalankan tugas panggilan pelayanannya bagi sesama.
Majelis Jemaat menyambut baik gagasan itu, seraya tidak lupa mengingatkan saya untuk lebih realistis. Keputusannya adalah alih-alih “bulan pelayanan”, GKI Klaten akan menyelenggarakan, bila memungkinkan setiap tahun, “pekan pelayanan”. Di samping berbagai kegiatan pelayanan misalnya pendirian seksi bea-siswa dan perkunjungan ke panti werda. Salah satu kegiatan unggulan dalam “pekan pelayanan” GKI Klaten waktu itu adalah aksi donor darah.
Untuk itu panitia dibantu oleh seorang Tua-tua, bapak Soekamto, seorang mantri, yang biasa dipanggil Pak Kamto. Beliaulah yang berjasa menghubungkan Palang Merah setempat dengan panitia. Sehingga akhirnya disepakati bahwa aksi donor darah itu akan dilaksanakan pada hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan” GKI Klaten. Dan sejak itu dalam rapat rutin panitia rencana aksi donor darah itu selalu dibicarakan.
Dengan makin mendekatnya hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan”, makin mendesaklah upaya untuk mendapatkan cukup orang yang bersedia menjadi donor. Pihak Palang Merah sudah mengisyaratkan bahwa mereka akan datang bila setidaknya terdapat 15-20 orang donor.
Seminggu sebelum hari H, jumlah calon donor baru mencapai 14 orang. Tiba-tiba Pak Kamto dengan santainya berkomentar;
“Lha kita sendiri yang duduk di panitia ya harus memberi contoh jadi donor, dong.” Ia berhenti sejenak, berdehem, lalu melihat kepada saya. “Calon pendeta kita juga toh…?”
Saya agak terkesiap. Saya belum pernah menjadi donor. Saya agak ngeri membayangkan jarum yang begitu besar yang akan ditancapkan di lengan saya. Akan cukup kuatkah saya? Tidakkah saya akan pingsan?
“Bagaimana Saudara Purboyo…?” Pak Kamto kembali bertanya.
Segenap anggota panitia turut memandang kepada saya.
“Ya… baiklah… Anggota panitia yang lain juga kan..?” jawab saya dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan.
Dan begitulah. Berkat Pak Kamto yang menurut warga jemaat GKI Klaten memang biasa “ceplas-ceplos” itu, para anggota panitia termasuk saya, turut menjadi donor. Dan aksi donor darah itu berhasil dengan baik. Kalau tidak salah waktu itu sekitar 40 orang yang memberikan darahnya
.
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya

Senang dan Berbahagia Melayani di GKI Klaten

S aya merasa senang dan berbahagia mendapat kesempatan melayani di GKI Klaten karena mendapat pengalaman yang banyak. Saya melayani di “gereja Jago” ini selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1977. Mula-mula, saya melayani bersama dengan pdt. Y. Widyanto, namun itu tak berlangsung lama karena beliau kemudian pindah ke GKI Ngupasan. Saya kemudian melayani sendirian.
Setelah itu, pdt. Iwan Kosasih memenuhi panggilan jemaat GKI Klaten. Kami melakukan pelayanan bersama-sama hanya selama tiga bulan karena kali ini saya yang pindah pelayanan ke GKI Pekalongan. Di sini saya melayani selama 2 tahun, setelah itu melayani selama sebelas tahun di GKI Temanggung. Hingga akhirnya saya melayani di Panti Wreda “Darma Kasih” Purbalingga hingga saat ini.
Saya melihat jemaat GKI Klaten sebagai jemaat yang ramah, aktif dan menyenangkan. Saya bersyukur karena GKI Klaten mengalami perkembangan yang pesat. Pada masa pelayanan pdt. Iwan Kosasih, mereka dapat merenovasi gedung gereja yang cukup representatif. Gereja ini juga telah memiliki tiga Bakal Jemaat dan satu Pos Jemaat. Salah satu Bajem tersebut telah didewasakan, yaitu GKI Prambanan.
Selaku pimpinan Panti Wreda “Darma Kasih” saya Lili Dwi Aryani, mengucapkan selamat kepada GKI Klaten dalam merayakan HUT ke-40. Kiranya Tuhan memberkati pendeta-pendetanya, majelis dan komisi-komisi.
15 Februari 2007
Lili Dwi Aryani

Bersepeda Motor Ria

Tujuan : Mewujudkan persekutuan, pelayanan dan kesaksian sambil menikmati dan memelihara alam. Dalam rangka Pentakosta kira-kira pada tahun 1982-an, kami mengadakan acara ‘bersepeda motor ria’.
A) Setiap grup terdiri dari 4 sepeda motor ; terdiri dari 6 atau 7 orang peserta. Harus dari berbagai usia dan jenis kelamin. Misalnya 2 orang tua/dewasa, 2 pemuda, 2 anak-anak.
B) Setiap grup diwajibkan membawa: 1 Alkitab, 1 buku tulis, 1 paket hadiah, 1 batang pohon, beberapa ekor ikan air tawar.
C) Rute : Start dari gedung gereja Jago. Grup pertama diberangkatkan pukul 3 sore. Menuju ke prambanan, Pesu dan berakhir di danau Jimbung. Rute yang dilalui tidak melalui jalan raya, tapi melintasi desa-desa, tepian sawah, menyeberang sungai yang tanpa jembatan seluruhnya. Jarak yang ditempuh sekitar 75 km.
D) Tugas :
1. Mengikuti petunjuk jalan pada peta
2. Menebar bibit ikan pada tempat yang ditentukan
3. Mendatangi keluarga yang perlu dikunjungi dan memawancarai mereka sedetail mungkin
4. Memberikan hadiah yang mereka bawa
5. Menanam pohon buah di pekarangan mereka
6. Membeli makanan atau minuman yang dibuat oleh anggota bajem Prambanan dan Pesu
7. Berdoa bersama keluarga yang dikunjungi
E) Untuk anggota-anggota bajem Prambanan dan Pesu, diminta membuat: Nasi pecel, es rujak, kacang godog, es degan, dll. Pesu terkenal getuknya bu Dali dll. Keuntungan dari usaha ini dimasukkan ke dalam kas bajem. Masing-masing harga boleh dinaikkan. Untuk Bapak dan Ibu yang tidak bisa naik sepeda motor disediakan mobil colt milik bapak Tiong Djing dan yang punya mobil bisa bawa untuk membawa Opa, Oma dan bayi. Juga disediakan mobil pick up milik bapak Y Wahyudi untuk keperluan darurat, misalnya bila ada sepeda motor yang rusak. Walkie talky dipergunakan untuk memonitor yang tersesat.
F) Acara ini : diikuti oleh sebagian besar anggota bahkan juga teman-teman di keluarga. Tujuannya mendidik kita untuk :
1. Memperhatikan sesama anggota tubuh Kristus yang berada di tempat-tempat terpencil
2. Membagikan cinta kasih dan saling melayani
3. Menguatkan dan menginjili keluarga-keluarga yang belum mengenal Kristus
4. Belajar untuk ikut mempersembahkan potensi/talenta/karunia yang Tuhan berikan
5. Ikut memperhatikan environment/memelihara alam dengan penghijauan penebaran bibit ikan di sungai, menanam pohon di rumah anggota agar bisa menambah ekonomi keluarga
6. Mencintai alam dan menikmatinya
7. Belajar menjadi pengemudi yang sopan dan tertib
Semua mengikuti acara dengan penuh sukacita dan membawa kenangan manis yang tak terlupakan. Selamat ber HUT ke 40 – semoga Tuhan karuniakan lagi berbagai kreativitas baru pada Anda.

Pdt. Iwan Kosasih

Menumpang Truk

T ahun 1973 saya adalah anggota Depker (sekarang BPMK) klasis Yogyakarta. Bersama saudara Soehardjo seorang majelis GKI Klaten (juga anggota Depker), kami melakukan pelawatan Klasis.
Berangkat dari Klaten pukul 15.00 WIB, dengan naik bis menuju GKI Coyudan Solo. Dari Coyudan, dengan diantar mobil, kami memulai pelawatan ke GKI Masaran, GKI Nusukan, dan terakhir ke GKI Coyudan. Selesai pukul 24.00 WIB, kami langsung diantar dengan mobil menuju ke terminal bis Purwosari.
Sesampai di sana, karena sudah sangat larut, sudah tidak ada kendaraan umum yang menuju Klaten. Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya ada truk memuat kayu jati yang menuju Klaten.
Sang sopir yang baik hati menawarkan jasa tumpangan, tapi harus duduk di atas gelondongan kayu jati, sebab bak depan sudah penuh dengan penumpang. Dan lagi mobil itu hanya sampai di Plembon, Ketandan, Klaten.
Pikir punya pikir dari pada tidak mendapat kendaraan kami mau juga. Berangkat dari Purwosari pukul 02.00 WIB, sampai di Plembon, Ketandan pukul 03.00 pagi. Karena waktu itu belum banyak kendaraan maupun becak (tidak seramai sekarang), maka kami terpaksa menempuh sisa perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Sampai di Klaten, hari sudah pagi. Sungguh manis!!!
Pdt. J. Widyanto

Ban Meletus, Mobil Masuk Sawah

M inggu pagi tahun 1959. Saya telah berada di terminal bis Gemblekan Solo. Di hari yang masih sejuk itu, saya mencari kendaraan jurusan Klaten karena harus memimpin kebaktian di Gereja Jago (sekarang GKI Klaten).
Hanya ada satu kendaraan yang akan ke Klaten, yaitu taksi tapi belum siap berangkay karena penumpangnya masih kurang tiga orang. Untuk mengejar waktu supaya kebaktian tidak terlambat, maka saya bersedia membayar biaya kekurangan tersebut asal bila di perjalanan nanti ada tambahan penumpang, maka ongkosnya milik saya.
Taksi segera berangkat, kilometer demi kilometer terlampui. Klaten semakin dekat. Tetapi pada suatu tikungan di daerah Ketandan, tiba-tiba…. ”dooor!” Ban mobil meletus. Kendaraan jadi oleng, nyaris menabrak phon dan akhirnya….”bleeeb”, masuk ke sawah yang agak becek dan berhenti.
Tuhan masih melindungi. Tidak ada yang cedera. Penduduk sekitar tempat kejadian segera datang memberi pertolongan. Mobil diangkat dan didorong sampai ke tepi jalan raya. Ban kemudian diganti, dan taksi bisa melaju sampai tujuan.
Tiba di gereja, kebaktian tengah berlangsung. Bapak R.M.E Mangunsusanto sedang berkhotbah. Saya pelan-pelan masuk dan duduk di barisan paling belakang sampai kebaktian selesai. Saya tidak jadi berkhotbah.
Pdt. Tjahjaputra

Ogah Dititipi

Pada tahun 1957-1958, angkutan bis masih sangat sulit sehingga untuk naik bis penumpang harus antri membeli karcis. Saya berangkat dari Solo menuju Klaten pada hari Sabtu siang.
Di terminal Hardjodaksina Gemblegan, saya antri untuk membeli karcis. Selagi antri bersama-sama dengan orang lain, tiba-tiba seorang Ibu mendekati saya. Dia meminta tolong untuk menitip membeli karcis ke jurusan Klaten.
Barangkali karena udara yang panas dan banyaknya orang, serta suasana ramai membuat saya menolak untuk dititipi karcis, kendati jurusannya sama. Setelah sampai di Klaten, saya melaksanakan tugas-tugas pelayanan sampai malam. Sesudah itu, saya diantar oleh panitia GKI Klaten untuk menginap di rumah salah seorang anggota jemaat(tempat menginap pendeta dari Solo saat itu masih bergiliran di rumah anggota jemaat yang bersedia).
Ketika masuk ke dalam rumah dan diperkenalkan dengan pemilik rumah, betapa kagetnya saya, karena ternyata pemilik rumah itu adalah ibu yang tadi siang saya tolak ketika menitip beli karcis di Solo. Untunglah, tampaknya ibu itu lupa dengan wajah saya tadi siang.
Pdt. N.E. Jeshua

Hado-gado ala Kanada

Dalam proyek rekonstruksi, kami bekerja sama dengan LSM Kanada. LSM ini didukung gereja-gereja dari Kanada. Kami sering berkoordinasi dengan staf LSM yang berasal dari Kanada.
Pepatah “Lain ladang, lain belalang”, ada benarnya juga. Suatu kali kami menyuguhkan gado-gado kepada bule dari Kanada ini. Begitu dipersilakan, Bule itu segera mengambil sayur-sayuran segera menyantapnya. Setelah itu, menciduk nasi putih dan sambel kacangnya, lalu diaduk menjadi satu. Dan memakannya. Inilah gad-gado ala Kanada.

Lupa Copot Sepatu

Namanya pak Giri Sutjipto. Pensiunan TNI AD ini bergabung di posko kemanusiaan karena punya segudang ketrampilan di bidang konstruksi. Maklum saja, dia dulu bertugas di pasukan Zeni tempur.
Sebelum bergabung, pak Giri sering menderita sakit. Tapi ketika aktif di proyek rekonstruksi rumah paska gempa, dia malah jarang sekali menderita sakit. Pekerjaan kemanusiaan ini membuatnya bersemangat kembali di usia senja.
Totalitasnya patut diacungi jempol. Begitu seriusnya dia dalam pekerjaan, sampai-sampai ketika berangkat tidur dia lupa mencopot sepatu yang dipakainya di siang hari!

HT < >HP

Dalam bencana alam ini, alat komunikasi radio telah memberikan jasa yang sangat besar. Telepon genggam yang berteknologi canggih, ternyata selama beberapa hari tak berdaya menghadapi goncangan gempa. Beberapa wilayah mendadak mengalami blank spot karena menara BTS tidak dapat beroperasi. Selain itu, server komputer di kantor penyedia telepon nir kabel juga tak mampu menampung lonjakan panggilan dan kiriman SMS secara serentak. Pemegang HP di wilayah gempa tidak dapat ditelepon atau menelepon. Yang bisa dilakukan adalah bertukar kabar lewat SMS. Itu pun harus ekstra sabar karena pengirimannya mengalami delay (penundaan).
Tim GKI cukup dibantu dengan adanya Handie Talkie dan Rig. Meski begitu, tidak semua orang dapat mengoperasikan HT. Tersebutlah seorang relawan, yang walaupun sudah lanjut usia tapi masih punya semangat untuk melayani. Supaya mudah berkomunikasi, maka diberikan HT kepadanya. Tapi karena belum terbiasa dengan alat komunikasi ini maka terjadi kelucuan.
Dia menempelkan pesawat HT di telinganya persis seperti ketika memakai Handphone. Setelah itu memencet terus tombol bicara, sehingga lawan bicaranya tidak punya kesempatan untuk berbicara.
“Halo…halo….halo….,” katanya berulang-ulang dengan suara keras. Relawan lainnya hanya senyum-senyum saja.

Panik Boleh, tapi Jangan Porno

Gempa pasti membuat orang panik. Gempa di Jogja dan Jateng terjadi sekitar pukul 6. Waktu itu banyak orang yang sedang berada di kamar mandi. Salah seorang ibu, anggota jemaat kami mengaku waktu itu dia sedang di kamar mandi.
Ketika terjadi goncangan hebat, dia segera keluar untuk menyelamatkan diri. Untunglah salah satu pembantunya mengingatkan bahwa ibu itu tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Kontan, dia menyambar selembar handuk sebelum akhirnya menghambur keluar rumah.

Tahan Gempa, tapi….

Pada masa rekonstruksi setelah gempa, banyak lembaga menawarkan konsep rumah tahan gempa.
Salah satu LSM dengan bersemangat membangun rumah tahan gempa menggunakan bahan dari kayu dan bambu. Dengan bersemangat salah satu aktivisnya menerangkan kelebihan bangunan itu. “Jika nanti ada gempa besar lagi, meski ikut bergoyang tapi bangunan ini tidak akan ambruk,” jelasnya dengan berapi-api.
“Numpang tanya, mas” salah satu warga berdiri,”apakah rumah itu juga tahan rayap dan angin besar. Soalnya di sini banyak rayap dan sering ada angin besar?”
Sang aktivis LSM hanya nyengar-nyengir saja.

Ada Banyak Agus

Di Posko kami, ada banyak relawan yang memakai nama “Agus”. Ada yang bernama”Agus Mulia”, “Agus Handoyo”, “Agoes Handojo”, “Agus Permadi”, dan “Agus Subagio.”
Suatu pagi, ada seorang perawat yang berasal dari Kalimantan masuk ke Posko. Dia juga menjadi relawan di posko kami.
“Saya mencari pak Agus?” kata perawat.
“Yang dicari Agus siapa? Di sini ada banyak Agus” jawab koh Yoyok yang memang senang mengusili orang. Dia sendiri bernama lengkap Agus Handoyo.
“Memangnya ada berapa orang yang bernama Agus di sini?” tanya perawat itu dengan heran.
“Di Klaten ini, semua pria dewasa dipanggil dengan nama Agus,” jawab koh Yoyok dengan muka serius,”Contohnya, Agus Wawan, Agus Ajion, Agus Mulia.”
Perawat itu menjadi bengong. “Oh, begitu ya. Jadi semua pria di sini dipanggil Agus?” tanya perawat itu dengan polos.
Semua orang yang di Posko mengiyakan sambil menahan geli.
Rupanya perawat itu termakan oleh keusilan koh Yoyok. Selama beberapa hari, perawat itu memercayai omongannya. Setiap kali memanggil pria, dia selalu mengawalinya dengan “Agus”

“Mencuri” Rancangan

Pada masa rekonstruksi paska gempa di Jogja dan Klaten kemarin, gereja-gereja dari berbagai denominasi menunjukkan peran yang menonjol dalam membantu para penyintas gempa. Bahkan gereja yang terkena gempa juga antusias dalam mengerjakan pekerjaan kemanusiaan. Sayangya, karena terlalu bersemangat, kadang mereka mengabaikan etika. Salah satunya adalah kisah nyata berikut ini:
Ada satu gereja yang telah menyiapkan rencana rekonstruksi. Mereka telah merancang desain rumah yang akan dibangun untuk warga berserta anggaran biayanya. Rancangan itu kemudian disodorkan kepada warga untuk dimintai pendapatnya. Rupanya, rancangan itu sampai ke tangan pendeta dari gereja lain. Sebutlah namanya pdt. Mikael (bukan nama sebenarnya).
Berbekal rencangan ini, pdt. Mikael kemudian menemui sebuah lembaga donor dari Jerman. Dia mengatakan bahwa gerejanya sedang mengerjakan rumah seperti ini dan mengajak lembaga itu untuk membiayai proyeknya [padahal sesungguhnya tidak].
Namun bule dari Jerman itu tidak langsung percaya begitu saja. Dia mencermati desain rumah itu dan ia merasa pernah melihat rancangan rumah yang persis seperti ini sebelumnya. Dia lalu teringat, temannya yang sama-sama eks-patriat pernah menunjukkan desain rumah yang mirip seperti ini. Orang Jerman ini lalu menghubungi temannya.
Teman dari bule mengiyakan bahwa lembaganya memang sedang membiayai pembangunan rumah dengan desain ini, tapi bukan dari gereja yang dipimpin oleh pdt. Mikael ini.
Untuk lebih memastikan kebenaran informasi tersebut, maka kedua orang asing yang berasal dari lembaga yang berbeda itu sepakat untuk mengundang koordinator lapangan proyek ini. Tapi sebelum koordinator datang, pendeta itu sudah pamitan. Sampai sekarang dia tidak nongol lagi. Ada-ada saja!

Kitab Baru

Pendeta Krisapndaru dari Gereja Kristen Jawa Pedan membuka posko untuk membantu penyintas gempa di kecamatan Pedan, Cawas dan Karangdowo. Wilayah yang harus dijangkau sangat luas sehingga pdt. Ndaru harus bekerja keras dari pagi hingga malam.
Selain harus mengkoordinasikan penyaluran, dia juga harus memikirkan bagaimana cara mencari bantuan dari dermawan dan donatur. Begitu seriusnya dia memikirkan hal ini, hingga yang ada di kepalanya adalah bagaimana mendapat bantuan beras…beras….beras….
Karena terus-terusan memikirkan beras, maka pada saat berkhotbah di hari Minggu, pendeta ini sempat kepleset. Dia bercerita, ‘Pada saat akan berkhotbah, saya berkata begini, ‘Mari kita buka Alkitab kita dan membaca Beras, pasal lima, ayat tiga’”, kata pak Ndaru sambil terkekeh.

Trauma Healing

Untuk memberi penguatan kerohanian pada penyintas gempa, pendeta Hosea (bukan nama sebenarnya) punya ide untuk mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Kebetulan dia menjadi aktivis sebuah Forum Kerjasama Gereja-gereja. Maka dia mengajukan gagasannya ke organisasi ini. Sedangkan untuk anggaran biayanya akan dipenuhi oleh Forum ini.
Pada kenyataannya, rencana ini tidak berjalan mulus. Karena kurangnya koordinasi, panitia tidak dapat bekerja sama dengan baik. Padahal publikasi sudah disebar dan artis sudah diundang, yaitu Edo Kodolonggit. Waktu semakin mepet, tapi persiapan belum matang. Melihat hal tersebut, pemuda-pemuda di sebuah gereja (bukan gereja yang dilayani oleh pdt. Hosea) mengambil inisiatif untuk menyiapkan acara ini. Mereka bahkan mengeluarkan uang sendiri untuk menalangi biaya yang diperlukan.
Berkat kasih karunia Tuhan, acara tersebut berlangsung dengan lancar. Ada ratusan orang yang menghadiri acara ini.
Rupanya Pdt. Hosea terkesan dengan kinerja pada pemuda gereja yang bekerja secara sigap dan efesien ini. Maka dia menghubungi salah satu majelis di gereja itu untuk menawarkan kerjasama lagi. Dia ingin mengadakan program pemulihan trauma (trauma healing) terhadap penyintas gempa.
Majelis gereja itu kemudian menyampaikan tawaran pdt. Hosea ini kepada para pemuda di gerejanya. Reaksi pertama yang ditunjukkan oleh para pemuda adalah tertawa ngakak.
“Sebenarnya yang lebih membutuhkan pemulihan trauma adalah kami,” kata salah seorang pemuda.
“Maksudnya bagaimana?” tanya Majelis dengan heran.
“Kami, –para pemuda gereja–, sampai sekarang masih merasa trauma bekerja sama dengan pendeta Hosea itu,” lanjut sang pemuda.

Lebih Baik Punya Mereka

Pada masa tanggap darurat setelah gempa di Jogja dan Klaten, kami menembus daerah-daerah terpencil yang belum mendapat bantuan dari pihak lain. Salah satu wilayah yang susah dijangkau adalah kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Medannya sangat sulit karena harus mendaki perbukitan kapur yang terjal. Alat transportasi yang paling tepat umtuk wilayah ini adalah dengan sepeda motor. Mobil tidak dapat menjangkau ke sana karena satu-satunya jembata yang menuju ke desa itu rusak parah karena gempa.
Saya sebenarnya agak trauma berkendara ke wilayah itu, karena dulu saya pernah terjatuh hingga tak sadarkan diri di sana.
Namun dengan meminta pertolongan Tuhan, kami akhirnya dapat menembus daerah itu. Saat bertemu dengan warga di sana, kami meminta bantuan mereka untuk mengangkut bantuan logistik dari posko kami. Mereka menyambut dengan antusias dan segera mengeluarkan beberapa sepeda motor dari dalam rumah.
Melihat sepeda motor mereka, kami sempat terpana sejenak. “Busyet! Sepeda motor mereka lebih bagus daripada milik kami” demikian batin saya. Usia sepeda motor itu pun juga lebih muda.
Tetua di kampung itu sepertinya bisa menebak isi pikiran kami. “Alat transportasi paling tepat untuk desa kami adalah sepeda motor. Karena medan di sini sangat terjal, maka kami membutuhkan sepeda motor yang masih muda dan bertenaga. Kalau pakai sepeda motor tua, napasnya pasti habis untuk mendaki lereng bukit ini,” demikian katanya.
Saya hanya manggut-manggut saja. Ternyata memang benar. Selama beberapa hari kemudian, alat trasnprortasi mereka terbukti handal dalam menyelesaikan tugas

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Bakar, bakar, bakar! KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Retret Pasutri Retret Pasutri
Wise Words
sms inspiratif