Vega, Vega

0

Posted on : 28-07-2008 | By : GKI | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Beberapa minggu setelah gempa bumi Mei 2006, kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Tujuan utamanya adalah sebagai pemulihan trauma bagi para korban gempa dashyat ini. Kami mengundang Edo Kondologit, Nindy Ellesse, Albert AFI, dsb. Sebelum mereka tampil, acara akan dibuka dulu oleh band pembuka dari GSJA Filipi. Menurut jadwal, band pembuka seharusnya tampil pukul 18.00.

Hampir seluruh pemain band sudah siap, tapi ada satu pemain yang belum nongol juga. Namanya Vega.

Ditunggu 5 menit, dia belum kelihatan juga. Sepuluh menit berlalu, Vega belum kelihatan hidungnya! Yudha yang menjadi stage manager mulai panik. Sebab tanpa Vega, maka keseluruhan acara belum bisa dimulai.

Yudha mulai hilir mudik keluar masuk pintu utama dengan wajah gelisah. Persis seperti setrika yang panas. Di kepalanya mulaikeluar asapnya. Karena kasihan melihat Yudha, maka saya memutuskan untuk menunggu di luar gedung. Yudha saya minta untuk masuk saja.

Memasuki menit ke-15 kepanikan mulai menjalar ke semua panitia. Mellaui walkie talkie saya umumkan bahwa kalau sampai 18.20 Vega belum juga muncul, acaranya harus dimulai meski tanpa band pembuka. Karena situasinya demikian tegang, maka saya berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Saya berbicara via walkie talkie: “Yudha, bilang sama Vega ya…lain kali jangan pakai Vega tapi suruh ganti Jupiter MX aja biar cepet kayak angin!”

Semua panitia yang memegang walkie talkie langsung tertawa. “Ha…ha…ha….betul Vega diganti aja Jupiter MX” timpal beberapa rekan.

Eh, tak berapa lama kemudian Vega pun muncul. Saya langsung mengarahkan dia untuk berjalan ke panggung sambil berkata “Vega besok kamu ganti Jupiter MX ya…biar tidak terlambat!”

Mendengar hal itu Vega hanya bengong. Dia semakin kebingungan ketika panitia yang lain ikut senyum-senyum mendengar gurauan saya.

Anda yang baca ini pasti sudah mengerti kan antara Vega dan Jupiter MX? Kalau belum mengerti silakan lihat iklan motor Yamaha (Bernike Rwb).

Takut,…..tidak Bisa Tidur

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Saya merasa senang sekali ketika menerima telepon dari bpk. Sigit Djentoro bahwa saya diminta untuk melakukan pra-perkenalan di GKI Klaten. Pra perkenalan dilaksanakan selama tiga bulan dari Oktober-Desember 1998.
Ketika itu saya baru saja sampai di Klaten. Belum genap sehari di Klaten, saya mendapati tamu pertama saya, yaitu bpk. Djoko Soedibjo. Waktu itu adalah hari Jum’at. Seperti biasanya, setiap hari Jum’at sore diadakan persekutuan kelompok. Hari itu sebenarnya Pak Joko mendapat jatah memimpin di kelompok 7-8, di rumah bpk. Agus Handoyo (Seng Han).
“Bagaimana kalau Anda yang memimpin kelompok 7-8, nanti sore?” kata pak Djoko mengutarakan maksudnya. “Kan, bisa sekalian perkenalan.” Begitu alasannya.
Karena alasannya seperti itu dan sebagai orang baru, saya pun menyanggupinya. Meskipun dalam hati sebenarnya merasa deg-degan juga. Saat persekutuan dimulai, jantung saya mulai berdegup kencang. Ketika giliran menyampaikan firman Tuhan itu tiba, saya berdiri di hadapan jemaat. Anehnya, suara saya tidak terdengar kalau saya gugup, hanya saja … keringat saya keluar segede biji-biji jagung! Itulah kenangan manis pertama, dikerjain oleh pak Djoko.
Kenangan manis kedua adalah ketika saya datang lagi ke Klaten untuk melaksanakan perkenalan, bulan September 1999. Waktu itu saya dijemput oleh ibu Wiem Seimahuira lalu dibawa ke rumah bpk. Budi Hakim untuk tinggal di sana karena Pastori sedang direnovasi.
Dari pagi hingga siang hari tidak ada permintaan untuk melayani, tapi setelah jam makan siang ada permintaan agar saya memimpin upacara tutup peti. Pengalaman ini membuat saya tetap bisa tidur malamnya karena ada banyak anak kos yang menemani he..he…he…
Berbicara mengenai pelayanan upacara kematian, ada beberapa kenangan yang melekat dan berkesan hingga kini. Suatu malam, sekitar pukul 22.00, ada seorang ibu yang dipanggil Tuhan. Bersama dengan pak Darjanto dan ibu Roestanta, saya datang ke rumah almarhumah.
Sesampai di sana, jenazah sedang dibersihkan dan ditutupi dengan kain. Saya tidak berani untuk melihatnya, karena saat itu merasa takut banget. Peristiwa itu masih terbayang-bayang sesampai di Pastori. Akibatnya malam itu saya tidak bisa tidur
Untuk itu mengatasi ini, saya memiliki resep manjur. Setiap kali usai memimpin upacara kematian, selama seminggu kemudian saya ‘mengorbankan” tidur siang. Dengan demikian, malamnya saya bisa langsung tidur lelap karena siangnya sudah capek. Inilah beberapa kenangan saya yang berkesan.
Pdt. Pelangi Kurnia Putri

Sweet Memories dari Jemaat GKI Klaten

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

S ebelum aku melayani di GKI Klaten, aku tak pernah punya kesan apa-apa setiap kali akan melewati kota ini. Kota Klaten yang hanya berjarak 32 km dari Yogyakarta dan di masa kecilku aku sering diajak almarhum ayahku ke Klaten. Yang kuingat adalah toko “Florida” yang menjual ayam panggang.
Ketika aku kuliah di Salatiga, aku sering lewat Klaten tanpa kesan yang berarti. Begitu pula ketika aku melayani di GKI Masaran, setiap hari Jum’at aku bolak-balik lewat kota ini. Ditambah lagi kalau ada rapat komisi Klasis atau pertemuan lain. Tak ada kesan.
Baru setelah aku bekerja di GKI Klaten, kota Klaten menjadi bagian dari diriku. Jalan-jalan yang kulewati menjadi berarti bagiku karena di jalan-jalan itu aku mengalami saat-saat yang menyenangkan: mengunjungi orang-orang tertentu, memimpin persekutuan wilayah, makan bubur lethok…..aduh, nikmatnya!
Di GKI Klaten, aku lebih banyak berkhotbah di Bakal Jemaat dan Pos Jemaat. Di Jemaat aku lebih banyak melayani jemaat lanjut usia dalam persekutuan Kowulan, paduan suara Kowulan, jalan-jalan pagi setiap Sabtu, bidston pagi dan kursus ketrampilan di Pastori.
Para jemaat yang lanjut usia menyambutku dengan hangat dan akrab sehngga aku kerasan, merasa at home di Klaten. Seolah-olah sudah puluhan tahun aku di sini.
Dua tahun berjalan sangat cepat dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagiku. Aku tak akan melupakan orang-orang yang pernah memanjakan aku, antara lain sdri. Lan Hyang, tante toko Muncul (bu Sigit), bu Padmo, Mak Oedip, bu Dalyo, mbak Nur dan Sioe Ing. Sebagian dari mereka sudah dipanggil Tuhan.
Sekarang, setiap kali aku melewati “gereja Jago”, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh kalbuku. Happy Birthday GKI Klaten.
Debora K. Tioso

Jemaat yang Akrab dan Ramah

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Jemaat GKI Klaten adalah jemaat yang ramah, solider, familiar dan memiliki semangat pelayanan yang tinggi. Selama sembilan tahun melayani di GKI Klaten, iklim semacam ini sungguh saya rasakan. Misalkan setiap ada kegiatan Bulan keluarga, diadakan lomba di SD Kristen III. Kami merasakan betapa akrabnya anggota jemaat.
Keakraban nampak juga dalam kegiatan sepeda bersama. Selain itu, keberadaan komisi perkunjungan menunjukkan betapa tingginya kepedulian gereja terhadap anggota-anggotanya.
Kepedulian tersebut juga dinampakkan terhadap pendetanya. Menjadi pendeta di GKI Klaten pasti kenyang jasmani-rohani. Kenyang jasmani karena banyak anggota jemaat yang punya toko roti he…he…he…. Dan kenyang rohani karena ada bidston pagi.
Ada hal unik lagi di GKI Klaten, yaitu seorang calon anggota jemaat yang minta dilayani katekisasi secara privat, setiap hari dari pukul sembilan malam sampai pukul satu pagi. Yah….memang tidak sia-sia, sebab akhirnya dia lebih pintar dari gurunya.
Bagi saya, sesuatu yang indah dan membanggakan serta mengesankan adalah karena boleh ditahbiskan menjadi pendeta di jemaat GKI Klaten ini. Kepedulian jemaat GKI Klaten bukan hanya dinampakkan secara internal, tetapi juga secara eksternal yaitu kepada masyarakat dan lingkungannya.
Akhirnya, pesan saya, kiranya karunia Tuhan yang indah ini terus dipertahankan bahkan ditumbuhkan di tengah kehidupan masyarakat modern yang cenderung semakin mementingkan diri sendiri. Dalam usia ke-40 tahun ini, GKI Klaten semakin menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Selamat Ulang tahun. Selamat menjadi berkat. Tuhan menyertai.
Cirebon, 6 Februari 2007
Pdt. Sugeng Daryadi A.S
Ibu Vera Sophie Tunas

Pengalaman Pertama Donor Darah

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

T ahun 1981, jemaat GKI Klaten meneguhkan seorang calon pendeta, lulusan baru dari sekolah teologi, sebagai tua-tua khusus. Sebagaimana layaknya lulusan baru, sang calon pendeta, yaitu saya, Purboyo, punya banyak sekali idealisme dan gagasan bagi jemaat GKI Klaten. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan “bulan pelayanan”. Tujuannya adalah memotivasikan warga jemaat untuk secara bersama maupun sendiri-sendiri menjalankan tugas panggilan pelayanannya bagi sesama.
Majelis Jemaat menyambut baik gagasan itu, seraya tidak lupa mengingatkan saya untuk lebih realistis. Keputusannya adalah alih-alih “bulan pelayanan”, GKI Klaten akan menyelenggarakan, bila memungkinkan setiap tahun, “pekan pelayanan”. Di samping berbagai kegiatan pelayanan misalnya pendirian seksi bea-siswa dan perkunjungan ke panti werda. Salah satu kegiatan unggulan dalam “pekan pelayanan” GKI Klaten waktu itu adalah aksi donor darah.
Untuk itu panitia dibantu oleh seorang Tua-tua, bapak Soekamto, seorang mantri, yang biasa dipanggil Pak Kamto. Beliaulah yang berjasa menghubungkan Palang Merah setempat dengan panitia. Sehingga akhirnya disepakati bahwa aksi donor darah itu akan dilaksanakan pada hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan” GKI Klaten. Dan sejak itu dalam rapat rutin panitia rencana aksi donor darah itu selalu dibicarakan.
Dengan makin mendekatnya hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan”, makin mendesaklah upaya untuk mendapatkan cukup orang yang bersedia menjadi donor. Pihak Palang Merah sudah mengisyaratkan bahwa mereka akan datang bila setidaknya terdapat 15-20 orang donor.
Seminggu sebelum hari H, jumlah calon donor baru mencapai 14 orang. Tiba-tiba Pak Kamto dengan santainya berkomentar;
“Lha kita sendiri yang duduk di panitia ya harus memberi contoh jadi donor, dong.” Ia berhenti sejenak, berdehem, lalu melihat kepada saya. “Calon pendeta kita juga toh…?”
Saya agak terkesiap. Saya belum pernah menjadi donor. Saya agak ngeri membayangkan jarum yang begitu besar yang akan ditancapkan di lengan saya. Akan cukup kuatkah saya? Tidakkah saya akan pingsan?
“Bagaimana Saudara Purboyo…?” Pak Kamto kembali bertanya.
Segenap anggota panitia turut memandang kepada saya.
“Ya… baiklah… Anggota panitia yang lain juga kan..?” jawab saya dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan.
Dan begitulah. Berkat Pak Kamto yang menurut warga jemaat GKI Klaten memang biasa “ceplas-ceplos” itu, para anggota panitia termasuk saya, turut menjadi donor. Dan aksi donor darah itu berhasil dengan baik. Kalau tidak salah waktu itu sekitar 40 orang yang memberikan darahnya
.
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya

Senang dan Berbahagia Melayani di GKI Klaten

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

S aya merasa senang dan berbahagia mendapat kesempatan melayani di GKI Klaten karena mendapat pengalaman yang banyak. Saya melayani di “gereja Jago” ini selama 4 tahun, yaitu dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1977. Mula-mula, saya melayani bersama dengan pdt. Y. Widyanto, namun itu tak berlangsung lama karena beliau kemudian pindah ke GKI Ngupasan. Saya kemudian melayani sendirian.
Setelah itu, pdt. Iwan Kosasih memenuhi panggilan jemaat GKI Klaten. Kami melakukan pelayanan bersama-sama hanya selama tiga bulan karena kali ini saya yang pindah pelayanan ke GKI Pekalongan. Di sini saya melayani selama 2 tahun, setelah itu melayani selama sebelas tahun di GKI Temanggung. Hingga akhirnya saya melayani di Panti Wreda “Darma Kasih” Purbalingga hingga saat ini.
Saya melihat jemaat GKI Klaten sebagai jemaat yang ramah, aktif dan menyenangkan. Saya bersyukur karena GKI Klaten mengalami perkembangan yang pesat. Pada masa pelayanan pdt. Iwan Kosasih, mereka dapat merenovasi gedung gereja yang cukup representatif. Gereja ini juga telah memiliki tiga Bakal Jemaat dan satu Pos Jemaat. Salah satu Bajem tersebut telah didewasakan, yaitu GKI Prambanan.
Selaku pimpinan Panti Wreda “Darma Kasih” saya Lili Dwi Aryani, mengucapkan selamat kepada GKI Klaten dalam merayakan HUT ke-40. Kiranya Tuhan memberkati pendeta-pendetanya, majelis dan komisi-komisi.
15 Februari 2007
Lili Dwi Aryani

Bersepeda Motor Ria

0

Posted on : 15-06-2008 | By : Purnawan | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Tujuan : Mewujudkan persekutuan, pelayanan dan kesaksian sambil menikmati dan memelihara alam. Dalam rangka Pentakosta kira-kira pada tahun 1982-an, kami mengadakan acara ‘bersepeda motor ria’.
A) Setiap grup terdiri dari 4 sepeda motor ; terdiri dari 6 atau 7 orang peserta. Harus dari berbagai usia dan jenis kelamin. Misalnya 2 orang tua/dewasa, 2 pemuda, 2 anak-anak.
B) Setiap grup diwajibkan membawa: 1 Alkitab, 1 buku tulis, 1 paket hadiah, 1 batang pohon, beberapa ekor ikan air tawar.
C) Rute : Start dari gedung gereja Jago. Grup pertama diberangkatkan pukul 3 sore. Menuju ke prambanan, Pesu dan berakhir di danau Jimbung. Rute yang dilalui tidak melalui jalan raya, tapi melintasi desa-desa, tepian sawah, menyeberang sungai yang tanpa jembatan seluruhnya. Jarak yang ditempuh sekitar 75 km.
D) Tugas :
1. Mengikuti petunjuk jalan pada peta
2. Menebar bibit ikan pada tempat yang ditentukan
3. Mendatangi keluarga yang perlu dikunjungi dan memawancarai mereka sedetail mungkin
4. Memberikan hadiah yang mereka bawa
5. Menanam pohon buah di pekarangan mereka
6. Membeli makanan atau minuman yang dibuat oleh anggota bajem Prambanan dan Pesu
7. Berdoa bersama keluarga yang dikunjungi
E) Untuk anggota-anggota bajem Prambanan dan Pesu, diminta membuat: Nasi pecel, es rujak, kacang godog, es degan, dll. Pesu terkenal getuknya bu Dali dll. Keuntungan dari usaha ini dimasukkan ke dalam kas bajem. Masing-masing harga boleh dinaikkan. Untuk Bapak dan Ibu yang tidak bisa naik sepeda motor disediakan mobil colt milik bapak Tiong Djing dan yang punya mobil bisa bawa untuk membawa Opa, Oma dan bayi. Juga disediakan mobil pick up milik bapak Y Wahyudi untuk keperluan darurat, misalnya bila ada sepeda motor yang rusak. Walkie talky dipergunakan untuk memonitor yang tersesat.
F) Acara ini : diikuti oleh sebagian besar anggota bahkan juga teman-teman di keluarga. Tujuannya mendidik kita untuk :
1. Memperhatikan sesama anggota tubuh Kristus yang berada di tempat-tempat terpencil
2. Membagikan cinta kasih dan saling melayani
3. Menguatkan dan menginjili keluarga-keluarga yang belum mengenal Kristus
4. Belajar untuk ikut mempersembahkan potensi/talenta/karunia yang Tuhan berikan
5. Ikut memperhatikan environment/memelihara alam dengan penghijauan penebaran bibit ikan di sungai, menanam pohon di rumah anggota agar bisa menambah ekonomi keluarga
6. Mencintai alam dan menikmatinya
7. Belajar menjadi pengemudi yang sopan dan tertib
Semua mengikuti acara dengan penuh sukacita dan membawa kenangan manis yang tak terlupakan. Selamat ber HUT ke 40 – semoga Tuhan karuniakan lagi berbagai kreativitas baru pada Anda.

Pdt. Iwan Kosasih

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!