Archive for the ‘Cuma Ada di Klaten’ Category
Plesetan GKJ
Tiga bulan setelah gempa, saya bertemu dengan teman dari GKJ (Gereja Kristen Jawa) Sedayu, pepanthan Sungapan.
Saya bertanya, “Bagaimana gereja Anda setelah gempa?”
Teman saya menjawab, “Akibat gempa, gereja kami benar-benar menjadi GKJ?”
“Maksudnya apa? Apa selama ini belum menjadi GKJ?” tanya saya dengan heran.
“Maksudnya, GKJ itu singkatan dari ‘Gereja Kurang Jejeg’”, kata teman saya sambil tersenyum.
Dalam bahasa Jawa “kurang jejeg” berarti “kurang tegak.”
Sepeda Terjatuh
Seperti biasa, pagi itu mbak Widi belanja ke pasar. Dia mengayuh sepeda dengan santai sambil menikmati suasana pagi. Tapi tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menggoyang sepedanya. Dia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada sepedanya. Kereta anginnya itu mendadak tidak bisa dikuasai sehingga akhirnya dia jatuh terjerembab.
Mbak Widi segera bangun dan mengamati sepedanya untuk mencari tahu apa yang membuatnya terjatuh. Dia menjadi sangat heran karena tidak menemukan sesuatu yang tidak beres pada sepedanya. Jalan yang dilaluinya pun juga tidak ada yang berlubang.
Ketika sampai di pasar, dia baru menyadari apa yang terjadi. Rupanya sepedanya baru saja digoncang oleh gempa berkekuatan 5,9 skala Richter.
Untuk menjaga kebugaran tubuuhnya, mbak Indri dan bu Yono punya kebiasaan bersepeda pagi. Pada saat melewati perumahan, tiba-tiba bu Yono berteriak, “Lho…lho…lho…rumah-rumah itu kok pada ambruk!!!” Mbak Indri mengikuti arah tangan bu Yono. Dia menyaksikan rumah yang bergetar hebat dan ambruk.
Rupanya dia baru saja menyaksikan demonstrasi kekuatan alam, yaitu gempa bumi.
Seorang warga desa mendatangi posko. Kepada pelaksana rekonstruksi dia mengutarakan maksudnya supaya dapat menerima bantuan pembangunan satu unit lagi untuk anaknya.
Koordinator proyek menolak permintaannya karena menurut peraturan, anaknya tidak berhak menerima bantuan.
Bapak itu tidak putus asa. Dengan terang-terangan dia menawarkan sejumlah uang untuk sang Koordinator itu.Dengan kata lain dia berusaha menyuap. Tapi sekali lagi, permintaan itu ditolak dengan tegas.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga kejadian itu. Namanya juga bantuan, tanpa diiming-imingi dengan uang pun sebenarnya bantuan akan diberikan jikalau dia memang berhak menerimanya. Nah, kalau penyintas menawarkan uang kepada pemberi bantuan, berarti logikanya sudah terbalik-balik.
Halaman Berkeramik
Seorang relawan di posko kemanusiaan sedang ngobrol dengan salah satu warga yang rumahnya roboh.
Relawan: “Warga di sini lebih hebat dari penduduk di kota.”
Warga: “Mengapa Anda bisa berkata begitu?”
Relawan: “Soalnya kalaui di sini, halaman rumahnya saja dilapisi keramik” (sambil menunjuk bekas lantai rumah)
Tidak Retak
Setelah gempa besar, biasanya ada gempa susulan. Jika terjadi gempa susulan, di kalangan pengungsi muncul kelakar demikian:
Warga I: “Bagaimana keadaan rumahmu setelah gempa tadi?”
Warga II: “Tidak ada retaknya sama sekali.”
Warga I: “Hebat dong! Apakah rumahmu tahan gempa?”
Warga II:”Bagaimana bisa retak, lha wong temboknya saja sudah tidak ada.”












