Warta Jemaat

0

Posted on : 02-11-2009 | By : widiyatmoko | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Master Warta

Kisah Karpet

0

Posted on : 11-09-2009 | By : widiyatmoko | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"

Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"

Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”

“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya

"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut
pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif,

salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;

1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,

karena itu

artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV,

karena itu

artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal,

karena itu

artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar,

karena itu

artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,

karena itu

artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan,

karena itu

artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,

karena itu

artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,

karena itu

artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,

karena itu

artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

10. Untuk dst…

___________________________________________________________________

Ketika Hidup Harus Memilih

0

Posted on : 10-09-2009 | By : widiyatmoko | In : Renungan, Umum
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu,11 Oktober 2009

Minggu Biasa XXIII

KETIKA HIDUP HARUS MEMILIH

Ayub 23:1-9, 16-17 Mazmur 90:12-17 Ibrani 4:12-16 Markus 10:17-31

Beberapa tahun yang lalu di Virginia Utara, seorang laki-laki tua berdiri di tanggul sungai menunggu seseorang yang dapat menyeberangkannya. Waktu itu udara sangat dingin dan tidak ada jembatan. Setelah lama menunggu, ia melihat sekelompok penunggang kuda yang mendekatinya.Tapi pria tua itu hanya memandang sejenak,lalu membiarkan penunggang yang pertama lewat, begitu seterusnya sampai yang ke lima! Akhirnya muncullah penunggang kuda yang ke enam, setelah melihat ke matanya pria tua itupun berkata, “Pak, bisakah anda memberi saya tumpangan ke seberang sungai?” Tanpa keraguan sedikitpun, penunggang kuda itu memersilakan pria tua itu naik. Setelah sampai di seberang maka bertanyalah penunggang kuda kepada penumpangnya, “ Tadi saya memperhatikan bahwa anda membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat begitu saja , tak ada satupun yang anda mintai tolong. Kemudian ketika saya mendekat, anda dengan segera minta membonceng. Tolong beri tahu saya, mengapa demikian?” Pria tua itu dengan suara pelan menjawab, “ Saya melihat ke mata mereka dan tidak menemukan kehangatan dan cinta kasih, saya tahu bahwa tak ada gunanya kalau saya minta tolong menumpang. Tapi ketika kemudian memandang mata anda, saya melihat kasih sayang dan kesediaan untuk menolong. Saya tahu bahwa dengan senang hati anda akan memberi saya tumpangan ke seberang sungai!” Sesudah berterimakasih atas penjelasan pria tua itu maka Thomas Jeffferson, Presiden Amerika Serikat ke tiga itu segera membelokkan kuda tunggangannya, terus menuju ke Gedung Putih! (Mutiara Mutiara Kasih).

Yang menarik bagi kita bahwa pria tua itu bisa membaca pandangan mata orang, untuk memilih siapa-siapa yang diyakininya bersedia menolong dia. Dalam hidup ini memang ada saat bagi kita untuk memilih, tapi apa selalu hanya dengan cara memandang mata? Walau tak mungkin kita bisa memandang mata Yesus, tetapi tetap bisa memandang hal-hal lain yang lebih akurat, yang ada padaNya yaitu: Firman atau ajaranNya, karyaNya dan juga tubuhNya atau gerejaNya. Meski firman dan karya Kristus sangat penting, tapi agaknya kiprah gereja, atau bahasa tubuh Tuhan, sepak terjang orang-orang beriman, menjadi semacam penentu bagi dunia untuk menolak atau memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru-selamatnya. Read the rest of this entry »

Parade Pujian bersama Herlin Pirena

0

Posted on : 14-08-2009 | By : GKI | In : Foto, Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Setelah vakum selama 4 tahun, akhirnya Herlin Pirena, menyanyi kembali.
Penyanyi berambut panjang tergerai ini tampil dalam Parade Pujian yang diselenggerakan oleh Komisi Musik, GKI Klaten, 14 Agustus 2009.
Dengan diiringi oleh Band Satoe, Herlin menyanyi solo, juga bersama dengan Tata, anak Sekolah Minggu dan paduan suara Immanuel.

Herlin Pirena

Herlin Pirena

parade_puiian5

Herlin Pirena
Paduan Suara Immanuel

Paduan Suara Immanuel, GKI Klaten

Paduan suara Immanuel

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!