Mikha 5:2-5a Lukas 1:47-55 Ibrani 10:5-10 Lukas 1:39-45
Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:
Tinggal sertaku, hari t’lah senja,
G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!
Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )
Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.
Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu, Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:
Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.
Kedua : Karena keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !
Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.
Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!” Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya. Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!
Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri tanpa menunggu
perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan. Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20 ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu. Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!
Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang dikatakan sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah Raja eschatologis, dan Raja damai.
Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!
Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.
Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya
Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal.
Adven (menyongsong Natal). Selama masa Adven, gereja di Eropa pada abad ke-17 memiliki tradisi membaca kitab Mazmur. Isaac Watts (18 tahun) merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat Mazmur.
Brooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.
















0