KETAATAN MEMBAWA SUKACITA

0

Posted on : 09-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mikha 5:2-5a  Lukas 1:47-55  Ibrani 10:5-10   Lukas 1:39-45

Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu  dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:

Tinggal sertaku, hari t’lah senja,

G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!

Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )

Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.

Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu,  Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:

Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.

Kedua : Karena  keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita  seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !

Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.

Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”  Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah  menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja  berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!”  Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah  sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya.  Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!

Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri  tanpa menunggu perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan.  Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan  kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20  ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena  kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang  mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu.  Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!

Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang  dikatakan  sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang  perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan  dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah  Raja eschatologis, dan Raja damai.

Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!

Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Jawaban Doa

1

Posted on : 05-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)

Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.

Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.

Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.

Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]

SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.

Ketaatan Maria

0

Posted on : 04-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)

Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.

Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]

SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Persembahan Raja

0

Posted on : 03-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)

Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.

Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.

Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.

Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]

SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.

Jangan Menahan Kebaikan

0

Posted on : 02-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)

Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.

Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?

Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!

Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].

SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.

Bosan Berbuah Lagu

0

Posted on : 01-12-2009 | By : GKI | In : Umum
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mazmur 98:4)

“Gembira” atau “Joy” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa Adven (menyongsong Natal). Selama masa Adven, gereja di Eropa pada abad ke-17 memiliki tradisi membaca kitab Mazmur. Isaac Watts (18 tahun) merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat Mazmur.

Ayahnya melihat hal ini. Maka dia memberikan tantangan kepada Watts: “Anak muda, kalau kamu bosan dengan lagu Mazmur ini, mengapa kamu tidak menciptakan lagu yang lebih baik?” Tertantang oleh ucapan ayahnya, bocah Inggris yang sejak usia tahun sudah fasih bahasa Latin ini segera membuka Mazmur 98:4-9. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul “The Messiah’s Coming and Kingdom“.

Untuk melodinya, Lawol Mason, seorang musisi dari Amerika mengadaptasikannya dari komposisi George Frederick Handel, dari Jerman. Lagu ini kemudian populer dengan judul “Joy to the World” atau “Hai Dunia, Gembiralah”.

Perikop dalam Mazmur 98:4-9 menceritakan janji Tuhan yang akan memulihkan dan melindungi umat-Nya. Janji itu sudah digenapi dengan kedatangan Yesus ke dunia ini. Waktu remaja, saya mendapat janji dibelikan sepeda balap. Saya begitu menantikan janji itu digenapi. Dan ketika orang tua membelikan sepeda balap itu, hati saya meluap sukacita.

Selama berabad-abad Allah menjanjikan keselamatan kepada manusia. Allah telah menggenapi janji itu. Maka, layaknyalah kita bergembira dan bersorak-sorai dalam memperingati penggenapan janji Allah itu. [Purnawan].

SMS from God: Hai dunia bersoraklah. Sambutlah Rajamu. Beri hatimu kepada-Nya dan bersama bersyukur.

Biasa, Diubah Jadi Luarbiasa

0

Posted on : 29-11-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)

Phillips Brooks, adalah seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem, tahun 1865. Tiga tahun kemudian, saat menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.

Philips BrooksBrooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.

Dalam syair itu dikatakan bahwa Betlehem adalah kota yang senyap. Hal itu beralasan, karena Betlehem adalah kota yang kecil. Dia kalah gemerlap dengan kota Yerusalem. Meski begitu, Allah lebih memilih “kota mungil” ini sebagai kelahiran Juruselamat.

Apakah Anda merasa seperti kota Betlehem? Kecil, sepi, tidak gemerlap dan tidak banyak orang yang memperhatikan. Ketahuilah, Allah tidak memedulikan penampilan dan kemampuan kita. Allah hanya menghendaki kemauan kita untuk dipakai-Nya. Bukanlah Allah itu Mahakuasa? Dia mampu mengubah orang-orang biasa seperti Petrus dkk menjadi rasul yang luarbiasa. Dia pun sanggup memerlengkapi kita sesuai dengan kebutuhan panggilan pelayanan-Nya [Purnawan].

SMS from God: Kecil bukan berarti tidak berharga. Allah mampu mengubah kita menjadi besar asalkan kita memberikan diri secara total.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!