Posts Tagged ‘Adven’
KETAATAN MEMBAWA SUKACITA
Mikha 5:2-5a Lukas 1:47-55 Ibrani 10:5-10 Lukas 1:39-45
Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:
Tinggal sertaku, hari t’lah senja,
G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!
Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )
Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.
Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu, Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:
Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.
Kedua : Karena keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !
Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.
Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!” Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya. Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!
Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri tanpa menunggu
perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan. Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20 ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu. Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!
Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang dikatakan sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah Raja eschatologis, dan Raja damai.
Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!
Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Jawaban Doa
“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)
Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.
Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.
Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.
Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]
SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.
Ketaatan Maria
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)
Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.
Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]
SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.
Persembahan Raja
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)
Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.
Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.
Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.
Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]
SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.
Jangan Menahan Kebaikan
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)
Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.
Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?
Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!
Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].
SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.
Bosan Berbuah Lagu
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mazmur 98:4)
“Gembira” atau “Joy” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa
Adven (menyongsong Natal). Selama masa Adven, gereja di Eropa pada abad ke-17 memiliki tradisi membaca kitab Mazmur. Isaac Watts (18 tahun) merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat Mazmur.
Ayahnya melihat hal ini. Maka dia memberikan tantangan kepada Watts: “Anak muda, kalau kamu bosan dengan lagu Mazmur ini, mengapa kamu tidak menciptakan lagu yang lebih baik?” Tertantang oleh ucapan ayahnya, bocah Inggris yang sejak usia tahun sudah fasih bahasa Latin ini segera membuka Mazmur 98:4-9. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul “The Messiah’s Coming and Kingdom“.
Untuk melodinya, Lawol Mason, seorang musisi dari Amerika mengadaptasikannya dari komposisi George Frederick Handel, dari Jerman. Lagu ini kemudian populer dengan judul “Joy to the World” atau “Hai Dunia, Gembiralah”.
Perikop dalam Mazmur 98:4-9 menceritakan janji Tuhan yang akan memulihkan dan melindungi umat-Nya. Janji itu sudah digenapi dengan kedatangan Yesus ke dunia ini. Waktu remaja, saya mendapat janji dibelikan sepeda balap. Saya begitu menantikan janji itu digenapi. Dan ketika orang tua membelikan sepeda balap itu, hati saya meluap sukacita.
Selama berabad-abad Allah menjanjikan keselamatan kepada manusia. Allah telah menggenapi janji itu. Maka, layaknyalah kita bergembira dan bersorak-sorai dalam memperingati penggenapan janji Allah itu. [Purnawan].
SMS from God: Hai dunia bersoraklah. Sambutlah Rajamu. Beri hatimu kepada-Nya dan bersama bersyukur.
Biasa, Diubah Jadi Luarbiasa
“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)
Phillips Brooks, adalah seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem, tahun 1865. Tiga tahun kemudian, saat menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.
Brooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.
Dalam syair itu dikatakan bahwa Betlehem adalah kota yang senyap. Hal itu beralasan, karena Betlehem adalah kota yang kecil. Dia kalah gemerlap dengan kota Yerusalem. Meski begitu, Allah lebih memilih “kota mungil” ini sebagai kelahiran Juruselamat.
Apakah Anda merasa seperti kota Betlehem? Kecil, sepi, tidak gemerlap dan tidak banyak orang yang memperhatikan. Ketahuilah, Allah tidak memedulikan penampilan dan kemampuan kita. Allah hanya menghendaki kemauan kita untuk dipakai-Nya. Bukanlah Allah itu Mahakuasa? Dia mampu mengubah orang-orang biasa seperti Petrus dkk menjadi rasul yang luarbiasa. Dia pun sanggup memerlengkapi kita sesuai dengan kebutuhan panggilan pelayanan-Nya [Purnawan].
SMS from God: Kecil bukan berarti tidak berharga. Allah mampu mengubah kita menjadi besar asalkan kita memberikan diri secara total.
Hadiah
Bacaan:
Matius 9:35 – 10:1,6-8
APABILA teman akrab Anda menawarkan hadiah kepada Anda dan Anda mencoba untuk membayarnya, apakah itu masih dapat disebut hadiah? Tentu tidak! Demikian juga dengan apa yang Yesus lakukan ketika Ia datang ke dunia.
Ia memberikan hadiah terindah bagi kita, sebagai pemenuhan janji Allah. Hadiah yang diberikannya berupa kasih karunia yang dapat kita lihat lewat tugas pewartaan dan kuasa melakukan mukjizat-Nya yang kemudian diberikan kepada para rasul baik itu lewat pengajaran dan juga penyembuhan.
Ingatlah bahwa Yesus adalah perwujudan belas kasihan Allah yang sempurna kepada manusia. Ia adalah Sang Gembala yang baik, yang selalu rindu untuk mempersatukan domba-domba-Nya. Ayat ini begitu ‘pas’ untuk menggambarkan situasi saat ini, yaitu bahwa ada banyak orang yang rindu untuk menerima Kabar Gembira, sedangkan jumlah para pekerja/pewarta Kabar Gembira itu sedikit.
Kita telah diangkat untuk menjadi anggota Kerajaan-Nya. Itu adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma. Namun, apakah kita sudah sungguh-sungguh layak disebut sebagai anggota Kerajaan-Nya? Apakah kita sudah membuka mata hati kita agar kita dapat melihat tuaian di sekitar kita? Ingatlah bahwa kita telah menerima karunia pengampunan dosa.
Oleh karenanya kita harus memberitakan pengampunan dan memakai kekuasaan mereka untuk menyembuhkan dengan cuma-cuma. Hal ini bukan merupakan ‘hak’ seseorang, melainkan ‘karunia’ yang diberikan bagi kita.
Marilah kita belajar seperti Yesus yang belas kasih-Nya tidak pandang bulu.
ANDA TELAH MEMPEROLEH DENGAN CUMA-CUMA, MAKA BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA
Mesias
Bacaan:
Matius 25:31-46
ADA sebuah gereja yang mengalami masa-masa sulit. Anggotanya ting-gal lima orang dan usia mereka di atas 60 tahun. Maka jemaat itu memutuskan untuk meminta nasihat pendeta sepuh yang sudah lama emeritus (pensiun).
“Saya tidak punya nasihat yang jitu untuk masalah kalian,” kata pendeta sepuh itu, “tapi saya hanya bisa memberitahu sebuah rahasia: Salah satu dari kalian adalah Mesias. “ Mereka pun pulang dengan rasa penasaran. “Benarkah ada Mesias di antara kami?” tanya mereka dalam hati.
Hari-hari berikutnya terlihat ada perubahan dalam hidup mereka. Mereka memutuskan untuk melayani Mesias itu dengan baik. Masalahnya, mereka tidak tahu secara pasti, siapa Mesias itu. Karena itu mereka memperlakukan anggota jemaat yang lain dengan baik dan penuh rasa hormat. Sebab satu di antara mereka pastilah Mesias itu.
Ketika waktu berlalu, orang-orang di sekitar gereja melihat aura keramahan dan saling menghormati terpancar di wajah lima anggota gereja kecil itu. Mereka tertarik untuk datang ke gereja itu lagi. Mereka lalu mengajak anggota keluarga dan teman-teman sehingga jumlah jemaat di gereja kecil itu mulai bertambah-tambah.
Yesus menegaskan bahwa pada akhir zaman, semua orang akan dipisahkan menjadi dua kelompok: kelompok orang yang peduli dan kelompok orang yang cuek terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika zaman itu tiba, maka sudah terlambat untuk mulai peduli.
Sekaranglah saatnya untuk mulai peduli. Itu yang akan menentukan nanti Anda akan berada di kelompok yang mana.
PERHATIKAN LINGKUNGAN ANDA. ADA BANYAK HAL YANG DAPAT ANDA LAKUKAN BAGI ALLAH.
Waktu
Bacaan:
Lukas 6:46-49
SEORANG anak ingin sekali ditemani oleh papanya untuk bermain. Tapi papanya terlalu sibuk. “Berapa sih gaji papa untuk tiap jam?” tanya sang anak. Papanya menjawab, “Papa digaji 100 ribu/jam.”
“Saya punya uang 50 ribu. Maukah papa bermain denganku selama setengah jam?” tanya anak.
Ilustrasi ini menggambarkan perlunya waktu bersama anak. Waktu yang Anda berikan untuk mendampingi anak menunjukkan bahwa Anda menghargai dan kebersamaan mereka.
Kehadiran fisik saja tidak cukup, jika perhatian Anda tercurah di tempat lain. Misalnya Anda mengajak anak bermain di kebun binatang, tapi Anda tetap mengurusi pekerjaan dengan handphone.
Anda menemani anak belajar sambil membaca koran. Ini menunjukkan Anda tidak tulus mendampingi anak. Kebersamaan ini harus disertai dengan pencurahan perhatian sepenuhnya kepada anak. Ini yang disebut waktu berkualitas.
Kehadiran Anda merupakan hadiah yang tergantikan bagi anak-anak Anda. Anak membutuhkan orangtua untuk mendampingi dalam belajar, mengerjakan PR, mengajarkan sopan-santun, membacakan cerita, makan bersama, jalan-jalan santai, bergosip bersama dll. Hal ini akan menambah kedekatan emosional antara orangtua dengan anak.
Usia anak-anak adalah masa pembentukan pondasi bagi kehidupan. Jika kita mendampingi anak pada masa emas ini, maka kita telah meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi anak.
MASA ANAK-ANAK TIDAK DAPAT DIULANG. JIKA ANDA MELEWATKANNYA, ANDA MEMBUANG KESEMPATAN EMAS.
Injil
Bacaan:
I Korintus 9:16-19,22-23
FRANSISKUS Xaverius (1506-1552) Mewartakan adalah seorang misionaris yang begitu terkenal. Ia menjelajahi tanah Asia selatan, Asia Tenggara (termasuk Kepulauan Nusantara) dan Asia Timur.
Fransiskus Xaverius adalah seorang pemberani, seorang yang bernyali untuk memberikan hidup bagi Injil.
Dengan semboyan Ad Maioren Dei Gloriam (Demi lebih Besarnya Kemuliaan Tuhan), Fransiskus Xaverius berubah menjalani perintah Tuhan “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”. Fransiskus Xaverius meneladani Rasul Paulus.
Rasul Paulus mewartakan Injil bukan untuk mencari upah sebab boleh mewartakan Injil saja sudah merupakan upah baginya.
Kita semua yang terpesona akan pribadi Yesus Kristus dipanggil untuk mewartakan Injil dengan penuh keberanian seperti Fransiskus Xaverius. Di mana pun kita berada, mestinya Injil diwartakan, entah bagaimana caranya.
Langkah itu sebetulnya mempunyai nilai memenangkan orang lain, di mana pun dan siapa pun yang kita jumpai.
Perwujudannya dapat memakai berbagai cara: bersikap ramah, hormat kepada orang lain, gemar menolong, rendah hati, jujur, hidup ugahari, tekun dan ulet dalam bekerja.
Dan semuanya itu hendaknya tampak dalam kegembiraan. Itulah suatu langkah yang tepat guna dan sarana yang mengena kepada mereka yang belum mengenal Kristus!
DI MANA PUN KITA BERADA, MESTINYA INJIL DIWARTAKAN, ENTAH BAGAIMANA CARANYA
Terimakasih
Bacaan:
Lukas 10: 21-24
BANYAK alasan orang bergembira. Orang bergembira karena lulus ujian, naik kelas, diterima di perguruan tinggi pilihannya, mendapat pekerjaan, ketemu jodoh.
Orang mudah bersyukur setelah penantian yang cukup lama dikabulkan, yaitu mendapatkan buah hati. Kebahagiaan melebihi yang dibayangkan bisa membuat orang terkagum-kagum dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Apakah kita (hanya) bisa bersyukur bila mengalami hal-hal yang membahagiakan? Apakah dengan hal-hal yang tampaknya kecil di mata kita, kita tidak bisa bersyukur? Kesehatan adalah anugerah yang paling besar. Bagaimana kita dapat bekerja, belajar, melayani orang lain bila tubuh kita tidak sehat? Bagaimana kita akan membantu orang lain bila pernapasan kita terganggu? Udara segar yang kita hirup setiap saat dengan gratis semestinya sudah bisa membuat kita bersyukur.
Mengapa tidak? Apakah kita merasa bahwa itu sudah semestinya? Bila demikian sikap kita, memang tidak mudah untuk bersyukur.
Sudah dari kecil orang tua mengajarkan kita untuk mengucapkan kata “terima kasih”. Sepantasnya kita mudah mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang kita terima, tidak hanya barang, tetapi juga pelayanan, perhatian, dsb.
Dua kata yang mudah untuk diucapkan, tetapi dalam kenyataannya menjadi kata yang sulit untuk keluar dari mulut kita. Yesus sudah mengajak kita untuk bersyukur kepada Bapa atas semua yang dialami-Nya. Kalau tidak mulai sekarang kita melatih kembali, lalu kapan lagi?
UCAPKANLAH KATA “TERIMA KASIH” DENGAN SEPENUH HATI
Kumpul
Bacaan: Matius 8:5-11
MENGAPA orang datang berkumpul? Ada seribu satu alasan. Berkumpul karena diundang pesta, diundang hajatan, arisan atau persekutuan. Orang berkumpul di sekitar lapangan saat ada pertandingan olahraga. Di banyak keluarga, komunitas orang suka berkumpul menghadap suatu benda yang namanya televisi!
Bacaan hari ini menyebutkan kapan bangsa-bangsa akan berkumpul dan berduyun-duyun datang bersama: Saat Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, saat Tuhan mengundang semua bangsa makan bersama dalam Kerajaan Surga! Itulah gambaran akhir zaman, saat
Tuhan menyelesaikan seluruh karya penyelamatan-Nya atas segala bangsa. Tuhan akan mempersatukan dan mengumpulkan semua bangsa. Saat itu akan terjadi damai, karena pedang akan ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas!
Pada hari ini umat manusia memang terpecah belah oleh berbagai hal: suku, ras, kulit, agama, bahasa, wilayah, adat dan budaya, pendidikan, dsb.
Sabda Tuhan dalam bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya dan aslinya semua umat manusia, dari mana pun dan kapan pun, dipanggil untuk bersatu dan bisa hidup bersama! Jaminannya hanya ada satu: Tuhan sendiri.
Tuhan itu adalah kasih! Maka, kunci pengikat dan pemersatu umat manusia akhirnya adalah KASIH, bukan uang, bukan agama, bukan karena adanya satu pemerintah dan satu hukum apa pun termasuk hukum sebuah agama!
PEDANG AKAN DITEMPA MENJADI MATA BAJAK, TOMBAK MENJADI PISAU PEMANGKAS
Berjaga-jaga
Bacaan: I Korintus 1: 3-9
MULAI hari ini kita memulai masa Adven. Kata adven berarti “kedatangan Tuhan”, baik kedatangan Tuhan yang pertama, yaitu yang kita rayakan pada hari Natal nanti, maupun kedatangan Tuhan yang kedua, yakni pada akhir zaman. Kata kunci untuk menantikan kedatangan Tuhan ialah berjaga-jaga! Itulah sabda Tuhan pada Injil hari ini.
Berjaga-jaga tidak perlu membayangkan seperti sikap pengikut sekte tertentu. Yang mereka lakukan adalah menjual semua harta kekayaan mereka dan kemudian berkumpul di suatu tempat sambil memuji Tuhan dan berdoa menunggu waktu yang sudah diramalkan oleh “orang pintar” tentang kedatangan Kristus.
Berjaga-jaga itu tidak perlu kita lakukan dengan cara tegang dan melotot menantikan Tuhan yang akan datang. Berjaga-jaga itu kita lakukan dengan melanjutkan tugas hidup kita sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Rasul Paulus memberi petunjuk yang jelas :”Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”. Artinya, kita telah mempunyai semua sarana, alat, kesempatan yang kita perlukan agar kita menjadi siap menyongsong Tuhan yang akan datang. Kita memiliki kitab suci yang berisi sabda Tuhan, perjamuan kudus, baptis atau sidi, ibadah, persekutuan kelompok, kebaktian kategorial, saat teduh, dan berbagai bacaan rohani. Tinggal bersedia berjaga-jaga dan menunggu dengan setia.
KITA TIDAK KEKURANGAN DALAM SUATU KARUNIA PUN SEMENTARA KITA MENANTIKAN PENYATAAN TUHAN YESUS KRISTUS











