Komisi Anak GKI Klaten mengucapkan: “Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010″
Anak-anak GKI Klaten menunjukkan talenta bermusik mereka dalam acara Pentas Ensamble Musik di GKI Klaten, 22 Nopember 2009, pukul 18.00.

Ensamble Anak GKI Klaten akan mengadakan pementasan pada:
Hari, tgl: Minggu 22 Nopember 2009
Tempat : GKI Klaten
Waktu: Setelah kebaktian pukul 17.00
Mohon perhatian dan dukungan dari jemaat untuk menyaksikan pementasan Ensamble Anak ini.
Mari, ajak anggota keluarga Anda untuk bersama-sama datang dan menyaksikan pementasan ini.
Waktu
0
Bacaan:
Lukas 6:46-49
SEORANG anak ingin sekali ditemani oleh papanya untuk bermain. Tapi papanya terlalu sibuk. “Berapa sih gaji papa untuk tiap jam?” tanya sang anak. Papanya menjawab, “Papa digaji 100 ribu/jam.”
“Saya punya uang 50 ribu. Maukah papa bermain denganku selama setengah jam?” tanya anak.
Ilustrasi ini menggambarkan perlunya waktu bersama anak. Waktu yang Anda berikan untuk mendampingi anak menunjukkan bahwa Anda menghargai dan kebersamaan mereka.
Kehadiran fisik saja tidak cukup, jika perhatian Anda tercurah di tempat lain. Misalnya Anda mengajak anak bermain di kebun binatang, tapi Anda tetap mengurusi pekerjaan dengan handphone.
Anda menemani anak belajar sambil membaca koran. Ini menunjukkan Anda tidak tulus mendampingi anak. Kebersamaan ini harus disertai dengan pencurahan perhatian sepenuhnya kepada anak. Ini yang disebut waktu berkualitas.
Kehadiran Anda merupakan hadiah yang tergantikan bagi anak-anak Anda. Anak membutuhkan orangtua untuk mendampingi dalam belajar, mengerjakan PR, mengajarkan sopan-santun, membacakan cerita, makan bersama, jalan-jalan santai, bergosip bersama dll. Hal ini akan menambah kedekatan emosional antara orangtua dengan anak.
Usia anak-anak adalah masa pembentukan pondasi bagi kehidupan. Jika kita mendampingi anak pada masa emas ini, maka kita telah meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi anak.
MASA ANAK-ANAK TIDAK DAPAT DIULANG. JIKA ANDA MELEWATKANNYA, ANDA MEMBUANG KESEMPATAN EMAS.
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)
Orangtua di belahan dunia manapun pastilah menginginkan kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik daripada kehidupan orangtuanya. Maka tidak heran para orangtua berupaya sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan bekerja keras dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menunjang masa depan anak-anaknya. Acungan jempol pantas diberikan kepada setiap orangtua yang menyadari betul tugas dan tanggungjawabnya.
Namun, pada sisi yang lain, ada beberapa orangtua yang ingin masa depan anaknya terjamin dengan cara memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Anak-anak dipaksa mengikuti kemauan orangtuanya: Harus les, harus sekolah di sekolah pilihan orangtuanya; jurusan yang dipilih juga harus sama dan profesi yang harus dijalani juga harus sama. Semuanya itu dengan satu alasan: untuk kebaikan si anak sendiri. Benarkah?
Keinginan memberikan yang terbaik demi masa depan anak, itu baik dan benar. Tapi, jangan lupa juga untuk melibatkan anak-anak sebab yang akan memasuki dan menjalankan masa depannya adalah anak-anak, bukan orangtuanya. Memberikan masukan, memberikan pandangan-pandangan kepada si anak sah-sah saja tapi beri juga kesempatan kepada si anak untuk berpikir, mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Menyediakan segala sesuatu untuk menunjang dan membangun masa depan anak sesuatu yang positif namun jangan hanya segi lahiriahnya saja yang diperhatikan tapi kehidupan spiritualnya juga harus bertumbuh dan berkembang. Maka kelak anak-anak pun akan cakap secara kognitif, sosial dan spiritualnya.
Khalil Gibran memberikan pandangan yang menarik tentang anak seperti berikut:
Anakmu bukanlah anakmu, mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau, dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pemikiranmu, sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya, sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu. Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaanNya agar anak panahNya dapat melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah. Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikianlah pula Dia mengasihi busur nan mantap.



























0