Sabtu, 10 Oktober telah diberangkatkan bantuan barang ke Padang. Dari GKI Klaten, barang meliputi kasur busa 60 lembar, mie instan 4 dos, pasta gigi 4176 buah, pakaian 35 dos+5 karung dan selimut 176 lembar. Selain itu, pada Senin akan ditransefer uang lebih dari Rp. 10 juta ke rekening Pusat Pengembangan dan Pelayanan Holistik yang membuka posko di Padang.
Sabtu, 10 Oktober telah diberangkatkan bantuan barang ke Padang. Dari GKI Klaten, barang meliputi kasur busa 60 lembar, mie instan 4 dos, pasta gigi 4176 buah, pakaian 35 dos+5 karung dan selimut 176 lembar. Selain itu, pada Senin akan ditransefer uang lebih dari Rp. 10 juta ke rekening Pusat Pengembangan dan Pelayanan Holistik yang membuka posko di Padang.
Berikut ini rekaman videonya:
Sejak dibuka pada hari Senin, GKI Klaten menerima barang-barang dari para dermawan untuk disumbangkan pada korban gempa di Sumatera Barat. Sampai hari Kamis, barang yang diterima meliputi kasur busa, mie instant, pasta gigi, pakaian pantas pakai, beras, dll.
Menurut rencana, bantuan akan dikirim langsung ke Padang menggunakan truk pada hari Sabtu, 10 Oktober 2009.

Pada Senin malam, 7 September 2009, telah diberangkatkan satu truk bantuan kemanusiaan ke Tasikmalaya. Bantuan ini berasal dari berbagai sumber yang meliputi: Departeman Kesaksian dan Pelayanan [DKP] Sinode Wilayah GKI Jawa Tengah, Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik [P3H], kantong persembahan khusus GKI Klaten, GKI Sangkrah dan donatur perseorangan. Bantuan diantarkan oleh dua relawan: Doddy Hendro [P3H] dan Januar [GKI Klaten].
Selasa pagi, pukul 6.30 WIB bantuan sudah sampai di GKI Tasikmalaya yang menjadi posko Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia.
Bantuan Sembako Berangkat dari Klaten
Rumah rusak di Sukajaya Rumah rusak di Sukajaya
Selasa pagi, Purnawan dan Agus Tjandra juga telah bergabung dengan rombongan dari GKI Klaten. Sekitar pukul sepuluh pagi, kami meluncur menuju desa Sukajaya, kecamatan Purbaratu. Sepanjang pengamatan, kota Tasikmalaya tidak terpengaruh sama sekali dengan adanya gempa. Semua berjalan dengan normal. Tidak ada tanda-tanda kedaruratan. Sedikit tanda bahwa ada gempa telah terjadi di sana adalah runtuhnya bangunan tua di sebuah perempatn dan aktivitas anak jalanan yang meminta sumbangan atas nama korban gempa. Aktivitas perekonomian berjalan dengan normal. Toko-toko buka seperti biasa, kecuali warung makan. Jalanan disesaki kendaraan pribadi dan angkutan umum. Tidak banyak terlihat mobil pembawa bantuan kemanusiaan.
Sekitar 15 menit perjalanan, kami melihat hamparan sawah dengan tanaman padi berumur sekitar sebulan dengan aliran air yang melimpah. Lima menit kemudian , kami memasuki lokasi yang terkena dampak gempa. Kami melihat ACT sudah membuka posko kemanusiaan. Sesampai di kantor kalurahan, kami melihat sekitar 50 orang sedang mengantri untuk menerima pengobatan gratis dari Obor Berkat Indonesia.







































0