Terimakasih

0

Posted on : 02-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan:
Lukas 10: 21-24

BANYAK alasan orang bergembira. Orang bergembira karena lulus ujian, naik kelas, diterima di perguruan tinggi pilihannya, mendapat pekerjaan, ketemu jodoh.
Orang mudah bersyukur setelah penantian yang cukup lama dikabulkan, yaitu mendapatkan buah hati. Kebahagiaan melebihi yang dibayangkan bisa membuat orang terkagum-kagum dan tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Apakah kita (hanya) bisa bersyukur bila mengalami hal-hal yang membahagiakan? Apakah dengan hal-hal yang tampaknya kecil di mata kita, kita tidak bisa bersyukur? Kesehatan adalah anugerah yang paling besar. Bagaimana kita dapat bekerja, belajar, melayani orang lain bila tubuh kita tidak sehat? Bagaimana kita akan membantu orang lain bila pernapasan kita terganggu? Udara segar yang kita hirup setiap saat dengan gratis semestinya sudah bisa membuat kita bersyukur.
Mengapa tidak? Apakah kita merasa bahwa itu sudah semestinya? Bila demikian sikap kita, memang tidak mudah untuk bersyukur.
Sudah dari kecil orang tua mengajarkan kita untuk mengucapkan kata “terima kasih”. Sepantasnya kita mudah mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang kita terima, tidak hanya barang, tetapi juga pelayanan, perhatian, dsb.
Dua kata yang mudah untuk diucapkan, tetapi dalam kenyataannya menjadi kata yang sulit untuk keluar dari mulut kita. Yesus sudah mengajak kita untuk bersyukur kepada Bapa atas semua yang dialami-Nya. Kalau tidak mulai sekarang kita melatih kembali, lalu kapan lagi?

UCAPKANLAH KATA “TERIMA KASIH” DENGAN SEPENUH HATI

Empat Kali Operasi dalam Sebulan

0

Posted on : 12-11-2008 | By : GKI | In : Kesaksian
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kesaksian Janita Santosa

Setiap memasuki bulan Nopember, saya selalu diingatkan pada kejadian delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000. Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari Tuhan berupa pertolongan-Nya, kuasa-Nya dan kasih setia-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Saya tidak mungkin mampu melewati peristiwa tanpa penyertaan Tuhan.

Peristiwa itu dimulai dengan keluhan sakit perut yang saya alami. Pada tanggal 6 Nopember, saya merasakan sakit yang luar biasa pada perut saya. Saya pergi ke rumah sakit di Solo untuk memeriksakan diri. Setelah diperiksa dengan sinar rontgen, baru diketahui bahwa usus saya terjepit dan saling lengket. Tidak ada pilihan lain, saya harus segera menjalani operasi pada hari berikutnya.

Operasi selama sekitar tiga jam itu berlangsung lancar. Beberapa hari kemudian, kondisi saya mulai membaik. Saya sudah diizinkan makan bubur. Namun pada tanggal 12 Nopember, kondisi saya memburuk kembali. Perut saya terasa sakit lagi.

Dokter berkata, “Itu hanya angin saja. Perut ibu sedang kembung. Sebentar juga sembuh” Akan tetapi kondisi perut saya justru semakin membesar dan saya mengalami kesakitan yang luarbiasa di seluruh tubuh saya. Dokter sampai memberikan pengurang rasa sakit. Namanya petidine sejenis morfin. Tetapi itu hanya bersifat sementara saja.

Di tengah rasa sakit itu, puji Tuhan ada banyak dukungan dan dia dari keluarga dan saudara-saudara seiman yang menguatkan saya. Saya juga berdoa memohon kekuatan dari Tuhan, “Tuhan, aku masih ingin hidup. Tuhan, aku masih ingin hidup. … Aku ingin masih hidup untuk melayani Engkau.”

Karena kondisi tidak kunjung membaik, dokter memutuskan untuk mengoperasi saya lagi, pada 20 Nopember. Sebelum operasi, dokter memanggil suami saya. Dia memberitahuakan bahwa operasi kali ini berisiko tinggi karena kondisi tubuh saya jelek dan baru 13 hari yang lalu menjalani operasi. Saya berkata berkata kepada Tuhan, “Tuhan aku tidak akan mati melalui operasi ini. Kalau aku harus menjalani operasi ini, hamba minta pertolongan dari padaMu.”

Suatu hal terjadi di luar dugaan dokter. Ketika perut saya dibuka, ternyata usus halus saya telah bocor dan saling mengikat membentuk gumpalan seperti bola (‘bundet’-bhs. Jawa). Dokter tidak mau mengambil risiko untuk melepaskan ikatan itu karena dapat menyebabkan usus itu jebol. Dokter hanya membersihkan kotoran-kotoran yang ada di perut.

Selesai operasi saya dimasukkan ruang ICU dengan mengenakan mesin pernapasan (ventilator). Suatu pagi, sesudah perawat mengelap badan saya, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang keras: “Buu..umm!!!!”. Ternyata alat ventilator meledak dan langsung mati. Karena tidak disuplai oksigen, napas saya menjadi sesak, berat dan terengah. Saat itu saya hanya bisa berseru kepada Tuhan: “Tuhan tolong!” Perawat bergegas masuk untuk memasang alat bantu sementara pada saya. Setelah itu dia memanggil teknisi untuk memperbaiki alat itu. Keesokan harinya, alat itu meledak lagi tapi tidak sekeras sebelumnya.

Pengalaman yang mendebarkan ini menyadarkan saya bahwa kita sering tidak mensyukuri udara segar yang kita hirup. Kita menganggap itu sebagai hal yang biasa.Bukankah suatu berkat yang luar biasa kalau kita bisa bernapas dengan bebas tanpa ventilator?

Kesehatan saya tidak membaik, bahkan memburuk. Cairan dari dalam perut merembes keluar karena infeksi. Tubuh saya mengalami demam hebat. Saya merasakan sangat kedinginan. Tubuh saya menggigil dan gigi gemeretuk sangat keras. Ternyata sepertiga paru-paru kanan saya sudah terendam air. Melihat kondisi ini, dokter sudah angkat tangan. “Tinggal menunggu waktunya saja,” kata dokter.

Akan tetapi keluarga saya tidak mau menyerah. Kami punya keyakinan bahwa waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Bagi manusia mungkin mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meski begitu, manusia juga diwajibakan untuk berupaya. Itu sebabnya, keluarga memutuskan untuk membawa saya ke Singapura, pada 24 Nopember. Malamnya saya langsung menjalani operasi yang ketiga. Dokter mengatakan kemungkinan keberhasilan hanya 50 persen. Dalam operasi ini, dokter berhasil menguraikan usus halus saya yang telah menggumpal dan saling lengket seperti bola. Berkat pertolongan Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Namun empat hari kemudian, perut saya mulai bocor lagi. Tanggal 30 Nopember, saya menjalani pemeriksaan dengan rontgen. Hasil rontgen memperlihatkan ada kebocoran lagi di usus. Saya harus menjalani operasi yang keempat hari itu juga. Saya menjalani operasi ini dengan hati yang pasrah kepada Tuham. Saya percaya, Tuhan akan menyelamatkan saya kembali.

Dari operasi itu diketahui bahwa ada dua kebocoran di usus besar. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk mengistirahatkan usus besar saya dengan teknik colostomi selama 3-6 bulan. Sejak saya sakit, saya tidak diizinkan makan nasi. Saya harus berpuasa nasi. Ini sungguh tidak mudah karena kita sudah terbiasa makan nasi. Waktu sehat saja, meski perut sudah kenyang, tapi kalau belum makan nasi, kita masih mengatakan belum makan. Sesudah dua bulan tidak makan nasi, saya sangat rindu pada nasi. Karena begitu inginnya makan nasi, saya sampai menciumi bau nasi. Aroma nasi terasa enak sekali saat itu. Dalam keadaan seperti itu, saya diingatkan bahwa saya sering lupa mensyukuri makanan yang kita santap setiap hari.

Saya juga bersyukur bahwa selama masa sakit tersebut, saya selalu dalam keadaan sadar. Meskipun dalam kondisi yang sangat kritis, tapi saya masih memiliki kesadaran. Ini adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Ketika memasuki masa pemulihan, mula-mula saya belajar untuk berbaring dengan posisi miring. Kemudian duduk, lalu berjalan. Yang cukup mengherankan, meskipun saya cukup lama harus berbaring di tempat tidur, tapi saya tidak mengalami pusing atau gangguan kesehatan yang lain, selain di perut saya.

Tuhan itu sangat baik pada saya. Saya tidak harus menjalani proses colostomi sampai enam bulan. Tiga bulan kemudian, dokter menyatakan bahwa usus kecil saya siap disambung dengan usus besar. Pada tanggal 8 Maret 2001, saya menjalani operasipenyambungan. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Bila saya renungkan semua peristiwa itu, saya menyadari bahwa secara manusia hal ini tidak mungkin saya lalui. Siapa yang kuat menjalani operasi besar sebanyak empat kali hanya dalam waktu satu bulan? Setiap mengingat itu, saya terharu dan menangis karena betapa baikNya Tuhan itu. Kuasa–Nya begitu dahsyat dan tidak terselami oleh pikiran manusia. Kasih-Nya melebihi a papun yang ada di bumi ini. Oleh bilur – bilur Nya, saya sembuh. Jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan. Terpujilah Tuhan karena perbuatanNya ajaib.

Miskin tapi Bergaya

0

Posted on : 14-09-2008 | By : Purnawan | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Saat menyertai kunjungan Presiden ke luar negeri, wartawan Indonesia mendapat sindiran dari koleganya di sana. Diceritakan bahwa wartawan Indonesia memakai jas yang lengkap, sementara wartawan di negara yang dikunjungi hanya memakai baju biasa yang rapi. “Katanya negeri kalian sedang dilanda krisis, tapi mengapa memakai baju yang mahal-mahal?” tanya wartawan dari negara yang lebih kaya. Petugas protokoler dari istana Kepresidenan langsung menyahut dengan diplomatis, “Kami berpakaian begini untuk menghormati tuan rumah, kok.

Sementara itu, pada rubrik ekonomi diberitakan bahwa produsen handphone merek terkenal sedang mengincar pasar Indonesia. Setiap kali mengeluarkan seri terbaru, mereka lebih dulu meluncurkan di Indonesia. Baru kemudian menyusul di negara-negara tetangga yang lebih “kaya.”

Dari kedua cerita di atas, kita melihat satu persamaan, yaitu kita senang bergaya. Contohnya, kebutuhan kita terhadap penggunaan HP kebanyakan baru sebatas untuk berbicara dan mengirim SMS. Semua itu sudah dicukupi oleh HP seharga Rp. 500 ribu. Meski begitu, lihatlah, banyak orang yang mengejar HP yang dilengkapi dengan fasilitas layar berwarna, dering polyphonic, kamera, bluetooth, infrared, 3G dll. Saya yakin, bahwa semua feature yang mahal itu sebenarnya tidak banyak kita butuhkan. Itu karena kita lebih mementingkan penampilan daripada fungsi.

Salomo menyatakan ketamakan tidak pernah terpuaskan. “Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.”Pengkhotbah 1:8

Kalau kita tidak berhati-hati, kita bisa terjebak di dalamnya. Kita melakukan apa saja untuk memuaskan nafsu ketamakan itu. Itu seperti minum air laut, yang malah membuat kita semakin haus. Cara menghindari perangkap ini adalah mensyukuri dan menikmati apa yang sudah dicukupi oleh Tuhan kepada kita.

Tuhan mencukupi kebutuhan kita, supaya kita mendekat kepada-Nya. Jika ketamakan menguasai kita, maka Tuhan bisa saja mengambil kembali anugerah-Nya.

TURUN 10 KG

2

Posted on : 31-07-2008 | By : GKI | In : Kesaksian
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Di tengah-tengah banyaknya kegiatan pelayanan dan pekerjaan pribadi yang luar biasa, teman-teman sering mengatakan, “ Kamu kok sekarang makin kurus?!” Saat itu saya memang merasa bahwa kesehatan saya turun dengan drastis. Badan terasa selalu tidak fit. Karena banyak orang yang menanyakan hal serupa, maka akhirnya saya memutuskan untuk menimbang berat badan saya. Hasilnya membuat saya terkejut. Wowww…berat saya turun drastis 10kg!!! Pantas saja kesehatan saya selalu ada masalah walau tetap bisa beraktivitas. Karena takut terjadi apa-apa, maka saya memeriksakan diri ke dokter. Bahkan bahkan tidak cuma kepada satu dokter tapi sampai banyak dokter, yang menghabiskan dana, waktu, tenaga dan pikiran (dua tahun lho!). Semuanya itu untuk mencari penyebabnya.

Dokter sendiri merasa heran dan mengatakan bahwa saya menderita stress yang tidak disadari. Hal ini, akhirnya berimbas pada pencernaan saya. Saya lalu merenungkan perkataan dokter. Dan saya pikir betul juga! Oke saya mencoba untuk lebih santai dan tidak terlalu tegang. Hasilnya kesehatan lumayan membaik tetapi berat masih tetap saja tidak mau bergerak naik walau sedikit saja.

Nopember 2003 Tuhan memberi berkat yang luar biasa lewat sepupu saya. Berkat ini samasekali tidak pernah saya duga. Bahkan mimpi pun saya tidak berani. Saya diminta untuk mewakili sepupu saya untuk pergi ke Eropa euy selama 17 hari, ke 6 negara. Fuihhh…fantastis sekali! Mama saya sebenarnya merasa keberatan karena kesehatan saya yang sering drop. Akan tetapi kakak-kakak saya menyemangati saya untuk mengambil kesempatan yang langka bin gratis ini. “Ini sekaligus untuk refreshing ‘murni’”, demikian kata mereka. Sebenarnya pada bulan Desember saya ada pekerjaan di panitia natal dan event wedding. Namun saya memutuskan untuk berangkat saja. Dalam hal ini saya berterimakasih pada teman-teman merelakan diri mengambil alih tugas saya di dua event itu.

Awal Desember saya pun berangkat. Pada waktu transit di Singapura, badan saya ‘drop’. Perut terasa mual. Kepala terkena migrain. Badan keluar keringat dingin. Jalan saya sudah limbung. Saat itu saya sudah hampir memutuskan tidak melanjuntkan perjalanan ke Eropa. Namun ketika berada di toilet, saya mendengar suara yang berkata,‘Ayo lanjuntkan…’kan ada Aku. Jangan setengah-setengah!’. Ya sudah, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ternyata Tuhan memberikan teman perjalanan yang baik untuk mendampingi saya.

Namun setelah tiba di Roma, alih-alih menikmati city tour, pikiran saya malah kacau. Saya selalu memikirkan mama di rumah dan pekerjaan. Ada perasaan bersalah kepada teman-teman di panitia dan EO. Hingga pada saat melintasi jalan tol, Tuhan menegur saya. ”Kamu itu sudah Kuberi berkat yang fantastis malah tidak menikmati…kuatirmu kok malah lebih besar. Ayo semangat lihat sekelilingmu!!!” Saya langsung tersadar dan merubah hati-pikiran supaya lebih ‘semeleh…(bersandar pada Tuhan). Mulai saat itu saya menikmati perjalanan yang ada, bahkan tak henti-hentinya bersyukur atas berkat yang luar biasa ini. Termasuk bisa menikmati suasana Natal di sana (dulunya hanya lihat lewat film).

Karena bisa menikmati (semeleh..) saya dapat berkat yang lain, yaitu selama liburan berat badan saya naik 1 kg. Bagi saya itu adalah anugerah yang luar biasa setelah menunggu sekian tahun tidak naik-naik juga. Pulanglah saya dengan badan yang sehat dan sukacita ( cik Hana thanks ya…ternyata dikau diam-diam mengkhawatirkan kesehatan saya bahkan berdoa terus buat saya selama saya pergi..). Sejak belajar arti ‘semeleh” pelan-pelan berat saya naik mendekati ke semula.

Dari pengalaman ini saya belajar tentang arti bersandar pada Allah. Kalau kita percaya pada Tuhan itu tidak boleh setengah-setengah. Suatu proses itu ternyata menjadi indah bila kita beriman pada Tuhan. Thanks God what You have done to me….(Bernike RWB)

Rahasia Hidup Bahagia

0

Posted on : 29-07-2008 | By : Purnawan | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mazmur 1:1-6

Siapa yang tak mau hidup bahagia? Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi pertanyaannya, seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa hidup bahagia itu jika memiliki kekayaan yang berlimpah. Ada juga yang mengatakan bahwa hidup berbahagia itu hidup selalu sehat dan aman. Yang lainnya menunjukkan keluarga yang harmonis sebagai pertanda hidup bahagia. Orang lain mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang selalu tertawa.

Apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Kenyataannya, ada orang kaya yang jika ditanya apakah mereka berbahagia, mereka menggelengkan kepala. Orang sehat pun belum tentu merasa sudah bebhagia. Mengapa begitu? Karena selama ini kita memiliki pandangan yang keliru terhadap arti kebahagian.

Pertama, kita sering keliru dengan menganggap bahwa kebahagiaan itu berarti bersenang-senang. Hatinya selalu bergembira. Itu sebabnya banyak orang kemudian berusaha menciptakan acara pesta-pesta atau lari ke obat penenang untuk menciptakan kegembiraan.

Kedua, kita sering berpikiran keliru dengan menganggap bahwa kita dapat mengejar kebahagiaan. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Padahal kebahagiaan sebenarnya merupakan akibat atau hasil dari sesuatu yang kita lakukan.

Ketiga, ada anggapan keliru bahwa kebahagiaan itu selalu ditemukan di luar diri kita atau ada pada orang lain. Kita sering berkata pada diri sendiri, “Dengan berganti pekerjaan, mungkin saya akan menjadi bahagia”, “Saya tidak betah hidup di sini. Kalau saya pindah rumah ke kompleks yang lebih elit mungin saya akan lebih bahagia.” Atau berpikir begini, “Kalau saya menikahi orang ini, hidup saya pasti akan berbahagia.”

Ada seorang pria yang selalu memohon segala sesuatu pada Tuhan. Suatu haru, Tuhan berkata kepadanya: “Aku sudah bosan. Ajukanlah tiga permohonan. Aku akan mengabulkannya, tapi setelah itu jangan minta lagi.”

Pria itu tercengan tak percaya. “Tuhan meskipun aku malu mengatakannya, tapi aku ingin Tuhan mengambil istriku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak bisa hidup lagi bersamanya.”

“Baik, tidak masalah” jawab Tuhan, “Terjadilan seperti yang kau minta.” Maka matilah isterinya.

Pria ini sebenarnya merasa bersalah, tapi sesaat kemudian dia merasa bahagia dan lega. Pikirnya, “Aku akan menikahi wanita yang lebih muda dan cantik.”

Pada saat upacara penguburan, tiba pria ini berubah pikiran. Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik. Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya. Tuhan tolong hidupkan dia lagi.”

Tuhan menjawab, “Baik, permohonanmu yang kedua sudah terkabul.”

Sekarang tinggal satu permohonan lagi. Apa yang dia minta lagi. Dia bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya.

“Minta uang saja. Kalau kamu punya uang, kamu dapat memiliki apa saja.”

“Apa untungnya punya uang alau kamu tidak sehat? Minta kesehatan saja”

“Apa gunanya kesehatan jika suatu saat nanti kamu akan mati? Minta keabadiaan saja?

“Apa gunanya keabadian jika kamu tidak seorang pun untuk dicintai? Mintalah cinta”

Pria ini malah tambah bingung. Lima tahun, sepuluh tahun, limabelas tahun berlalu.

Suatu hari Tuha bertanya, “Kapan kami akan menggunakan permohonan ketigamu?”

Pria ini tertawa kecit, “Tuhan saya ini bingung. Saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?”

Tuhan tertawa keras mendengar dia mengatakan hal itu, “Baik Aku akan memberitahukan apa yang harus kau minta. Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah rahasianya.”

–***—

Kebahagiaan tidak ada kaitannya dengan hal-hal di luar kita. Uang dan kekuasaan memang menjanjikan kebahagiaan. Namun kenyataannya, orang miskin pun bisa bahagia.

Ada seorang mahasiswa yang berjalan-jalan di pantai pada siang hari. Dia mendapati seorang bapak sedang tidur-tiduran santai di bawah pohon kelapa. “Maaf, mengapa Bapak tidak melaut?” tanya mahasiswa.

“Memangnya kenapa, dik?” tanya Bapak itu enggan.

“Kalau Bapak bisa menangkap banyak ikan, Bapak ‘kan punya uang banyak?” jawab Mahasiswa.

“Kalau saya sudah punya uang banyak, memangnya kenapa?” tanya Bapa itu lagi.

Mahasiswa mulai jengkel, “Lho, dengan uang itu Bapak bisa membeli dan memiliki banyak kapal?”

“Kalau saya punya banyak kapal, memangnya kenapa?”

“Bapak ‘kan bisa memperkerjakan banyak orang sebagai anak buah kapal?”

“Kalau saya punya banyak anak buah kapal, memangnya kenapa?”

“Bapak ‘kan tidak perlu kerja lagi. Bapak tinggal terima setoran. Bapak bisa hidup dengan santai,” jawab mahasiswa dengan nada tinggi.

“Lho memangnya apa yang sedang saya lakukan ini? Saya sedang bersantai ‘kan?”

Kekayaan tidak menjamin datangnya kebahagiaan. Kebahagiaan itu tidak terdapat di luar. Hilangkan pemikiran keliru itu. Kalau tidak, Anda tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.

Ada seorang tahanan Nazi yang disiksa setiap hari. Suatu hari pemerintah Nazi memindahkannya ke sel baru. Di sel baru itu, ada lobang yang dapat membuatnya melihat langit di siang hari dan bintang-bintang di malam hari. Orang itu gembira sekali. Lalu dia menulis surat kepada keluarganya tentang nasib baiknya itu.

Pada tahun 202, kaisar Septimius Severus khawatir terhadap pertumbuhan gereja. Karena itu, ia melarang agama Kristen. Namun banyak orang Kristen yang yang mengabaikan larangan ini. Termasuk di antaranya seorang wanita muda bernama Perpetua. Akibatnya, ia harus dihukum mati.

Selama menanti ekskusi, wanita ini membawa buku harian dalam penjara. Dengan mengharukan, dia menuliskan kegembiraannya ketika bayinya diizinkan tinggal bersamanya. “Penjara tiba-tiba menjadi istana, sehingga aku sangat ingin tinggal di sana daripada di tempat lain mana pun.”

Ayahnya berusaha membujuk Perpetua. “Anakku, kasihanilah aku yang sudah ubanan ini…jangan tinggalkan aku. Lepaskanlah kebanggaanmu!” Ia menjawab, “Terjadilah seperti yang dikehendaki Allah!” Kemudian Hilarianus, sang Gubernur juga ikut membujuk,”Kasihanilah ayahmu yang sudah tua. Kasihanilah anak laki-lakimu yang masih bayi. Persembahkanlah korban bagi keselamatan para kaisar.” Perpetua dan teman-temannya menolak. Perpetua menulis, “Kami dikutuk seperti binatang buas dan dikembalikan ke penjara.”

Seorang teman Kristen mengakhiri cerita ini, “Hari kemenangan mereka tiba, dan mereka berbaris dari penjara menunju amphiteater, penuh sukacita seakan-akan hendak pergi ke sorga, dengan wajah tenang, gemetar, juga dengan kegembiraan, bukan ketakutan.”

Sikap keliru yang lain adalah kelekatan ita terhadap sesuatu, terutama pada emosi negatif. Jika Anda terikat pada emosi negatif, maka Anda tidak akan pernah merasakan bahagia. Itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh memiliki emosi negatif. Sepanjang kita menjadi manusia normal maka kita pasti memiliki emosi negatif: seperti kesedihan, kekhawatiran, stress, depresi, kemarahan, kebencian. Yang terpenting kita tidak larut dan terikat dalam emosi negatif ini.

–***–

Lalu bagaimana cara mencari kebahagiaan? Pemazmur mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang “kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Dengan kata lain, orang itu suka melakukan Perintah TUHAN dan merenungkannya siang malam.”

Ciri-ciri orang yang sudah melakukan perintah Tuhan dan merenungkannya siang malam adalah seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Orang itu berhasil dalam segala usahanya.

Pertama, tidak egois. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon, selalu diberikan pada pihak lain. Pohon tidak pernah memakai buahnya untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain, orang yang berbahagia adalah orang yang tidak egois. Orang yang egois itu seperti anak kecil, “Kalau kamu tidak mau meminjamkan mainanmu, aku pulang lho.”

Coba kita ingat-ingat, apakah kita pernah mengatakan hal seperti itu: “Kalau mereka memberiku ini atau itu, aku akan berbahagia” atau begini, “Kalau aku tidak memperoleh ini atau itu, maka aku tidak akan berbahagia.”

Banyak orang yang tidak merasa berbahagia karena mereka memaksakan kondisi-kondisi kebahagiaan untuk diri mereka sendiri. “Aku akan merasa bahagia jika aku punya mobil”; “Aku tidak akan berbahagia jika gagal membangun usaha ini.”

Banyak orang yang merasa berbahagia ketika dia mau berbagi berkat dengan orang lain.

Kedua, Bersyukur dan menghitung berkat. Coba kataan “Betapa beruntungnya aku. Aku bersyukur sekali!” Sungguh tidak mungkin merasa bersyukur, tetapi tidak berbahagia.

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:11 TB)

Ada seorang pria yang datang pada seorang guru yang bijak. “Guru, bantulah aku. Rumahku seperti nereka. Kami tinggal dalam rumah yang sempit. Istriku, anak-anakku, menantu-menantuku, cucu-cucuku, dan aku sendiri. Tidak ada cukup ruang lagi untuk kami semua.

Guru: “Belilah seekor sapi dan masukkan dalam rumahmu!” meski heran, dia melakukan itu. Esoknya datang lagi. “Waduh guru, semakin parah.”

“Tak apa-apa. Ikuti saran saja. Beli seekor kambing dan masukkan ke dalam rumahmu.”

Datang lagi: “Rasanya aku sudah menjadi gila. Bisa kena serangan stroke. Rumahku sedah tidak karuan lagi.”

“Beli sepuluh ekor ayam, dan masukkan ke dalam rumah.”

“Ampuuun guru. Aku sudah tidak tahan lagi Rumahku sudah menjadi neraka beneran.”

“Sekarang jualah semua binatang peliharaanmu..”

Datang lagi dengan muka cerah.

“Terimakasih guru. Rumahku terasa lega. Sekarang sunggu indah dan bersih. Seperti di sorga rasanya.”

Ada latihan yang dapat dipraktikkan dalam bersyukur. Sederhana saja. Pikirkan kejadian hari kemarin, satu demi satu dari pagi sampai sore. Untuk setiap kejadiannya katakan “Terimakasih. Aku sungguh beruntung dapat mengalaminya.”

Mungkin Anda teringat sesuatu yang tidak menyenangkan. Berhentilahs ejenak dan katakan pada diri sendiri, “Hal yang salami ini terjadi semata-mata demi kebaikanku.”

Ketiga, Melakukan latihan iman. Perhatikan ayat 3:

“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)

Orang yang sudah merenungkan firman Tuhan dan melakukannya tidak langsung berbuah. Dia harus menunggu waktunya untuk berbuah. Meski begitu dia menantikan dengan sabar. Dia menyedari bahwa ada proses yang harus dilalui hingga tiba waktunya berbuah. Dia harus berakar, bertumbuh dan kadangkala harus dipangkas. Namun dia melaluinya dengan ketekunan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4)

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Pikirkanlah hal-hal yang terjadi pada Anda, entah itu menyenangkan atau tidak. Lalu katakanlah: “Semua kejadian itu baik untukku; semua peristiwa itu baik adanya.” Pikirkanlah hal-hal yang terjadi pada Anda dan katakanlah, “Itu baik…itu baik…”

Pikirkan tentang masa depan dan katakanlah,”Semuanya akan menjadi baik, Semuanya akan menjadi baik.” Kemudian lihatlah apa yang akan terjadi. Iman akan menjadi kebahagiaan; yaitu iman bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan dan bahwa segala sesuatu akan memberi arti yang sangat besar terhadap kebahagiaan kita.

Pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam Persekutuan Kelompok 3-4, GKI Klaten, tgl 26 Jan 2007.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!