MENGAPA BERTENGKAR?

0

Posted on : 14-08-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 20 September 2009

Minggu Biasa XX

Yeremia 11:18-20 Mazmur 54 Yakobus 3:13-4:3,7-8a Markus 9:30-37

PertengkaranKonon ada kakak beradik yang bertengkar hebat gara-gara pembagian harta peninggalan orang tua mereka. Pertengkaran meningkat menjadi permusuhan, bahkan meluas kepada keluarga mereka masing-masing. Padahal mereka itu merupakan warga gereja yang terpandang. Karena sangat sulit didamaikan, akhirnya Pak Pendeta menempuh satu jurus penyelesaian yang sangat unik, sebagai berikut: Kedua belah pihak keluarga yang bertengkar diundang untuk berkumpul di Rumah Tuhan, tentu bukan pada hari minggu. Sengaja mereka dipisahkan menjadi dua kubu yang diberi kesempatan yang luas untuk menuliskan segala kedongkolan, uneg-uneg, kemarahan bahkan kebencian yang satu terhadap yang lain. Setelah puas mengungkap segala yang negatip tentang lawannya, maka Pak Pendeta mulai menyampaikan kotbah singkatnya, membakar kertas-kertas itu sambil berkata:” Dalam Nama Yesus Kristus sekarang saya bakar habis segala sakit hati kalian, maka mulai hari ini tidak ada pertengkaran dan permusuhan, sebab kalian sudah dipersatukan kembali oleh Tuhan Sang Raja Damai!” Menyaksikan semua itu dan mendengar kata-kata yang berwibawa dari sang Hamba Tuhan maka merekapun saling berpandangan, saling mendekat dan akhirnya berpelukan sambil menangis histeris! Sejak hari itu mereka memulai lembar hidup baru sebagai keluarga besar yang hidup saling mengasihi. Dari menjadi batu sandungan, kini mereka berubah dapat memuliakan Nama Tuhan di tengah masyarakat! ( Kisah nyata djadoel yang dituturkan dosen saya }.

Kristus yang bisa menghindar. Dalam Markus 9:30 dikatakan bahwa ketika melewati Galilea bersama para muridNya, Tuhan Yesus tidak mau diketahui orang , karena Ia mau mengajar murid-muridNya tentang kematian dan kebangkitanNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sangat mementingkan tujuan utamaNya datang ke dalam dunia ini, serta rencana mempersiapkan para saksi mata, jauh-jauh hari sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus tidak mengutamakan popularitas. Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak suka menonjolkan diri; Ia dapat “menyembunyikan diri” selama tigapuluh tahun, sebelum memulai tugas besarNya. Segala sesuatu dilakukanNya sesuai rencana bapaNya, sehingga tatkala ibuNya berkata tentang pesta kawin di Kana yang kehabisan anggur, maka jawab Tuhan Yesus:”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Yesus juga pernah menyingkir seorang diri ke gunung ketika orang banyak akan memaksaNya menjadi raja mereka (Yohanes 6:15). Jika dihubungkan dengan masalah pertengkaran, maka seni menghindar termasuk pelajaran yang sangat penting. Dari pada menimbulkan rasa tidak puas dari orang banyak, lebih baik menghindar saja. Kita diajari Kristus agar pandai-pandai membaca situasi, menimbang dan memahami kecenderungan orang. Dalam hidup ini banyak pertengkaran dan salah paham terjadi gara-gara kita tidak pandai membawa diri, menempatkan diri dan menghindarkan diri. Ikut mencampuri urusan orang lain juga potensial menghadirkan pertengkaran. Kita sudah dilengkapi Allah sejak bayi dengan kepekaan dan hikmat. Dalam Yakobus 3:17 dikatakan: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Read the rest of this entry »

DAHULU JAUH, SEKARANG MENJADI DEKAT

0

Posted on : 30-06-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 19 Juli 2009

Minggu Biasa XI

2 Samuel 7:1-14a  Mazmur 89:20-37  Efesus 2:11-22  Markus 6:30-34, 53-56

DaudBaru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang  pendeta,  berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua,  rame-rame  makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang  ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu,  Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan  mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan.  Tiba-tiba  salah seorang pengunjung baru  restoran itu  dengan nada memerintah berkata kepada  Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja  kotor yang baru saja  ditinggalkan oleh  pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!”  Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.”  Tetapi Joas tidak  segera pergi sebab harus menjawab  panggilan   telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan  Jemaat GKI  Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT  Jakarta  supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya  sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka   hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera  minta maaf  dan   mau berkenalan, serta  ngobrol  dengan Joas,  maka dengan begitu  yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!

Dalam 2 Samuel 7  kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun  tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5).  Keberadaan Daud sebagai raja  hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah  rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim.  Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat.   Bagaimana dengan iman Daud?  Tiba-tiba saja dia merasa bersalah  bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang  baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.

Read the rest of this entry »

BERSIH TANGANNYA DAN MURNI HATINYA

0

Posted on : 25-06-2009 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

leh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu,12 Juli 2009

Minggu Biasa X

II Samuel 6:1-5, 12b-19   Mazmur 24   Efesus 1:3-14  Markus 6:14-29

Raja HeerodesSeorang isteri mengeluh kepada suaminya:”Waduh Pak, pembantu kita baru saja menggondol dua handuk baru kita.” Dengan suara marah sang suami berkata, “Memang dasar pembantu zaman sekarang, sikapnya selalu tidak terpuji …. Ngomong-ngomong handuk mana yang digondolnya?”  Sang isteri menjawab,  “Handuk-handuk yang kita ambil di Hard Stone Hotel, Pak.”  Orang-orang dalam cerita ini tangan dan hatinya tidak ada yang bersih. Dari sang pembantu sampai para majikannya sama saja!  Kisah di bawah ini lebih keterlaluan lagi, sampai mungkin kita tidak bisa mempercayainya, tapi itulah yang saya baca di Buku Mutiara-Mutiara Kasih, diberi judul: Kesempatan Terakhir.

Pendeta Henry White tengah malam diundang untuk mendoakan seseorang yang sudah di ambang kematian, yang mau bertobat. Sambil membungkuk di dekat wajah pria usia empat puluhan itu, pak pendeta menginjili dengan penuh semangat dan harap. Pendeta Henry merasa bersyukur sebab merasa mendapat respon yang  positip, hal itu tampak dari matanya  yang bercahaya selama mendengarkan firman Tuhan. Setelah selesai didoakan, pria itu sudah meninggal dunia. Tapi yang sangat mengherankan adalah ketika diamati ternyata tangan orang itu sedang menggenggam erat-erat rantai jam milik Pak Pendeta! Rupanya rantai emas di kantung pendeta itulah yang membuat matanya bercahya tadi!  Sungguh sangat  sayang, tangan dan hatinya tetap kotor pada detik-detik  terakhir Tuhan membukai pintu pertobatan baginya!

Dalam Markus 6 tadi kita bisa melihat keluarga Herodes yang sangat memperihatinkan.  Mental yang  bobrok, dengan mudah akan  menghasilkan pekerjaan tangan yang kotor bahkan menjijikkan. Kita lihat seorang kepala keluarga yang lemah dan tidak bijaksana, yaitu Herodes. Sebagai kepala keluarga dan sekali gus  seorang raja, Herodes telah melakukan  kesalahan  besar. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan olehnya, yaitu pertama: Mengapa ia menangkap, membelenggu dan menjebloskan Yohanes Pembapis dalam penjara (Markus 6:17). Tidak pada tempatnya bila Yohanes dipersalahkan dan dipenjarakan,  Herodes seharusnya berterimakasih kepada Yohanes yang sudah mau menegur kesalahannya. Di antara rakyatnya yang banyak itu, siapa yang berani dan mau menegur dia? Tak seorangpun kecuali Yohanes yang murni hatinya. Kiprah  Yohanes yang beda dan istimewa itu sekiranya  ditanggapi secara positip maka akan membawa  berkat yang besar dalam hidup Herodes, setidaknya bisa menjadi awal yang  menuju ke jalan keselamatan baginya! Tapi sayang sikap Herodes mengambang, maka sudah hampir masuk ke dalam anugerah Allah, tetapi keluar lagi! Dapat kita baca itu  di Markus 6:20 “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.”  Di sini kita melihat banyak hal yang indah dan mengembirakan dalam diri Herodes tetapi semuanya diganjal oleh sikapnya yang mengambang, yaitu hatinya  yang selalu terombang-ambing! Hati yang selalu terombang-ambing adalah hati yang tidak murni, sebab dipengaruhi oleh banyak faktor yang negatip.  Kesalahan Herodes yang kedua jauh lebih berat sebab dia telah mengabulkan permintaan Salome, hanya karena telah terlanjur bersumpah akan memberikan apa saja yang dimintanya. Kesalahan ini diawali dengan keteledorannya yang gegabah bersumpah, dilanjutkan rasa malu untuk menarik kembali janji yang sudah diucapan di hadapan para tamunya .Sekiranya Herodes mempunyai keberanian untuk berkata “tidak” dan dengan tegas menolak permintaan Salome yang keterlaluan itu, maka Tuhan tentu akan memberkati dia! Dengan demikian dia akan  bisa memecahkan rekor sebagai satu-satunya Herodes yang berada di pihak Tuhan, maka tak mustahil dia akan  diselamatkan!  Selanjutnya kita ketemu Herodias yang semula menjadi isteri Herodes- Filipus, tetapi sudah digaet menjadi permaisuri Herodes Antipas tadi. Jikalau Herodes yang ditegur merasa segan terhadap Yohanes, maka sebaliknya Herodias diam-diam  menaruh dendam yang mendalam, dan ingin bisa menyingkirkan dia untuk selamanya!  Itu sebabnya begitu memperoleh peluang maka langsung saja digunakan sebaik mungkin olehnya. Salome yang telah menggirangkan hati Herodes, Salome yang telah menerima  janji pakai sumpah dari Herodes, telah dibisiki oleh ibunya supaya  meminta kepala Yohanes! Dalam Buku William Barclay dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sebaik perempuan yang baik, tetapi juga tidak ada yang sejahat perempuan yang jahat. Lebih jauh para Rabi Yahudi mengungkapkan:”Seorang wanita yang baik jika menikah dengan pria jahat, akan dapat mengubah suaminya menjadi baik. Tetapi seorang pria yang baik, jika menikah dengan wanita jahat, maka akan dapat berubah menjadi sejahat isterinya!” Walau hanya berada di belakang layar, tetapi dapat dikatakan bahwa Herodias adalah  pelaku pembunuhan sang pelopor Juru Selamat dunia itu! Tindakan Herodias sangat sembrono,  sebab secara terang-terangan berani melawan Tuhan. Hatinya penuh kedengkian kepada Yohanes, berarti dia berani  membenci Tuhan yang sangat mencintai  hambaNya itu.  Membunuh Yohanes berarti berani membungkam mulut Tuhan yang menyuarakan kebenaran sabdaNya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa  Herodias itu  busuk hatinya, berbisa mulutnya, kotor tangannya dan bobrok moralnya. Herodias sangat berbeda dengan isteri Pilatus yang justeru memperingatkan suaminya agar jangan mencampuri urusan Tuhan Yesus dengan orang Yahudi yang menyeretNya ke hadapan Pilatus.Dengan sangat simpatik ia menyebut Yesus sebagai orang benar,  juga mengaku telah diperingatkan (Tuhan) dalam mimpinya, Matius 27:19. Sekarang kita menengok Salome sang penari yang telah memukau perhatian segenap tamu dalam pesta ulang tahun Herodes. Ada dugaan kuat bahwa Salome waktu itu mempersembahkan sebuah tarian  erotik, yang tidak pantas dilakukan oleh seorang keluarga istana.Sungguh sangat menyedihkan nasib Salome, sebagai seorang remaja puteri pada zaman itu agaknya ia sudah terbiasa tampil di depan umum dengan tarian yang aduhai, serta mendapat dukungan dari pihak orang tuanya. Sebagai seorang remaja yang polos hatinya, sudah  diracuni dan diperalat untuk mewujudkan suatu pembunuhan yang begitu sadis dan mengerikan, atas seorang hamba Tuhan yang tak berdosa. Dengan menuruti bisikan ibunya Salome telah menjadi seorang remaja yang terlibat secara langsung dalam dosa pembunuhan itu. Demi mendengar ide sang ibu semestinya Salome menunjukkan sikap tidak setuju dan berani menolak dengan tegas, tetapi apa yang kita baca dalam Alkitab? “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: Aku mau, supaya sekarang juga engkau  memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembabtis di sebuah talam!” Markus 6:25. Perhatikanlah kata-kata: Cepat-cepat, dan sekarang juga. Yang sangat menarik, atau lebih tepat  sangat menjijikkan,  adalah apa yang terungkap dalam ayat 28. Diterangkan di situ bahwa sesudah leher Yohanes dipenggal maka oleh seseorang kepalanya diserahkan kepada Salome. Bayangkan bahwa seorang remaja puteri memiliki hati yang tega untuk menerima satu kepala manusia yang berdarah di atas nampan! Kemudian membawa dan menyerahkan kepada ibunya! Tak mustahil mereka  itu juga memiliki  kekejaman untuk melakukan pemenggalan dengan tangannya sendiri!

Sedari tadi pembicaraan kita cuma di seputar orang-orang yang hidupnya di luar Kristus, sehingga  akrab dengan kejahatan yang ditandai dengan  tangan dan hati yang kotor. Sekarang, di Efesus 1:3-14 kita disuguhi satu tema yang  menarik tentang kekayaan orang-orang yang terpilih. Firman Tuhan menegaskan bahwa  sudah sejak semula Allah menghendaki kita menjadi anak-anakNya yang hidup kudus di hadapanNya. Ketika dosa sempat menerobos ke dalam hidup kita, Allah tidak mau menyerah kalah. Persoalan besar kita diatasiNya melalui pengorbanan Kristus, sehingga tersedia pemulihan hubungan dengan Allah serta pengembalian status kita sebagai anak-anak yang dilimpahi kekayaan kasih karunia dan hikmat. Satu kali kita dihubungkan dengan Kristus, maka  untuk selamanya tidak akan pernah terpisahkan lagi baik di bumi maupun di sorga. Selama ada di dunia ini kita akan dikuatkan melalui Firman Tuhan dan pendampingan Roh Kudus, dan hal itu merupakan  jaminan bahwa kita sudah menjadi milik Allah. Semua  berasal dari kemurahan Allah, maka  hidup kita  berisi puja dan  puji bagi kemuliaan Tuhan.

Kiprah  Daud selaku raja yang telah  menggerakkan ribuan rakyatnya dalam II Samuel 6 tadi sesungguhnya merupakan nubuat dan gambar, dari sukacita umat Tuhan di segala abad, seperti yang dipaparkan dalam Efesus 1:3-14. Yang dirasakan Daud saat itu adanya kehadiran Tuhan kembali, setelah tabut Allah dapat direbut dari tangan Filistin. Hal itu sama seperti kehadiran Kristus ke tengah-tengah umat manusia sebagai bukti perkenan Allah, untuk mengakhiri kemenangan iblis dan dosa. Mikhal anak perempuan Saul memandang rendah sikap Daud yang dinilainya berlebihan, padahal semua itu dilakukan oleh Daud dengan segala ketulusannya, sehingga ia tidak mempedulikan jabatannya sebagai seorang raja yang mau berbaur dengan rakyak jelata. Intisari dari kisah ini mau mengajarkan kita  demikian: Jika sukacita sorgawi telah merasuki  hidup kita maka yang pertama-tama muncul adalah ketulusan hati  menanggapi  kemurahan Tuhan. Ketulusan hati yang ditandai  tangan yang bersih, serta  hati yang murni akan menjauhi segala kejahatan dan hidup kotor, dan sebagai gantinya adalah hidup penuh pujian kepada Tuhan di dunia ini dan berlanjut sampai di sorga kelak. Kita melihat  perbedaan besar diantara dua raja tadi: Herodes dan Daud.  Meskipun sikap Herodes lumayan baik, tetapi karena dia masih selalu terombang-ambing dan tidak berani tegas menerima firman Tuhan, berarti masih hidup di luar Tuhan, maka tidak ada sukacita dan hidup  sejahtera.  Berbeda  dengan Daud, sejak muda  ia sudah selalu berpautan dengan Tuhan, sehingga walau hidupnya tidak sempurna  namun tak pernah terlepas dari genggaman Tangan Nya, maka keselamatan dan  sukacita  sejati  dari Tuhan diwarisinya.

Mazmur 24 mengingatkan  bahwa kita mempunyai Raja Kemuliaan, yaitu Tuhan semesta alam. Jika kita mau berserah dan bergaul dengan Dia,  maka dikatakan bahwa kita boleh naik ke atas gunung Tuhan. Kemuliaan kita itu harus ditandai dengan tangan yang bersih dan hati yang murni!

MESIAS DAN DUNIA BARU

0

Posted on : 30-11-2008 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pdt.Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 7 Desember 2008

Tahun B: Adven II

Bacaan: Yesaya 40:1-11 Mazmur 85:1-2,8-13 II Petrus 3:8-15 Markus 1:1-8

Ada cerita tentang seorang pendeta yang tertidur dan bermimpi di ruang kerjanya. Pendeta itu bermimpi tentang bagaimana kehidupan ini tanpa kehadiran Tuhan Yesus. Tidak ada kartu natal, tidak ada lonceng gereja yang mengiringi lagu –lagu natal. Dalam mimpinya pendeta itu memasuki ruang kerjanya dan di rak bukunya tidak menemukan satu cuil pun tulisan tentang kelahiran dan kehidupan Kristus. Masih dalam mimpinya, tiba-tiba pintu diketuk lalu tampil seorang anak laki-laki, mohon pak pendeta datang ke rumah untuk mendoakan ibunya yang sedang sakit. Di samping pembaringan ibu yang sakit itu, ketika pak pendeta mau membacakan ayat-ayat dari Injil, dia terkejut sebab Alkitabnya berakhir dengan Kitab Maleakhi! Dia kebingungan, dan berduka karena merasa kehilangan miliknya yang sangat berharga. Akhirnya pendeta itu terjaga dengan air mata yang bercucuran. Saudara, judul cerita di atas adalah “Andai Tuhan Yesus Tidak Datang” Bagi Sang pendeta itu sungguh sangat besar bedanya hidup dalam Dunia Lama tanpa Yesus Kristus, dengan hidup dalam Dunia Baru yang serba indah karena Mesias telah mewarnainya.Saya mengangkat cerita tadi dari Buku Mutiara-mutiara kasih. Kita patut bersyukur sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji, tapi telaten dan konsisten mempersiapkan kehadiran Mesias yang telah dijanjikan bagi dunia. Mungkin kita bertanya dalam hati mengapa waktu itu Tuhan tidak segera menolong umatNya ketika berada di tanah pembuangan Babil, juga mengapa melakukan penundaan secara besar-besaran dalam menghadirkan Mesias di dunia ini? Begitu pula , kapan Kristus akan datang kembali nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya sudah terjawab tadi, waktu kita membaca II Petrus 3:8 yang berbunyi demikian:”Akan tetapi , saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Ketahuilah bahwa segala rencanaNya ada di dalam kekekalan, sehingga kita yang dilibatkan di dalam rencanaNya yang besar itu perlu membiasakan diri dengan “Waktu Surgawi” dari Tuhan. Jika dilanjutkan ke ayat 9, maka kita membaca sebagai berikut:”Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian ….” Dari sini kita diingatkan bahwa sering terjadi waktu- kita berbeda dengan waktu- Tuhan, harapan kita berbeda dengan keinginanNya. Dalam Yesaya 55:8 kita dapat membaca sebagai berikut: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman Tuhan.”

Saudara mari kita melihat betapa Tuhan menentukan berakhirnya masa pembuangan dan penghambaan umat Tuhan di Babil. “Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan, dua kali lipat karena segala dosanya” (Yesaya 40:2). Wah, Saudara, berita itu pastilah sangat melegakan hati, Ada pengampunan, ada pemutihan dan penghapusan hukuman yang datang dari pihak yang berwenang yaitu dari Tuhan. Maka sungguh sangat tepat apa yang tertulis dalam Yesaya 40:1 “ Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu.” Begitulah Saudara jika Tuhan mau menghibur umatNya, dengan cara menganugerahkan apa yang paling dibutuhkan. Di sini Tuhan tidak memberi harta benda, kemewahan atau pangkat tinggi, juga bukan segala kemuliaan duniawi.Tetapi Tuhan memberikan pengampunan, berarti pemulihan hubungan antara umat dan Allah, anak dan Bapa, makhluk dan Khalik. Saudara, kita perlu belajar menghargai pemberian Tuhan yang sejenis itu dalam hidup kita, misalnya: Hati penuh sukacita, hidup rukun, semangat kerja, iman , pengharapan, dan seterusnya.Sering dalam praktek hidup, yang kita sebut sebagai berkat Tuhan, hanya terbatas pada hal-hal yang lahiriah semata. Acapkali kita juga jumpai orang-orang yang cuma bisa menghargai uang atau materi, padahal ada banyak hal lain yang lebih penting tapi tidak dihargai. Di hadapan Tuhan kita jangan seperti itu.Mari kita coba menghitung berapa banyak “permata rohaniah” dan “harta surgawi” yang sebenarnya dapat memperkaya diri kita, namun selama ini tidak kita sadari, tidak kita akui dan syukuri.

Lebih jauh dalam Mazmur 85 kita melihat masa atau saat dan cara Tuhan memulihkan keadaan umat Nya, mengampuni kesalahan dan menutupi segala dosa. Selanjutnya Tuhan menghadirkan keselamatan yang mendatangkan kemuliaan, sebab kasih dan kesetiaan bertemu, keadilan dan damai sejahtera bercium-ciuman! Saudara, pada dasarnya Tuhan menggemari yang seperti itu atas hidup umatNya, bahkan atas seluruh umat manusia dan seluruh ciptaan! Tak terasa oleh firman dan Roh Kudus, sesungguhnya dari waktu ke waktu kita sedang digiring memasuki Dunia Baru karya Mesias.

Saudara, di dalam Injil Markus yang kita baca tadi kembali kita melihat masa dan cara yang dilakukan Tuhan. Memang tidak tertulis di situ, tetapi menurut penyelidikan ada rentang waktu empat abad di antara akhir Perjanjian Lama dan awal Perjanjian Baru. Dalam rentang waktu itu Tuhan tidak mengutus nabi-nabiNya, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak menyapa umatNya dan membiarkan umatNya berada dalam masa sunyi. Jikalau tiba-tiba muncul seorang Yohanes Pembaptis di tengah-tengah umatNya, maka itu berarti Tuhan sudah memecahkan kesunyian yang sangat mengerikan. Di sini kita diingatkan bahwa patut bersyukur sebab ternyata Tuhan mau berinisiatif, Tuhan mau membuka diri, membuka jalur persekutuan dengan kita. Coba bayangkan andai di dalam seluruh sejarah dunia dan sejarah manusia, untuk selamanya Tuhan hanya “bersembunyi” terus di dalam kekudusanNya, hanya bersedia menjadi Allah yang transcendent saja, maka kita akan menjadi kerdil dan hanya seperti hewan di hadapanNya. Hidup kita akan terasa dingin dan beku sebab tak ada kehangatan illahi yang menyapa, menyentuh, memegang, memapah, merangkul serta menggendong kita.

Dalam Markus 1:1 tadi kita membaca:”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Ditegaskan di sini bahwa awal berita sukacita yang terbesar berasal dari surga dan mengenai Yesus Kristus Anak Allah. Saudara, Mesias yang sejak awal sejarah manusia sudah dijanjikan, kini mulai diungkap dan segera dihadirkan karena masanya sudah tiba! Yesus Kristus, Anak Allah adalah Mesias yang segera hadir untuk membangun Dunia Baru bagi kita.Jika disebut Anak Allah, berarti Dia itu Allah. Tapi kemudian Dia juga akan memperkenalkan diri sebagai Anak Manusia , sebab dilahirkan oleh seorang manusia. Tokoh yang satu ini sungguh luar biasa hebat dan dahsyatnya: Dia itu Allah yang sejati , sebab Allah Putera dan Manusia yang sejati, sebab tidak punya dosa. Peranan, karya serta kehadiranNya sudah ada dalam rencana Allah. Di dalam TanganNya ada Dunia Baru, yaitu kenyataan hidup dimana manusia tidak lagi dikuasai iblis, dosa dan maut. Kasih dan pengorbanan akan menjadi andalanNya yang ampuh. Oleh karena itu pada gilirannya Ia menghendaki setiap pengikutNya menjadi pelaku kasih dan rela berkorban seperti Dia. Dari situlah akan muncul sukacita dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mesias,Yesus Kristus itu bersedia datang sedekat-dekatnya dalam hidup kita asal kita mau membuka diri bagi kedatanganNya. Dia mau memegang tangan kita, asal kita bersedia mengulurkan tangan bagiNya (Matius 14:31).Dia mau masuk ke dalam rumah kita, dan bersedia makan bersama kita, asal kita mau membukakan pintu yang diketukNya (Wahyu 3:20). Dia mau mengajar, asal kita siap mendengar firmanNya (Matius 5:2). Dia mau menyelamatkan asal kita mau bertobat! (Lukas 5:32).

Tetapi mengapa Yohanes Pembaptis harus muncul lebih dahulu? Mengapa harus ada pembuka jalan segala? Mengapa harus ada suara yang berseru-seru di padang gurun? Dan mengapa Yohanes itu berpenampilan begitu sederhana? Jawabnya: Inilah cara yang ditempuh oleh Tuhan untuk memperkenalkan siapakah Yesus itu (Markus 1:7; Yohanes

1:29), dan mempersiapkan jalan bagi Yesus, agar terjadi perjumpaan diantara Yesus dengan orang-orang berdosa yang merindukan hidup baru dan dunia baru.Itu sebabnya Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan baptisan dengan air, tetapi Yesus Kristus akan membaptis dengan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis menyiapkan untuk karya Kristus yang lebih mulia.Yohanes hanya sebagai “suara” dan mengaku bahwa membuka tali kasutNya saja ia merasa tidak layak. Jadi Yesus Kristus adalah yang utama!

Saudara, apa yang kita baca dalam 2 Petrus 3 tadi? Sekali lagi tentang kedatangan Tuhan Yesus, tapi tentu saja tentang kedatanganNya yang ke dua nanti.Kita tidak perlu bingung menduga-duga tanggal berapa kedatanganNya yang ke dua itu.Tidak bakalan kita ketahui, sebab Tuhan sendiri mengatakan seperti kedatangannya seorang pencuri. Jika masih terus ditunda juga, pasti karena rencana kasihNya, yaitu agar kita bertobat dan semakin tambah banyak orang yang bertobat melalui kita. Apakah Tuhan Yesus akan datang kembali di akhir zaman? Tidak perlu diragukan! Mari kita tengok apa yang telah terjadi, lalu kita berkeyakinan demikian: Jika kedatangan pertama saja dapat ditempuh oleh Tuhan Yesus, meskipun ditandai dengan kerendahan dan penderitaan, apalagi kedatangan ke dua yang ditandai dengan kemuliaanNya sebagai Pemenang dan Hakim Tertinggi. Pada saat itu nanti, dunia baruNya pasti akan disempurnakan!

Tuhan Menuntun ke Jalan yang Benar

0

Posted on : 23-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b)

Daud adalah seorang anak Tuhan. Ia sangat dikasihi oleh Tuhan, namun di dalam kehidupan yang dilaluinya tidak berjalan dengan mulus. Dia mengalami banyak perjalanan yang pahit dan getir. Sebagai gembala, ia pernah bertarung melawan singa dan beruang yang akan menerkam domba-dombanya. Ketika ia menjadi menantu raja Saul, ia dibenci oleh Saul, mertuanya, dan d kejar-kejar hendak dibunuh. Akibatnya ia harus hidup mengembara dan menderita. Namun penderitaan itu diterimanya dengan kesabaran, dan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dia. Dia bahkan sangat yakin bahwa hidupnya selalu dituntun oleh Allah sendiri.

Mazmur 23 inilah merupakan kesaksian Daud tentang Allah yang telah menuntunnya di jalan hidupnya. Pertolongan dari Tuhan itu nyata di dalam kehidupannya.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Tuhan Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi kita semua, umat yang percaya. Ia akan melepaskan kita apabila kita terperosok ke dalam jurang. Dicarinya kita yang sesat, dan dituntunnya kita bersama kawanan domba-domba yang lain. Yohanes 10:2-3 menyatakan, “tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.”

Saat kita berada “di luar”, yaitu di dalam pergumulan dan permasalahan, serta kegiatan kita sehari-hari, ingatlah bahwa Tuhan Yesus, gembala yang baik menuntun kita semua. Ia mengenal nama kita. Dengarkanlah, Ia memanggil kita, meminta kita datang kepadaNya. Pasti dituntunnya kita ke padang rumput yang hijau dan ke air yang tenang, bahkan sekalipun kita menghadapi bahaya tetap saja Ia akan menolong kita. GadaNya dan tongkatNya menghibur kita.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!