MENGASIHI DENGAN RELA BERKORBAN

0

Posted on : 15-04-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kisah Para Rasul 4:5-12  Mazmur 23  I Yohnes3:16-24  Yohanes 10:11-18

Kezia duduk di kelas empat SD, setiap pergi sekolah tentu diantar oleh ibu yang sangat mengasihinya.Tapi Kezia sering lari meninggalkan  ibunya jika sudah sampai di dekat sekolah, oleh karena teman-teman Kezia senang mengejek dengan teriakan:” Pincang, belang!” Biasanya teriakan seperti itu diulang-ulang dan bahkan dengan nada tertentu. Itulah cemoohan anak-anak nakal yang ditujukan kepada ibunya Kezia yang kaki serta wajahnya  cacad. Hal itu membuat  Kezia merasa amat malu berjalan bersama  ibunya, bahkan nun di dasar hatinya ia merasa malu punya ibu yang berpenampilan seperti itu.

Anak-anak nakal itu sebetulnya sudah sering dimarahi oleh Bapak dan Ibu Guru, tapi mereka bandel masih sering menghina ibu Kezia yang cacad itu. Dalam  suatu upacara hari senin, Bu Guru diberi kesempatan oleh Kepala Sekolah  untuk menyampaikan sebuah cerita nyata yang terjadi sembilan tahun yang lampau. Bu Guru berkisah tentang  sebuah kebakaran,  yang terjadi di pemukiman yang padat penduduk. Waktu itu ada seorang bayi yang kamarnya sudah dikepung kobaran api.  Ketika sang ibu berniat akan menolong bayinya, segera  dicegah dengan sangat oleh orang banyak sebab kobaran api sudah sedemikian hebatnya. Namun  kasih ibu lebih hebat dari kobaran api! Maka tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya, dengan membawa sebuah  handuk basah ia pun menerobos masuk  ke dalam rumah yang keadaannya sudah sangat gawat itu! Akibatnya wajah ibu itu cedera karena terbakar dan kakinya juga kejatuhan balok pintu yang membara,  tetapi bayinya yang dibungkus dengan handuk itu terlindung aman dalam pelukan ibu. Nama bayi itu adalah Kezia, dan ibunya Magdalena, atau biasa dipanggil “Bu Lena”. Penduduk kampung menaruh hormat dan mengagumi Bu Lena sebagai ibu teladan. “Hanya di sekolah ini saja ada anak-anak  yang suka mengejek ibu yang telah mengasihi dengan rela berkorban itu!” Mendengar kisah Bu Guru itu banyak anak yang meneteskan air mata haru dan tersipu malu, karena merasa bersalah. Sejak itu tak pernah lagi ada anak sekolah yang mengejek mereka berdua, dan Kezia juga  tidak malu lagi jalan bersama ibunya!  Saudara, mengingat Kristus yang telah rela berkorban bagi kita, timbul pertanyaan sekarang: Sebesar apakah rasa hormat, kagum dan kasih kita kepada Nya?  Hal itu  bergantung dari sejauh manakah pengenalan serta pemahaman kita atas pengorbanan Kristus, yang  sudah kita terima selama ini!

Dalam Kisah Para Rasul 4 tadi  kita melihat satu kenyataan yang sepintas tampak sangat janggal, yaitu:  hanya gara-gara seorang pengemis lumpuh yang disembuhkan, maka para tokoh  rohaniwan telah  berkumpul guna memeriksa sang penyembuhnya. Sebetulnya hal itu dapat kita mengerti , sebab satu mujizat besar baru saja terjadi atas si lumpuh yang sudah dikenal oleh seluruh penduduk yang religious itu. Cara menyembuhkannya pun sangatlah sederhana dan seketika,  padahal kelumpuhannya sudah sejak dari  lahir! Yang sedang diperiksa atau diadili memang Petrus dan Yohanes, tetapi sebetulnya Yesus Kristuslah yang sedang diserang dan dimusuhi. Sejak awal para pemimpin dan rohaniwan itu sudah  menduga  bahwa kesembuhan si lumpuh itu mesti ada kaitannya dengan Tuhan Yesus. Hal itu tampak dari  pertanyaan  tendensius yang ditujukan kepada Petrus dan Yohanes: “Dengan kuasa manakah dan dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?” Ada beberapa hal yang dapat membuat kita semakin mengenal tindakan Kristus:

Pertama, Dalam peristiwa ini kita melihat betapa Tuhan Yesus sangat mengasihi dan menghargai si pengemis yang lumpuh itu. Demi kesembuhan,  kebahagiaan dan masa depannya maka  Tuhan Yesus rela mendapat serangan;  NamaNya yang kudus diobok-obok dan kuasaNya dipersoalkan untuk dihina oleh orang-orang munafik itu. Pada waktu yang lalu pernah ada upaya orang yang  menghina dan merendahkan  kuasa Tuhan Yesus menjadi setara dengan  kuasa iblis ! Hal itu dapat kita baca di Injil Lukas 11:15 Tetapi ada diantara mereka yang berkata:” Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Sikap Yesus Kristus memang konsisten, dari dulu sampai selamanya Ia selalu rela mengorbankan hidup dan perasaanNya, demi keselamatan dan kebahagiaan manusia.                                                                                                                                                     Kedua, Selanjutnya kita melihat Kristus mengizinkan berlangsungnya proses pengusutan dan pemeriksaan, yang dilakukan oleh para petinggi  rohani supaya murid-muridNya bisa lulus dalam ujian berani bersaksi!  Di ayat 19 dan 20 tertulis: Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka:”Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah, taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah  kami lihat dan yang telah kami dengar.”

Ketiga, Sebagai domba Kristus kadang kita mendapat perlakuan yang tidak adil dari kelompok masyarakat  yang tidak menyukai kita. Pada saat itu nun  di dasar hati, kita merasa sangat kecewa mengapa Kristus tidak membela kita dan menghukum mereka, mengapa Kristus  rela dihina namaNya? Diserang TubuhNya, ajaranNya dan seterusnya. Kalau kita merasa  penasaran dan  tidak puas terhadap “ketegasan” Kristus , berarti kita masih harus banyak belajar mengasihi dan mendoakan musuh, bersabar, rendah hati dan mengetrapkan ajaranNya yang lain. Kedewasaan iman dan kematangan sebagai seorang pengikut Kristus akan bertumbuh justeru melalui kesulitan, tekanan dan serangan!

Keempat, Pada saat Kristus diserang dan rela berkorban justeru  sering  merupakan rahmad Allah bagi orang-orang berdosa atau  yang  memusuhi Nya untuk bertobat. Bukankah di sekitar salib Kristus yang kelabu itu ,  telah berhembus “angin yang sejuk”? Yang menyukakan hati, pertama-tama tentu saja  penjahat di samping Kristus yang  dibukai pintu firdaus,kemudian  kita juga membaca Matius 27:54 Kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata : “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Pertobatan yang terjadi selalu  merupakan keuntungan bagi Kerajaan Allah!  Sebab itu setelah  melancarkan  tegurannya yang keras, maka Petrus juga memunculkan sebuah pintu-masuk bagi para pendengarnya yang terhormat itu untuk bertobat! Perkataan Petrus menjadi  ayat  emas yang sangat terkenal di seluruh dunia: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada  nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat  diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).

Petrus yang penuh dengan Roh Kudus telah meluncurkan berlimpah Firman Allah, baik dalam bentuk teguran, pernyataan maupun kesaksian. Semuanya itu harus disadari oleh pendengarnya sebagai ungkapan kasih, sebab berpotensi untuk mengubah paradigma dan hati manusia yang bengkok menjadi lurus, tapi dapat pula  justeru semakin memanaskan hati atau mendatangkan  ketakutan! Hal itu bergantung dari pihak penerimanya. Bagi pihak Petrus dan Yohanes semua itu adalah merupakan ungkapan kasih kepada sesama yang harus mewujud dalam perbuatan dan kebenaran, I Yohanes 3:18.

Di  Yohanes 10, kita diperhadapkan kepada Sang  Gembala Agung Yesus Kristus yang mempunyai komitmen yang jelas dan pasti, untuk mengorbankan nyawa bagi kita yang diangkat menjadi  domba-dombaNya. Wacana dan janjiNya kemudian  menyatu dengan tindakan-tindakan besar, yang mendorong kita untuk meneladan dalam hidup sehari-hari.  Ketika Yesus Kristus mengenalkan diri sebagai Gembala yang baik,  sepintas Ia itu  seperti orang yang sombong , tetapi sebenarnya tidak begitu.  Keterusterangan Yesus merupakan keterbukaan hatiNya yang tulus.UngkapanNya  juga merupakan undangan yang  ditujukan kepada setiap orang yang sedang  kebingungan mencari andalan hidup, berarti sedang   sangat membutuhkan kehadiran Yesus Kristus.  Jadi keterbukaan  Kristus mengenai diriNya,  sudahlah merupakan anugerah awal di dalam hidup setiap manusia berdosa. Jika Yesus Kristus tidak berterus terang, maka semakin banyak orang yang akan salah pilih, datang kepada gembala upahan yang tak bertanggung jawab. Dengan rela dianggap sombong, Yesus mau menolong! Segera di ayat 19 dan 20 Ia sudah harus menuai banyak reaksi yang mengatakan bahwa Yesus itu kerasukan setan dan gila, justeru karena Yesus telah mengenalkan diriNya sebagai Gembala yang baik! Di ayat 33 Ia dilempari batu dan dikatakan menghujat Allah, justeru karena Ia telah  berterus terang mengenai betapa akrab  hubungan dengan BapaNya.Jika Kristus membuka diri maka akan menanggung resiko dianggap menghujat Allah, tapi jika Ia  menutup diri lalu apakah gunanya pihak Allah telah  berjerih menghadirkan Mesias ke dalam dunia ini? Tapi Kristus mengasihi dengan rela berkorban! Ah,  tema kotbah kita sangat menyentuh hati, bukan? Saudara,  kita melihat perbedaan yang sangat besar diantara orang  yang bersimpati kepada Kristus, dan yang membenciNya. Pada saat mendengar kata Yesus adalah gembala yang baik, orang yang bersimpati kepada Yesus akan   merasa sejuk hatinya, sedangkan mereka yang membenci Yesus akan  merasa muak. Konon mantan Presiden RI yang pertama, Bung Karno diundang menghadiri perayaan Natal di Jakarta dengan tema “Yesus Adalah Gembala Yang Baik”. Ketika diminta memberi sambutan, dengan suara lantang Bung Karno membaca tema tersebut, lalu berkata:”Itu salah!” Tentu saja membuat hadirin menjadi kebingungan, lalu katanya pula :” Yesus Adalah Gembala Yang Terbaik!” Semua merasa lega dan bertepuk tangan gembira!

Jika kita mengakui Yesus sebagai gembala yang baik, berarti kita sudah dipersatukan dengan umat Tuhan di Perjanjian Lama. Gambaran Yesus sebagai gembala yang baik sudah dimunculkan Allah  dalam Mazmur 23. Penggembalaan Yesus sudah mulai diungkap di sana. Apa yang direncanakan dan dilakukan Allah kepada kita, diwujud nyatakan oleh Yesus! Bahkan yang masih samar-samar dijelaskan, yang dalam bentuk lambang dinyatakan, dan yang merupakan tuntutan (yang berat, terberat dan mustahil bagi manusia) dipenuhi! Yaitu: Mengasihi musuh, melakukan sepuluh Hukum Tuhan dan menanggung murka  Allah yang kekal. Kristus yang mengasihi dengan rela berkorban, mampu mengubah kita menjadi manusia yang bermakna!

There is a great man who makes every man feel small. But the really great man is the man who makes every man feel great.  G.K.Chesterton

Oleh: Pdt. Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 3 Mei 2009

Minggu Paska IV


Tuhan Menuntun ke Jalan yang Benar

0

Posted on : 23-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b)

Daud adalah seorang anak Tuhan. Ia sangat dikasihi oleh Tuhan, namun di dalam kehidupan yang dilaluinya tidak berjalan dengan mulus. Dia mengalami banyak perjalanan yang pahit dan getir. Sebagai gembala, ia pernah bertarung melawan singa dan beruang yang akan menerkam domba-dombanya. Ketika ia menjadi menantu raja Saul, ia dibenci oleh Saul, mertuanya, dan d kejar-kejar hendak dibunuh. Akibatnya ia harus hidup mengembara dan menderita. Namun penderitaan itu diterimanya dengan kesabaran, dan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dia. Dia bahkan sangat yakin bahwa hidupnya selalu dituntun oleh Allah sendiri.

Mazmur 23 inilah merupakan kesaksian Daud tentang Allah yang telah menuntunnya di jalan hidupnya. Pertolongan dari Tuhan itu nyata di dalam kehidupannya.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Tuhan Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi kita semua, umat yang percaya. Ia akan melepaskan kita apabila kita terperosok ke dalam jurang. Dicarinya kita yang sesat, dan dituntunnya kita bersama kawanan domba-domba yang lain. Yohanes 10:2-3 menyatakan, “tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.”

Saat kita berada “di luar”, yaitu di dalam pergumulan dan permasalahan, serta kegiatan kita sehari-hari, ingatlah bahwa Tuhan Yesus, gembala yang baik menuntun kita semua. Ia mengenal nama kita. Dengarkanlah, Ia memanggil kita, meminta kita datang kepadaNya. Pasti dituntunnya kita ke padang rumput yang hijau dan ke air yang tenang, bahkan sekalipun kita menghadapi bahaya tetap saja Ia akan menolong kita. GadaNya dan tongkatNya menghibur kita.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!