Gerakan Kemanusiaan Indonesia-Klaten

0

Posted on : 12-06-2008 | By : GKI | In : Sejarah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pada tanggal 27 Mei 2006 sekitar pukul 5.50 WIB, gempa bumi berskala 5,9 skala Richter mengguncang propinsi DIY dan Jawa Tengah bagian Selatan. Meski hanya berlangsung selama selama 59 detik, namun kerusakan yang ditimbulkan cukup dahsyat. Di kabupaten Klaten sendiri ada ribuan orang menjadi korban jiwa dan luka-luka. Gempa juga merusak rumah, infrastruktur dan fasilitas publik lainnya.

Posko GempaGedung gereja juga tak luput dari kerusakan. Menurut catatan Forum Kerjasama Gereja-gereja (FKG) Klaten, gedung gereja yang roboh ada 4 buah (GKB di Mawen, GKI Klaten—Bajem Pesu, GKJ Prambanan, GKN Anugerah), “St. Yoseph” Trucuk-Paroki Jomboran, GKI Prambanan, GKJ Gondangwinangun, pepanthan rusak berat ada 13 buah (GBI Prambanan, Gereja Baptis Indonesia di Lengkong, Gereja Baptis Indonesia di Trucuk, Gereja Injili di Indonesia-Bayat, Gereja Katolik “St. Lukas” –Prambanan, Gereja Katolik Sumber di Srowot, GKRI Jemaat Petra-Tirtomarto, GKRI Jemaat Sawit-Karangtengah, GPdI Bayat, GPdI Cawas, GpdI Kemudo) dan rusak ringan 21 buah.

Sementara itu, anggota jemaat GKI Klaten yang berdomisili di desa Pesu, kecamatan Wedi mengalami kerusakan yang cukup parah. Hampir semua rumah mereka roboh dan rusak berat. Beberapa anggota jemaat juga mengalami luka-luka, tetapi tidak ada korban jiwa. Gempa bumi itu juga merobohkan gedung gereja bajem Pesu. Sampai buku ini ditulis, jemaat di sana masih beribadah di bawah tenda.Bantuan Alat Masak

Meski tidak separah di desa Pesu, kerusakan juga terjadi pada rumah-rumah milik anggota jemaat bajem Mireng dan posjem Karangri. Tempat ibadah di kedua tempat ini mengalami kerusakan ringan dan masih dapat digunakan.

a. Masa Tanggap Darurat

Menanggapi bencana ini, GKI Klaten segera membuka posko kemanusiaan. Dengan membawa bendera “Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia Klaten” (tim GKI), mereka menyalurkan bantuan logistik, tenda dan alat penerangan ke daerah bencana. Untuk memperlancar dan mempercepat distribusi, maka tim GKI menjalin kerjasama dengan gereja-gereja lain dengan membuka 6 Posko, yaitu:

1. Posko Induk di GKI Klaten

Sebagai pintu utama penerimaan bantuan logistik dan keuangan.

2. Posko di desa Pesu, kec. Wedi.

Melayani kecamatan Wedi-Klaten dan Gedangsari, Gunungkidul.

3. Posko GKJ Gantiwarno.

Melayani kecamatan Gantiwarno (bersama kec. Wedi termasuk kawasan yang mengalami kerusakan paling parah).

4. Posko GKJ Gondangwinangun

Melayani kecamatan Gondangwinangun dan Jogonalan.

5. Posko GKJ Pedan

Melayani kecamatan Karangdowo, Cawas dan Pedan.

6. Posko di kecamatan Bayat.

Gereja jadi Posko GempaSelama masa tanggap darurat ini, keenam posko tersebut berusaha menyalurkan bantuan ke daerah yang belum sempat diljangkau oleh pemerintah, LSM atau posko lain. Jenis barang yang diberikan antara lain: air minum, alat dapur, alat penerangan, alat pertukangan, alat tulis, bahan bakar, baju, beras, bubur, susu, biskuit bayi, generator, jas hujan, mie instant, minyak goreng, obat, pembalut, peralatan mandi, sandal, selimut, tali, telor, terpal, tenda dan tikar

b. Pelayanan Kesehatan

Selain bantuan barang, tim GKI juga memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada para korban gempa. Pelayanan kesehatan ini sudah beroperasi sejak 29 Mei (hari ketiga setelah gempa) dan terus berlangsung hingga delapan bulan kemudian. Ada beberapa dokter dan perawat yang melayani di sini, antara lain dari R.S. Bethesda-Serukam-Kalimantan Barat, Fakultas Kedokteran Ukrida-Jakarta, Tim medis GKI Jakarta, dokter dari GKI Klaten, dokter dari negara Kuba, paramedis dari Australia dll.

Klinik darurat didirikan di lokasi bekas gereja bajem Pesu. Setiap hari, klinik pelayanan kesehatan darurat ini melayani pasien rata-rata sebanyak 20 pasien. Pada saat-saat tertentu, tim medis ini berkeliling ke desa-desa yang belum mendapat pelayanan kesehatan. Dalam satu hari, pasien yang dilayani bisa mencapai 100 orang.

c. Pemulihan Trauma

Bencana alam yang dahsyat, pasti mempengaruhi ingatan dan emosi warga yang selamat dari gempa tersebut. Besarnya pengaruh terhadap para ini bermacam-macam, tergantung pada berbagai variabel. Mengantisipasi hal ini, tim GKI berupaya memulihkan warga dari trauma akibat gempa. Kegiatan yang dilakukan adalah:

1. Pelatihan Konseling: diselenggarakan untuk melatih calon-calon konselor yang akan membantu memulihkan korban. Peserta pelatihan adalah aktivis gereja. Materi pelatihan diberikan oleh ibu Yulia Candra. Selain pelatihan ini, tim GKI juga telah menyelenggarakan Pelatihan Calon Konselor yang bekerja sama dengan Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Jakarta.

2. Konseling Korban: Apabila ada korban yang membutuhkan konseling, maka di posko Pesu sudah ada konselor yang siap membantu. Pelayanan ini bekerja sama dengan lembaga yang bernama YES. Selain itu, tim konselor dari LK3 juga diterjunkan ke desa Pesu.

3. Pendampingan Anak: Kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengajak anak menggambar dan mewarnai. Beberapa hari setelah gempa, anak-anak harus menghadapi ujian. Untuk itu, tim GKI mengadakan kegiatan “Belajar Bersama,” dengan mengundang guru-guru dari SD Kristen III untuk membimbing mereka. Acara ini mendapat tanggapan antusias. Ada sekitar 75 anak yang mengikuti kegiatan ini. Di akhir acara, biasanya ditutup dengan bermain bersama.

d. Bantuan Alat Masak

Tim GKI Klaten bekerja sama dengan “GenAssist” Global Relief Jogja memberikan bantuan alat memasak kepada korban gempa. Bantuan ini diberikan mengingat banyak alat-alat memasak milik penduduk yang rusak karena tertimpa reruntuhan bangunan. Pada masa-masa awal setelah gempa, warga yang selamat berkelompok dan mendirikan dapur umum dengan mengumpulkan alat-alat masak yang masih bisa digunakan. Namun setelah masa darurat selesai, setiap keluarga mulai memasak sendiri-sendiri. Sehubungan dengan itu, tim GKI pada tanggal 5 dan 8 Juli 2006 membagikan lebih dari 250 paket alat masak kepada warga yang bermukim di desa Pesu.

Setiap paket terdiri dari: gentong plastik besar, ember plastik, kompor minyak tanah, wajan , panci sayur, panci nasi, piring (6 buah), gelas (6 buah), cobek, pisau dan telenan

d.Pembuatan MCK Darurat

Gempa bumi juga merusak sarana sanitasi warga. Akibatnya, banyak warga yang memeriksakan ke klinik tim GKI di desa Pesu. Mereka terjangkit penyakit diare. Untuk itu, tim GKI lalu membangun 10 unit Kakus Darurat, yang terdiri dari 40 bilik. Dengan jumlah ini, satu bilik kakus dapat digunakan oleh 4 Kepala Keluarga. Warga yang menerima manfaat ini sebanyak 163 Kepala Keluarga.

e. Rekonstruksi Rumah

Pekerjaan posko kemanusiaan yang paling berat adalah membantu warga desa Pesu untuk membangun kembali rumah tinggal mereka. Pekerjaan rekonstruksi ini dimulai dengan menjalin komunikasi dengan ketua RT, ketua RW dan Lurah Desa.

Tim GKI menawarkan konsep pembangunan rumah tumbuh. Yang dimaksud rumah tumbuh di sini adalah pembangunan rumah yang menyesuaikan dengan dana yang sudah tersedia. Karena dana yang tersedia sangat terbatas, maka untuk tahap pertama ini hanya akan dibangun rumah berukuran 3mx4m. “Nanti jika ada berkat dari Tuhan, kita akan melanjutkan hingga berukuran 6m x 7 m,” kata Giri Sutjipto, pimpinan proyek rekonstruksi tim-GKI.

Konsep kedua yang diajukan oleh tim GKI adalah kemitraan. Dalam hal ini, penduduk tidak hanya sekadar menerima bantuan saja tetapi juga ikut menyumbangkan material dan tenaga selama proses rekonstruksi. Tim GKI menyediakan pasir, semen dan besi; sedangkan penduduk menyediakan bata (dari sisa-sisa reruntuhan yang masih bisa dipakai) dan tenaga pembangunan.

Konsep ketiga adalah bekerja di dalam kelompok. Penduduk yang ingin ikut dalam proyek ini harus berkelompok, dengan anggota sebanyak 3-6 orang.

f. Relawan Kemanusiaan

Pelayanan di bidang kemanusiaan ini ini merupakan hasil kerjasama berbagai pihak. Ada banyak dermawan yang tidak dapat disebut satu-persatu di sini. Yang patut dicatat di sini adalah antusiasme jemaat GKI Klaten. Sejak hari pertama paska gempa, banyak anggota jemaat yang berdatangan dan menyediakan diri sebagai relawan kemanusiaan. Nama-nama mereka di antaranya: Agus Permadi, Agoes Handojo(Yoyok), Dyah Widyastuti, Susanjanto, Agus Mulia, Giri Sutjipto, (alm) Siwi Budi Wibowo, Januar, Bambang P, Debby Kurniawati, pdt. Phan Bien Thon, Budi Nugroho Sulaiman, Purnawan Kristanto, Ibu Kristin, Ibu Budi Kusnan, Ibu Jati Sarono, Dina Putranti, Soeharjo dan masih banyak lagi lainnya.

Masa Tahun 1992-2007

0

Posted on : 12-06-2008 | By : GKI | In : Sejarah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pemanggilan Pendeta

Pada bulan September 1992, pdt. Iwan Kosasih mendapat panggilan untuk melayani di Australia. Kebaktian perpisahan diadakan pada hari pertama tahun 1993, yang dipimpin oleh pdt. Em. Hadi Nugroho. Untuk mengisi kekosongan, maka pdt. Em. Hadi Nugroho dari GKI Nusukan Solo diminta membantu pelayanan di di GKI Klaten. Ia mendapat tiga tugas khusus, yaitu: Konseling, Pelayanan Pernikahan dan Kematian, serta Ulang Tahun ke-20 GKI Klaten, 1980Katekisasi. Pada masa ini, pdt. Prayogo dari GKI Sangkrah turut membantu pelayanan khotbah.

Sementara itu, majelis dan jemaat GKI Klaten berusaha memanggil pendeta yang baru. Beberapa orang telah diundang untuk menjajaki pelayanan di gereja “Jago” ini. Di antaranya: calon pendeta Imanuel Nurcahyo dari GKI Banjarnegara yang menjalani masa perkenalan tanggal 7-18 Januari 1994. Selain berkhotbah hari Minggu, ia juga melakukan perkunjungan ke jemaat. Setelah itu, saudara Daniel Budiman juga pernah melayani di GKI Klaten pada tahun 1994-1996. Yang juga menjalani proses perkenalan adalah saudara Chandra Setiadi dan saudara Yudha Damar.

Jemaat GKI Klaten tidak henti-henti mendoakan akan kehadiran pendeta. Mereka kemudian mengundang sdri. Pelangi Kurnia Putri untuk memasuki masa pra perkenalan pada bulan Oktober- Desember 1998, yang kemudian diteruskan pada masa perkenalan pada September-Nopember 1999. Masa orientasi dijalani pada tanggal 1 Februari 2000-31 Januari 2001. Pada 22 Februari 2000 diadakan percakapan gerejawi tingkat Klasis. Proses ini berlanjut ke tahapan aprobasi (diumumkan ke jemaat), tanggal 25 Februari – 4 Maret 2001. Pada tanggal, 10 Oktober 2001 lulusan STT Jakarta ini menjalani ujian peremptoir, di hotel “Galuh”, Prambanan. Hingga akhirnya pada tanggal 16 Januari 2002, sdri. Pelangi Kurnia Putri ditahbiskan sebagai pendeta di GKI Klaten.

Karena jumlah anggota jemaat yang semakin bertambah, maka dirasakan bahwa satu pendeta saja belum cukup. Untuk itu, pada rapat pleno tanggal 16 Mei 2001, majelis GKI Klaten memutuskan untuk memanggil pdt. Phan Bien Thon dari Gereja Isa Almasih, Weleri untuk memasuki masa perkenalan. Akhirnya pada tanggal 16 Januari 2003, beliau diteguhkan menjadi pendeta.

Karyawan Khusus

Keluarga Pdt. Y.WidyantoSelain pendeta, GKI Klaten juga mendapat bantuan pelayanan dari pengerja-pengerja khusus. Selama dua tahun, ibu Debora Tioso membantu pelayanan di GKI Klaten, yaitu Agustus 1999-Agustus 2001. Ia lebih banyak melayani warga lanjut usia, perkunjungan anggota jemaat dan melayani khotbah di Bakal Jemaat dan Pos Jemaat.

Sementara itu, di Bakal Jemaat Mireng, dilayani oleh bpk. Indra Susanto, STh. Ia melayani sejak tahun 2005, sampai sekarang (tahun 2007). Sebelumnya, (alm) Soeyana diangkat oleh GKI Klaten menjadi karyawan kantor dan juga banyak membantu pelayanan di bajem Mireng.

Sedangkan di bidang musik, saudari Sarce Friozella Y Rizzy, SMG dikontrak secara khusus untuk melatih paduan suara, vokal grup, Pemimpin Nyanyian Kebaktian (PNK), pemusik dan pengisi puji-pujian. Ia melayani selama dua tahun (tahun 2005-2007).

Kejemaatan

Pada tanggal 15 Januari 1990, Majelis GKI memutuskan untuk membuka pos Karangri. Untuk pelaksanaannya diserahkan pada Komisi Pekabaran Injil (PI). Sedangkan untuk Bajem Pesu, saudara Sugeng Daryadi mendapat tugas untuk menyiapkan pembangunan gedung gereja, pada bulan Oktober 1990-

Maret 1991. Untuk saudara Budi Hakim mengadakan penjajakan luas tanah dan perhitungan biaya yang diperlukan.

Keluarg Pdt. Sugeng DaryadiPada tanggal 6 Februari 1990, Majelis menetapkan Panitia Pembangunan gedung gereja bajem Pesu. Selanjutnya pada 19 Agustus 1992, majelis memutuskan untuk membeli sebidang tanah dari Bpk. Atmo senilai Rp. 16.000.000,- . Tanah ini akan dipakai untuk pembangunan gedung gereja bajem Pesu.

Pada tahun yang sama, majelis jemaat GKI Kleten membeli sebidang tanah milik Bpk. Noyo, di belakang gereja, seharga Rp. 20.000.000,- Sekarang, di atas tanah tersebut telah dibangun gedung “Narwastu” yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Antara lain: untuk pelayanan kesehatan, kebaktian remaja, Sekolah Minggu pra Remaja, Rapat, Persekutuan Kelompok, Persekutuan Hamba Tuhan se-Klaten, Persekutuan Jaringan Doa, dll.

Pada bulan September 2005, majelis jemaat GKI Klaten menerima hibah dua bidang tanah seluas 1400 meter2 dari Bpk. Adrianto M.B. Tanah tersebut dipergunakan untuk SD Kristen III. (Melalui GKI Klaten, SD Kristen III juga mendapat bantuan rutin dari gereja ICC, Australia).

Pada tahun 1990, ibu Padmo mempersembahkan tanah dan rumahnya di Tegalanom kepada GKI Klaten. Untuk itu, GKI Klaten kemudian memberikan pelayanan diakonia kepada ibu Atmo, hingga beliau dipanggil Tuhan.

Ketika pdt. Iwan Kosasih pindah ke Australia, rumah dan tanah ini diserahkan kepadanya, sebagai rumah emeritasi. Namun karena tidak dapat menempatinya, maka rumah dan tanah di jl. Gondosuli ini dibeli oleh GKI Klaten.

Pada tahun 2005, GKI Klaten membeli sebidang tanah dari keluarga bpk. Jufri (biasa dipanggil oom Yopie) di gg. Onta. Di atasnya, masih berdiri bangunan garasi. Saat ini dipakai untuk garasi mobil dan kegiatan Sekolah Minggu.

Awal tahun 2006, GKI Klaten memperpanjang kontrak rumah milik bpk. Sugihardjo, selama 5 (lima) tahun. Rumah tersebut telah dipakai sebagai tempat ibadah Pos Jemaat di Karangri.

Pelayanan Diakonia

GKI Klaten tidak hanya hidup untuk dirinya saja. Tuhan memanggil gerejanya supaya menjadi saluran berkat bagi sesamanya. Menyadari hal ini, GKI Klaten melakukan berbagai aktivitas sosial.

Sejak tanggal 24 Agustus 1998, GKI Klaten membuka pelayanan pemeriksaan kesehatan bertempat di wisma Narwastu. Kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, pada minggu keempat ini dirintis oleh dr. Gunawan Wibosono. Sedangkan yang membantu administrasi adalah ibu Roestanta, bpk. Yoyok, ibu Sekarfatma dan ibu Komardiyanto.

Sampai sekarang, pelayanan kesehatan ini diteruskan oleh dr. Hendro Priyono. Sedangkan yang membantu administrasi pendaftaran dan pelayanan obat adalah ibu Soejono, Ibu Titik Makhrus, Ibu Mirna, Ibu Pratiwi, Ibu Roestanta, Ibu Agustina R.T,. Ibu Ira Setiawan, Ibu Bambang Budiadi, Ibu Retno Dewi Murni, dll.

GKI Klaten juga sering melakukan penjualan beras murah. Kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat sekitar. Begitu seringnya sehingga aksi sosial ini seolah-olah menjadi “trade mark” GKI Klaten. Sebagai contoh, penjualan beras murah ini pernah dilakukan pada tanggal 30 Maret 1998 (1600 Paket), 19 Desember

1998 (1731 Paket), Oktober 2005 (bulan Keluarga). Aksi sosial ini biasanya menjalin kerjasama dengan pondok pesantren Al Mutaqien, pimpinan mbah Lim.

Selain itu, komisi-komisi dan persekutuan kelompok juga mengadakan aksi sosial dengan mendatangi lembaga pelayanan Kristen di luar kota. Biasanya hal ini dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Paskah dan Natal. Lembaga-lembaga Kristen yang pernah dikunjungi diantaranya adalah Panti Wredha “Hanna”-Yogyakarta, Panti Asuhan (P.A.)”Victory”-Cangkringan, P.A. Boyolali, P.A. “Seribu Pulau”- Solo, P.A. “Silo”-Solo, Asrama SMP Bopkri Wonosari-Gunungkidul, P.A. “Elisabeth” Salatiga, Panti Asih-Pakem, dll.

Masa Tahun 1955 – 1968

0

Posted on : 12-06-2008 | By : GKI | In : Sejarah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pada tahun 1955, GKI Sangkrah, Solo menugaskan guru Injil bapak Oei Djie Kong (sekarang Pdt. Em. N.E. Jeshua), untuk melayani di cabang GKI Sangkrah Solo di Klaten. Di samping kebaktian hari Minggu, beliau juga melayani katekisasi di perumahan dan di gereja yang diikuti oleh pemuda/pemudi antara 10 sampai 15 orang.

Sementara itu, kebaktian hari Minggu dilayani secara bergantian oleh Pdt. The Tjiauw Bian, pdt. N.E. Jeshua, dan Majelis GKI Sangkrah Solo.

Pada tahun 1959, Tuhan berkenan menggerakkan hati bapak R.M.E. Mangunsusanto, yang waktu itu menjadi pengurus sekolah-sekolah Kristen di Klaten. Beliau aktif melayani di GKI Sangkrah Solo cabang Klaten sehingga gereja yang kecil ini tumbuh dengan baik di segala bidang. Tidak sedikit pengorbanan yang beliau berikan untuk kemajuan dan perkembangan GKI Klaten dan ini terus dilakukan hingga akhir hayatnya.

Tuhan juga berkenan menggerakkan hati seorang anggota jemaat yaitu Ny. Liem Kok Sing. Pada tahun 1963, beliau menyerahkan rumahnya sebagai Pastori. Rumah ini terletak di Jl. Bhayangkara II/2 Klaten (sekarang jl. Bhayangkara no. 109)

Siap-siap berangkat ke Dieng

Pada tahun 1963 Majelis GKI Sangkrah Solo mengutus Pdt. Ton Tjoe Liang (Tjahjaputra) ke Klaten dengan tugas khusus untuk mempersiapkan cabang Klaten di dalam pendewasaannya. Pdt. Tjahjaputra waktu itu bukan sebagai pendeta konsulen karena waktu itu gereja di Klaten masih merupakan cabang dari GKI Sangkrah Solo. Setelah Klaten mempunyai pastori, barulah Pdt. Tjahjaputra dan istri bertugas di Klaten selama 3 hari dalam satu minggu. Banyak kegiatan dilakukan selama beliau bertugas di Klaten

Sekolah Minggu maju pesat. Di bawah bimbingan lbu Tjahjaputra (Ibu Elly Kwik) yang giat bekerja dan penuh suka cita, jumlah murid Sekolah Minggu mencapai kurang lebih 100 anak. Kegiatan Perhimpunan Pemuda juga mengalami perkembangan. Diawali dengan diutusnya 8 orang untuk menghadiri KOPORKES (Konperensi Pekan Olah Raga dan Kesenian) di Bandung, diharapkan aktivitas pelayanan pemuda semakin bergairah. Pada tahun 1964, nama Perhimpunan Pemuda diganti menjadi Komisi Pemuda Gereja Kristen Indonesia (KPGKI). Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1965, berdirilah Komisi Wanita Gereja Kristen Indonesia yang dipelopori oleh ibu Elly Tjahjaputra.

Pada bulan April 1966, saudara Tjan Poen Ong, STh dan istri ikut terlibat dalam pelayanan di GKI Klaten. Saudara Tjan Poen Ong ditetapkan sebagai pengerja GKI Klaten pada tanggal 1 Mei 1966.

Pada tanggal 30 Maret 1967, GKI Sangkrah cabang Klaten didewasakan menjadi GKI Klaten, setelah sebelumnya diadakan pelawatan klasikal dan semua persyaratan untuk menjadi gereja dewasa dapat terpenuhi. Dengan demikian, GKI Klaten menjadi gereja yang ke-5 di Klasis Yogya.

Tiga bulan kemudian, tepatnya tanggal 30 Juni 1967, saudara Tjan Poen Ong, STh ditahbiskan menjadi pendeta GKI Klaten yang pertama. Penahbisan diselenggarakan di gedung GKJ Klaseman Klaten karena gedung GKI Klaten tidak mampu untuk menampung jemaat dan tamu undangan.

Hadir dalam upacara itu: 24 pendeta, rombongan paduan suara dari Magelang, Yogyakarta, Sangkrah Solo, Coyudan Solo, Wonogiri, dan anggota jemaat gereja-gereja di Klaten, serta pejabat pemerintah.

Di bawah bimbingan pdt. Tjan Poen Ong, STh (J. Widyanto, STh.), semua aktivitas GKI Klaten semakin berkembang dan pengunjung kebaktian bertambah banyak. Gedung gereja terasa semakin sempit, sebagai tempat ibadah maupun kegiatan lainnya. Untuk memperbesar ruangan, maka tembok penyekat di dalam gedung gereja dibongkar dan letak mimbar dimundurkan. Kemudian dibangun juga ruangan di halaman samping selatan gereja yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas. Perubahan dan penambahan ruangan tersebut dilaksanakan dalam tahun 1967.

***

Pada tanggal 15 Mei 1969, KPGKI Klaten ditunjuk sebagai penyelenggara Festival Paduan Suara Gerejani Pertama. Fesparani ini diikuti oleh semua komisi pemuda se-Klasis Yogyakarta.

Tugas pdt. J. Widyanto STh bertambah banyak sehingga perlu tambahan seorang pengerja. Oleh karena itu, pada tangggal 1 Juli 1973, saudari Lily Dwi Aryani, yang telah menamatkan pendidikannya di SPWK Magelang, diangkat sebagai Pengerja GKI Klaten. Tugas utamanya adalah membimbing guru-guru Sekolah Minggu.

Ternyata dari dulu, Komisi Wanita atau sekarang jadi Komisi Dewsa, suka masak-masak.

Hanya satu tahun GKI Klaten dilayani oleh 2 orang pengerja, sebab pada 10 Juli 1974, pdt. J. Widyanto STh menerima panggilan untuk menjadi gembala jemaat GKI Ngupasan Yogyakarta. Meskipun begitu, beliau masih bersedia menjadi pendeta konsulen dan memberikan/memimpin pelayanan sakramen. Tetapi kemudian karena kesibukannya di Yogyakarta, beliau tidak sanggup melanjutkan tugasnya di Klaten lagi, sehingga kemudian jabatannya sebagai pendeta konsulen digantikan oleh Pdt. Hadinugraha dari GKI Nusukan Solo.

Tahun 1976, majelis GKI Klaten telah dapat mengumpulkan dana untuk membeli rumah di Jl. Bhayangkara 109, Klaten, milik salah seorang anggota jemaat, yaitu Ny. Liem Kok Sing. Kini rumah tersebut digunakan sebagai Pastori I GKI Klaten. Selain itu, majelis juga membuat pagar tembok dan pintu besi yang membatasi gedung gereja, dan juga membuat ruangan di belakang gedung gereja untuk tempat tinggal saudari Lily Dwi Aryani, apabila GKI Klaten memanggil seorang calon pendeta. Namun belum sempat digunakan, pada 1 Juli 1977 saudari Lily Dwi Aryani telah mengakhiri pelayanannya di GKI Klaten karena menerima panggilan dari GKI Pekalongan.

Setelah kekosongan pendeta kurang lebih tiga tahun lamanya, jemaat merindukan kehadiran seorang pendeta, agar dapat menggembalakan jemaat dengan baik. Jemaat terdorong untuk banyak berdoa memohon hal ini. Dengan anugerah Tuhan yang besar, GKI Klaten kembali mendapatkan seorang calon Pendeta. Tanggal 1 Juni 1977, Saudara Iwan Kristanto Kosasih, BTh dan istri datang dari GKI Lasem. Beliau menerima panggilan jemaat GKI Klaten untuk menjadi calon Pendeta. Tanggal 26 Juni 1977 beliau diangkat sebagai Tua-tua Khusus, dan pada 12 September 1979 ditahbiskan menjadi Pendeta GKI Klaten yang kedua. Penahbisan dilaksanakan di gedung GKJ Klaseman Klaten.

Dengan kehadiran beliau, aktivitas di GKI Klaten yang lamban selama kekosongan pendeta, menjadi giat kembali. Beliau banyak memberikan pengarahan dan bimbingan kepada jemaat untuk berani berdoa dan rajin membaca Alkitab. Perkunjungan juga dilakukan untuk menarik jiwa-jiwa baru. Beliau juga mendorong aktivitas pemahaman Alkitab dan bidston. Kelompok katekisasi juga ditambah dengan kelompok baru.

Pada bulan Desember 1977, GKI Klaten mengadakan aksi sosial, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Dati II Klaten, berkenaan dengan bencana alam angin taufan yang melanda daerah Kecamatan Cawas. Aksi sosial itu berupa bantuan beras sebanyak 1,5 ton, yang dikumpulkan dari masyarakat kota Klaten. Beras tersebut dibagikan langsung kepada penduduk 5 desa yang terkena musibah.

Mulai tahun 1978 sampai sekarang, tiap-tiap tahun dibuat Buku Laporan Tahunan kepada jemaat GKI Klaten sebagai pertanggungjawaban majelis.

Perkembangan pelayanan jemaat maju dengan pesat, sehingga dirasakan perlu menambah seorang pengerja. Oleh karena itu, tanggal 12 Desember 1980 majelis memanggil saudara Purboyo Wiryawan Susilaradeya, STh untuk orientasi, yang selanjutnya menjadi Pengerja GKI Klaten. Beliau sangat banyak membantu di bidang pengorganisasian gereja. Dari beliau tercipta suatu struktur organisasi gereja yang baru, yang lebih terperinci, lebih luas jangkauan pelayanannya, lebih efektif dan praktis, yaitu adanya pembidangan majelis:

Bidang I: Bidang Kesaksian Pelayanan

Bidang II: Bidang Persekutuan dan lbadah

Bidang III: Bidang Pembinaan

Bidang IV: Bidang Penatalayan

Saudara Purbaya Wiryawan Susilaradeya, STh mengakhiri tugas pelayanannya di GKI Klaten pada tanggal 28 April 1983.

***

Mulai tahun 1981, tiap tahun diberi tema, untuk lebih mengarahkan tujuan pelayanan jemaat.

· Tahun 1981: Tahun Kemenangan

Pada tanggal 29 Maret 1981 dibuka Pos Pekabaran Injil (Pos PI) di Prambanan. Kebaktian menumpang di rumah dr. Sugiharto Wibowo (dokter yang bertugas di Panti Waluyo, cabang Prambanan). Di Pesu, Wedi, juga dibuka Pos PI pada tangal 26 April 1981. Kebaktian menggunakan rumah yang dikontrak dari salah seorang anggota

· Tahun 1982: Tahun Kelimpahan

Dalam tahun ini GKI Klaten mendapat persembahan dua bidang tanah yang terletak di:

1. Jl. Pemuda Selatan 74, Klaten (SD Kristen III)

2. Jl. Rujak Senthe, Klaten.

· Tahun 1983: Tahun Pengucapan Syukur

Dalam tahun ini GKI Klaten dapat menyelesaikan pembangunan ruangan untuk TK Kristen KRIDAWITA yang terletak di Jl. Pemuda Selatan 74, Klaten (Satu lokasi dengan SD Kristen III).

· Tahun 1984: Tahun Sukacita

Pada tahun ini GKI Klaten mendapat anugerah sebidang tanah di JI.Seruni 10, dan digunakan untuk SD Kristen III & TK Kristen KRIDAWITA.

· Tahun 1985: Tahun Anugerah

Pada tanggal 9 September 1985, GKI Klaten menambah satu Pos PI lagi yaitu di Mireng, Trucuk, Klaten.

· Tahun 1986: Tahun Pengabulan Doa

Pada tanggal 14 Agustus 1986, majelis memanggil saudara Drs. Sugeng Daryadi Adi Saputra untuk orientasi di GKI Klaten.

Pada tanggal 23 Desember 1986 diresmikan penggunaan gedung gereja Bakal Jemaat (Bajem) Prambanan.

· Tahun 1987: Tahun Ketaatan Dan Berkat

Tanggal 14 Maret 1987, saudara Drs. Sugeng Daryadi diangkat sebagai Tua-tua Khusus.

Tanggal 27 Mei 1987 GKI Klaten mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan NARWASTU. Tanggal 23 Desember 1987 penggunaan gedung gereja Bajem Mireng diresmikan

· Tahun 1988:Tahun Pengembangan

Dalam tahun ini GKI Klaten mengalami pengembangan. Pelayanan GKI Klaten berkembang lagi dengan dimulainya Pos PI Karangri. Tanggal 24 Oktober 1988 dimulai pemugaran gedung gereja.

· Tahun 1989: Tahun Keakraban

Tanggal 28 Agustus 1989, gedung GKI Klaten telah selesai dipugar dan digunakan lagi sebagai tempat ibadah. Selama dipugar kebaktian dan aktivitas gereja dilaksanakan di SD Kristen III.

· Tahun 1990: Tahun Kesejahteraan

Tahun ini GKI Klaten menerima persembahan sebidang tanah di Jl. Gondosuli, Klaten dari ibu Padmo.

· Tahun 1991: Tahun Filia/Kasih dan Persaudaraan

Tanggal 12 Juni 1991, saudara Drs. Sugeng Daryadi Adi Saputra menyelesaikan ujian peremptoir.

· Tahun 1992: Tahun Panggilan

Tanggal 21 April 1992, sdr. Sugeng Daryadi Adi Saputra ditahbiskan menjadi pendeta GKI Klaten. Beliau mendapat tugas khusus untuk bakal jemaat Prambanan.

Masa 1918-1958

0

Posted on : 12-06-2008 | By : GKI | In : Sejarah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Sampai tahun 2008, usia GKI Klaten secara resmi adalah 40 tahun. Namun sesungguhnya, usia jemaat melebihi angka ini. Riwayat GKI Klaten didahului dengan adanya pekabaran lnjil yang sudah dilakukan oleh orang-orang Kristen, baik orang Belanda maupun oleh orang Indonesia.
Komisi Wanita tahun 1960-an
Ketekunan, kesabaran selama bertahun-tahun dan keyakinan atas pimpinan dari Tuhan, ternyata tidak sia-sia. Benih yang disebarkan itu mulai bertunas, yang ditandai pertobatan satu keluarga Tionghoa pada tahun 1918. Mereka adalah keluarga Lie Boen Hok yang bertempat tinggal di jalan Raya Tengah 34 Klaten (sekarang Jalan Pemuda Tengah 32). Keluarga B.H, Lie ini dibaptis oleh Ds. H. A. van Andel dari Solo (pendeta dari Solo), dan kemudian menjadi anggota Gereja Kristen Jawa (GKJ), Klaseman Klaten.

Tahun 1918 adalah awal berkecamuknya Perang Dunia I dimana semua negara di dunia terlibat dalam perang ini. Termasuk juga Belanda, yang saat itu sedang menjajah Indonesia. Namun Puji Tuhan, kekacauan Perang Dunia I ini ternyata tidak banyak mempengaruhi Pekabaran Injil di kota Klaten. Pertobatan keluarga Lie Boen Hok ini di kemudian hari diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.
Anak Sekolah Minggu dan Guru di depan gereja Jago

Berselang kira-kira 14 tahun, ada beberapa orang Tionghoa lagi yang mengaku percaya dan dibaptiskan. Pada tanggal 28 Pebruari 1932: saudari Lie Gien Hwa dan Lie Giok Hwa mengaku percaya/Sidi, dan saudari Yoe Soen Nio dibaptis, oleh Ds. H. A. van Andel di Hollands Gereformeerde Kerk (Gereja Djago) di Klaten.

Perkumpulan Perkabaran Injil di Kalangan Orang Tionghoa

Karena kerinduan yang kuat untuk semakin bertumbuh dalam Kristus, maka orang-orang Kristen ini kemudian mendirikan Perkumpulan Pekabaran lnjil pada tahun 1934. Bentuk kegiatannya semacam Katekisasi (persiapan baptis dan sidi), dengan mengambil tempat di rumah keluarga Lie Boen Hok. Mula-mula, pertemuan diadakan sebulan sekali. Namun karena ada kerinduan dan kehausan terhadap firman Tuhan, maka kebaktian dilakukan setiap hari Minggu. Jumlah pengunjung kebaktian pada waktu itu antara 10 sampai 15 orang.

Aktivitas yang dilakukan dalam kebaktian itu di antaranya adalah Paduan Suara yang dipimpin oleh Ds. Kwee Tiang Hoe dan ibu Oh Lian Hong. Untuk melayani kebaktian pada tiap hari Minggu, perkumpulan ini mengundang Pengkhotbah dari Sekolah Theologia Yogyakarta (sekarang Universitas Duta Wacana, Yogyakarta).

Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1936, tempat kebaktian dipindahkan ke rumah saudara Siem Dhiam Poen di jl. Stasiun (sekarang jl. Pramuka,dan rumah tersebut telah menjadi milik keluarga Tjio Boen Kie). Di tempat kebaktian yang baru ini saudara Sie Tjing Kiat (Simeon lman Siaga) ikut memimpin paduan suara. Kegiatan gerejani banyak mengalami kemajuan.

Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Cabang Klaten

Pada tahun 1943, sudah mulai ada kelompok orang Kristen yang anggotanya terdiri dari berbagai suku, yaitu Tiong Hoa, Minahasa, Batak, dan lndo Belanda. Namun mereka masih berupa kelompok,–menurut istilah sekarang disebut persekutuan. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk bersekutu dan mengabarkan Injil.

Melihat hal ini, bapak Arnold Geldermans,–yaitu kepala sekolah Christelijke Hollands Chineese School,–mengusulkan supaya persekutuan ini dihimpun menjadi sebuah Gereja. Usulan ini mendapat sambutan baik. Mereka kemudian menghubungi Gereja Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Solo untuk meminta izin bergabung dengan mereka.

Ternyata permintaan ini disambut dengan baik. Gereja KTKH Solo tidak keberatan, namun mereka meminta supaya orang-orang Kristen di Klaten membentuk panitia terlebih dulu. Untuk itu dibentuklah calon panitia KTKH Klaten dengan anggota: saudara Sie Tjing Kiat, saudara M.A. Londa, saudara Yoe King Djiang, dan saudari Yoe Soen Nio. Setelah semua dipersiapkan, maka pada tanggal 9 Mei 1943, KTKH cabang Klaten resmi berdiri. Pada acara ini, sekaligus juga diadakan pelantikan panitianya. Dengan demikian maka KTKH Klaten resmi menjadi cabang KTKH Solo. Semenjak itu, KTKH Solo memberi tugas kepada seorang Guru lnjil untuk menggembalakan KTKH cabang Klaten secara tetap. Meskipun “tetap”, tetapi pelayanan penggembalaan dilakukan secara bergantian antara cabang KTKH Solo dan Klaten. Guru Injil tersebut adalah bapak Tan Poo Djwan, yang sekarang dikenal dengan Pdt. (em) Paulus Tanoewidjaja dari Gereja Gereformeerd Semarang. Seminggu sekali dia bertugas di Klaten dan setiap kedatangannya selalu menginap di Klaten. Kebetulan beliau mempunyai famili di Klaten yaitu saudara Ong Soen Ham (ayah dari saudara Witono/Toko Rapi).

Masa penjajahan Jepang merupakan zaman yang serba sulit. Hampir semua bangsa Indonesia pada waktu itu mengalami kesulitan, baik secara ekonomi, sosial, apalagi di bidang hukum. Namun dalam kegiatan keagamaan, pemerintah pendudukan Jepang boleh dikatakan masih memberikan kelonggaran. Kendati tidak berjalan terlalu lancar, tetapi kegiatan jemaat KTKH cabang Klaten masih dapat berlangsung.

Yang tetap setia melayani adalah bapak Tan Poo Djwan dari Solo. Setiap mengadakan pelayanan, beliau harus menempuh perjalanan Solo-Klaten dengan mengayuh sepeda, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Pada mulanya, masih menggunakan “ban angin” (bagian dalamnya diisi dengan angin). Akan tetapi ketika ban angin mulai sulit didapatkan, maka terpaksa memakai ban mati (pasek). Bayangkan, betapa beratnya mengayuh sepeda menggunakan ban jenis ini. Belum lagi kerepotannya karena jika kepanasan, ban itu akan memuai (nglokor). Jika sudah sudah demikian, maka ban karet itu harus dipotong lebih dulu.

Pada waktu itu katekisasi mulai diadakan secara agak teratur, dipimpin bapak Tan Poo Djwan. Pesertanya mula-mula 8 orang. Kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi sekitar 15 orang. Juga mulai dirintis adanya Sekolah Minggu yang dipimpin saudari Yoe Soen Nio, saudari Yoe Liok Nio dan saudari Siem Giok Lan.

Satu hal yang paling berkesan dan patut dikemukakan di sini adalah bahwa pada zaman Jepang, kegiatan pemuda sangat bergairah, bahkan berhasil mementaskan sebuah drama dengan judul “Shinano Yoru” di gedung ROXY (sekarang mantan gedung Dana). Pementasan ini adalah hasil kerja sama antara tokoh-tokoh Tionghoa Klaten, dan sebagai koordinatornya adalah saudara Goei Kian Sing. Hasil penjulan tiket drama ini digunakan untuk menyumbang dana bea siswa para pemuda Kristen waktu itu.

Memasuki zaman kemerdekaan, tahun 1941, situasi banyak berubah. Meski begitu, keadaan masih juga serba , sulit. Bahkan karena alasan keamanan maka sering kali kebaktian Minggu dibatalkan, atau terpaksa dilakukan penggantian pengkhotbah karena pengkhotbahnya tidak dapat hadir. Dalam hal ini, saudara M.A. Londa yang paling sering kena sampur (mendapat tugas dadakan) dalam menggantikan khotbah. Pada tahun ini, kelompok Paduan Suara mulai tampil lebih baik, meskipun tahun-tahun sebelumnya sudah ada.

Pelayanan di Klaten mengalami penurunan dan terasa suam. Apalagi situasi keamanan pada saat itu masih tidak menentu. Ada daerah yang sepenuhnya dikuasai Republik, tapi ada juga yang masih dikuasai pendudukan Belanda. Hal ini mengakibatkan perkembangan jemaat Kristen di Klaten tersendat. hanya Gereja KTKH, tetapi juga Gereja Negara (Indische Protestanche Kerk) yang bertempat di Gereja Jago.

Salah seorang pengurus Gereja Jago, yaitu bapak Hutagalung kemudian menyerahkan gedung Gereja Djago tersebut. kepada KTKH cabang Klaten yang diterima oleh saudari Yoe Soen Nio. Proses penyerahan ini disaksikan oleh Ds. Schutze dan seorang opsir Belanda van Den Berg. Hal itu terjadi pada tahun 1948.

Sejak saat itu KTKH cabang Klaten mulai menempati gedung Gereja Djago. Pada masa Clash (tahun 1948 – 1949) pelayanan masih terus dilakukan oleh bapak Tan Poo Djwan. Ada pun alat transportasinya adalah menggunakan kereta api atau menumpang konvoi Belanda yang sedang mengambil bahan logistik. Banyak pengalaman yang menarik ketika “nunut” konvoi Belanda ini. Seperti dicegat pasukan gerilya Republik Indonesia di tengah jalan, terkena jam malam sesampainya di Solo, sehingga harus menginap di pasturan Purbayan, dan lain sebagainya.

Ada satu pengalaman yang sulit dilupakan oleh bapak Tan Poo Djwan. Seusai beliau memimpin kebaktian kedukaan salah seorang anggota keluarga bapak Hutagalung, ia kemudian melanjutkan pelayanan ke kuburan dengan naik mobil yang biasa ditumpangi oleh Wakil Presiden R. I., Drs. Mohammad Hatta. Mobil ini dipinjamkan kepada bapak Hutagalung. Sepanjang perjalanan, orang-orang yang melihatnya, baik itu sipil maupun militer, banyak yang memberi hormat. Mereka mengira penumpang yang di dalam mobil itu adalah Wakil Presiden!

Sampai dengan tahun 1950-an, situasi/keberadaan jemaat boleh dikatakan tidak banyak berubah. Hanya saja transportasi sudah lebih aman, kereta api sudah berjalan normal. Bapak Tan Poo Djwan masih dengan setia melayani kebaktian Minggu maupun katekisasi dengan penuh semangat.

Pelan-pelan tapi pasti jemaat Klaten mulai berkembang. Pada tahun 1954 pelayanan bapak Tan Poo Djwan di Solo berakhir karena beliau dipanggil ke Rembang. Dengan demikian pelayanan beliau di Klaten juga berakhir. Kemudian tahun 1954, bapak Liem Ping Siang yang menggantikan melayani di Klaten. Dia memimpin katekisasi dan juga kebaktian hari Minggu sampai tahun 1955.

Catatan:

Pada masa kolonial Belanda, ada lembaga misi yang secara khusus menjangkau kaum Tionghoa perantauan. Lembaga misi itu disebut badan Zending. Di Jawa Tengah, terdapat dua badan Zending, yaitu,

1. Badan Zending dari gereja-gereja Gereformeerd negeri Belanda. Mereka melayani di Jateng wilayah selatan. Hasilnya, adalah Maleisch Gereformeerd Kerk (MGK) Surakarta, sekarang GKI Sangkrah Solo, yang didewasakan tahun 1933. Juga ada Maleisch Chinese Gereformeerd Kerk (MCGK) Yogyakarta, sekarang GKI Ngupasan, Yogyakarta yang didewasakan tahun 1934.

2. Badan Zending dari Jerman, yaitu Neukirchener Missionhaus yang melayani di Jateng wilayah utara. Hasil pelayanannya adalah GKI Blora dan GKI Salatiga.

Karena jumlah orang Tionghoa yang mengikuti katekisasi dan dibaptiskan terus bertambah, maka badan-badan pekabaran Injil ini kemudian mendirikan gereja untuk mewadahi mereka. Nama-nama gereja itu bermacam-macam, antara lain:

a. Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (T.H.K.T.K.H.)

b. Hoa.Kiauw Kie Tok Kauw Hwee (H.K.T.K.H.)

c. Kie Tok Kauw Hwee (K.T.K.H.).

Pada tanggal 7-8 Agustus 1945, gereja-gereja ini bersidang di gedung Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee, Magelang. Mereka sepakat membentuk sinode Tionghoa. Pada tahun 1949, kembali diadakan sidang Sinode II di gedung Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee, Semarang. Pada persidangan ini, dicantumkan nama sinode Tionghoa Jawa Tengah, yang kemudian diperingati sebagai tanggal lahir GKI Jateng.

Masa GKI dimulai pada tahun 1956, yaitu ketika Sidang Sinode ke V di Purwokerto memutuskan untuk memakai nama Gereja Kristen Indonesia. Gereja yang tadinya bernama K.T.K.H., T.H.K.T.K.H.,dan H.K.T.K.H, kemudian berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia. Sering dengan perubahan ini, maka K.T.K.H cabang Klaten berubah nama menjadi GKI Sangkrah cabang Klaten

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!