Pada tanggal 27 Mei 2006 sekitar pukul 5.50 WIB, gempa bumi berskala 5,9 skala Richter mengguncang propinsi DIY dan Jawa Tengah bagian Selatan. Meski hanya berlangsung selama selama 59 detik, namun kerusakan yang ditimbulkan cukup dahsyat. Di kabupaten Klaten sendiri ada ribuan orang menjadi korban jiwa dan luka-luka. Gempa juga merusak rumah, infrastruktur dan fasilitas publik lainnya.
Gedung gereja juga tak luput dari kerusakan. Menurut catatan Forum Kerjasama Gereja-gereja (FKG) Klaten, gedung gereja yang roboh ada 4 buah (GKB di Mawen, GKI Klaten—Bajem Pesu, GKJ Prambanan, GKN Anugerah), “St. Yoseph” Trucuk-Paroki Jomboran, GKI Prambanan, GKJ Gondangwinangun, pepanthan rusak berat ada 13 buah (GBI Prambanan, Gereja Baptis Indonesia di Lengkong, Gereja Baptis Indonesia di Trucuk, Gereja Injili di Indonesia-Bayat, Gereja Katolik “St. Lukas” –Prambanan, Gereja Katolik Sumber di Srowot, GKRI Jemaat Petra-Tirtomarto, GKRI Jemaat Sawit-Karangtengah, GPdI Bayat, GPdI Cawas, GpdI Kemudo) dan rusak ringan 21 buah.
Sementara itu, anggota jemaat GKI Klaten yang berdomisili di desa Pesu, kecamatan Wedi mengalami kerusakan yang cukup parah. Hampir semua rumah mereka roboh dan rusak berat. Beberapa anggota jemaat juga mengalami luka-luka, tetapi tidak ada korban jiwa. Gempa bumi itu juga merobohkan gedung gereja bajem Pesu. Sampai buku ini ditulis, jemaat di sana masih beribadah di bawah tenda.
Meski tidak separah di desa Pesu, kerusakan juga terjadi pada rumah-rumah milik anggota jemaat bajem Mireng dan posjem Karangri. Tempat ibadah di kedua tempat ini mengalami kerusakan ringan dan masih dapat digunakan.
a. Masa Tanggap Darurat
Menanggapi bencana ini, GKI Klaten segera membuka posko kemanusiaan. Dengan membawa bendera “Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia Klaten” (tim GKI), mereka menyalurkan bantuan logistik, tenda dan alat penerangan ke daerah bencana. Untuk memperlancar dan mempercepat distribusi, maka tim GKI menjalin kerjasama dengan gereja-gereja lain dengan membuka 6 Posko, yaitu:
1. Posko Induk di GKI Klaten
Sebagai pintu utama penerimaan bantuan logistik dan keuangan.
2. Posko di desa Pesu, kec. Wedi.
Melayani kecamatan Wedi-Klaten dan Gedangsari, Gunungkidul.
3. Posko GKJ Gantiwarno.
Melayani kecamatan Gantiwarno (bersama kec. Wedi termasuk kawasan yang mengalami kerusakan paling parah).
4. Posko GKJ Gondangwinangun
Melayani kecamatan Gondangwinangun dan Jogonalan.
5. Posko GKJ Pedan
Melayani kecamatan Karangdowo, Cawas dan Pedan.
6. Posko di kecamatan Bayat.
Selama masa tanggap darurat ini, keenam posko tersebut berusaha menyalurkan bantuan ke daerah yang belum sempat diljangkau oleh pemerintah, LSM atau posko lain. Jenis barang yang diberikan antara lain: air minum, alat dapur, alat penerangan, alat pertukangan, alat tulis, bahan bakar, baju, beras, bubur, susu, biskuit bayi, generator, jas hujan, mie instant, minyak goreng, obat, pembalut, peralatan mandi, sandal, selimut, tali, telor, terpal, tenda dan tikar
b. Pelayanan Kesehatan
Selain bantuan barang, tim GKI juga memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada para korban gempa. Pelayanan kesehatan ini sudah beroperasi sejak 29 Mei (hari ketiga setelah gempa) dan terus berlangsung hingga delapan bulan kemudian. Ada beberapa dokter dan perawat yang melayani di sini, antara lain dari R.S. Bethesda-Serukam-Kalimantan Barat, Fakultas Kedokteran Ukrida-Jakarta, Tim medis GKI Jakarta, dokter dari GKI Klaten, dokter dari negara Kuba, paramedis dari Australia dll.
Klinik darurat didirikan di lokasi bekas gereja bajem Pesu. Setiap hari, klinik pelayanan kesehatan darurat ini melayani pasien rata-rata sebanyak 20 pasien. Pada saat-saat tertentu, tim medis ini berkeliling ke desa-desa yang belum mendapat pelayanan kesehatan. Dalam satu hari, pasien yang dilayani bisa mencapai 100 orang.
c. Pemulihan Trauma
Bencana alam yang dahsyat, pasti mempengaruhi ingatan dan emosi warga yang selamat dari gempa tersebut. Besarnya pengaruh terhadap para ini bermacam-macam, tergantung pada berbagai variabel. Mengantisipasi hal ini, tim GKI berupaya memulihkan warga dari trauma akibat gempa. Kegiatan yang dilakukan adalah:
1. Pelatihan Konseling: diselenggarakan untuk melatih calon-calon konselor yang akan membantu memulihkan korban. Peserta pelatihan adalah aktivis gereja. Materi pelatihan diberikan oleh ibu Yulia Candra. Selain pelatihan ini, tim GKI juga telah menyelenggarakan Pelatihan Calon Konselor yang bekerja sama dengan Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Jakarta.
2. Konseling Korban: Apabila ada korban yang membutuhkan konseling, maka di posko Pesu sudah ada konselor yang siap membantu. Pelayanan ini bekerja sama dengan lembaga yang bernama YES. Selain itu, tim konselor dari LK3 juga diterjunkan ke desa Pesu.
3. Pendampingan Anak: Kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengajak anak menggambar dan mewarnai. Beberapa hari setelah gempa, anak-anak harus menghadapi ujian. Untuk itu, tim GKI mengadakan kegiatan “Belajar Bersama,” dengan mengundang guru-guru dari SD Kristen III untuk membimbing mereka. Acara ini mendapat tanggapan antusias. Ada sekitar 75 anak yang mengikuti kegiatan ini. Di akhir acara, biasanya ditutup dengan bermain bersama.
d. Bantuan Alat Masak
Tim GKI Klaten bekerja sama dengan “GenAssist” Global Relief Jogja memberikan bantuan alat memasak kepada korban gempa. Bantuan ini diberikan mengingat banyak alat-alat memasak milik penduduk yang rusak karena tertimpa reruntuhan bangunan. Pada masa-masa awal setelah gempa, warga yang selamat berkelompok dan mendirikan dapur umum dengan mengumpulkan alat-alat masak yang masih bisa digunakan. Namun setelah masa darurat selesai, setiap keluarga mulai memasak sendiri-sendiri. Sehubungan dengan itu, tim GKI pada tanggal 5 dan 8 Juli 2006 membagikan lebih dari 250 paket alat masak kepada warga yang bermukim di desa Pesu.
Setiap paket terdiri dari: gentong plastik besar, ember plastik, kompor minyak tanah, wajan , panci sayur, panci nasi, piring (6 buah), gelas (6 buah), cobek, pisau dan telenan
d.Pembuatan MCK Darurat
Gempa bumi juga merusak sarana sanitasi warga. Akibatnya, banyak warga yang memeriksakan ke klinik tim GKI di desa Pesu. Mereka terjangkit penyakit diare. Untuk itu, tim GKI lalu membangun 10 unit Kakus Darurat, yang terdiri dari 40 bilik. Dengan jumlah ini, satu bilik kakus dapat digunakan oleh 4 Kepala Keluarga. Warga yang menerima manfaat ini sebanyak 163 Kepala Keluarga.
e. Rekonstruksi Rumah
Pekerjaan posko kemanusiaan yang paling berat adalah membantu warga desa Pesu untuk membangun kembali rumah tinggal mereka. Pekerjaan rekonstruksi ini dimulai dengan menjalin komunikasi dengan ketua RT, ketua RW dan Lurah Desa.
Tim GKI menawarkan konsep pembangunan rumah tumbuh. Yang dimaksud rumah tumbuh di sini adalah pembangunan rumah yang menyesuaikan dengan dana yang sudah tersedia. Karena dana yang tersedia sangat terbatas, maka untuk tahap pertama ini hanya akan dibangun rumah berukuran 3mx4m. “Nanti jika ada berkat dari Tuhan, kita akan melanjutkan hingga berukuran 6m x 7 m,” kata Giri Sutjipto, pimpinan proyek rekonstruksi tim-GKI.
Konsep kedua yang diajukan oleh tim GKI adalah kemitraan. Dalam hal ini, penduduk tidak hanya sekadar menerima bantuan saja tetapi juga ikut menyumbangkan material dan tenaga selama proses rekonstruksi. Tim GKI menyediakan pasir, semen dan besi; sedangkan penduduk menyediakan bata (dari sisa-sisa reruntuhan yang masih bisa dipakai) dan tenaga pembangunan.
Konsep ketiga adalah bekerja di dalam kelompok. Penduduk yang ingin ikut dalam proyek ini harus berkelompok, dengan anggota sebanyak 3-6 orang.
f. Relawan Kemanusiaan
Pelayanan di bidang kemanusiaan ini ini merupakan hasil kerjasama berbagai pihak. Ada banyak dermawan yang tidak dapat disebut satu-persatu di sini. Yang patut dicatat di sini adalah antusiasme jemaat GKI Klaten. Sejak hari pertama paska gempa, banyak anggota jemaat yang berdatangan dan menyediakan diri sebagai relawan kemanusiaan. Nama-nama mereka di antaranya: Agus Permadi, Agoes Handojo(Yoyok), Dyah Widyastuti, Susanjanto, Agus Mulia, Giri Sutjipto, (alm) Siwi Budi Wibowo, Januar, Bambang P, Debby Kurniawati, pdt. Phan Bien Thon, Budi Nugroho Sulaiman, Purnawan Kristanto, Ibu Kristin, Ibu Budi Kusnan, Ibu Jati Sarono, Dina Putranti, Soeharjo dan masih banyak lagi lainnya.

























0