Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts Tagged ‘Kesaksian’

In Memoriam Ibu Sri Hardhini

Tanggal 1 Oktober 2009, pukul 14:30, telah berpulang ibu Sri Hardhini yang bertempat tinggal di Krajan, Gergunung, Klaten. Semasa hidupnya, ibu Sri Hardhini sangat giat dalam berbagai pelayanan, mulai dari Guru Sekolah Minggu, mengajar katekisasi, memimpin pujian di Persekutuan Kelompok hingga menjadi Penatua di GKI Klaten.

Video ini adalah kesaksian yang disampaikan oleh beliau semasa hidupnya dan telah menderita sakit sekian lama.

Mengikuti PanggilanNya

Oleh: Adi Netto Kristanto

Image051

“Mengapa kamu mau menjadi pendeta?” Itu adalah pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman yang penasaran akan jawaban saya. Tentunya untuk menjawab pertanyaan mereka bukan dengan jawaban yang singkat, bahkan sepertinya perlu dijawabnya dengan ditemani secangkir kopi dan pisang goreng hangat. Namun saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena saya bisa berbagi sedikit dari banyak pengalaman bersama Tuhan melalui situs GKI Klaten ini.

Panggilan itu mulai terdengar ketika saya mengikuti persekutuan pemuda GKI Klaten pada tahun 2002. Persekutuan pemuda pada waktu itu tidak banyak diikuti oleh pemuda GKI Klaten, dan karena inilah saya yang seorang remaja kelas 2 SMP memberanikan diri untuk turut hadir dalam persekutuan itu. Rasa rindu kepada Tuhanlah yang mendorong dan memberi keberanian kepada saya untuk masuk dalam persekutuan itu, meskipun waktu itu saya bukan jemaat GKI Klaten. Setiap kali diadakan persekutuan hanya sedikit orang yang hadir, 4-6 orang saja waktu itu.

Kebersamaan dalam memuji, menyembah dan merenungkan Firman Tuhan, membawa damai dan mengubah hidup saya menjadi lebih baik dan teratur. Maka dalam diri saya mulai muncul kerinduan untuk memperkenalkan Firman Tuhan kepada orang lain, yaitu teman-teman di sekolah. Kerinduan inilah yang kemudian membuatku rindu dalam pelayanan di Komisi Remaja dan selanjutnya Komisi Anak dengan menjadi guru sekolah minggu.

Pada waktu kelas 3 SMP ayah saya bertanya, “Besok kalau sudah kuliah kamu mau mengambil jurusan apa?”

Dengan memberanikan diri saya menjawab, “Saya ingin sekolah teologi.”

Mendengar hal itu ayah saya sangat marah dan berkata, “Teologi? Kalau kamu sekolah teologi kamu akan menjadi pendeta dan kalau kamu jadi pendeta kamu akan miskin, kamu mau kamu miskin?”

Saya hanya diam dan berkata,”Tuhan, aku mau jadi hambaMu.”

Di kemudian hari berikutnya pertanyaan itu kembali dilontarkan pada saya, dan saya menjawab dengan jawaban yang sama. Maka ayah saya kembali marah dan mengatakan kalau saya tidak tau apa-apa, dan dalam hati kembali saya katakan “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu.”

Kemudian saya berdoa, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” (Dan doa inilah yang nantinya akan membuka jalan saya untuk menuju sekolah theologi).

Di SMA saya aktif dalam persekutuan yang diadakan di sekolah. Pada waktu kelas 1 SMA saya sudah mulai membawakan Firman di persekutuan di sekolah dengan modal buku renungan dan pengalaman saat persekutuan di gereja. Melalui persekutuan di sekolah ini saya juga belajar berorganisasi, kerinduan untuk melayani Tuhan tersalurkan dengan baik. Saat kelas 3 SMA saya mulai pelayanan Firman ke sekolah-sekolah lain dari SMP hingga SMA dan terkadang juga diminta membawakan Firman di persekutuan pemuda-remaja di gereja lain.

Namun pengalaman pahit menimpa saat saya kelas 2 SMA. Saya membongkar kasus perselingkuhan ayah saya, dan akhirnya mulai muncul goncangan yang menimpa saya dan keluarga. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, mengapa Dia ijinkan masalah ini menimpa keluarga saya, bukankah saya sudah melayani Tuhan dan bahkan memberikan hidup saya untuk menjadi hamba. Beberapa hari saya hidup dengan protes tersebut dan akhirnya dalam kesempatan saat teduh saya, Tuhan mengingatkan doa saya saat kelas 3 SMP, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” Maka terbangunlah saya dari rasa protes tersebut dan menyadari bahwa masalah ini adalah resiko yang harus saya tanggung. Dengan tetap mengalami masalah dalam keluarga ini saya berusaha memisahkan dengan pelayanan dan terlebih menguatkan ibu saya.

Akibat dari perbuatan saya yang telah membongkar perselingkuhan ayah dan sikap saya yang tidak menyetujui perceraian yang diusulkan oleh ayah, maka saya semakin dibenci olehnya. Maka pada waktu saya harus menyerahkan foto kopi ijazah SMP untuk melengkapi syarat ujian nasional, saya kesulitan karana dokumen berharga saya seluruhnya disita ayah. Sudah tiga kali saya meminta, namun tidak diberikannya. Akhirnya ibu pergi ke SMP saya yang lama dan meminta foto kopi izasah di sana. Tidak hanya itu, ketika saya akan mendaftarkan diri untuk mengukuti tes calon pendeta di Sinode GKI Jateng dan membutuhkan surat sidi, saya harus meminta gereja membuat kopian surat sidi kembali.

Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa.

Akhirnya, saya lulus tes sinode dan harus registrasi di Universitas Kriten Duta Wacana, ada salah satu syarat registrasi yaitu akta kelahiran. Saya kembali kesulitan memintanya dari ayah saya. Akhirnya kita konsultasi ke kelurahan dan kami disarankan membuat akta kelahiran baru. Maka saya dan ibu pergi ke desa dimana saya dulu di lahirkan untuk meminta surat pengantar ke kantor kabupaten. Sekarang saya memiliki dua akta kelahiran, satu dibawa ayah dan satu dibawa ibu.

Karena ayah sudah tidak mau lagi membiayai keluarga, maka ibu yang mengambil alih semuanya, baik biaya sekolah tiga anaknya, kebutuhan hidup dan juga kewajiban pajak. Tekanan ekonomi sangat menghimpit kami. Doa dan pengharapan kami kepada Tuhan atas pertolongannya tidak lepas dari hati kami. Sampai pada akhirnya melalui Pdt. Phan Bien Ton, Tuhan memakai seorang donatur yang tidak mau disebutkan namanya menolong saya dalam memenuhi biaya hidup di asrama setiap bulannya, bahkan sampai dua tahun di asrama. Dan sampai kesaksian ini dibuat saya sedang menjajaki semester empat di Fakultas Theologi, Universitas Kristen Duta Wacana.

Tentu jika saya terus bercerita maka kesaksian ini akan begitu panjang dan bahkan bisa menjadi sebuah buku biografi. Namun yang dapat direfleksikan adalah bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi hambaNya, panggilan itu tidak muncul sekali atau pun dua kali, melainkan berulang-ulang sejalan dengan langkah hidup kita. Pangilan itu bagaikan rel kereta api yang selalu terpasang bersebelahan. Ada penyertaan dan kasih Tuhan di dalamnya. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan Ibu yang bijaksana bagi kita semua. Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa. Selamat menanggapi panggilanNya! Tuhan Yesus memberkati.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

(Roma 8:28)

Empat Kali Operasi dalam Sebulan

Kesaksian Janita Santosa

Setiap memasuki bulan Nopember, saya selalu diingatkan pada kejadian delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000. Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari Tuhan berupa pertolongan-Nya, kuasa-Nya dan kasih setia-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Saya tidak mungkin mampu melewati peristiwa tanpa penyertaan Tuhan.

Peristiwa itu dimulai dengan keluhan sakit perut yang saya alami. Pada tanggal 6 Nopember, saya merasakan sakit yang luar biasa pada perut saya. Saya pergi ke rumah sakit di Solo untuk memeriksakan diri. Setelah diperiksa dengan sinar rontgen, baru diketahui bahwa usus saya terjepit dan saling lengket. Tidak ada pilihan lain, saya harus segera menjalani operasi pada hari berikutnya.

Operasi selama sekitar tiga jam itu berlangsung lancar. Beberapa hari kemudian, kondisi saya mulai membaik. Saya sudah diizinkan makan bubur. Namun pada tanggal 12 Nopember, kondisi saya memburuk kembali. Perut saya terasa sakit lagi.

Dokter berkata, “Itu hanya angin saja. Perut ibu sedang kembung. Sebentar juga sembuh” Akan tetapi kondisi perut saya justru semakin membesar dan saya mengalami kesakitan yang luarbiasa di seluruh tubuh saya. Dokter sampai memberikan pengurang rasa sakit. Namanya petidine sejenis morfin. Tetapi itu hanya bersifat sementara saja.

Di tengah rasa sakit itu, puji Tuhan ada banyak dukungan dan dia dari keluarga dan saudara-saudara seiman yang menguatkan saya. Saya juga berdoa memohon kekuatan dari Tuhan, “Tuhan, aku masih ingin hidup. Tuhan, aku masih ingin hidup. … Aku ingin masih hidup untuk melayani Engkau.”

Karena kondisi tidak kunjung membaik, dokter memutuskan untuk mengoperasi saya lagi, pada 20 Nopember. Sebelum operasi, dokter memanggil suami saya. Dia memberitahuakan bahwa operasi kali ini berisiko tinggi karena kondisi tubuh saya jelek dan baru 13 hari yang lalu menjalani operasi. Saya berkata berkata kepada Tuhan, “Tuhan aku tidak akan mati melalui operasi ini. Kalau aku harus menjalani operasi ini, hamba minta pertolongan dari padaMu.”

Suatu hal terjadi di luar dugaan dokter. Ketika perut saya dibuka, ternyata usus halus saya telah bocor dan saling mengikat membentuk gumpalan seperti bola (‘bundet’-bhs. Jawa). Dokter tidak mau mengambil risiko untuk melepaskan ikatan itu karena dapat menyebabkan usus itu jebol. Dokter hanya membersihkan kotoran-kotoran yang ada di perut.

Selesai operasi saya dimasukkan ruang ICU dengan mengenakan mesin pernapasan (ventilator). Suatu pagi, sesudah perawat mengelap badan saya, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang keras: “Buu..umm!!!!”. Ternyata alat ventilator meledak dan langsung mati. Karena tidak disuplai oksigen, napas saya menjadi sesak, berat dan terengah. Saat itu saya hanya bisa berseru kepada Tuhan: “Tuhan tolong!” Perawat bergegas masuk untuk memasang alat bantu sementara pada saya. Setelah itu dia memanggil teknisi untuk memperbaiki alat itu. Keesokan harinya, alat itu meledak lagi tapi tidak sekeras sebelumnya.

Pengalaman yang mendebarkan ini menyadarkan saya bahwa kita sering tidak mensyukuri udara segar yang kita hirup. Kita menganggap itu sebagai hal yang biasa.Bukankah suatu berkat yang luar biasa kalau kita bisa bernapas dengan bebas tanpa ventilator?

Kesehatan saya tidak membaik, bahkan memburuk. Cairan dari dalam perut merembes keluar karena infeksi. Tubuh saya mengalami demam hebat. Saya merasakan sangat kedinginan. Tubuh saya menggigil dan gigi gemeretuk sangat keras. Ternyata sepertiga paru-paru kanan saya sudah terendam air. Melihat kondisi ini, dokter sudah angkat tangan. “Tinggal menunggu waktunya saja,” kata dokter.

Akan tetapi keluarga saya tidak mau menyerah. Kami punya keyakinan bahwa waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Bagi manusia mungkin mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meski begitu, manusia juga diwajibakan untuk berupaya. Itu sebabnya, keluarga memutuskan untuk membawa saya ke Singapura, pada 24 Nopember. Malamnya saya langsung menjalani operasi yang ketiga. Dokter mengatakan kemungkinan keberhasilan hanya 50 persen. Dalam operasi ini, dokter berhasil menguraikan usus halus saya yang telah menggumpal dan saling lengket seperti bola. Berkat pertolongan Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Namun empat hari kemudian, perut saya mulai bocor lagi. Tanggal 30 Nopember, saya menjalani pemeriksaan dengan rontgen. Hasil rontgen memperlihatkan ada kebocoran lagi di usus. Saya harus menjalani operasi yang keempat hari itu juga. Saya menjalani operasi ini dengan hati yang pasrah kepada Tuham. Saya percaya, Tuhan akan menyelamatkan saya kembali.

Dari operasi itu diketahui bahwa ada dua kebocoran di usus besar. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk mengistirahatkan usus besar saya dengan teknik colostomi selama 3-6 bulan. Sejak saya sakit, saya tidak diizinkan makan nasi. Saya harus berpuasa nasi. Ini sungguh tidak mudah karena kita sudah terbiasa makan nasi. Waktu sehat saja, meski perut sudah kenyang, tapi kalau belum makan nasi, kita masih mengatakan belum makan. Sesudah dua bulan tidak makan nasi, saya sangat rindu pada nasi. Karena begitu inginnya makan nasi, saya sampai menciumi bau nasi. Aroma nasi terasa enak sekali saat itu. Dalam keadaan seperti itu, saya diingatkan bahwa saya sering lupa mensyukuri makanan yang kita santap setiap hari.

Saya juga bersyukur bahwa selama masa sakit tersebut, saya selalu dalam keadaan sadar. Meskipun dalam kondisi yang sangat kritis, tapi saya masih memiliki kesadaran. Ini adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Ketika memasuki masa pemulihan, mula-mula saya belajar untuk berbaring dengan posisi miring. Kemudian duduk, lalu berjalan. Yang cukup mengherankan, meskipun saya cukup lama harus berbaring di tempat tidur, tapi saya tidak mengalami pusing atau gangguan kesehatan yang lain, selain di perut saya.

Tuhan itu sangat baik pada saya. Saya tidak harus menjalani proses colostomi sampai enam bulan. Tiga bulan kemudian, dokter menyatakan bahwa usus kecil saya siap disambung dengan usus besar. Pada tanggal 8 Maret 2001, saya menjalani operasipenyambungan. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Bila saya renungkan semua peristiwa itu, saya menyadari bahwa secara manusia hal ini tidak mungkin saya lalui. Siapa yang kuat menjalani operasi besar sebanyak empat kali hanya dalam waktu satu bulan? Setiap mengingat itu, saya terharu dan menangis karena betapa baikNya Tuhan itu. Kuasa–Nya begitu dahsyat dan tidak terselami oleh pikiran manusia. Kasih-Nya melebihi a papun yang ada di bumi ini. Oleh bilur – bilur Nya, saya sembuh. Jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan. Terpujilah Tuhan karena perbuatanNya ajaib.

Dua Tahun Koma

Sudah dua tahun ini Ida Kurniawati mengalami koma. Dia terbaring di atas ranjangnya tanpa reaksi apa-apa. Bulan Nopember 2006, dia mengalami kecelakaan di Semarang. Tidak jelas bagaimana kejadiannya, soalnya kendaraan lain yang terlibar dalam kecelakaan itu melarikan diri.
Sejak kecelakaan itu, Ida tak sadarkan diri hingga sekarang. Matanya terbuka, tetapi tidak memberikan reaksi apa meskipun ada objek di depan matanya. Otaknya mengalami kerusakan permanen.
Bagaimana keluarga menghadapi situasi ini? Tim multi media GKI Klaten melakukan wawancara dengan Bpk. Dadut dan Ibu Yenny. Mereka adalah kakak Ida yang selama ini merawat Ida.

Untuk melihat klip videonya, klik link ini.Dua Tahun Koma

Kesaksian Ibu Sri Hardini

Dokter menyatakan bahwa Ibu Sri Hardini mengalami kegagalan fungsi ginjal. Dia harus menjalani cuci darah selama dua kali dalam seminggu. Padahal, ketika masih sehat, ibu Sri Hardini rajin dalam pelayanan. Dia giat menjadi guru Sekolah Minggu, mengajar katekisasi dan memimpin pujian dalam Persekutuan Kelompok.

Bagaimana sikap Ibu Sri Hardini menghadapi penyakitnya ini? Simak hasil wawancara tim multmedia GKI Klaten dengannnya. Bisa juga dengan klik di sini:Kesaksian Ibu Sri Hardini

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Bakar, bakar, bakar! KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Retret Pasutri
Wise Words
sms inspiratif