MENGAPA BERTENGKAR?

0

Posted on : 14-08-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 20 September 2009

Minggu Biasa XX

Yeremia 11:18-20 Mazmur 54 Yakobus 3:13-4:3,7-8a Markus 9:30-37

PertengkaranKonon ada kakak beradik yang bertengkar hebat gara-gara pembagian harta peninggalan orang tua mereka. Pertengkaran meningkat menjadi permusuhan, bahkan meluas kepada keluarga mereka masing-masing. Padahal mereka itu merupakan warga gereja yang terpandang. Karena sangat sulit didamaikan, akhirnya Pak Pendeta menempuh satu jurus penyelesaian yang sangat unik, sebagai berikut: Kedua belah pihak keluarga yang bertengkar diundang untuk berkumpul di Rumah Tuhan, tentu bukan pada hari minggu. Sengaja mereka dipisahkan menjadi dua kubu yang diberi kesempatan yang luas untuk menuliskan segala kedongkolan, uneg-uneg, kemarahan bahkan kebencian yang satu terhadap yang lain. Setelah puas mengungkap segala yang negatip tentang lawannya, maka Pak Pendeta mulai menyampaikan kotbah singkatnya, membakar kertas-kertas itu sambil berkata:” Dalam Nama Yesus Kristus sekarang saya bakar habis segala sakit hati kalian, maka mulai hari ini tidak ada pertengkaran dan permusuhan, sebab kalian sudah dipersatukan kembali oleh Tuhan Sang Raja Damai!” Menyaksikan semua itu dan mendengar kata-kata yang berwibawa dari sang Hamba Tuhan maka merekapun saling berpandangan, saling mendekat dan akhirnya berpelukan sambil menangis histeris! Sejak hari itu mereka memulai lembar hidup baru sebagai keluarga besar yang hidup saling mengasihi. Dari menjadi batu sandungan, kini mereka berubah dapat memuliakan Nama Tuhan di tengah masyarakat! ( Kisah nyata djadoel yang dituturkan dosen saya }.

Kristus yang bisa menghindar. Dalam Markus 9:30 dikatakan bahwa ketika melewati Galilea bersama para muridNya, Tuhan Yesus tidak mau diketahui orang , karena Ia mau mengajar murid-muridNya tentang kematian dan kebangkitanNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sangat mementingkan tujuan utamaNya datang ke dalam dunia ini, serta rencana mempersiapkan para saksi mata, jauh-jauh hari sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus tidak mengutamakan popularitas. Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak suka menonjolkan diri; Ia dapat “menyembunyikan diri” selama tigapuluh tahun, sebelum memulai tugas besarNya. Segala sesuatu dilakukanNya sesuai rencana bapaNya, sehingga tatkala ibuNya berkata tentang pesta kawin di Kana yang kehabisan anggur, maka jawab Tuhan Yesus:”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Yesus juga pernah menyingkir seorang diri ke gunung ketika orang banyak akan memaksaNya menjadi raja mereka (Yohanes 6:15). Jika dihubungkan dengan masalah pertengkaran, maka seni menghindar termasuk pelajaran yang sangat penting. Dari pada menimbulkan rasa tidak puas dari orang banyak, lebih baik menghindar saja. Kita diajari Kristus agar pandai-pandai membaca situasi, menimbang dan memahami kecenderungan orang. Dalam hidup ini banyak pertengkaran dan salah paham terjadi gara-gara kita tidak pandai membawa diri, menempatkan diri dan menghindarkan diri. Ikut mencampuri urusan orang lain juga potensial menghadirkan pertengkaran. Kita sudah dilengkapi Allah sejak bayi dengan kepekaan dan hikmat. Dalam Yakobus 3:17 dikatakan: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Read the rest of this entry »

MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

1

Posted on : 08-07-2009 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 02 Agustus 2009

Minggu Biasa XIII

Keluaran 16: 2-4, 6-15  Mazmur 78: 23-29  Efesus 4: 1-16  Yohanes 6: 24-35

PengemisSuatu hari ada seorang pengemis yang mengumpulkan kaleng dan botol kosong yang berserakan di pantai Florida. Ketika ditanya oleh seseorang, jawabnya adalah demi uang. Ia  bisa menukar kaleng dan botol kosong itu dengan sedikit uang. Selanjutnya juga ada  seorang pemuda yang melakukan hal yang sama sebagai hukuman, sebab ia tertangkap basah ketika mencuri barang di sebuah supermarket.Maka baginya itulah pekerjaan sosial yang sangat menyebalkan! Akhirnya, ada seorang bapak yang melakukan pengumpulan kaleng dan botol kosong demi kebersihan dan kelestarian pantai, dan semua itu dilakukan olehnya dengan kesadaran, ikhlas dan sukacita!  Martin Luther King, Jr menyampaikan demikian:” Jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang penyapu jalan, hendaknya ia menyapu jalan seperti bagaimana Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven menyusun karya musiknya atau seperti Shakespeare mencipta puisi. Ia hendaknya menyapu jalan sedemikian baik dan bersih sehingga seluruh isi langit dan bumi ini berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa seorang penyapu jalan telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.” ( Dari Buku Champion ). Jika mengumpulkan kaleng dan botol kosong, serta menyapu jalan saja bisa mendatangkan kekaguman bagi yang melihat, dan kepuasan batiniah bagi yang  melakukannya, terlebih lagi: Melakukan pekerjaan yang menyangkut keselamatan umat manusia seperti yang dilakukan oleh Kristus. Apakah selaku anak-anakNya kita juga telah diajari untuk melakukan pekerjaan yang mulia, yang mempunyai nilai kekal?

Tuhan adalah Pekerja yang agung, kalau tidak begitu maka  kita  pasti tidak pernah ada,  atau sudah mati semua. Tuhanlah sang Pencipta dan Pemelihara  alam semesta,  teristimewa umat manusia di dunia ini. Sejak manusia jatuh dosa, kita melihat perhatian Tuhan langsung tertuju kepada pemulihan hidup kita yang sudah dirusak oleh dosa. Setiap rencana dan langkah yang diambil oleh Tuhan, setindak demi setindak menuju kepada pemulihan hidup kita, yaitu supaya bisa menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Kita lihat Tuhan bagai Pekerja yang giat dan tekun, bahkan berjerih payah dalam memperjuangkan keselamatan umat manusia, karena Ia mengasihi dunia ini.

Jika Tuhan adalah Pekerja yang agung, Kreator yang kreatif  maka sebagai anak-anakNya kita menjadi Pekerja kecil yang melakukan tugas sesuai dengan kadar pekerjaan masing-masing, hal itu  kita baca  tadi di Efesus 6:16. Pekerjaan apa pun yang kita yakini berasal dari Tuhan kita syukuri sebagai berkat, kemalasan kita lawan,  etos kerja kita tingkatkan!  Dengan demikian kita dapat memancarkan keindahan Tuhan.

Tuhan mengerjakan pembebasan umat-Nya, dari kekuasaan bangsa Mesir. Maka dalam Keluaran 16 tadi kita membaca betapa Tuhan berhasil mengeluarkan mereka dari Mesir. Tuhan tidak rela jika umatnya ditawan,  ditekan, dicederai dan diperbudak. Di sini Tuhan melihat perlakuan  kejam orang-orang Mesir sebagai bukti dosa di hati manusia. Maka Tuhan  peduli dan mendengarkan teriak umatNya minta tolong, lalu Ia pun bertindak dalam rangka pemulihan yang sangat significant! Tuhan mau  menegakkan kembali harkat dan martabat umatNya di antara bangsa-bangsa di dunia, sebab Tuhan mempunyai rencana besar atas umatNya. Ketika Tuhan mengerjakan pembebasan umatNya, ada dua hal yang dilakukan Tuhan, yaitu: Pertama, mengikut- sertakan Musa dan Harun. Kedua hamba Tuhan itu dipersiapan  untuk memimpin perjalanan panjang dan sulit, yang bakal di hadapi seluruh umat  menuju ke Tanah Perjanjian. Juga agar di hadapan Firaun serta umat Israel,  mereka berdua dapat diterima sebagai wakil dan pemimpin yang resmi. Dan yang terpenting, sejak awal mereka berdua sudah diyakinkan melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Keyakinan seperti itu sangat dibutuhkan sebab di depan sana  sudah menghadang sejumlah besar problema, yang berpotensi menggrogoti semangat juang mereka selaku pemimpin bangsa. Kedua, kadang Tuhan juga berperan tunggal, tanpa mengikut- sertakan siapa pun juga, yaitu ketika Tuhan melakukan berbagai mujizat di hadapan Firaun (Sepuluh tulah} maupun seluruh umat (Manna dan burung puyuh dll). Di sini kita disadarkan, bahwa sebenarnya Tuhan tidak bergantung dari siapa pun. Jika sampai mengikut sertakan kita juga, adalah suatu kehormatan dan anugerah yang sangat besar bagi kita! Read the rest of this entry »

DAHULU JAUH, SEKARANG MENJADI DEKAT

0

Posted on : 30-06-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 19 Juli 2009

Minggu Biasa XI

2 Samuel 7:1-14a  Mazmur 89:20-37  Efesus 2:11-22  Markus 6:30-34, 53-56

DaudBaru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang  pendeta,  berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua,  rame-rame  makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang  ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu,  Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan  mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan.  Tiba-tiba  salah seorang pengunjung baru  restoran itu  dengan nada memerintah berkata kepada  Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja  kotor yang baru saja  ditinggalkan oleh  pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!”  Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.”  Tetapi Joas tidak  segera pergi sebab harus menjawab  panggilan   telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan  Jemaat GKI  Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT  Jakarta  supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya  sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka   hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera  minta maaf  dan   mau berkenalan, serta  ngobrol  dengan Joas,  maka dengan begitu  yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!

Dalam 2 Samuel 7  kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun  tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5).  Keberadaan Daud sebagai raja  hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah  rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim.  Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat.   Bagaimana dengan iman Daud?  Tiba-tiba saja dia merasa bersalah  bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang  baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.

Read the rest of this entry »

BERSIH TANGANNYA DAN MURNI HATINYA

0

Posted on : 25-06-2009 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

leh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu,12 Juli 2009

Minggu Biasa X

II Samuel 6:1-5, 12b-19   Mazmur 24   Efesus 1:3-14  Markus 6:14-29

Raja HeerodesSeorang isteri mengeluh kepada suaminya:”Waduh Pak, pembantu kita baru saja menggondol dua handuk baru kita.” Dengan suara marah sang suami berkata, “Memang dasar pembantu zaman sekarang, sikapnya selalu tidak terpuji …. Ngomong-ngomong handuk mana yang digondolnya?”  Sang isteri menjawab,  “Handuk-handuk yang kita ambil di Hard Stone Hotel, Pak.”  Orang-orang dalam cerita ini tangan dan hatinya tidak ada yang bersih. Dari sang pembantu sampai para majikannya sama saja!  Kisah di bawah ini lebih keterlaluan lagi, sampai mungkin kita tidak bisa mempercayainya, tapi itulah yang saya baca di Buku Mutiara-Mutiara Kasih, diberi judul: Kesempatan Terakhir.

Pendeta Henry White tengah malam diundang untuk mendoakan seseorang yang sudah di ambang kematian, yang mau bertobat. Sambil membungkuk di dekat wajah pria usia empat puluhan itu, pak pendeta menginjili dengan penuh semangat dan harap. Pendeta Henry merasa bersyukur sebab merasa mendapat respon yang  positip, hal itu tampak dari matanya  yang bercahaya selama mendengarkan firman Tuhan. Setelah selesai didoakan, pria itu sudah meninggal dunia. Tapi yang sangat mengherankan adalah ketika diamati ternyata tangan orang itu sedang menggenggam erat-erat rantai jam milik Pak Pendeta! Rupanya rantai emas di kantung pendeta itulah yang membuat matanya bercahya tadi!  Sungguh sangat  sayang, tangan dan hatinya tetap kotor pada detik-detik  terakhir Tuhan membukai pintu pertobatan baginya!

Dalam Markus 6 tadi kita bisa melihat keluarga Herodes yang sangat memperihatinkan.  Mental yang  bobrok, dengan mudah akan  menghasilkan pekerjaan tangan yang kotor bahkan menjijikkan. Kita lihat seorang kepala keluarga yang lemah dan tidak bijaksana, yaitu Herodes. Sebagai kepala keluarga dan sekali gus  seorang raja, Herodes telah melakukan  kesalahan  besar. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan olehnya, yaitu pertama: Mengapa ia menangkap, membelenggu dan menjebloskan Yohanes Pembapis dalam penjara (Markus 6:17). Tidak pada tempatnya bila Yohanes dipersalahkan dan dipenjarakan,  Herodes seharusnya berterimakasih kepada Yohanes yang sudah mau menegur kesalahannya. Di antara rakyatnya yang banyak itu, siapa yang berani dan mau menegur dia? Tak seorangpun kecuali Yohanes yang murni hatinya. Kiprah  Yohanes yang beda dan istimewa itu sekiranya  ditanggapi secara positip maka akan membawa  berkat yang besar dalam hidup Herodes, setidaknya bisa menjadi awal yang  menuju ke jalan keselamatan baginya! Tapi sayang sikap Herodes mengambang, maka sudah hampir masuk ke dalam anugerah Allah, tetapi keluar lagi! Dapat kita baca itu  di Markus 6:20 “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.”  Di sini kita melihat banyak hal yang indah dan mengembirakan dalam diri Herodes tetapi semuanya diganjal oleh sikapnya yang mengambang, yaitu hatinya  yang selalu terombang-ambing! Hati yang selalu terombang-ambing adalah hati yang tidak murni, sebab dipengaruhi oleh banyak faktor yang negatip.  Kesalahan Herodes yang kedua jauh lebih berat sebab dia telah mengabulkan permintaan Salome, hanya karena telah terlanjur bersumpah akan memberikan apa saja yang dimintanya. Kesalahan ini diawali dengan keteledorannya yang gegabah bersumpah, dilanjutkan rasa malu untuk menarik kembali janji yang sudah diucapan di hadapan para tamunya .Sekiranya Herodes mempunyai keberanian untuk berkata “tidak” dan dengan tegas menolak permintaan Salome yang keterlaluan itu, maka Tuhan tentu akan memberkati dia! Dengan demikian dia akan  bisa memecahkan rekor sebagai satu-satunya Herodes yang berada di pihak Tuhan, maka tak mustahil dia akan  diselamatkan!  Selanjutnya kita ketemu Herodias yang semula menjadi isteri Herodes- Filipus, tetapi sudah digaet menjadi permaisuri Herodes Antipas tadi. Jikalau Herodes yang ditegur merasa segan terhadap Yohanes, maka sebaliknya Herodias diam-diam  menaruh dendam yang mendalam, dan ingin bisa menyingkirkan dia untuk selamanya!  Itu sebabnya begitu memperoleh peluang maka langsung saja digunakan sebaik mungkin olehnya. Salome yang telah menggirangkan hati Herodes, Salome yang telah menerima  janji pakai sumpah dari Herodes, telah dibisiki oleh ibunya supaya  meminta kepala Yohanes! Dalam Buku William Barclay dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sebaik perempuan yang baik, tetapi juga tidak ada yang sejahat perempuan yang jahat. Lebih jauh para Rabi Yahudi mengungkapkan:”Seorang wanita yang baik jika menikah dengan pria jahat, akan dapat mengubah suaminya menjadi baik. Tetapi seorang pria yang baik, jika menikah dengan wanita jahat, maka akan dapat berubah menjadi sejahat isterinya!” Walau hanya berada di belakang layar, tetapi dapat dikatakan bahwa Herodias adalah  pelaku pembunuhan sang pelopor Juru Selamat dunia itu! Tindakan Herodias sangat sembrono,  sebab secara terang-terangan berani melawan Tuhan. Hatinya penuh kedengkian kepada Yohanes, berarti dia berani  membenci Tuhan yang sangat mencintai  hambaNya itu.  Membunuh Yohanes berarti berani membungkam mulut Tuhan yang menyuarakan kebenaran sabdaNya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa  Herodias itu  busuk hatinya, berbisa mulutnya, kotor tangannya dan bobrok moralnya. Herodias sangat berbeda dengan isteri Pilatus yang justeru memperingatkan suaminya agar jangan mencampuri urusan Tuhan Yesus dengan orang Yahudi yang menyeretNya ke hadapan Pilatus.Dengan sangat simpatik ia menyebut Yesus sebagai orang benar,  juga mengaku telah diperingatkan (Tuhan) dalam mimpinya, Matius 27:19. Sekarang kita menengok Salome sang penari yang telah memukau perhatian segenap tamu dalam pesta ulang tahun Herodes. Ada dugaan kuat bahwa Salome waktu itu mempersembahkan sebuah tarian  erotik, yang tidak pantas dilakukan oleh seorang keluarga istana.Sungguh sangat menyedihkan nasib Salome, sebagai seorang remaja puteri pada zaman itu agaknya ia sudah terbiasa tampil di depan umum dengan tarian yang aduhai, serta mendapat dukungan dari pihak orang tuanya. Sebagai seorang remaja yang polos hatinya, sudah  diracuni dan diperalat untuk mewujudkan suatu pembunuhan yang begitu sadis dan mengerikan, atas seorang hamba Tuhan yang tak berdosa. Dengan menuruti bisikan ibunya Salome telah menjadi seorang remaja yang terlibat secara langsung dalam dosa pembunuhan itu. Demi mendengar ide sang ibu semestinya Salome menunjukkan sikap tidak setuju dan berani menolak dengan tegas, tetapi apa yang kita baca dalam Alkitab? “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: Aku mau, supaya sekarang juga engkau  memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembabtis di sebuah talam!” Markus 6:25. Perhatikanlah kata-kata: Cepat-cepat, dan sekarang juga. Yang sangat menarik, atau lebih tepat  sangat menjijikkan,  adalah apa yang terungkap dalam ayat 28. Diterangkan di situ bahwa sesudah leher Yohanes dipenggal maka oleh seseorang kepalanya diserahkan kepada Salome. Bayangkan bahwa seorang remaja puteri memiliki hati yang tega untuk menerima satu kepala manusia yang berdarah di atas nampan! Kemudian membawa dan menyerahkan kepada ibunya! Tak mustahil mereka  itu juga memiliki  kekejaman untuk melakukan pemenggalan dengan tangannya sendiri!

Sedari tadi pembicaraan kita cuma di seputar orang-orang yang hidupnya di luar Kristus, sehingga  akrab dengan kejahatan yang ditandai dengan  tangan dan hati yang kotor. Sekarang, di Efesus 1:3-14 kita disuguhi satu tema yang  menarik tentang kekayaan orang-orang yang terpilih. Firman Tuhan menegaskan bahwa  sudah sejak semula Allah menghendaki kita menjadi anak-anakNya yang hidup kudus di hadapanNya. Ketika dosa sempat menerobos ke dalam hidup kita, Allah tidak mau menyerah kalah. Persoalan besar kita diatasiNya melalui pengorbanan Kristus, sehingga tersedia pemulihan hubungan dengan Allah serta pengembalian status kita sebagai anak-anak yang dilimpahi kekayaan kasih karunia dan hikmat. Satu kali kita dihubungkan dengan Kristus, maka  untuk selamanya tidak akan pernah terpisahkan lagi baik di bumi maupun di sorga. Selama ada di dunia ini kita akan dikuatkan melalui Firman Tuhan dan pendampingan Roh Kudus, dan hal itu merupakan  jaminan bahwa kita sudah menjadi milik Allah. Semua  berasal dari kemurahan Allah, maka  hidup kita  berisi puja dan  puji bagi kemuliaan Tuhan.

Kiprah  Daud selaku raja yang telah  menggerakkan ribuan rakyatnya dalam II Samuel 6 tadi sesungguhnya merupakan nubuat dan gambar, dari sukacita umat Tuhan di segala abad, seperti yang dipaparkan dalam Efesus 1:3-14. Yang dirasakan Daud saat itu adanya kehadiran Tuhan kembali, setelah tabut Allah dapat direbut dari tangan Filistin. Hal itu sama seperti kehadiran Kristus ke tengah-tengah umat manusia sebagai bukti perkenan Allah, untuk mengakhiri kemenangan iblis dan dosa. Mikhal anak perempuan Saul memandang rendah sikap Daud yang dinilainya berlebihan, padahal semua itu dilakukan oleh Daud dengan segala ketulusannya, sehingga ia tidak mempedulikan jabatannya sebagai seorang raja yang mau berbaur dengan rakyak jelata. Intisari dari kisah ini mau mengajarkan kita  demikian: Jika sukacita sorgawi telah merasuki  hidup kita maka yang pertama-tama muncul adalah ketulusan hati  menanggapi  kemurahan Tuhan. Ketulusan hati yang ditandai  tangan yang bersih, serta  hati yang murni akan menjauhi segala kejahatan dan hidup kotor, dan sebagai gantinya adalah hidup penuh pujian kepada Tuhan di dunia ini dan berlanjut sampai di sorga kelak. Kita melihat  perbedaan besar diantara dua raja tadi: Herodes dan Daud.  Meskipun sikap Herodes lumayan baik, tetapi karena dia masih selalu terombang-ambing dan tidak berani tegas menerima firman Tuhan, berarti masih hidup di luar Tuhan, maka tidak ada sukacita dan hidup  sejahtera.  Berbeda  dengan Daud, sejak muda  ia sudah selalu berpautan dengan Tuhan, sehingga walau hidupnya tidak sempurna  namun tak pernah terlepas dari genggaman Tangan Nya, maka keselamatan dan  sukacita  sejati  dari Tuhan diwarisinya.

Mazmur 24 mengingatkan  bahwa kita mempunyai Raja Kemuliaan, yaitu Tuhan semesta alam. Jika kita mau berserah dan bergaul dengan Dia,  maka dikatakan bahwa kita boleh naik ke atas gunung Tuhan. Kemuliaan kita itu harus ditandai dengan tangan yang bersih dan hati yang murni!

TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA

0

Posted on : 15-02-2009 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu 22 Februari 2009

Minggu Transfigurasi

II Raja-raja 2:1-12 Mazmur 50: 1-6 II Korintus 4:3-6 Markus 9:2-9

Pdt.Nehemiah Mimery di dalam bukunya, Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen, bercerita tentang satu jenis batu permata yang penampilannya sangat sederhana bahkan tidak menarik. Jauh berbeda dengan batu permata pada umumnya yang bercahaya indah. Tetapi begitu batu permata tersebut diambil dan ditaruh dalam genggaman tangan kita, berubahlah menjadi batu permata yang menawan hati, karena bersentuhan dengan tangan yang hangat.Batu permata yang bernama “Batu Opsaal” atau “Batu Sympathiek” itu menggambarkan keberadaan kita orang-orang beriman. Keadaan kita sebenarnya sama saja dengan keadaan orang-orang dunia, tapi karena kita berada dalam genggaman tangan Tuhan Yesus maka dapat mengalami peningkatan yang positip; hati kita akan bercahaya sampai bisa memancar keluar ke sekitar hidup kita!

Kehidupan kita selaku anak Tuhan mengalami pasang surut, juga dalam kehidupan bergereja, ibadah dan pelayanan kita. Mari kita coba menyelami apa yang dialami oleh Elia dan Elisa waktu itu. Keadaan Elia sangat lumayan karena dia tahu bahwa bakal diangkat oleh Tuhan ke sorga. Paling-paling hatinya berdebar-debar menghadapi saat akan diangkat oleh Tuhan itu. Penuh tanda tanya: Cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat? Kapan saatnya? Bagaimana rasanya? Berapa lama perjalanan ke sorga? Sesudah sampai di sana lalu bagaimana? Di samping itu jelas Elia juga menghadapi gangguan yang sangat merepotkan karena sikap Elisa yang kekanak-kanakan sebab tidak mau pisah dari dirinya. Semua ini tentulah memunculkan aneka perasaan dalam hati Elia. Tapi itulah manusia! Siapapun dia, selama sebagai manusia tak bisa lepas dari situasi hati seperti itu. Karena kemampuan kita memang serba terbatas. Elia tidak mampu mengetahui cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat dia ke sorga, juga tidak tahu cara terbaik untuk melayani dan menghadapi Elisa. Kita melihat betapa Elia itu sangat kebingungan karena pergi ke Betel, ke Yerikho dan ke sungai Yordan selalu saja diikuti oleh Elisa, padahal ia ingin pergi ke tempat-tempat itu tanpa diikuti oleh Elisa. Tentu akan lebih baik baginya jika sebelum naik ke sorga ia bisa mempersiapkan diri demi pemantapan dan hatinya bisa tenang, terang bercahaya.

Baiklah kita juga menyelami keadaan Elisa, pelayan Elia itu (I Raja-raja 19:21}. Agaknya hubungan mereka semakin hari semakin erat, meningkat menjadi hubungan guru dan murid, sampai seperti ayah dan anak. Hal itu kita ketahui berdasarkan permohonan Elisa agar diberi dua bagian dari roh Elia. Inilah ungkapan untuk anak sulung yang beroleh warisan dari ayahnya (Ulangan 21:17). Apa yang dikehendaki oleh Elisa ketika ia meminta warisan dari Elia? Pastilah bagian dari kenabian Elia, termasuk segala kemampuan yang dimiliki Elia. Sebab semua itu adalah karunia Tuhan maka Elia bilang sukar, lalu menyerahkan kepada Tuhan dengan cara: Bilamana Elisa nanti bisa melihat keberangkatan Elia berarti Tuhan setuju memenuhi permohonan itu. Saudara, sangat menarik untuk menyelami perasaan Elisa yang akan ditinggal pergi oleh Elia. Dalam peribahasa Perancis dikatakan bahwa perpisahan merupakan “sedikit kematian”. Artinya sudah jelas, berpisah dari orang yang kita cinta itu sungguh sangat berat dan mendatangkan rasa sedih, rasa kehilangan. Sejak batita kita sudah merasakan sedih dan girang silih berganti pada saat orang tua kita main “cilup-ba “ dengan kita. Pisah-jumpa, pisah- jumpa lagi !

Jika hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata, maka pada tempatnya jika Elisa itu merasa sangat berat berpisah dari Elia.Tapi bukankah itu berarti mengandung egoisme yang perlu ditindas? Jika Elisa sungguh-sungguh mengasihi Elia, bukankah seharusnya dia merasa bersyukur mengetahui Elia akan diangkat ke sorga? Tapi, bagaimana Elisa bisa bersyukur jika dialah yang bakal melanjutkan pelayanan sebagai nabi Tuhan? Apakah hatinya bisa bercahaya jika mengingat bahwa ke depan sudah menunggu tantangan yang tidak ringan? Jadi ada rasa takut, kuatir, sedih dan tentunya juga sedikit rasa syukur. Ketika para nabi memberitahu soal Elia yang akan naik ke sorga, maka Elisa menjawab dengan ketus:”Aku juga tahu, diamlah!” Jelaslah bahwa Elisa saat itu patut dikasihani. Maka kita merasa lega melihat campur tangan Tuhan dalam kegalauan Elisa.

Tuhan yang sudah mempunyai rencana atas Elia dan Elisa itu, tidak hanya menyaksikan kiprah mereka, tidak hanya mengikuti perjalanan mereka, tidak hanya memahami perasaan mereka, namun juga bersedia ikut campur tangan. Semua yang dilakukan oleh Tuhan bagaikan tanda tangan atau meterai sorgawi yang tak dapat ditiru oleh siapapun! Kereta dan kuda berapi yang memisahkan mereka berdua, badai besar yang mengangkat Elia ke sorga, kemudian juga kemampuan Elisa melakukan mujizat. Campur tangan Tuhan yang dahsyat ini seharusnya dapat mendatangkan kekaguman besar dan memberi kemantapan hati kepada Elia, Elisa dan … kita sekarang.

Sekarang kita akan menengok apa yang telah terjadi di sebuah gunung yang tinggi, ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sertaNya (Markus 9). Di dalam pelayanan agung Kristus, ternyata juga ada semacam pasang surutnya. Ada saat dimana Ia mengalami kemuliaan dan dimuliakan, tapi ada pula saat direndahkan, dihina bahkan dibunuh. Sebab itu barang siapa mau menjadi pengikut Tuhan juga harus siap sedia menghadapi pasang surut di sepanjang pelayanan, bahkan di sepanjang hidupnya. Namun yang dikehendaki Tuhan, dalam segala situasi, kita tetap mengutamakan persekutuan dengan Tuhan agar hati kita tetap dapat bercahaya. Kita membaca tadi bahwa di gunung yang tinggi itu Tuhan Yesus dimuliakan oleh BapaNya. WajahNya berubah, pakaianNya juga menjadi putih berkilat. Kemuliaan Tuhan Yesus berlanjut dengan munculnya dua tokoh dari zaman Perjanjian Lama, yaitu Elia dan Musa! Mereka bertiga lalu mengadakan pembicaraan yang tentu saja tidak diketahui isinya oleh para murid. Jadi Allah bisa menghadirkan dari sorga kereta dan kuda yang berapi, namun juga hamba-hambaNya yang setia. Ketika menyaksikan semua itu maka Petrus, yang biasanya mengatas- namai rekan-rekannya, mengungkap kebahagiaan hatinya serta kesediaan mereka mendirikan tiga kemah sebagai tempat tinggal Tuhan Yesus, Musa dan Elia.Ucapan Petrus jelas tidak masuk akal dan tidak berbobot karena mengingkari panggilan illahi untuk hidup melayani Tuhan dan dunia ini. Jika saat itu hati Petrus bercahaya, maka itulah terang atau cahaya yang palsu karena bertolak dari kebahagiaan yang tidak memikirkan orang-orang lain. Jiwa dari usulan Petrus mengandung bisa atau racun yang melumpuhkan semangat juang serta mematikan kreativitas. Di dalam dan bersama Tuhan Yesus kita harus selalu berada dalam perjalanan yang disebut “anti-mandeg”. Kadang sebagai pengikut Tuhan kita merasa sudah sampai di penghujung, lalu cenderung merasa puas, sudah terlalu tua,ingin berhenti dengan alasan mau memberi kesempatan kepada yang masih muda.Seolah sudah tidak berguna, tidak ada yang bisa dikerjakan . Lupa bahwa di dalam Kerajaan Tuhan orang yang paling kecil atau tua tetap dapat melayani sesuai dengan kemampuannya. Di dalam Tuhan yang maha agung tak mustahil kita akan mengalami suatu pembaruan! Pada dinding kamar saya ada tulisan sebagai berikut: In Life, What Sometimes Appears To Be The End Is Really A New Beginning (Dalam Hidup Ini Kadang Apa Yang Tampak Menjadi Akhir Justeru Merupakan Sebuah Awal Yang Sesungguhnya). Saudara, pada akhirnya dari dalam awan pun terdengarlah suara Allah yang penuh wibawa mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu berarti Allah Bapa sendiri yang sedang memuliakan Yesus, sebab semuanya ditujukan untuk Tuhan Yesus: Mengubah wajah dan pakaian, menghadirkan Elia dan Musa, serta pernyataan bahwa mengasihi Yesus Kristus. Lalu sebagai puncaknya Allah Bapa menyampaikan perintah agar umat manusia mau mendengarkan Yesus Kristus. Dengan demikian berarti Allah Bapa sedang memberitakan Injil kepada kita. Allah Bapa sedang memancarkan Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus seperti yang tertulis dalam II Korintus 4:4. Di sini Allah Bapa sedang memberi teladan bahwa Ia tidak sedang memberitakan diriNya sendiri, tetapi Kristus. Sungguh tepatlah jika dikemudian hari Rasul Paulus berkata seperti itu dalam II Korintus 4:5. Berbahagialah kita yang membuka diri terhadap Injil yang bercahaya itu, sebab ia memiliki daya untuk dapat membuat hati bercahaya terang sampai menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Mazmur 50:1 berbunyi: “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.” Kegiatan yang Mahakuasa Allah itu sampai sekarang masih terus berlangsung, memanggil bumi, atau manusia di seluruh bumi. Berbahagialah kita yang bersedia menjadi penyambung lidah Allah yang Mahakuasa memanggil dengan panggilan yang lebih jelas sebab mempergunakan Injil Yesus Kristus yang mempunyai daya yang kuat untuk menjadikan hati kita bercahaya!

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!