Komisi Anak GKI Klaten mengucapkan: “Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010″
Di dalam kehidupan pernikahan, kenyataan kehidupan kadang berbeda dengan harapan seseorang. Akibatnya, pernikahan mereka mengalami guncangan. Pada kenyataannya, memang terdapat perbedaan harapan antara laki-laki dan perempuan. Dari pernikahannya, seorang laki-laki mengharapkan mendapat pemenuhan seksual, teman rekreasi, pasangan yang menarik, penghargaan dan dukungan rumah tangga. Sementara itu, pihak perempuan berharap bahwa dari pernikahan itu dia akan mendapatkan kemesraan, teman bercakap-cakap, kejujuran, keterbukaan, dukungan keuangan dan komitmen.
Jika pengharapan ini tidak terpenuhi, maka pasangan suami-isteri mengalami kekecewaan. Apa yang harus dilakukan jika kenyataan pasangan kita tidak sesuai dengan harapan? Tema inilah yang dibahas oleh pdt. Samuel Hendrarto dari GKI Darmo Satelit Surabaya, pada Bina Pasutri yang diselenggarakan Komisi Dewasa GKI Klaten, 6 Juli 2009.
Akar penyebab dari semua itu adalah budaya patriarkal yang menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Budaya ini yang menciptakan peran antara lak-laki dan perempuan dalam konstruksi gender. “Sebagai contoh, selama ini ada anggapan bahwa laki-laki itu harus agresive, pintar berhitung dan memiliki kemampuan visual,” papar pdt. Samuel, “jika ada seorang suami tidak memiliki ciri-ciri itu, maka isterinya menjadi kecewa.” Padahal peran itu sesungguhnya adalah buatan manusia. “Meskipun itu ciri-ciri umum, tetapi tidak semua laki-laki harus memiliki ciri-ciri demikian,” papar pdt. Samuel.
Apabila seseorang merasa tidak puas atas keadaan pasangannya, maka cara yang terbaik bukan mengubah pasangannya, melainkan dengan mengubah persepsinya atas pasangannya. Dengan demikian, dia akan mengalami penerimaan atas kondisi pasangannya apa adanya. Dengan mendasarkan diri pada Filipi 2:5-8, pdt. Samuel menawarkan tips untuk mengatasi kekecewaan yaitu mempersepsi pasangan berdasarkan kebenaran firman Tuhan (ayat 5), menyelami pikiran dan perasaan pasangannya (ayat 6-7), serta penyangkalan diri (ayat
untuk menerima keadaan pasangannya dengan utuh.
Acara bina pasutri ini berlangsung selama dia sesi, diselingi dengan makan malam. Acara diakhiri pukul 21:30.
pdt. Samuel Hendrarto
pdt. Samuel Hendrarto
Berdoa: Bpk dan Ibu Bambang Setiabudi, Bpk dan Ibu Rudi Mudita, Ibu Tjondro
Berdoa: Ibu Ryan, Ibu Payem, Ibu Hanna Yoyok, Bpk dan Ibu Komardiyanto, Bpk. K. Widodo
Meriah
Ada orang yang aktif dalam pelayanan, tetapi keluarganya tak terurus. Ada orang yang sukses dalam kariernya, tetapi tidak punya waktu untuk pelayanan. Ada orang yang hidup harmonis, tetapi hidup pas-pasan. Inilah realitas yang ada dalam kehidupan.
Lalu, bagaimana cara menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga? Pertanyaan ini yang menjadi tema dalam Persekutuan Komisi Dewasa, GKI Klaten pada 30 Juni 2009. Untuk menjawab pertanyaan ini, Komisi Dewasa mengundang Bpk. Samuel Gunawan, seorang pengusaha sukses dari Solo yang tetap giat dalam pelayanannya.
Totalitas kehidupan kita adalah rohani. Demikian pernyataan awal yang disampaikan oleh Bpk. Samuel Gunawan. “Kita tidak dapat membuat pemisahan bagian mana yang disebut rohani dan bagian mana yang disebut sekuler,” kata Samuel. Mantan majelis GKI Coyudan ini mengutip pengkhotbah 9:10: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Setelah itu, dia mengutip surat Paulus: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas kita, entak itu dalam pekerjaan, pelayanan atau keluarga adalah ibadah untuk Tuhan. Di dalam melaksanakan semua itu, kita harus melakukan dengan tulus dan merupakan dorongan dari buah pertobatan kita. “Jika kita melakukan sesuatu tidak didasari karena buah perobatan, maka bisa jadi justru akan ditolak oleh Tuhan Yesus,” kata Samuel Gunawan sambil mengutip ayat berikut: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”" (Mat 7:22-23)
Setiap orang Kristen mendapat mandat dari Tuhan. Mandat adalah tugas yang tidak dapat ditolak dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Kita mendapat tiga mandat. Yaitu: Mandat Penginjilan, Mandat Pengajaran dan Mandat Mandat Budaya,” papar Samuel Gunawan. Semua itu harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari, entah itu dalam pelayanan, pekerjaan atau keluarga. “Itu sebabnya kita tidak bingung menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga. Karena semuanya adalah ibadah untuk Tuhan,” simpul Samuel mengakhiri uraiannya.
Untuk download sebagian rekaman audio acara ini, silakan klik di sini.
Persekutuan Komisi Dewasa, 30 Juni 2009
Peserta mendengarkan dengan tekun
Bpk. Samuel Gunawan
[youtube scjhvup9po0 nolink]
Untuk membekali anggota jemaat dengan ketrampilan praktis dan bernilai ekonomis, maka Komisi Dewasa GKI Klaten menggelar Pelatihan Ketrampilan Sablon pada 25-26 April 2009. Pelatihan yang mengambil tempat di ruang workshop SMP Kristen Klaten ini sekaligus dibimbing oleh pak Agus, yang juga guru SMP Kristen Klaten. Di hadapan 38 peserta, pak Agus menerangkan langkah-langkah pembuatan sablon mulai dari menunjukkan alat-alat sablon seperti screen, rakel dan meja sablon. Setelah itu, dia menunjukkan cara membuat klise positif pada screen. pada bagian akhir, peserta diajak langsung mempraktikkan ketrampilan sablon.
Kalau Januari tahun lalu, Komisi Musik (Komik) menggelar pertempuran ‘Air Soft Gun’ sebagai RC/persekutuan, maka tahun ini Komik mengadakan permainan jadul alias jaman dulu. Kamis, 26 Maret 2009, para pegiat Komisi Musik yang terdiri dari pemimpin pujian, pemusik, operator sound dan pengurus komisi asyik ber’kasti-ria’ di stadion Klaten. Pukul 07.00 sebanyak 25 peserta sudah siap-siap ikut dalam olahraga yang mungkin sudah tidak mereka lakukan selama puluhan tahun . Penggembira-nya pun juga tak kalah banyaknya.
Pertandingan kasti dipimpin oleh wasit bp. Suharno, yaitu guru olah raga SD Kristen. Peserta dibagi menjadi 2 regu, masing-masing regu yang dipimpim oleh Bpk.. Ie Purnomo Sidi melawan regu yang dikomandani oleh Yonatan.
Di awal pertandingan (4-5 kali pergantian pemain) sudah terjadi hal yang menggelikan. Hampir semua peserta memukul angin ketika mengayunkan tongkat kasti. Mereka kesulitan memukul bola yang melambung ke arahnya.
Yang lebih menghebohkan, ketika permainan baru saja dimulai, ibuu Ermintarsih alias bu Mika sudah jatuh terjerembab karena menghindari lemparan bola, padahal tak urung kena juga!
Setengah jam kemudian peserta mulai mahir memukul bola. Tetapi karena olahraga ini lebih banyak untuk bersenang-senang, maka ada banyak adegan lucunya! Ada Ajion yang mengejar-kejar Bpk. Ie sampai setengah lapangan sepak bola (Padahal sudah melewati batas garis permainan tetapi tetap saja dikejar). Mana bola cuma kena saputangannya saja!
Ada cik Siok Lien yang sudah bergaya bak pemain soft ball profesional tapi tidak bisa memukul bola. Ada Pdt. Tanti yang tidak bisa berlari kencang sehingga jadi sasaran empuk lawan.
Ada pasangan yang saling mengincar, yaitu antara Yudha (GSM) dengan Kiki (GSM); juga antara Martin (GSM) dengan Widyatmoko (staf kantor).
Home run terjadi di regu Yonatan. Akan tetapi ketika Piao Piao dari regu bpk. Ie Purnomo Sidi mencoba untuk meraih ‘home run’ terjadi kegemparan karena home terakhir diam-diam dipindah oleh Ajion. Maka Piao Piao pun kebingungan mencari home basenya sambil berteriak-teriak. Batal deh home run!
Siapa yang menang dalam pertandingan itu? Berapa nilai akhirnya? Rasanya tidak penting untuk dibahas karena yang lebih penting adalah terjadinya kekaraban di antara aktivis gereja di Komisi Musik. Keceriaan itu yang lebih penting. Usai acara bukan hanya keringat dan badan yang letih, tapi juga juga suara serak karena berteriak-teriak. Untungnya PNK untuk kebaktian Minggu berikutnya tidak kehabisan suara. Semoga suasana sukacita dalam permainan ini juga terbawa dalam semua kegiatan pelayanan di lingkup komisi musik GKI Klaten. Sampai ketemu lagi di acara lain yang lebih asyik.

Siap-siap main kasti bersama, tgl 26 Maret 2009

Foto dulu di depan gereja jago sebelum main kasti

Bermain Air Soft Gun di hutan jati, Bayat, Klaten






































0