“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20)
Ada seorang ayah dan anak-anaknya yang harus menarik sebuah gerobak yang cukup berat. Akhirnya mereka memutuskan sang ayah menarik dan anak membantu mendorong dari belakang. Benar saja beban gerobak terasa lebih ringan, namun makin lama, sang ayah merasa beban tarikan semakin berat, saat ia berhenti dan menoleh ke belakang, ia tidak mendapati seorang anak pun di belakang gerobak. Ternyata anak-anaknya sedang duduk berisitirahat di dalam grobak sambil sibuk mengomentari dan melihat sang ayah yang bekerja sendiri.
Itu salah satu hal yang biasa terjadi dalam keluarga. Seringkali kita hanya sibuk membicarakan orangtua atau saudara kita, tetapi tidak berbuat apa-apa. Kita hanya bisa komentar dan melihat saja! Ya kalau dalam bahasa kerennya “No Action Talking Only (NATO)”. Idealnya sih di dalam keluarga kita harus saling menopang, membantu dan tentu saja saling mengasihi. Coba deh kita lihat kebaikan-kebaikan Allah yang kita alami setiap hari yang menunjukkan betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam setiap kebaikan yang Tuhan kerjakan, selalu ada pesan yang diberikan Tuhan bagi kita agar kita juga saling mengasihi sesama, dimulai dari keluarga.
1 Yohanes 4:20 berkata,”Jikalau seorang berkata:’Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” Apakah kita sungguh-sunguh mengasihi Tuhan? Apakah kita tahu cara bagaimana kita mengasihi Allah? Allah adalah kasih itu sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama bila kita memang mengasihi Tuhan, sebab kasih yang berasal dari Allah adalah kasih yang suci sehingga tidak mungkin kita bisa mengasihi Tuhan sementara kita sedang membenci orang lain.
Hidup sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan setiap keluarga Kristen. Keluarga Kristen itu sendiri membutuhkan Penopang yang kokoh agar tak jatuh dan runtuh. Tuhan sebagai Penopang memberikan segala berkat-Nya yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita mengerjakan dan mempraktikkan kasih dengan setia dan dengan komitmen yang sungguh. Dengan demikian kasih Tuhan akan selalu mengalir di dalam kehidupan kita karena kita sedang mengalirkan kasih itu kepada orang lain.
Percayalah bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan ketaatan kepada Tuhan akan membuahkan berkat-berkat yang khusus dalam kehidupan kita. Sehingga melalui kehidupan kita kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi banyak orang. Sudahkah kita saling mengasihi dalam keluarga dan hidup sebagai keluarga Allah?

sangat populer karena dia mengungkap dan melucuti sisi manusiawi yang sangat umum yaitu bahwa manusia itu (siapapun dia) bisa jatuh dan gampang jatuh ke dalam dosa. Manusia sebagai makhluk tertinggi, paling cerdas, dan berbudi di muka bumi ini dapat dan mungkin mengambil keputusan-keputusan yang bodoh dan melakukan tindakan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Secara umum juga, manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bangun dari kejatuhannya, mampu menyadari kecelakaannnya dan tidak terhanyut dalam bencana yang diakibatkan oleh kebodohannya sendiri. Inilah sebenarnya yang ditampilkan melalui tokoh anak yang hilang itu.
“Wah, wah…..menurut aturan, satu anak hanya boleh mendapat satu balon”, kata pak Badut, sambil mengisi balon yang biru itu dengan gas. Ia memberikanya kepada Mika. “Tapi kali ini, aku membuat pengecualian. Kamu boleh membawa pulang dua balon, karena kamu menyayangi adikmu,” kata pak Badut sambil mengisikan gas ke balon merah. “Setiap gadis kecil seharusnya memiliki kakak sepertimu! Bersenang-senanglah dengan balonmu!” kata pak Badut sambil menyerahkan balon merah kepada Mika.
















0