Hidup Sebagai Keluarga Allah

0

Posted on : 05-11-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20)

Ada seorang ayah dan anak-anaknya yang harus menarik sebuah gerobak yang cukup berat. Akhirnya mereka memutuskan sang ayah menarik dan anak membantu mendorong dari belakang. Benar saja beban gerobak terasa lebih ringan, namun makin lama, sang ayah merasa beban tarikan semakin berat, saat ia berhenti dan menoleh ke belakang, ia tidak mendapati seorang anak pun di belakang gerobak. Ternyata anak-anaknya sedang duduk berisitirahat di dalam grobak sambil sibuk mengomentari dan melihat sang ayah yang bekerja sendiri.

Itu salah satu hal yang biasa terjadi dalam keluarga. Seringkali kita hanya sibuk membicarakan orangtua atau saudara kita, tetapi tidak berbuat apa-apa. Kita hanya bisa komentar dan melihat saja! Ya kalau dalam bahasa kerennya “No Action Talking Only (NATO)”. Idealnya sih di dalam keluarga kita harus saling menopang, membantu dan tentu saja saling mengasihi. Coba deh kita lihat kebaikan-kebaikan Allah yang kita alami setiap hari  yang menunjukkan betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam setiap kebaikan yang Tuhan kerjakan, selalu ada pesan yang diberikan Tuhan bagi kita agar kita juga saling mengasihi sesama, dimulai dari keluarga.

1 Yohanes 4:20 berkata,”Jikalau seorang berkata:’Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” Apakah kita sungguh-sunguh mengasihi Tuhan? Apakah kita tahu cara bagaimana kita mengasihi Allah? Allah adalah kasih itu sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama bila kita memang mengasihi Tuhan, sebab kasih yang berasal dari Allah adalah kasih yang suci sehingga tidak mungkin kita bisa mengasihi Tuhan sementara kita sedang membenci orang lain.

Hidup sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan setiap keluarga Kristen. Keluarga Kristen itu sendiri membutuhkan Penopang yang kokoh agar tak jatuh dan runtuh. Tuhan sebagai Penopang memberikan segala berkat-Nya yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita mengerjakan dan mempraktikkan kasih dengan setia dan dengan komitmen yang sungguh. Dengan demikian kasih Tuhan akan selalu mengalir di dalam kehidupan kita karena kita sedang mengalirkan kasih itu kepada orang lain.

Percayalah bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan ketaatan kepada Tuhan akan membuahkan berkat-berkat yang khusus dalam kehidupan kita. Sehingga melalui kehidupan kita kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi banyak orang. Sudahkah kita saling mengasihi dalam keluarga dan hidup sebagai keluarga Allah?

Mengasihi Anak yang Hilang

1

Posted on : 19-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,” (Lukas 15:18)

Cerita anak yang hilang sangat populer karena dia mengungkap dan melucuti sisi manusiawi yang sangat umum yaitu bahwa manusia itu (siapapun dia) bisa jatuh dan gampang jatuh ke dalam dosa. Manusia sebagai makhluk tertinggi, paling cerdas, dan berbudi di muka bumi ini dapat dan mungkin mengambil keputusan-keputusan yang bodoh dan melakukan tindakan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Secara umum juga, manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bangun dari kejatuhannya, mampu menyadari kecelakaannnya dan tidak terhanyut dalam bencana yang diakibatkan oleh kebodohannya sendiri. Inilah sebenarnya yang ditampilkan melalui tokoh anak yang hilang itu.

Ia memang melakukan tindakan yang amat bodoh, telah terseret ke dalam kejatuhan, kecelakaan dan kehinaan akibat kesalahan dan kebodohannya sendiri. Namun jangan dikutuki dulu, sebab si anak hilang itu boleh jadi adalah Anda dan saya sendiri yang kerap kali merasa pintar dan merasa benar. Namun tanpa sadar telah melakukan tindakan-tindakan bodoh lalu mendapat celaka berkepanjangan.

Yang penting adalah seperti anak yang hilang itu, ia menyadari kebodohannnya, kecelakaannya dan berupaya bangkit dari kejatuhan, memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pengambilan keputusan ini dan berani menjalankannya itu sangat sulit. Banyak orang yang walaupun menyadari kebodohannya, malu untuk mengakui kebodohannya itu dan mereka tidak seperti si anak hilang yang mampu dan mau berkata, “Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata “Bapa aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak Bapa, jadikanlah aku salah seorang upahan Bapa.”" (ayat 15,18,19,21). Meskipun keputusan dan tindakan untuk kembali itu patut diacungi jempol, tapi keputusan tetap ada tangan sang bapa yang mau menerimanya kembali. Alangkah sia-sianya keputusan yang sulit itu sekiranya setelah pulang yang ia terima adalah penolakan dari bapanya.

Puji Tuhan, cerita si anak hilang berakhir begitu indah karena “ketika ia masih jauh ayahnya telah melihat…ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan menciumnya.”

Adakah orang-orang Kristen, pengusaha-pengusaha Kristen yang bersedia berperan sebagai “Bapa” bagi mereka (si anak yang hilang), yang mau “berlari-lari mendapatkan mereka lalu merangkul dan mencium mereka?” Tidak usah bilang sampai tahapan merangkul dan mencium. Taruh kata, pada tahap awal memberi kesempatan bagi mereka (anak yang hilang) untuk memperoleh latihan kerja dan memberi kesempatan kedua. Apakah kita bersedia melakukannya?

Kenyataannya banyak yang tidak bertindak sebagai Bapa, tapi justru bersikap dan berkomentar seperti si sulung, orang-orang yang cemburu, berpikir negatif dan tidak mengerti mengapa perlu ada usaha seperti ini. Mereka berkata, “Orang baik-baik saja yang membutuhkan pekerjaan masih banyak mengapa cari masalah dan menempuh risiko mengurusi orang-orang seperti itu?”

Bagi kita risiko selalu merupakan bagian dari keputusan. Bila kita yakin bahwa apa yang kita lakukan itu benar dan bermanfaat, maka kita juga mesti ikhlas dan siap menanggung risikonya. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh malaikat di surga akan bersorak sorai bila ada satu orang saja yang bertobat. Bisa saja kita kecewa dan gagal dengan sepuluh orang yang diberi kesempatan atau yang dibina, tetapi keberhasilan atas satu orang akan menjanjikan kesukacitaan dan kepuasan batin yang tak ternilai. Apakah kita berani mencobanya? Siapa yang mau menerima kembali tekad suci si anak yang hilang? Alangkah sayangnya, alangkah dosanya dan di mana kasih Tuhan yang sudah diwariskan kepada kita jika karena sikap kita membuat mereka yang ingin pulang akhirnya kembali hilang. Marilah kita mengasihi anak yang hilang.

Keluarga yang Mengasihi

0

Posted on : 12-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22: 39)

Mika berdiri di depan seorang badut yang sedang membagikan balon promosi di sebuah toko . Ia sangat menginginkan balon itu. Ia juga tahu bahwa Sara, adik kecilnya, pasti mau juga mendapatkan balon itu. Tapi sayangnya, ada ketentuan bahwa setiap anak hanya boleh meminta sebuah balon. Padahal saat ini Sara sedang menderita sakit di rumah.

Mika meminta kepada pak badut untuk memberikan balon biru, warna kesukaannya. Ketika pak badut sedang mengisikan gas ke dalam balon, tiba-tiba Mika mengubah keputusannya. “Pak, bolehkah saya meminta balon yang berwarna merah saja?”

“Mengapa?” tanya pak badut dengan wajah heran. “Ini untuk adik saya. Ia sedang menderita sakit di rumah, dan ia suka warna merah,” jawab Mika.

“Wah, wah…..menurut aturan, satu anak hanya boleh mendapat satu balon”, kata pak Badut, sambil mengisi balon yang biru itu dengan gas. Ia memberikanya kepada Mika. “Tapi kali ini, aku membuat pengecualian. Kamu boleh membawa pulang dua balon, karena kamu menyayangi adikmu,” kata pak Badut sambil mengisikan gas ke balon merah. “Setiap gadis kecil seharusnya memiliki kakak sepertimu! Bersenang-senanglah dengan balonmu!” kata pak Badut sambil menyerahkan balon merah kepada Mika.

Dengan sukacita Sara menerima menerima dua balon. Sesampai di rumah, ketika Ibu mendengar cerita Sara, ia juga merasa senang. “Ibu begitu senang bukan karena kamu berdua mendapatkan balon, melainkan karena kamu bersedia merelakan balonmu demi Sara,” kata Ibu kepada Mika. ”Ibu yakin bahwa Allah juga pasti senang. Kamu sungguh menaati perintahNya untuk mengasihi sesamamu, dalam hal ini, adikmu sama seperti dirimu sendiri.”

Kita dapat menunjukkan cinta kasih dengan berbagai cara tetapi pada dasarnya kita merelakan apa yang kita anggap baik bagi diri kita dengan memberikannya kepada sesama. Bagaimanakah dengan Saudara?

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!