Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts Tagged ‘natal’

Keterbatasan Tak Boleh Membatasi

“[Maria] melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”(Lukas 2:7)

Malam itu, langit di lereng pegunungan Alpen, Austria, terlihat cerah. Namun Joseph Mohr berjalan menulusuri jalan setapak dengan hati gundah. Dia tidak bisa menggunakan organ gereja untuk pementasan drama Natal, karena alat musik itu rusak akibat digigiti tikus.

Dari puncak bukit, Mohr melihat pemandangan di bawahnya. Dia terpesona pada kerlap-kerlip lampu-lampu yang memancar dari dalam rumah penduduk. Suasananya sangat sunyi dan teduh. Pemandangan itu melanturkan angan-anganya pada suasana malam ketika Kristus lahir di kandang Betlehem. “Malam sunyi! Malam kudus!” Kata-kata itulah yang yang tiba-tiba terlintas di benak Mohr.

Mohr buru-buru pulang dan segera menuliskan baris-baris puisi yang meluap dari hatinya. Keesokan harinya, dia menemui Franz Xaver Grüber, seorang guru desa dan pemain organ gereja. Dia meminta dibuatkan melodi untuk syair itu.

Malam Natal tahun 1818, Mohr menyanyikan syair gubahannya dengan iringan gitar Grüber. Itulah pertama kali lagu “Malam Kudus” diperdengarkan. Sejak itu, lagu ini menjadi “lagu wajib” pada setiap perayaan Natal.

Keterbatasan sarana bukanlah sebuah alasan untuk menghentikan tugas panggilan kita. Maria dan Yusuf tidak mengeluh ketika hanya mendapat kandang binatang karena penginapan telah penuh. Padahal Maria sedang mengandung Juruselamat dunia. Meski dengan penuh keprihatinan, Maria dan Yusuf tetap melanjutkan panggilan Allah yang telah disampaikan oleh malaikat Gabriel. Bahkan dengan kreatif Yusuf menggunakan tempat pakan ternak sebagai tempat tidur bayi. Inilah semangat yang bisa kita petik dari peristiwa Natal[Purnawan].

SMS from God: Manusia diberi daya cipta oleh Allah untuk bekerja secara kreatif di dalam menanggapi panggilan Tuhan.

Ibadah Malam Natal

Ibadah malam Natal di GKI Klaten diselenggarakan pukul 18.00 dan 22.00. Masing-masing kebaktian dihadiri 400 orang lebih dan berlangsung khusyuk

Selamat Natal dan Tahun Baru

Selamat Natal

Majelis dan Jemaat GKI Klaten mengucapkan:

Selamat Natal 2009

dan

Selamat Tahun Baru 2010

Foto Perayaan Natal Komisi Anak

Natal Sekolah Minggu

Perayaan Natal Komisi Anak GKI Klaten
Kirana
Natal Sekolah Minggu

Read the rest of this entry »

Selamat Natal dari Komisi Anak

Komisi Anak GKI Klaten mengucapkan: “Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010″

Perayaan Natal Sekolah Minggu

Sekolah Minggu GKI Klaten telah mengadakan perayaan Natal tanggal 18 Desember 2009 di GKI Klaten. Perayaan yang dihadiri lebih dari 300 anak dari induk, bajem Pesu, bajem Mireng dan pos Karangri ini dimeriahkan dengan pertunjukan operet kelahiran Yesus

Surat Penggembalaan BPMS dalam rangka Natal

Badan Pekerja Majelis Sinode

GEREJA KRISTEN INDONESIA

Surat Penggembalaan dalam rangka Natal 2009

Saudara-saudara anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi,

Ada fenomena menarik dalam berbagai peristiwa penting yang terjadi pada tahun 2009 ini. Fenomena itu adalah lahirnya kesadaran rakyat untuk membela mereka yang dinilai telah menjadi korban penindasan. Dalam kasus yang menyudutkan dua petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lebih dari sejuta rakyat yang pengguna Facebook secara spontan menyatakan dukungannya kepada Bibit dan Chandra. Dalam kasus Prita, dukungan rakyat diwujudkan melalui aksi damai, yaitu mengumpulkan koin guna membantunya membayar denda kepada RS. Omni Internasional. Hebatnya, jutaan rakyat berbondong-bondong rela memberikan koin mereka untuk Prita. Koin yang terkumpul pun melebihi nilai yang mesti dibayar. Reaksi spontan rakyat menjadi kekuatan yang memaksa aparat, pemerintah dan pengadilan mengubah keputusan mereka. Bibit dan Chandra dibebaskan dan bahkan dikembalikan pada fungsi mereka sebagai anggota KPK. Sedangkan dalam kasus Prita, RS Omni Internasional langsung Pritamencabut tuntutannya. Kedua fenomena ini menunjukkan bahwa rakyat Indonesia telah “lahir kembali”. Sinergi kekuatan rakyat ‘kecil’ mampu membuka borok kebohongan para petinggi yang selama ini memicu ketidakadilan dan penindasan. Rakyat Indonesia lahir kembali. Rakyat tidak mau dibohongi. Tidak rela ditipu! Rakyat Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan obyek dungu yang cuma tahu menantikan apa pun keputusan para petinggi. Rakyat Indonesia lahir kembali menjadi sebuah gerakan, yaitu gerakan damai. Suatu gerakan tanpa senjata! Tanpa kebencian! Bahasanya adalah bahasa moralitas yang sejuk. Bahasa rakyat adalah bahasa perdamaian. Bahasa perdamaian selalu muncul dari kematangan, dari hati nurani. Melawan gerakan rakyat adalah melawan panggilan untuk berdamai: berdamai dengan hati nurani itu sendiri. Itulah peristiwa natal!

Nun jauh di Betlehem pada 2000-an tahun lalu, Yesus lahir dalam kesederhanaan tetapi dalam kedamaian. Malaikat Tuhan pun menyambut kelahiran Sang Mesias dalam nyanyian “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Luk. 2:14). Yesus lahir di tengah perselingkuhan agama dan politik yang menyebabkan penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil. Para elite hidup tanpa hati nurani. Perdamaian absen dari hati penindas dan dalam eksistensi yang tertindas. Pada saat itulah Yesus hadir! Ia hadir di saat petinggi kehilangan arah. Saat jelata kehilangan asa. Saat semua jalan seolah buntu! Saat alternatif pun tiada! Yesus lahir saat sinar lilin pengharapan redup. Saat kegelapan! Kekelaman! Dalam Kegamangan hidup! Yesus hadir dan lahir. Ia sudah di sana! Ia hadir sebagai bayi yang kecil, seolah tidak berdaya.
Nativity
Pesan yang mau disampaikan pada peristiwa natal itu adalah ini. Betapa pun kecilnya, pengharapan itu selalu ada di sana. Pengharapan tidak pernah hilang dan tidak boleh hilang. Dunia akan berjalan anarkis tanpa keterlibatan Allah. Allah hadir memberi hati yang damai kepada para penindas. Yesus lahir menyediakan perdamaian bagi yang ditindas. Perdamaian adalah situasi tanpa kebencian, tanpa penindasan, tanpa permusuhan dan peperangan. Perdamaian adalah saat semua orang menyapa yang lain sebagai saudara dan saudari. Perdamaian adalah saat kita menggeliat dalam gerakkan untuk melayani dan berbagi. Perdamaian adalah saat mereka yang mendapatkan pelayanan menatap anda dengan haru dan berbisik nyaris tanpa suara “terima kasih!” Perdamaian adalah saat anda berdamai dengan diri anda, dengan semua orang bahkan dengan yang memusuhi anda. Perdamaian adalah seperti bayi Yesus yang terus bertumbuh dan ditumbuhkan. Perdamaian harus dipelihara dan dijaga setiap detik. Perdamaian adalah jati diri kita sebagai manusia sejati ciptaan Allah, Sang Pengasih!

Dalam kerangka pemaknan natal seperti itu, Badan Pekerja Majeli Sinode Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA mengucapkan Selamat hari Natal 2009 dan Tahun baru 2010. Kiranya pengharapan dari Tuhan kita Kristus memberikan kekuatan dan perdamaian bagi kita semua.

Pdt. Dr. Albertus Patty Pdt. Dr. Lazarus H. Purwanto

Ketua I Sekretaris Umum

Lancaran Wiyosipun Gusti [pelog 6]

Menyongsong Natal dengan lagu-lagu berbahasa Jawa. Lancaran “Wiyosipun Gusti”, pelog 6, dibawakan oleh karawitan Pusporini, Karangdowo, Klaten, Jateng

Read the rest of this entry »

Lancaran Sorak Gembira [pelog 6]

Menyongsong Natal dengan tembang Jawa. Lancaran Sorak Gembira pelog 6, dibawakan oleh Karawitan Pusporini, desa Ringinputih, Karangdowo, Klaten

Read the rest of this entry »

Natal Komisi Usia Lanjut

Paduan Suara komisi Usia Lanjut membawakan lancaran Ngarengarga pelog 6. Mereka tampil dalam perayaan natal Komisi Usia Lanjut, GKI Klaten di rumah bapak Suhardjo di desa Ringinputih, Karangdowo, Klaten

Natal Kowulan

Menyongsong Natal dengan melihat lagu Natal dalam nuansa budaya Jawa. Himne “Ya Tuhan Tiap Jam”, dinyanyikan oleh Persekutuan Ruth dengan iringan karawitan “Pusporini.”

Mereka menyanyikannya dalam perayaan Natal Kowulan di rumah bapak Suharjo, Karangdowo, Klaten

KETAATAN MEMBAWA SUKACITA

Mikha 5:2-5a  Lukas 1:47-55  Ibrani 10:5-10   Lukas 1:39-45

Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu  dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:

Tinggal sertaku, hari t’lah senja,

G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!

Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )

Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.

Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu,  Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:

Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.

Kedua : Karena  keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita  seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !

Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.

Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”  Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah  menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja  berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!”  Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah  sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya.  Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!

Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri  tanpa menunggu perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan.  Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan  kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20  ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena  kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang  mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu.  Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!

Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang  dikatakan  sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang  perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan  dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah  Raja eschatologis, dan Raja damai.

Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!

Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Gladi Bersih Natal Kowulan

Ada yang unik dalam perayaan Natal Komisi Warga Usia Lanjut [Kowulan] tahun ini. Lagu yang dinyanyikan dalam rangkaian ibadah Natal adalah tembang berbahasa Jawa dan akan diiringi dengan gamelan. Bahkan votum dan salam juga akan dinyanyikan dengan gaya suluk [nyanyian dalang saat mementaskan wayang] oleh pdt. Emeritus Petrus Sukadi.

Demi kelancaran ibadah, maka seluruh anggota persekutuan Kowulan dan persekutuan Ruth [persekutuan janda-janda] mengadakan gladi bersih di pendopo milik rumah bpk. Suharjo di desa Ringin Putih, kecamatan Karangdowo, Klaten, berjarak sekitar 20 km dari kota Klaten. Dengan menumpang empat mobil, mereka berangkat dari Klaten pukul 9 pagi. Sesampai di lokasi, para pengrawit dari grup Karawitan Pusporini sudah bersiap.

Cara ibadah seperti ini adalah pengalaman baru bagi sebagian jemaat GKI Klaten, terutama emak-emak keturunan Tionghoa. Maka patut dimengerti kalau mereka masih sering salah dalam melafalkan syair-syair dalam berbahasa Jawa. Meski begitu mereka melakukan dengan antusias. Mereka bahkan merencanakan akan membentuk kelompok karawitan di Klaten dan minta pada pelatih karawitan Pusporini supaya melatih mereka juga. Gladi bersih ini berlangsung hingga pukul 14.00
Gladi Bersih

Karawitan Pusporini
Gladi Bersih

Persekutuan Ruth berlatih

Read the rest of this entry »

Jawaban Doa

“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)

Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.

Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.

Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.

Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]

SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.

Ketaatan Maria

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)

Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.

Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]

SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Persembahan Raja

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)

Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.

Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.

Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.

Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]

SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.

Jangan Menahan Kebaikan

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)

Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.

Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?

Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!

Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].

SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.

Bosan Berbuah Lagu

“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mazmur 98:4)

“Gembira” atau “Joy” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati orang Kristen pada masa Adven (menyongsong Natal). Selama masa Adven, gereja di Eropa pada abad ke-17 memiliki tradisi membaca kitab Mazmur. Isaac Watts (18 tahun) merasa bosan dengan cara jemaat menyanyikan ayat-ayat Mazmur.

Ayahnya melihat hal ini. Maka dia memberikan tantangan kepada Watts: “Anak muda, kalau kamu bosan dengan lagu Mazmur ini, mengapa kamu tidak menciptakan lagu yang lebih baik?” Tertantang oleh ucapan ayahnya, bocah Inggris yang sejak usia tahun sudah fasih bahasa Latin ini segera membuka Mazmur 98:4-9. Maka terciptalah lagu yang aslinya berjudul “The Messiah’s Coming and Kingdom“.

Untuk melodinya, Lawol Mason, seorang musisi dari Amerika mengadaptasikannya dari komposisi George Frederick Handel, dari Jerman. Lagu ini kemudian populer dengan judul “Joy to the World” atau “Hai Dunia, Gembiralah”.

Perikop dalam Mazmur 98:4-9 menceritakan janji Tuhan yang akan memulihkan dan melindungi umat-Nya. Janji itu sudah digenapi dengan kedatangan Yesus ke dunia ini. Waktu remaja, saya mendapat janji dibelikan sepeda balap. Saya begitu menantikan janji itu digenapi. Dan ketika orang tua membelikan sepeda balap itu, hati saya meluap sukacita.

Selama berabad-abad Allah menjanjikan keselamatan kepada manusia. Allah telah menggenapi janji itu. Maka, layaknyalah kita bergembira dan bersorak-sorai dalam memperingati penggenapan janji Allah itu. [Purnawan].

SMS from God: Hai dunia bersoraklah. Sambutlah Rajamu. Beri hatimu kepada-Nya dan bersama bersyukur.

Biasa, Diubah Jadi Luarbiasa

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)

Phillips Brooks, adalah seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem, tahun 1865. Tiga tahun kemudian, saat menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.

Philips BrooksBrooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.

Dalam syair itu dikatakan bahwa Betlehem adalah kota yang senyap. Hal itu beralasan, karena Betlehem adalah kota yang kecil. Dia kalah gemerlap dengan kota Yerusalem. Meski begitu, Allah lebih memilih “kota mungil” ini sebagai kelahiran Juruselamat.

Apakah Anda merasa seperti kota Betlehem? Kecil, sepi, tidak gemerlap dan tidak banyak orang yang memperhatikan. Ketahuilah, Allah tidak memedulikan penampilan dan kemampuan kita. Allah hanya menghendaki kemauan kita untuk dipakai-Nya. Bukanlah Allah itu Mahakuasa? Dia mampu mengubah orang-orang biasa seperti Petrus dkk menjadi rasul yang luarbiasa. Dia pun sanggup memerlengkapi kita sesuai dengan kebutuhan panggilan pelayanan-Nya [Purnawan].

SMS from God: Kecil bukan berarti tidak berharga. Allah mampu mengubah kita menjadi besar asalkan kita memberikan diri secara total.

Kebaktian Malam Natal

Kebaktian malam Natal di Klaten berlangsung dengan aman, tenteram, dan tanpa insiden yang berarti. Pada malam Natal ini GKI Klaten terpaksa mengadakan kebaktian selama dua kali karena keterbatasan tempat. Kebaktian pertama dimulai pukul 18.00 dan kebaktian kedua pada pukul 22.00 WIB.
Pada siang harinya, kami sempat dibuat was-was dengan inspeksi keamanan dari pihak kepolisian sampai sebanyak tiga kali. Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya belum pernah diadakan inspeksi seperti ini. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh tim Gegana pada pukul 10.00 pagi. Mereka memeriksa seluruh bangku-bangku gereja, mengecek setiap pot dan melongok setiap kolong dan bawah panggung.
Enam jam kemudian, datang lagi tim dari kepolisian. Kami mengatakan bahwa gereja sudah diperiksa oleh tim Gegana, tetapi mereka tetap ingin memeriksa sekali lagi. “Untuk memastikan supaya situasi aman,”kata pimpinan rombongan. Kami persilakan mereka mengerjakan perintah atasan. Toh tidak ada sesuatu yang mengganggu persiapan kami. Menggunakan detektor metal, mereka sekali lagi memeriksa gedung gereja. Menurut saya, alat itu sebenarnya tidak berfungsi efektif karena banyak metal logam di gereja yang pasti akan membuat alat itu aktif. Tapi toh tak mengapa.Setidaknya penggunaannya dapat menciptakan rasa aman.
Yang mengherankan, satu jam kemudian Kapolres Klaten beserta dengan stafnya meninjau lagi kesiapan kami. Ini baru pertama kali perwira polisi tertinggi di Klaten memeriksa langsung pengamanan Natal. Dalam hal ini kami sebagai warga masyarakat dan warga negara merasa berterimakasih dan terlindungi. Namun hati kecil merasa sedikit heran apakah harus dilakukan pemeriksaan secara beruntun? Ada apa gerangan? Apakah ada sesuatu yang membuat aparat keamanan harus waspada?
Pertanyaan ini menggantung di benak sebagian panitia hingga pelaksanaan kebaktian. Kebaktian  I dihadiri lebih dari 300 orang. Seluruh kursi terisi penuh. kebaktian yang dilayani oleh pdt. Pelangi Kurnia Putri ini diiringi oleh musik Ensemble Gitar. Ada enam pemuda yang mengiringi pujian menggunakan gitar akustik. Sedangkan Kebaktian II yang dipimpin oleh pdt. Phan Bie Thon dihadiri lebih sedikit jemaat. Meski begitu, 90 persen kapasitas tempat duduk terisi oleh anggota jemaat.
Selain mendapat bantuan pengamanan dari kepolisian, kami juga mendapat pengamanan dari Banser (Barusan Serbaguna) dari NU. Ada puluhan pemuda Muslim berpakaian doreng-doreng yang ikut berjaga di depan gereja. Selama ini, gereja kami memang menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan dari NU. Setiap mengadakan Pasar Murah, kami sering melakukannya bersama-sama dengan para santri dan Pondok Pesantren “Pancasila Sakti”, pimpinan kyai karismatik mbah Lim. Itu sebabnya, pada malam Natal ini, mereka menawarkan diri untuk ikut menjaga keamanan selama ibadah berlangsung.
PIC_1022

Ibadah Malam Natal, 24 Desember di GKI Klaten

PIC_1024

Pengamanan dari Banser NU
Video Kabektian Natal

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Retret Pasutri Bakar, bakar, bakar! KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong
Wise Words
sms inspiratif