Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Posts Tagged ‘paskah’

Foto Sembako Murah

Meski baru akan dibuka pada pukul 13.00, namun ratusan masyarakat sudah antri di depan gereja jago. Mereka bermaksud menukarkan kupon untuk mendapatkan sembako dengan harga yang sangat murah.
Dalam rangka Paskah, maka GKI Klaten menggelar Pasar Murah sembako pada tanggal 17 April. Dalam aksi sosial ini, panitia sudah menyiapkan 2.300 paket berupa beras, minyak goreng, gula dan mie instan yang dijual dengan sangat murah. Untuk keperluan pengamanan maka Banser NU di kabupaten Klaten mengerahkan 30 personel ke GKI Klaten.

Pasar Murah Sembako0

PendetaPelangi melayani pembeli
Pasar Murah Sembako

Ibu Maria Mudita, Ibu Sum, IbuLanny Rahmato dkk
Pasar Murah Sembako

Pulang membawa berkat

Pasar Murah Sembako

Kerjasama yang indah dengan Banser NU

Read the rest of this entry »

INJIL YESUS KRISTUS BERKUASA MEMBAHARUI UMAT MANUSIA

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Minggu 18 april 2010 (Paska III}

Kisah Para Rasul 9:1-6,7-20  Mazmur 30  Wahyu 5:11-14  Yohanes 21:1-19

Ada sebuah kapal perang besar yang melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal itu.  Suatu ketika sang supervisor berteriak,” Kapten, ada sesuatu di depan kita.” Kapten menjawab,” Beritahukan kepadanya agar membanting setir 20 derajat ke arah kiri.” Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang harus membanting setir 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah, kemudian memberikan pesan balasan,” Dengar ini adalah perintah dari kapten.” Kemudian datang balasan yang mengatakan,” Ini adalah perintah dari supervisor tingkat II.” Merasa dipermainkan, sang Kapten menjelaskan dengan tegas, “ Kami adalah kapal perang.” Kemudian balasan datang yang mengatakan,” Kami adalah mercusuar.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion }.

Saulus versus Yesus Kristus. Ketika berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan ia adalah seperti sang Kapten kapal perang tersebut. Surat kuasa dari Imam Besar, orang-orang yang menyertainya, Ke-Yahudiannya yang tulen, kewargaan negara Romawi, pendidikan Hukum Taurat dari pemimpin besar orang Farisi, yaitu Gamaliel dan kewibawaan duniawi yang lain, semuanya itu menjadi mubasir dan sia-sia setelah berhadapan dengan Tuhan Yesus. Sebab Yesus seperti mercusuar yang kokoh, dan semua harus tunduk serta menurut  perintahNya. Yesus bukan penyesat, tapi Sang Kebenaran. Dia bukan tawanan dari maut tapi penakluk maut, Dia Mesias yang dijanjikan dan Anak Allah yang mulia. Yesus tidak patut dimusuhi tapi di sembah dan diikuti. Saulus yang mau menawan semua pengikut Kristus, malah telah terjaring dalam kasihNya yang indah. Saulus mau membungkam mulut Yesus, tapi dia dipanggil menjadi pemberita Injil yang membaharui umat manusia.

Read the rest of this entry »

KEBANGKITAN KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH

Oleh Pdt.Em Daud Adiprasetya

Minggu, 4 April 2010 (Paska Pagi)

Bentuk: Ringkasan Khotbah

Kisah Para Rasul 10:34-43  Mazmur 118:1-2, 14-24  I Kor.15:19-26  Yoh.20:1-18

Mertua

Sejak menjadi janda, seorang ibu tinggal serumah dengan putera tunggalnya yang sudah beristeri. Setelah hidup bersama beberapa tahun lamanya, berubahlah sikap sang menantu terhadap ibu mertua itu. Banyak hal telah membuat menantu perempuan itu menjadi semakin membenci ibu mertuanya, sampai dia berharap bisa menyingkirkannya. Suatu hari, meskipun sebenarnya dia itu seorang anak Tuhan, tetapi secara diam-diam pergi minta bantuan kepada seorang dukun di sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Mbah dukun memberi ramuan racun yang jika diminumkan kepada mertua itu, maka akan dapat mencelakai dan membunuhnya. Setelah memperoleh ramuan beracun, dengan memberanikan diri sang menantu melakukan semua petunjuk dari Mbah dukun. Akan tetapi sejak saat itu dia merasa berdosa, dan timbul ketakutan kalau-kalau Tuhan Yesus mengganjarnya dengan hukuman yang berat. Maka berubahlah sikap sang menantu 180 derajat terhadap ibu mertuanya, dia menjadi sangat ramah, hangat dan menunjukkan kasih sayang yang sangat besar. Sambil berprilaku sebaik itu, hatinya dikuasai ketakutan kalau-kalau maut segera menjemput ibu mertuanya. Tapi agaknya ramuan dari dukun desa itu tidak bertuah, atau Tuhan Yesus telah menghancurkan kuasa kegelapan yang dihadirkan oleh dukun desa itu. Sang ibu mertua kelihatan semakin sehat serta hidupnya semakin bahagia saja.  Jalinan kasih di antara kedua wanita itu menjadi semakin manis dan kuat, juga semakin wajar menyenangkan hati mereka berdua! Dengan demikian tahu-tahu tembok pemisah yang kokoh kuat di antara mereka berdua sudah runtuh karena kasih Kristus, dan selanjutnya mereka bisa hidup dalam damai sejahtera yang indah!

Read the rest of this entry »

Juruslamat Pegang Tanganku


Lagu rohani Kristen. Dinyanyikan di GKI Klaten. Dibawakan oleh mahasiswa Universitas Kristen Dutawacana Yogyakarta

Perjalanan ke Emaus [3]

Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.

Read the rest of this entry »

Perjalanan ke Emaus [2]

Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.

Read the rest of this entry »

Perjalanan ke Emaus [1]

Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.

Read the rest of this entry »

Gladi Bersih Jumat Agung

Pada hari Selasa, 30 Maret, pukul 18.00 diadakan gladi bersih untuk ibadah Jumat Agung. Akan ada yang istimewa dalam ibadah nanti, yaitu visualisasi kisah sengsara Yesus melalui video klip dan peragaan secara langsung.

Berikut foto-foto gladi bersih:

Gladi Bersih

Gladi Bersih

Gladi Bersih

Gladi Bersih

Gladi Bersih

KEMATIAN KRISTUS KEMENANGAN KITA

Yesaya 52:13-53:12  Mazmur 22  Ibrani 10:16-25  Yohanes 19:16b-37

Two AngelsDua malaikat sedang mengadakan perjalanan ke sebuah desa, kemudian mereka berhenti di sebuah rumah mewah dan meminta untuk menumpang bermalam di rumah tersebut. Pemilik rumah sangat pelit sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk tidur di kamar tamu yang bagus melainkan diperbolehkan tidur di gudang yang terletak di lantai dasar rumah. Sambil merapikan alas untuk tidur, malaikat yang lebih senior menambal lubang yang terdapat di dinding basement rumah tersebut. Malaikat yang lebih muda kemudian bertanya, “Mengapa engkau membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.”  Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dan malamnya menginap di sebuah rumah petani yang amat miskin. Petani itu sangat menghargai kedua tamunya dan menghidangkan beberapa makanan yang ia miliki. Kemudian kedua tamu ini diberi tempat untuk tidur di kamar utama dengan kasur yang biasa dipakai pemilik rumah, sedangkan petani dan isterinya justru tidur di lantai. Pagi harinya, petani dan isterinya terdengar menangis histeris karena mendapati sapi satu-satunya yang menjadi sumber pendapatan mereka ternyata mati. Malaikat muda berkata marah kepada seniornya, “Mengapa engkau biarkan hal ini terjadi pada orang yang sangat baik kepada kita? Justru kemarin engkau malah membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” Kemudian ia melanjutkan, “Kemarin waktu kita menginap di rumah mewah yang pemiliknya pelit itu, aku menambal lubang yang di dalamnya terdapat emas, sehingga mereka tidak bisa menemukan emas tersebut. Tadi malam, malaikat maut datang untuk mencabut nyawa isteri si petani, tetapi aku membujuknya agar mengganti dengan mencabut nyawa sapinya. Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion ).

Bagi orang dunia pada umumnya, kedengaran sangat janggal bahwa Kematian Kristus Kemenangan Kita. Tapi sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat. Kematian Kristus yang ditandai dengan salib itu ternyata justru merupakan kemenangan dan kebanggaan kita! Kita membaca I Korintus 1:18 demikian, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Cerita di atas tadi mengajar kita supaya jangan tergesa menilai segala sesuatu yang terlihat, terlebih yang terjadi pada Yesus Kristus!

Hamba Tuhan yang tidak menarik! Tidak tampan, bahkan cenderung buruk muka, maka tidak masuk hitungan.  Dia pantas dihina dan dijauhi orang sebab nasibnya jelek, hidup penuh sengsara dan kesakitan. Masyarakat luas mengira bahwa semua itu terjadi sebab dia sedang kena tulah, dipukul dan ditindas Allah untuk semua dosanya. Padahal  dia sedang menanggung akibat dari pemberontakan dan kejahatan sesamanya (Yesaya 53).  Sesuatu tidak seperti apa yang terlihat! Hamba Tuhan yang dihindari dan dibenci itu justru yang seharusnya dihargai sebab telah berjasa besar bagi sesamanya. Jika Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya, sudah sedemikian menyentuh hati  meski baru dalam bentuk gambar saja, terlebih lagi tokoh Yesus Kristus yang  mewujud di dalam kenyataan hidup!

Yesus yang sering disalah mengerti. Begitu hadir sebagai seorang bayi, sudah disalah mengerti oleh raja Herodes. Disangkanya kelak akan menyaingi dan menggulingkan kerajaannya, akibatnya terjadilah banjir darah para bayi sebayaNya yang tak berdosa! Ketika menunjukkan kuasaNya yang bisa mengusir setan dari orang-orang yang kerasukan, dituduh bersahabat dengan Baal Zebul , musuh besarNya. Ketika membuat mujizat-mujizat untuk menguatkan iman umatNya, malah mau dipromosikan sebagai raja dunia. Berjalan di permukaan air sebagai Tuhan, malah disangka hantu. Menyampaikan ajaran benar, disebut penyesat. Datang ke dunia untuk memenuhi Hukum Taurat, malah dikatakan mau merombak Taurat. Bangkit dari kematian sebagai pemenang  yang hebat dan jaya atas maut, malah disapa sebagai tukang kebun. Dalam perjalanan ke Emaus, mau meluruskan pembicaraan yang melenceng, malah disebut satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu menahu tentang berita besar.

Yesus yang tampak lemah tapi kuat ! Keadaan dan sikapNya cocok dengan Hamba Tuhan  dalam Yesaya 53. Menurut dan pasrah seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian. Hal itu telah diungkap dalam Yohanes 19. Seperti induk domba yang kelu ketika diguntingi bulunya. Yesus dipermalukan, hampir ditelanjangi, pakaianNya ditanggalkan lalu diundi di dekatNya. Kekuatan Yesus, adalah bahwa  tetap tegar dan sadar menghadapi semuanya, sampai bisa menyerahkan Maria ibuNya kepada Yohanes. Juga sedikitpun Yesus tidak menunjukkan kekesalan hatiNya lalu mengutuk, tapi Dia malah mendoakan. Tanpa ada rasa menyesal bahwa telah menerima tugas yang begitu berat. Semua diterima dengan penuh kerelaan, sebab sudah dipergumulkan secara tuntas di Taman Getsemani, bahkan di sepanjang hidupNya. Tidak seperti yang terlihat dari luarnya, Yesus tidak minta dikasihani tapi justru merasa kasihan terhadap orang-orang di sekitar kesengsaraanNya. Dia tidak minta bantuan apapun dari manusia, tapi justru mendatangkan rasa kagum kepada orang yang menyaksikan kebesaran jiwaNya.

Yesus yang ditikam dengan tombak ! Ya, di bagian lambungNya seorang prajurit menikam Yesus, hingga mengalir darah bercampur air. Sudah wafat mengapa ditikam juga? Apakah mereka itu kliwat kejam dan tak berpri-kemanusiaan? Atau dilakukan secara iseng semata? Jawab yang tepat adalah, untuk memastikan kematian Yesus.Bapa di sorga tentunya dapat menyetujui prajurit itu, dan kita semua selaku pengikut Kristus seharusnya malah berterima kasih kepadanya, sebab dengan demikian kematian Kristus telah terbukti secara terang benderang. Hal ini sangat penting bagi masa depan Kerajaan Allah, agar kekuatan dan kemajuan kita nanti  berdasarkan kebangkitanNya yang akurat.

Apa arti sebuah kematian ? Apa arti kematian Yesus Kristus ? Bagi kaum Rohaniwan waktu itu, berarti cita-cita mereka sudah tercapai. Kekuasaan atas umat Allah sepenuhnya ada di dalam tangan mereka. Sekarang tak akan ada lagi saingan atau pihak oposisi yang suka menyerang dan bikin risih. Bagi Pontius Pilatus dan Herodes, sepertinya Yesus orang Nasaret itu tidak begitu penting. Kadang memang bisa bikin repot, maka kematian Yesus lebih cepat lebih baik. Bagi para Rasul dan rakyat jelata, kematian Yesus adalah kematiannya sebuah pengharapan dan masa depan. Jika Tuhan dan Guru mereka mati, maka tak ada lagi yang sungguh-sungguh memperhatikan, mendampingi dengan kasih yang besar, serta  mengarahkan jiwa mereka ke jalan Allah yang lurus dan benar. Lalu apa makna kematian Yesus bagi kita sekarang ?  Kematian Kristus kemenangan kita! Yesus mati demi kasih kepada Bapa yang telah mengutusNya, dan sesama manusia yang akan diselamatkanNya, berarti kita yang terwakili olehNya ikut memperoleh kemenangan kasih yang diperjuangkan itu. Maka tidak seharusnya kita masih tinggal  di dalam dan menyukai  kebencian, dendam, iri dan yang sejenisnya yang bertentangan dengan kasih. Yesus mati untuk menebus dosa, yaitu dosa semua umat manusia. Dia telah berhasil sebagai penebus, ditandai dengan hembusan nafasNya yang terakhir. Maka dosa tidak boleh menggila lagi, dan kita jangan menjadi sponsornya yang  mengembangkan terus dosa dalam hidup ini. Kematian Yesus berarti kekalahan bagi  iblis, sebab selamanya iblis merintangi Yesus menuju ke kayu salib. Sekarang kita semakin percaya diri untuk berdiri di belakang Yesus, dalam memerangi  kuasa kegelapan dan semua anteknya. Akhirnya, setelah Yesus berhasil turun ke dalam Kerajaan Maut dan  akan bangkit pada hari yang ketiga, berarti kita sudah ikut mengalahkan maut ngeri serta semua yang berbau maut. Jika kuasa maut yang selama ini paling kita takuti sudah  dikalahkanNya, apalagi segala persoalan hidup yang tak seberapa menakutkan, pasti lebih mudah dikalahkanNya!

Darah Yesus memunculkan keberanian kita ! Kita menapak jalan yang baru melalui diri-Nya ( Ibrani 10:20 ). Setiap anak Tuhan, di dalam dan melalui Yesus Kristus harus bisa melewati masa lalunya yang kelam, memulai lembar hidup baru yang cerah. Jangan lagi hidup dalam keraguan dan ketakutan. Dengan menyebut Nama Yesus dan berpegang pada karya penebusanNya kita mempunyai keberanian untuk menghadap Bapa. Derita keterpisahan dengan Bapa Sorgawi sudah ditanggung oleh Kristus ( Mazmur  22:2 }. Maka kini semua doa yang kita panjatkan, ibadah yang kita lakukan,  macam-macam karya di semua aspek kehidupan ini kita masuki bersama Kristus yang telah menjadi penebus dan sekali gus Imam Besar kita yang sudah mempersembahkan diri, sebagai korban yang satu kali untuk selamanya. Perubahan besar ini, mendatangkan sukacita dan rasa syukur. Suasana hati ini kita jaga agar menetap, dan menggerakkan semangat kebersamaan kita. Mari kita saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik. Mengutamakan pertemuan-pertemuan ibadah dan saling menasehati. Jangan ada yang ketinggalan, ayo kita rayakan hidup baru nan indah ini!

Ada tiga tipe anak Tuhan  yang kita jumpai. Tipe pertama seperti Bola Billiard. Untuk menikmati hidup baru yang indah kita harus mau pro aktif dalam setiap kegiatan gereja. Tapi sayang  masih saja ada orang-orang yang harus didorong dan “disodok” seperti bola billiard. Awas, yang namanya sodokan itu menyakitkan! Apa kita menunggu hentakan yang menyakitkan dari Tuhan, baru mau bertobat dan maju? Tipe kedua seperti Kapal Layar. Orang yang selalu lihat-lihat dulu, jika bisa menguntungkan dan menyenangkan baru mau kerja bagi Tuhan.. Padahal kita upayakan melayani Tuhan dalam segala situasi ( II Tim 4:2 ). Tipe ketiga seperti Jam Rolex.  Melangkah pasti tanpa henti. Menghayati hidup ini sebagai anugerah besar. Jika Tuhan Yesus sudah  mengorbankan segalanya, mari kita jawab dengan mempersembahkan hidup yang berkemenangan bagiNya!

Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya
Jumat 2 April 2010
Jumat Agung

Video Rabu Abu [1]

Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan.

Lari Telanjang

Melihat sekumpulan massa yang mendekat, anak muda ini menjadi panik. Dia melihat ada banyak orang yang bergegas datang sambil membawa pentungan dan senjata tajam. Mereka berjalan dengan wajah beringas. Sambil meneriakkan nama Tuhan, sekelompok orang yang berpakaian jubah dan dikawal tentara ini menerobos kegelapan malam.

Tujuan mereka adalah untuk menangkap sang Guru yang baru saja selesai berdoa. Anak muda ini merupakan salah satu pengikutnya. Gerombolan massa bersenjata itu dipimpin seseorang yang rupanya dikenal baik oleh sang Guru. Dia segera memeluk sang Guru, seraya mencium pipinya. Akan tetapi sesudah itu, massa yang lain segera menggelandang sang Guru dengan mudah. Tanpa perlawanan sedikit pun.

Massa bersenjata ini juga akan menangkap para pengikut sang Guru yang mereka anggap sesat. Melihat situasi ini, anak muda ini menjadi sangat ketakutan. Nalurinya mendorong untuk melarikan. Dia tidak mau mati konyol dan menjadi korban kekejaman massa bersenjata ini.

Malam itu dia hanya mengenakan kain lenan untuk menutup tubuhnya. Ketika beberapa orang mendekatinya dengan wajah murka, maka anak muda ini menanggalkan kain lenan itu dan lari menyelamatkan diri dengan tubuh telanjang!

***

Percaya atau tidak, kisah ini tertulis di dalam Bible. Kisah ini selalu terlewatkan ketika membaca kisah penangkapan Yesus, seperti yang dicatat oleh Markus. Perhatian saya justru tertuju pada perlawanan yang dilakukan oleh salah satu pengikut Yesus yang memotong telinga hamba Imam Besar sampai putus [pada Injil lain, hamba ini bernama Malkhus. Telinganya kemudian dipulihkan kembali oleh Yesus. Ini adalah mukjizat-Nya yang terakhir sebelum kematian-Nya di kayu salib].

Akan tetapi Markus menulis sebuah peristiwa konyol ini, yang tidak terdapat pada Injil-injil yang lain. Mengapa Markus menuliskan hal ini? Siapakah anak muda ini dalam Markus 14:51-52? Mengapa dia juga akan ditangkap?

Beberapa penafsir berpendapat bahwa anak muda ini adalah Lazarus, yang dibangkitkan oleh Yesus dari kematian. Karena mukjizat ini, maka banyak orang yang percaya kepada Yesus. Itu sebabnya, Lazarus menjadi target pembunuhan dari ulama-ulama Yahudi yang tidak menyukai Yesus Yoh. 12:10-11).

Rumah Lazarus di Betania tidak jauh layaknya dari Getsemani. Mungkin pada malam itu, dia terbangun oleh keributan yang sedang terjadi, lalu keluar dengan mengenakan sehelai selimut saja. Di sini timbul persoalan: Apakah orang Yahudi memiliki kebiasaan tidur sambil telanjang? Kata telanjang dalam bahasa Yunani adalah gymnos. Kata ini tidak selalu berarti telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Kata ini juga dipakai untuk melukiskan orang yang hanya memakai pakaian dalam. Mungkin dapat dipahami begini: Ketika kita diajak untuk menghadiri acara resmi atau bepergian, kita akan minta permisi dulu untuk “berpakaian.” Apakah saat itu kita sedang telanjang? Tidak. Kita ingin mengenakan pakaian yang pantas.

Sementara Stefan Leks memberikan penafsiran yang berbeda: Orang muda dalam kisah ini tidak memakai jubah, tetapi hanya mengenakan baju dalam dari kain lenan. Artinya, ia seorang kaya! Ia tidak sempat berpakaian lengkap, sebab ia mau sesegera mungkin sampai ke Getsemani untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh pasukan front pembela Bait Suci ini.

***

Interpretasi lain akan muncul jika kita membaca kitab Amos tentang hari penghakiman. Pada hari penghakiman itu, suasananya sangat mengerikan dan dahsyat sehingga “orang yang berhati berani di antara para pahlawan akan melarikan diri dengan telanjang pada hari itu,” demikianlah firman TUHAN” (Amos 2:16) Penangkapan Yesus adalah awal dari penghakiman yang dinubuatkan Amos.

Banyak orang yang berpendapat bahwa orang muda ini adalah Markus sendiri yang keluarganya memang tinggal di Yerusalem. Menurut tradisi, Yesus mengadakan perjamuan terakhir di rumah Markus. Kalau dugaan ini benar, maka Markus adalah saksi mata kejadian di Getsemani itu.

Usaha penangkapan dirinya diceritakan untuk satu tujuan saja. Ia ingin menegaskan bahwa semua orang yang mengikut Yesus akhirnya melarikan diri dan meninggalkan Yesus. Kata “Seorang muda” dalam bahasa Yunani adalah neaniskos. Kata ini digunakan untuk orang laki-laki yang berusia di antara dua puluh empat dan empat puluh tahun (Arndt, hlm. 536). Yang menarik adalah kata neaniskos juga digunakan untuk menggambarkan seorang muda lainnya, yang menurut Mrk. 16:55, “duduk di sebelah kanan” kubur Yesus yang sudah kosong. Ternyata “orang muda” itu adalah malaikat!

Apakah keduanya merupakan oknum yang sama? Tidak ada keterangan yang pasti. Bisa jadi, keduanya sama. Kedatangan “orang muda” ini di Getsemane adalah untuk menemani Yesus di dalam mengalami pergumulan. Kemungkinan lain, keduanya adalah oknum yang berbeda. Markus menggunakan terminology yang sama untuk membandingkan “pengkhianatan” sebelum penyaliban dan “pemuliaan” setelah kebangkitan, yang sama-sama dilakukan oleh orang muda.

Orang muda biasanya memiliki tubuh kuat, lincah, pemberani dan kadang-kadang nekat. Dalam dua ayat pendek ini kita mendapat pelajaran bahwa kuat dan berani pun tidak cukup untuk mengikut Yesus sampai pada saat penyaliban. Seperti yang dinubuatkan oleh Amos, para prajurit yang punya mental baja juga akan kehilangan nyali pada saat penghakiman tiba.

Hal ini mengingatkan kita supaya tidak menyombongkan kerohanian. Siapakah kita ini dibandingkan murid-murid Yesus. Selama tiga tahun lebih mereka telah dididik oleh Yesus dan menyaksikan sendiri mukjizat yang dilakukan oleh sang Mesias. Namun pada menjelang hari penyaliban tiba, mereka kabur terbirit-birit.

Jika kita masih beriman sampai sekarang ini, itu adalah kasih karunia Allah. Itu sebabnya, saya merasa heran mengetahui ada pendeta yang mengklaim memiliki roh kemartiran. Siapa yang dapat menjamin bahwa kita akan tetap setia pada Yesus jika diperhadapkan pada pilihan antara hidup dan mati? Siapa yang dapat memastikan bahwa kita tidak akan berlari dengan telanjang bulat, tanpa merasa malu, jika kita sudah dikepung oleh musuh-musuh yang ganas?

Menyambut Paskah ini, biarlah dengan kerendahan hati masing-masing berseru: “Kyrie, Kyrie Elesion . . . Tuhan kasihani, Kristus kasihanilah kami.”

Referensi:

Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, Kanisius, 2002

Walter M. Pos, Tafsiran Injil Markus, Kalam Hidup, 1998

http://www.shroud.com/pdfs/n64part4.pdf

http://alkitab.sabda.org/

———————————————–

Saksikan Video Jalan Salib di sini:

Beoscope

Beoscope
Beoscope
Beoscope

Prosesi Jalan Salib:Prelude

Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu, karena pada hari ini kami Kau kumpulkan. Lewat Jalan salib ini kami ingin mengenang kembali Yesus Kristus, yang menderita sengsara demi keselamatan kami.

Semoga Roh Kudus yang Kau curahkan ke dalam hati kami, membuat kami semakin menyadari betapa besar cinta-Mu kepada kami.

Maka lewat Jalan salib ini ajarilah kami, agar kami tidak takut mencintai Engkau dan sesama kami. Demi  Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan persekutuan dengan Roh Kudus selalu mendampingi hidup kami, Allah sepanjang masa. Amin.

Ibadah Rabu Abu

Umat kristiani di Indonesia menandai awal penghayatan masa pra paskah dengan mengadakan ibadah Rabu Abu, 25 Februari. Di GKI Klaten, ibadah dilayani oleh Bono Wiratmo, dosen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan dihadiri sekitar 250 jemaat.

Dalam khotbahnya, mantan imam dari Yesuit ini memaparkan bahwa puasa merupakan sebuah olah rohani yang akhir-akhir mulai ditinggalkan oleh umat kristiani. Dalam olah rohani ini terdapat tiga dimensi, yaitu doa, sedekah dan puasa. Semuanya diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. Pada bagian lain, dosen di Universitas Sanatha Darma ini juga menguraikan Mazmur 51 yang merupakan salah satu mazmur pertobatan yang sangat indah. Mazmur ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama merupakan pengakuan pemazmur atas kasih setia dan rahmat Allah yang besar. Bagian kedua, pemazmur mengakui segala dosanya dan memohon pengampunan Allah. Bagian keempat berisi perasaan sukacita dari orang-orang yang telah diampuni. Bagian keeempat, tindakan pemazmur untuk memberitakan perbuatan Allah.
Selepas pelayanan Firman dilanjutkan dengan prosesi pengolesan abu. Semua jemaat maju ke altar untuk mengoleskan abu di kening mereka sendiri.
****
Masa pra paskah merupakan masa dimana umat mempersiapkan diri untuk memasuki masa raya gereja. Pra paskah tidak diisi melulu dengan dukacita dan pergumulan berat, tetapi juga kesukaan dan pengharapan sebab di sinilah waktu dan kesempatan gereja untuk menghayati peristiwa salib Kristus. Masa pra paskah adalah kesempatan spiritual umat untuk lebih mengenal kasih Allah melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.
Istilah “pra paskah” hanya digunakan di Indonesia. Bahasa lain menggunakan kata lent atau lenten (Inggris) yang artinya musim semi. Dalam bahasa latin disebut quadragesima, artinya ”empatpuluh”.
Hari pertama sebagai pembuka masa pra paskah adalahg dengan ibadah Rabu Abu. Abu dipakai sebagai kiasan yang berarti tak berharga (Yes. 44:20) dan memuakkan (Ayub 30:19), kesengsaraan (Mzm 102:9; Yer. 6:26) dan malu ( 2 Sam 13:19), kerendahan diri di hadapan Allah (Kej. 18:27; Ayb 42:6) dan perasaan sedih karena berdosa (Dan. 9:3; Mat 11:21).
Nama “Rabu Abu” berasal dari ritual Gereja yang sudah ada sejak kurang lebih abad kesepuluh Masehi, yaitu pengolesan abu berbentuk salib pada kepala atau kening/dahi umat sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Allah. Ritual itu sekaligus juga menyimbolkan perkabungan dan dukacita karena hadirnya maut ke dalam dunia sebagai upah dosa.
Untuk menyaksikan videonya, silakan klik di sini
Sumber:
Artikel “The Season of Lent” oleh Dennis Bratcher
Rasid Rachman, “Hari Raya Liturgi”, BPK Gunung Mulia
____, “Ensikopedia Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, OMF

Rabu Abu 2009

Rabu Abu 2009

Rabu Abu 2009

Jalan Salib

Catatan Perjalanan oleh Purnawan Kristanto

Akibat dari reformasi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther, John Calvin dan kawan-kawan, gereja protestan cenderung ‘lebih miskin’ dalam hal laku spritualitas, seperti yang dimiliki oleh gereja katolik. Ketika akan merayakan hari-hari besar gerejawi, pegiat gereja protestan kadang menemui kesulitan dalam merancang kegiatan. Sebagai contoh, pada saat menggelar ibadah Rabu Abu sebagai penanda masa pra paskah, gereja kami kesulitan merancang liturgi ibadah karena belum pernah memiliki tradisi ibadah ini.

Kegagapan serupa juga ditemui ketika Panitia Paskah akan merencang prosesi Jalan Salib pada ibadah Jum’at Agung tahun depan. Atas dasar itu, maka gereja kami memutuskan untuk belajar dari gereja Katolik yang telah lama memiliki tradisi ini. Kami memilih untuk berkunjung dan berziarah ke gereja katolik di Pohsarang.
Fajar hari Sabtu, tanggal 29 Nopember, belum menyingsing, namun kami sudah berkumpul di gereja. Setelah berdoa meminta pertolongan Tuhan, tiga mobil yang mengangkut 15 orang ke arah Solo. Jalan masih sepi. Sesekali kami menyalib truk-truk besar yang berjalan lambat. Sesampai di Pakis, mobil yang dikemudikan pak Bambang Murnanto berbelok kanan menuju arah Baki. Mereka akan lebih dulu mengantar Ny. Budi Nugroho Sulaiman ke Solo Baru. Sementara itu mobil yang saya tumpangi dan mobil yang dikemudikan pak Wim Seimahuira memilih lurus ke arah Kartasura dengan perhitungan jarak yang lebih dekat. Kami bersepakat untuk bertemu lagi di wilayah Perhutani Mantingan, untuk beristrahat sambil sarapan pagi. Namun perhitungan kami meleset. Ketika sampai di wilayah Palur, jalanan sudah sangat ramai oleh anak sekolah dan buruh pabrik. Akibatnya mobil hanya bisa merayap lambat. Rombongan pak Bambang Murnanto justru sampai lebih dulu di titik pertemuan.
Usai sarapan pagi, tanpa membuang waktu, kami melanjutkan perjalanan melewati Ngawi, Nganjuk, Madiun, Kediri, kemudian berbelok ke kanan ke arah Puhsarang. Sampai di lokasi, jarum jam menunjuk 11 (sebelas). Sebelumnya kami membayar retribusi Rp. 6.000,- untuk tiga mobil. Dari tempat parkir, kami harus berjalan meniti tangga sejauh 500 meter sebelum masuk pintu gerbang pertama. Pada bagian luar, berjajar warung sederhana. Yang unik, beberapa warung memutar lagu-lagu rohani dengan suara yang keras. Mungkin ini sebagai alat promosi untuk menarik minat pengunjung. Setelah itu, terdapat kios-kios yang menjual aksesoris kerohanian seperti salib, patung keluarga kudus, lilin, dan jerigen plastik. Untuk apa jerigen plastik? Untuk menampung air yang keluar di gua Maria Lourdess. Mungkin ini semacam air dari sumur Zam-zam yang diyakini umat muslim.
Kios itu juga menjual kaset, CD dan VCD rohani. Ketika saya amati sekilas, semua CD dan VCD yang dijual di sana, semuanya bajakan! Saya bertanya dalam hati:”Apakah orang-orang yang membeli CD atau VCD itu tidak tahu kalau perbuatan mereka ini termasuk pencurian? Lalu apa gunanya mereka beribadah di tempat ini?” Saya tidak menyalahkan para pedagang, sebab sesuai hukum ekonomi ‘ada permintaan maka ada penawaran.’ Seandainya setiap peziarah menyadari bahwa kesalehan yang mereka lakoni juga harus ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, —dalam hal ini mengemohi barang bajakan—tentunya tidak ada orang yang berminat menggandakan dan menjual barang bajakan itu.
Dari Sireng-sireng
Di ujung deretan kios, kami disambut oleh pintu gerbang yang terbuat dari batu kali. Bagian atas melengkung dan tergantung tulisan “Gua Maria Lourdess”. Begitu masuk, langsung terlihat atap bangunan yang mencolok. Bangunannya mirip pendopo dalam arsitektur Jawa, tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata ada perbedaan dan keunikan. Berbeda dengan pendopo yang memiliki empat tiang (soko guru) di tengah, tiang pada bangunan ini justru ada keempat pojok bangunan. Atapnya ditutup menggunakan genting. Uniknya tidak diletakkan di atas kayu usuk, tetapi disusun di atas jaring-jaring kawat baja yang ditarik dan ditembatkan pada keempat tiang besi besar di setiap pojok. Dengan kata lain, bangunan ini mirip sekali dengan tenda di Timur Tengah. Rupanya perancang bangunan ini mendapat inspirasi dari kemah Tabernakel umat Israel. Jika dilihat dari bawah, atap bangunan ini seperti menggelantung pada bagian tengah (Jawa: ngelendhong). Mirip sekali kain tenda yang ditarik pada keempat ujungnya.
Dari Sireng-sireng
Setelah beristirahat sejenal di gedung serbaguna ini, kami berjalan ke area gua Maria. Pada sisi kiri terdapat tebing batu buatan yang sangat tinggi. Pada bagian paling kanan di tebing tersebut, terpasang patung bunda Maria yang sangat besar. Beberapa orang terlihat sedang berdoa dengan khusyuk. Ada pemandangan yang cukup menarik. Saya melihat beberapa perempuan memakai jilbab ada di sana. Entah untuk tujuan apa mereka di sana. Mungkin sekadar plesiran; atau mencari mukjizat kesembuhan; atau untuk tujuan lain. Entahlah, saya tidak sempat berbincang untuk bertanya maksudnya. Tapi setidak-tidaknya saya menangkap aura perdamaian dan cinta kasih di sana.
Tidak lama kami ada di sini, karena tujuan kami adalah ke lokasi Jalan Salib Bukit Golgota, yang ada di paling ujung. Lokasi ini diawali dengan gapura serupa di pintu masuk gua Maria. Begitu masuk lokasi, kami segera menyiapkan diri dalam keheningan. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin dan bunyi batang-batang bambu yang bergesekan mewarnai keheningan. Kami memulai prosesi pada perhentian pertama: Yesus Dihukum Mati. Pada setiap perhentian, terdapat sebuah adegan yang menggambarkan peristiwa tersebut. Adegan-adegan yang digambarkan di tempat ini terbilang istimewa. Pada tempat-tempat peziarah yang lain, prosesi jalan salib biasanya digambarkan dalam wujud dua dimensi atau relief, namun di sini, penggambarannya dalam rupa tiga dimensi. Figur-figur dibuat dalam bentuk patung dengan ukuran yang sebenarnya.
Ada lima belas perhentian yang harus dijalani dalam prosesi jalan salib ini.
Perhentian I: Yesus Dihukum Mati;
Perhentian II:Yesus Memanggul Salib-Nya;
Perhentian III: Yesus Jatuh untuk Pertama kalinya di Bawah Salib;
Dari Sireng-sireng
Perhentian IV: Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya;
Perhentian V: Yesus Ditolong Simon dari Kirene;
Perhentian VI: Veronika Mengusap Wajah Yesus;
Perhentian VII: Yesus Jatuh untuk Kedua kalinya di Bawah Salib;
Perhentian VIII: Wanita-wanita Yerusalem Meratapi Yesus;
Perhentian IX: Yesus Jatuh untuk Ketiga kalinya di Bawah Salib;
Perhentian X: Pakaian Yesus Ditanggalkan;
Perhentian XI: Yesus Dipaku di Kayu Salib;
Perhentian XII: Yesus wafat di Kayu Salib;
Perhentian XIII: Yesus Diturunkan dari Salib;
Perhentian XIV: Yesus Dimakamkan;
Perhentian XV: Yesus Bangkit.
Arah prosesi ini melingkar searah jarum jam dan mendaki ke atas bukit. Pada puncak bukit terdapat Perhentian Keduabelas, yaitu Yesus tergantung di atas kayu salib. Setelah itu, arah pejalanan menurun hingga perhentian terakhir. Pada semua perhentian terdapat patung-patung seukuran manusia dewasa di Timur Tengah, namun pada perhentian terakhir hanya terdapat sebuah goa kuburan yang kosong. Di sampingnya ada batu besar penutup goa yang telah terguling.
****
Dokter Hendropriyono mengaku terkesan dengan prosesi jalan salib ini. Dia sudah lebih dari satu kali berziarah di Pohsarang ini. Tapi setiap kali datang, dia mengaku mendapatkan berkat rohani yang baru. Hal senada diungkapkan oleh ibu Roestanto. Janda pendeta ini juga sudah pernah berziarah di sini, tapi dia selalu merasa mendapat pembaharuan iman setiap kali berziarah di sini. Meski usianya sudah lanjut dan fisiknya sudah lemah, tapi ibu Roestanto masih bersemangat mengikuti proses ini hingga tuntas. Pada perhentian tertentu, dia terlihat menitikkan air mata.
***
Sekitar pukul dua siang, rombongan kami bergerak pulang. Sebelumnya kami mampir di kota Kediri untuk membeli oleh-oleh khas kota ini, yaitu Tahu Pong dan Tahu Takwa. Harganya Rp.1.000,-/besek, isinya 10 potong tahu. Oleh-oleh lain yang juga khas kota ini adalah kopi bubuk, gethuk pisang dan krupuk padang pasair (krupuk yang digoreng menggunakan pasir panas)..
Setelah menyantap makan siang, rombongan bergegas menuju kota Klaten. Perjanlanan pulang lebih lancar daripada keberangkatan. Selepas Maghrib, kami sudah memasuki kota Solo. Maki beristirahat sejenak untuk makan malam di lesehan Kotta Barat. Setelah itu meluncur ke Klaten. Sampai di rumah sekitar pukul delapan malam.
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Retret Pasutri KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Bakar, bakar, bakar!
Wise Words
sms inspiratif