Video Rabu Abu [1]

0

Posted on : 18-02-2010 | By : GKI | In : Warta Jemaat, video
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan.

Lari Telanjang

0

Posted on : 06-04-2009 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Melihat sekumpulan massa yang mendekat, anak muda ini menjadi panik. Dia melihat ada banyak orang yang bergegas datang sambil membawa pentungan dan senjata tajam. Mereka berjalan dengan wajah beringas. Sambil meneriakkan nama Tuhan, sekelompok orang yang berpakaian jubah dan dikawal tentara ini menerobos kegelapan malam.

Tujuan mereka adalah untuk menangkap sang Guru yang baru saja selesai berdoa. Anak muda ini merupakan salah satu pengikutnya. Gerombolan massa bersenjata itu dipimpin seseorang yang rupanya dikenal baik oleh sang Guru. Dia segera memeluk sang Guru, seraya mencium pipinya. Akan tetapi sesudah itu, massa yang lain segera menggelandang sang Guru dengan mudah. Tanpa perlawanan sedikit pun.

Massa bersenjata ini juga akan menangkap para pengikut sang Guru yang mereka anggap sesat. Melihat situasi ini, anak muda ini menjadi sangat ketakutan. Nalurinya mendorong untuk melarikan. Dia tidak mau mati konyol dan menjadi korban kekejaman massa bersenjata ini.

Malam itu dia hanya mengenakan kain lenan untuk menutup tubuhnya. Ketika beberapa orang mendekatinya dengan wajah murka, maka anak muda ini menanggalkan kain lenan itu dan lari menyelamatkan diri dengan tubuh telanjang!

***

Percaya atau tidak, kisah ini tertulis di dalam Bible. Kisah ini selalu terlewatkan ketika membaca kisah penangkapan Yesus, seperti yang dicatat oleh Markus. Perhatian saya justru tertuju pada perlawanan yang dilakukan oleh salah satu pengikut Yesus yang memotong telinga hamba Imam Besar sampai putus [pada Injil lain, hamba ini bernama Malkhus. Telinganya kemudian dipulihkan kembali oleh Yesus. Ini adalah mukjizat-Nya yang terakhir sebelum kematian-Nya di kayu salib].

Akan tetapi Markus menulis sebuah peristiwa konyol ini, yang tidak terdapat pada Injil-injil yang lain. Mengapa Markus menuliskan hal ini? Siapakah anak muda ini dalam Markus 14:51-52? Mengapa dia juga akan ditangkap?

Beberapa penafsir berpendapat bahwa anak muda ini adalah Lazarus, yang dibangkitkan oleh Yesus dari kematian. Karena mukjizat ini, maka banyak orang yang percaya kepada Yesus. Itu sebabnya, Lazarus menjadi target pembunuhan dari ulama-ulama Yahudi yang tidak menyukai Yesus Yoh. 12:10-11).

Rumah Lazarus di Betania tidak jauh layaknya dari Getsemani. Mungkin pada malam itu, dia terbangun oleh keributan yang sedang terjadi, lalu keluar dengan mengenakan sehelai selimut saja. Di sini timbul persoalan: Apakah orang Yahudi memiliki kebiasaan tidur sambil telanjang? Kata telanjang dalam bahasa Yunani adalah gymnos. Kata ini tidak selalu berarti telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Kata ini juga dipakai untuk melukiskan orang yang hanya memakai pakaian dalam. Mungkin dapat dipahami begini: Ketika kita diajak untuk menghadiri acara resmi atau bepergian, kita akan minta permisi dulu untuk “berpakaian.” Apakah saat itu kita sedang telanjang? Tidak. Kita ingin mengenakan pakaian yang pantas.

Sementara Stefan Leks memberikan penafsiran yang berbeda: Orang muda dalam kisah ini tidak memakai jubah, tetapi hanya mengenakan baju dalam dari kain lenan. Artinya, ia seorang kaya! Ia tidak sempat berpakaian lengkap, sebab ia mau sesegera mungkin sampai ke Getsemani untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh pasukan front pembela Bait Suci ini.

***

Interpretasi lain akan muncul jika kita membaca kitab Amos tentang hari penghakiman. Pada hari penghakiman itu, suasananya sangat mengerikan dan dahsyat sehingga “orang yang berhati berani di antara para pahlawan akan melarikan diri dengan telanjang pada hari itu,” demikianlah firman TUHAN” (Amos 2:16) Penangkapan Yesus adalah awal dari penghakiman yang dinubuatkan Amos.

Banyak orang yang berpendapat bahwa orang muda ini adalah Markus sendiri yang keluarganya memang tinggal di Yerusalem. Menurut tradisi, Yesus mengadakan perjamuan terakhir di rumah Markus. Kalau dugaan ini benar, maka Markus adalah saksi mata kejadian di Getsemani itu.

Usaha penangkapan dirinya diceritakan untuk satu tujuan saja. Ia ingin menegaskan bahwa semua orang yang mengikut Yesus akhirnya melarikan diri dan meninggalkan Yesus. Kata “Seorang muda” dalam bahasa Yunani adalah neaniskos. Kata ini digunakan untuk orang laki-laki yang berusia di antara dua puluh empat dan empat puluh tahun (Arndt, hlm. 536). Yang menarik adalah kata neaniskos juga digunakan untuk menggambarkan seorang muda lainnya, yang menurut Mrk. 16:55, “duduk di sebelah kanan” kubur Yesus yang sudah kosong. Ternyata “orang muda” itu adalah malaikat!

Apakah keduanya merupakan oknum yang sama? Tidak ada keterangan yang pasti. Bisa jadi, keduanya sama. Kedatangan “orang muda” ini di Getsemane adalah untuk menemani Yesus di dalam mengalami pergumulan. Kemungkinan lain, keduanya adalah oknum yang berbeda. Markus menggunakan terminology yang sama untuk membandingkan “pengkhianatan” sebelum penyaliban dan “pemuliaan” setelah kebangkitan, yang sama-sama dilakukan oleh orang muda.

Orang muda biasanya memiliki tubuh kuat, lincah, pemberani dan kadang-kadang nekat. Dalam dua ayat pendek ini kita mendapat pelajaran bahwa kuat dan berani pun tidak cukup untuk mengikut Yesus sampai pada saat penyaliban. Seperti yang dinubuatkan oleh Amos, para prajurit yang punya mental baja juga akan kehilangan nyali pada saat penghakiman tiba.

Hal ini mengingatkan kita supaya tidak menyombongkan kerohanian. Siapakah kita ini dibandingkan murid-murid Yesus. Selama tiga tahun lebih mereka telah dididik oleh Yesus dan menyaksikan sendiri mukjizat yang dilakukan oleh sang Mesias. Namun pada menjelang hari penyaliban tiba, mereka kabur terbirit-birit.

Jika kita masih beriman sampai sekarang ini, itu adalah kasih karunia Allah. Itu sebabnya, saya merasa heran mengetahui ada pendeta yang mengklaim memiliki roh kemartiran. Siapa yang dapat menjamin bahwa kita akan tetap setia pada Yesus jika diperhadapkan pada pilihan antara hidup dan mati? Siapa yang dapat memastikan bahwa kita tidak akan berlari dengan telanjang bulat, tanpa merasa malu, jika kita sudah dikepung oleh musuh-musuh yang ganas?

Menyambut Paskah ini, biarlah dengan kerendahan hati masing-masing berseru: “Kyrie, Kyrie Elesion . . . Tuhan kasihani, Kristus kasihanilah kami.”

Referensi:

Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, Kanisius, 2002

Walter M. Pos, Tafsiran Injil Markus, Kalam Hidup, 1998

http://www.shroud.com/pdfs/n64part4.pdf

http://alkitab.sabda.org/

———————————————–

Saksikan Video Jalan Salib di sini:

Beoscope

Beoscope
Beoscope
Beoscope

Prosesi Jalan Salib:Prelude

0

Posted on : 06-04-2009 | By : GKI | In : video
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu, karena pada hari ini kami Kau kumpulkan. Lewat Jalan salib ini kami ingin mengenang kembali Yesus Kristus, yang menderita sengsara demi keselamatan kami.

Semoga Roh Kudus yang Kau curahkan ke dalam hati kami, membuat kami semakin menyadari betapa besar cinta-Mu kepada kami.

Maka lewat Jalan salib ini ajarilah kami, agar kami tidak takut mencintai Engkau dan sesama kami. Demi  Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan persekutuan dengan Roh Kudus selalu mendampingi hidup kami, Allah sepanjang masa. Amin.

Ibadah Rabu Abu

0

Posted on : 25-02-2009 | By : GKI | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Umat kristiani di Indonesia menandai awal penghayatan masa pra paskah dengan mengadakan ibadah Rabu Abu, 25 Februari. Di GKI Klaten, ibadah dilayani oleh Bono Wiratmo, dosen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan dihadiri sekitar 250 jemaat.

Dalam khotbahnya, mantan imam dari Yesuit ini memaparkan bahwa puasa merupakan sebuah olah rohani yang akhir-akhir mulai ditinggalkan oleh umat kristiani. Dalam olah rohani ini terdapat tiga dimensi, yaitu doa, sedekah dan puasa. Semuanya diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. Pada bagian lain, dosen di Universitas Sanatha Darma ini juga menguraikan Mazmur 51 yang merupakan salah satu mazmur pertobatan yang sangat indah. Mazmur ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama merupakan pengakuan pemazmur atas kasih setia dan rahmat Allah yang besar. Bagian kedua, pemazmur mengakui segala dosanya dan memohon pengampunan Allah. Bagian keempat berisi perasaan sukacita dari orang-orang yang telah diampuni. Bagian keeempat, tindakan pemazmur untuk memberitakan perbuatan Allah.
Selepas pelayanan Firman dilanjutkan dengan prosesi pengolesan abu. Semua jemaat maju ke altar untuk mengoleskan abu di kening mereka sendiri.
****
Masa pra paskah merupakan masa dimana umat mempersiapkan diri untuk memasuki masa raya gereja. Pra paskah tidak diisi melulu dengan dukacita dan pergumulan berat, tetapi juga kesukaan dan pengharapan sebab di sinilah waktu dan kesempatan gereja untuk menghayati peristiwa salib Kristus. Masa pra paskah adalah kesempatan spiritual umat untuk lebih mengenal kasih Allah melalui pertobatan yang sungguh-sungguh.
Istilah “pra paskah” hanya digunakan di Indonesia. Bahasa lain menggunakan kata lent atau lenten (Inggris) yang artinya musim semi. Dalam bahasa latin disebut quadragesima, artinya ”empatpuluh”.
Hari pertama sebagai pembuka masa pra paskah adalahg dengan ibadah Rabu Abu. Abu dipakai sebagai kiasan yang berarti tak berharga (Yes. 44:20) dan memuakkan (Ayub 30:19), kesengsaraan (Mzm 102:9; Yer. 6:26) dan malu ( 2 Sam 13:19), kerendahan diri di hadapan Allah (Kej. 18:27; Ayb 42:6) dan perasaan sedih karena berdosa (Dan. 9:3; Mat 11:21).
Nama “Rabu Abu” berasal dari ritual Gereja yang sudah ada sejak kurang lebih abad kesepuluh Masehi, yaitu pengolesan abu berbentuk salib pada kepala atau kening/dahi umat sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Allah. Ritual itu sekaligus juga menyimbolkan perkabungan dan dukacita karena hadirnya maut ke dalam dunia sebagai upah dosa.
Untuk menyaksikan videonya, silakan klik di sini
Sumber:
Artikel “The Season of Lent” oleh Dennis Bratcher
Rasid Rachman, “Hari Raya Liturgi”, BPK Gunung Mulia
____, “Ensikopedia Alkitab Masa Kini”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, OMF

Rabu Abu 2009

Rabu Abu 2009

Rabu Abu 2009

Jalan Salib

1

Posted on : 02-12-2008 | By : Purnawan | In : Umum
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Catatan Perjalanan oleh Purnawan Kristanto

Akibat dari reformasi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther, John Calvin dan kawan-kawan, gereja protestan cenderung ‘lebih miskin’ dalam hal laku spritualitas, seperti yang dimiliki oleh gereja katolik. Ketika akan merayakan hari-hari besar gerejawi, pegiat gereja protestan kadang menemui kesulitan dalam merancang kegiatan. Sebagai contoh, pada saat menggelar ibadah Rabu Abu sebagai penanda masa pra paskah, gereja kami kesulitan merancang liturgi ibadah karena belum pernah memiliki tradisi ibadah ini.

Kegagapan serupa juga ditemui ketika Panitia Paskah akan merencang prosesi Jalan Salib pada ibadah Jum’at Agung tahun depan. Atas dasar itu, maka gereja kami memutuskan untuk belajar dari gereja Katolik yang telah lama memiliki tradisi ini. Kami memilih untuk berkunjung dan berziarah ke gereja katolik di Pohsarang.
Fajar hari Sabtu, tanggal 29 Nopember, belum menyingsing, namun kami sudah berkumpul di gereja. Setelah berdoa meminta pertolongan Tuhan, tiga mobil yang mengangkut 15 orang ke arah Solo. Jalan masih sepi. Sesekali kami menyalib truk-truk besar yang berjalan lambat. Sesampai di Pakis, mobil yang dikemudikan pak Bambang Murnanto berbelok kanan menuju arah Baki. Mereka akan lebih dulu mengantar Ny. Budi Nugroho Sulaiman ke Solo Baru. Sementara itu mobil yang saya tumpangi dan mobil yang dikemudikan pak Wim Seimahuira memilih lurus ke arah Kartasura dengan perhitungan jarak yang lebih dekat. Kami bersepakat untuk bertemu lagi di wilayah Perhutani Mantingan, untuk beristrahat sambil sarapan pagi. Namun perhitungan kami meleset. Ketika sampai di wilayah Palur, jalanan sudah sangat ramai oleh anak sekolah dan buruh pabrik. Akibatnya mobil hanya bisa merayap lambat. Rombongan pak Bambang Murnanto justru sampai lebih dulu di titik pertemuan.
Usai sarapan pagi, tanpa membuang waktu, kami melanjutkan perjalanan melewati Ngawi, Nganjuk, Madiun, Kediri, kemudian berbelok ke kanan ke arah Puhsarang. Sampai di lokasi, jarum jam menunjuk 11 (sebelas). Sebelumnya kami membayar retribusi Rp. 6.000,- untuk tiga mobil. Dari tempat parkir, kami harus berjalan meniti tangga sejauh 500 meter sebelum masuk pintu gerbang pertama. Pada bagian luar, berjajar warung sederhana. Yang unik, beberapa warung memutar lagu-lagu rohani dengan suara yang keras. Mungkin ini sebagai alat promosi untuk menarik minat pengunjung. Setelah itu, terdapat kios-kios yang menjual aksesoris kerohanian seperti salib, patung keluarga kudus, lilin, dan jerigen plastik. Untuk apa jerigen plastik? Untuk menampung air yang keluar di gua Maria Lourdess. Mungkin ini semacam air dari sumur Zam-zam yang diyakini umat muslim.
Kios itu juga menjual kaset, CD dan VCD rohani. Ketika saya amati sekilas, semua CD dan VCD yang dijual di sana, semuanya bajakan! Saya bertanya dalam hati:”Apakah orang-orang yang membeli CD atau VCD itu tidak tahu kalau perbuatan mereka ini termasuk pencurian? Lalu apa gunanya mereka beribadah di tempat ini?” Saya tidak menyalahkan para pedagang, sebab sesuai hukum ekonomi ‘ada permintaan maka ada penawaran.’ Seandainya setiap peziarah menyadari bahwa kesalehan yang mereka lakoni juga harus ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, —dalam hal ini mengemohi barang bajakan—tentunya tidak ada orang yang berminat menggandakan dan menjual barang bajakan itu.
Dari Sireng-sireng
Di ujung deretan kios, kami disambut oleh pintu gerbang yang terbuat dari batu kali. Bagian atas melengkung dan tergantung tulisan “Gua Maria Lourdess”. Begitu masuk, langsung terlihat atap bangunan yang mencolok. Bangunannya mirip pendopo dalam arsitektur Jawa, tetapi setelah diamati lebih dekat ternyata ada perbedaan dan keunikan. Berbeda dengan pendopo yang memiliki empat tiang (soko guru) di tengah, tiang pada bangunan ini justru ada keempat pojok bangunan. Atapnya ditutup menggunakan genting. Uniknya tidak diletakkan di atas kayu usuk, tetapi disusun di atas jaring-jaring kawat baja yang ditarik dan ditembatkan pada keempat tiang besi besar di setiap pojok. Dengan kata lain, bangunan ini mirip sekali dengan tenda di Timur Tengah. Rupanya perancang bangunan ini mendapat inspirasi dari kemah Tabernakel umat Israel. Jika dilihat dari bawah, atap bangunan ini seperti menggelantung pada bagian tengah (Jawa: ngelendhong). Mirip sekali kain tenda yang ditarik pada keempat ujungnya.
Dari Sireng-sireng
Setelah beristirahat sejenal di gedung serbaguna ini, kami berjalan ke area gua Maria. Pada sisi kiri terdapat tebing batu buatan yang sangat tinggi. Pada bagian paling kanan di tebing tersebut, terpasang patung bunda Maria yang sangat besar. Beberapa orang terlihat sedang berdoa dengan khusyuk. Ada pemandangan yang cukup menarik. Saya melihat beberapa perempuan memakai jilbab ada di sana. Entah untuk tujuan apa mereka di sana. Mungkin sekadar plesiran; atau mencari mukjizat kesembuhan; atau untuk tujuan lain. Entahlah, saya tidak sempat berbincang untuk bertanya maksudnya. Tapi setidak-tidaknya saya menangkap aura perdamaian dan cinta kasih di sana.
Tidak lama kami ada di sini, karena tujuan kami adalah ke lokasi Jalan Salib Bukit Golgota, yang ada di paling ujung. Lokasi ini diawali dengan gapura serupa di pintu masuk gua Maria. Begitu masuk lokasi, kami segera menyiapkan diri dalam keheningan. Gemerisik daun bambu yang tertiup angin dan bunyi batang-batang bambu yang bergesekan mewarnai keheningan. Kami memulai prosesi pada perhentian pertama: Yesus Dihukum Mati. Pada setiap perhentian, terdapat sebuah adegan yang menggambarkan peristiwa tersebut. Adegan-adegan yang digambarkan di tempat ini terbilang istimewa. Pada tempat-tempat peziarah yang lain, prosesi jalan salib biasanya digambarkan dalam wujud dua dimensi atau relief, namun di sini, penggambarannya dalam rupa tiga dimensi. Figur-figur dibuat dalam bentuk patung dengan ukuran yang sebenarnya.
Ada lima belas perhentian yang harus dijalani dalam prosesi jalan salib ini.
Perhentian I: Yesus Dihukum Mati;
Perhentian II:Yesus Memanggul Salib-Nya;
Perhentian III: Yesus Jatuh untuk Pertama kalinya di Bawah Salib;
Dari Sireng-sireng
Perhentian IV: Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya;
Perhentian V: Yesus Ditolong Simon dari Kirene;
Perhentian VI: Veronika Mengusap Wajah Yesus;
Perhentian VII: Yesus Jatuh untuk Kedua kalinya di Bawah Salib;
Perhentian VIII: Wanita-wanita Yerusalem Meratapi Yesus;
Perhentian IX: Yesus Jatuh untuk Ketiga kalinya di Bawah Salib;
Perhentian X: Pakaian Yesus Ditanggalkan;
Perhentian XI: Yesus Dipaku di Kayu Salib;
Perhentian XII: Yesus wafat di Kayu Salib;
Perhentian XIII: Yesus Diturunkan dari Salib;
Perhentian XIV: Yesus Dimakamkan;
Perhentian XV: Yesus Bangkit.
Arah prosesi ini melingkar searah jarum jam dan mendaki ke atas bukit. Pada puncak bukit terdapat Perhentian Keduabelas, yaitu Yesus tergantung di atas kayu salib. Setelah itu, arah pejalanan menurun hingga perhentian terakhir. Pada semua perhentian terdapat patung-patung seukuran manusia dewasa di Timur Tengah, namun pada perhentian terakhir hanya terdapat sebuah goa kuburan yang kosong. Di sampingnya ada batu besar penutup goa yang telah terguling.
****
Dokter Hendropriyono mengaku terkesan dengan prosesi jalan salib ini. Dia sudah lebih dari satu kali berziarah di Pohsarang ini. Tapi setiap kali datang, dia mengaku mendapatkan berkat rohani yang baru. Hal senada diungkapkan oleh ibu Roestanto. Janda pendeta ini juga sudah pernah berziarah di sini, tapi dia selalu merasa mendapat pembaharuan iman setiap kali berziarah di sini. Meski usianya sudah lanjut dan fisiknya sudah lemah, tapi ibu Roestanto masih bersemangat mengikuti proses ini hingga tuntas. Pada perhentian tertentu, dia terlihat menitikkan air mata.
***
Sekitar pukul dua siang, rombongan kami bergerak pulang. Sebelumnya kami mampir di kota Kediri untuk membeli oleh-oleh khas kota ini, yaitu Tahu Pong dan Tahu Takwa. Harganya Rp.1.000,-/besek, isinya 10 potong tahu. Oleh-oleh lain yang juga khas kota ini adalah kopi bubuk, gethuk pisang dan krupuk padang pasair (krupuk yang digoreng menggunakan pasir panas)..
Setelah menyantap makan siang, rombongan bergegas menuju kota Klaten. Perjanlanan pulang lebih lancar daripada keberangkatan. Selepas Maghrib, kami sudah memasuki kota Solo. Maki beristirahat sejenak untuk makan malam di lesehan Kotta Barat. Setelah itu meluncur ke Klaten. Sampai di rumah sekitar pukul delapan malam.
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
Dari Sireng-sireng
SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!