Posts Tagged ‘paskah’
Foto Sembako Murah
Meski baru akan dibuka pada pukul 13.00, namun ratusan masyarakat sudah antri di depan gereja jago. Mereka bermaksud menukarkan kupon untuk mendapatkan sembako dengan harga yang sangat murah.
Dalam rangka Paskah, maka GKI Klaten menggelar Pasar Murah sembako pada tanggal 17 April. Dalam aksi sosial ini, panitia sudah menyiapkan 2.300 paket berupa beras, minyak goreng, gula dan mie instan yang dijual dengan sangat murah. Untuk keperluan pengamanan maka Banser NU di kabupaten Klaten mengerahkan 30 personel ke GKI Klaten.
PendetaPelangi melayani pembeli

Ibu Maria Mudita, Ibu Sum, IbuLanny Rahmato dkk

Pulang membawa berkat
Kerjasama yang indah dengan Banser NU
INJIL YESUS KRISTUS BERKUASA MEMBAHARUI UMAT MANUSIA
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Minggu 18 april 2010 (Paska III}
Kisah Para Rasul 9:1-6,7-20 Mazmur 30 Wahyu 5:11-14 Yohanes 21:1-19
Ada sebuah kapal perang besar yang melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal itu. Suatu ketika sang supervisor berteriak,” Kapten, ada sesuatu di depan kita.” Kapten menjawab,” Beritahukan kepadanya agar membanting setir 20 derajat ke arah kiri.” Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang harus membanting setir 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah, kemudian memberikan pesan balasan,” Dengar ini adalah perintah dari kapten.” Kemudian datang balasan yang mengatakan,” Ini adalah perintah dari supervisor tingkat II.” Merasa dipermainkan, sang Kapten menjelaskan dengan tegas, “ Kami adalah kapal perang.” Kemudian balasan datang yang mengatakan,” Kami adalah mercusuar.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion }.
Saulus versus Yesus Kristus. Ketika berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan ia adalah seperti sang Kapten kapal perang tersebut. Surat kuasa dari Imam Besar, orang-orang yang menyertainya, Ke-Yahudiannya yang tulen, kewargaan negara Romawi, pendidikan Hukum Taurat dari pemimpin besar orang Farisi, yaitu Gamaliel dan kewibawaan duniawi yang lain, semuanya itu menjadi mubasir dan sia-sia setelah berhadapan dengan Tuhan Yesus. Sebab Yesus seperti mercusuar yang kokoh, dan semua harus tunduk serta menurut perintahNya. Yesus bukan penyesat, tapi Sang Kebenaran. Dia bukan tawanan dari maut tapi penakluk maut, Dia Mesias yang dijanjikan dan Anak Allah yang mulia. Yesus tidak patut dimusuhi tapi di sembah dan diikuti. Saulus yang mau menawan semua pengikut Kristus, malah telah terjaring dalam kasihNya yang indah. Saulus mau membungkam mulut Yesus, tapi dia dipanggil menjadi pemberita Injil yang membaharui umat manusia.
KEBANGKITAN KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH
Oleh Pdt.Em Daud Adiprasetya
Minggu, 4 April 2010 (Paska Pagi)
Bentuk: Ringkasan Khotbah
Kisah Para Rasul 10:34-43 Mazmur 118:1-2, 14-24 I Kor.15:19-26 Yoh.20:1-18

Sejak menjadi janda, seorang ibu tinggal serumah dengan putera tunggalnya yang sudah beristeri. Setelah hidup bersama beberapa tahun lamanya, berubahlah sikap sang menantu terhadap ibu mertua itu. Banyak hal telah membuat menantu perempuan itu menjadi semakin membenci ibu mertuanya, sampai dia berharap bisa menyingkirkannya. Suatu hari, meskipun sebenarnya dia itu seorang anak Tuhan, tetapi secara diam-diam pergi minta bantuan kepada seorang dukun di sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Mbah dukun memberi ramuan racun yang jika diminumkan kepada mertua itu, maka akan dapat mencelakai dan membunuhnya. Setelah memperoleh ramuan beracun, dengan memberanikan diri sang menantu melakukan semua petunjuk dari Mbah dukun. Akan tetapi sejak saat itu dia merasa berdosa, dan timbul ketakutan kalau-kalau Tuhan Yesus mengganjarnya dengan hukuman yang berat. Maka berubahlah sikap sang menantu 180 derajat terhadap ibu mertuanya, dia menjadi sangat ramah, hangat dan menunjukkan kasih sayang yang sangat besar. Sambil berprilaku sebaik itu, hatinya dikuasai ketakutan kalau-kalau maut segera menjemput ibu mertuanya. Tapi agaknya ramuan dari dukun desa itu tidak bertuah, atau Tuhan Yesus telah menghancurkan kuasa kegelapan yang dihadirkan oleh dukun desa itu. Sang ibu mertua kelihatan semakin sehat serta hidupnya semakin bahagia saja. Jalinan kasih di antara kedua wanita itu menjadi semakin manis dan kuat, juga semakin wajar menyenangkan hati mereka berdua! Dengan demikian tahu-tahu tembok pemisah yang kokoh kuat di antara mereka berdua sudah runtuh karena kasih Kristus, dan selanjutnya mereka bisa hidup dalam damai sejahtera yang indah!
Juruslamat Pegang Tanganku
Lagu rohani Kristen. Dinyanyikan di GKI Klaten. Dibawakan oleh mahasiswa Universitas Kristen Dutawacana Yogyakarta
Perjalanan ke Emaus [3]
Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.
Perjalanan ke Emaus [2]
Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.
Perjalanan ke Emaus [1]
Visualisasi ini merupakan re-enactment atau reka ulang dari perikop Lukas 24;13-35, yang mengisahkan perjalanan dua orang muris ke Emaus. Dengan perasaan gundah, gelisah dan bingung mereka meninggalkan perjalanan. Dalam perjalanan, Yesus yang telah bangkit ikut bergabung dan bercakap-cakap dengan mereka.
Sepanjang perja……lanan, Yesus menerangkan isi ktrab suci dan nubuatan tentang Mesias. Di akhir perjalanan, mereka mengadakan perjamuan makan, yang kemudian mengingatkan kedua murid tentang perjamuan Makan yang ditetapkan oleh Yesus.
Ketika mereka baru menyadari bahwa orang ketiga tersebut adalah Yesus,namun Mesias itu sudah menghilang dari mereka.
Visualisasi ini diperankan oleh bpk. Risditya Chandra dan Bpk. Nurcahyo. Suara Yesus oleh bpk. Wiem Seimahuira dan narator oleh Titin.
KEMATIAN KRISTUS KEMENANGAN KITA
Yesaya 52:13-53:12 Mazmur 22 Ibrani 10:16-25 Yohanes 19:16b-37
Dua malaikat sedang mengadakan perjalanan ke sebuah desa, kemudian mereka berhenti di sebuah rumah mewah dan meminta untuk menumpang bermalam di rumah tersebut. Pemilik rumah sangat pelit sehingga mereka tidak diberi kesempatan untuk tidur di kamar tamu yang bagus melainkan diperbolehkan tidur di gudang yang terletak di lantai dasar rumah. Sambil merapikan alas untuk tidur, malaikat yang lebih senior menambal lubang yang terdapat di dinding basement rumah tersebut. Malaikat yang lebih muda kemudian bertanya, “Mengapa engkau membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan dan malamnya menginap di sebuah rumah petani yang amat miskin. Petani itu sangat menghargai kedua tamunya dan menghidangkan beberapa makanan yang ia miliki. Kemudian kedua tamu ini diberi tempat untuk tidur di kamar utama dengan kasur yang biasa dipakai pemilik rumah, sedangkan petani dan isterinya justru tidur di lantai. Pagi harinya, petani dan isterinya terdengar menangis histeris karena mendapati sapi satu-satunya yang menjadi sumber pendapatan mereka ternyata mati. Malaikat muda berkata marah kepada seniornya, “Mengapa engkau biarkan hal ini terjadi pada orang yang sangat baik kepada kita? Justru kemarin engkau malah membantu orang yang sangat pelit kepada kita?” Malaikat senior menjawab, “Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” Kemudian ia melanjutkan, “Kemarin waktu kita menginap di rumah mewah yang pemiliknya pelit itu, aku menambal lubang yang di dalamnya terdapat emas, sehingga mereka tidak bisa menemukan emas tersebut. Tadi malam, malaikat maut datang untuk mencabut nyawa isteri si petani, tetapi aku membujuknya agar mengganti dengan mencabut nyawa sapinya. Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion ).
Bagi orang dunia pada umumnya, kedengaran sangat janggal bahwa Kematian Kristus Kemenangan Kita. Tapi sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat. Kematian Kristus yang ditandai dengan salib itu ternyata justru merupakan kemenangan dan kebanggaan kita! Kita membaca I Korintus 1:18 demikian, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Cerita di atas tadi mengajar kita supaya jangan tergesa menilai segala sesuatu yang terlihat, terlebih yang terjadi pada Yesus Kristus!
Hamba Tuhan yang tidak menarik! Tidak tampan, bahkan cenderung buruk muka, maka tidak masuk hitungan. Dia pantas dihina dan dijauhi orang sebab nasibnya jelek, hidup penuh sengsara dan kesakitan. Masyarakat luas mengira bahwa semua itu terjadi sebab dia sedang kena tulah, dipukul dan ditindas Allah untuk semua dosanya. Padahal dia sedang menanggung akibat dari pemberontakan dan kejahatan sesamanya (Yesaya 53). Sesuatu tidak seperti apa yang terlihat! Hamba Tuhan yang dihindari dan dibenci itu justru yang seharusnya dihargai sebab telah berjasa besar bagi sesamanya. Jika Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya, sudah sedemikian menyentuh hati meski baru dalam bentuk gambar saja, terlebih lagi tokoh Yesus Kristus yang mewujud di dalam kenyataan hidup!
Yesus yang sering disalah mengerti. Begitu hadir sebagai seorang bayi, sudah disalah mengerti oleh raja Herodes. Disangkanya kelak akan menyaingi dan menggulingkan kerajaannya, akibatnya terjadilah banjir darah para bayi sebayaNya yang tak berdosa! Ketika menunjukkan kuasaNya yang bisa mengusir setan dari orang-orang yang kerasukan, dituduh bersahabat dengan Baal Zebul , musuh besarNya. Ketika membuat mujizat-mujizat untuk menguatkan iman umatNya, malah mau dipromosikan sebagai raja dunia. Berjalan di permukaan air sebagai Tuhan, malah disangka hantu. Menyampaikan ajaran benar, disebut penyesat. Datang ke dunia untuk memenuhi Hukum Taurat, malah dikatakan mau merombak Taurat. Bangkit dari kematian sebagai pemenang yang hebat dan jaya atas maut, malah disapa sebagai tukang kebun. Dalam perjalanan ke Emaus, mau meluruskan pembicaraan yang melenceng, malah disebut satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu menahu tentang berita besar.
Yesus yang tampak lemah tapi kuat ! Keadaan dan sikapNya cocok dengan Hamba Tuhan dalam Yesaya 53. Menurut dan pasrah seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian. Hal itu telah diungkap dalam Yohanes 19. Seperti induk domba yang kelu ketika diguntingi bulunya. Yesus dipermalukan, hampir ditelanjangi, pakaianNya ditanggalkan lalu diundi di dekatNya. Kekuatan Yesus, adalah bahwa tetap tegar dan sadar menghadapi semuanya, sampai bisa menyerahkan Maria ibuNya kepada Yohanes. Juga sedikitpun Yesus tidak menunjukkan kekesalan hatiNya lalu mengutuk, tapi Dia malah mendoakan. Tanpa ada rasa menyesal bahwa telah menerima tugas yang begitu berat. Semua diterima dengan penuh kerelaan, sebab sudah dipergumulkan secara tuntas di Taman Getsemani, bahkan di sepanjang hidupNya. Tidak seperti yang terlihat dari luarnya, Yesus tidak minta dikasihani tapi justru merasa kasihan terhadap orang-orang di sekitar kesengsaraanNya. Dia tidak minta bantuan apapun dari manusia, tapi justru mendatangkan rasa kagum kepada orang yang menyaksikan kebesaran jiwaNya.
Yesus yang ditikam dengan tombak ! Ya, di bagian lambungNya seorang prajurit menikam Yesus, hingga mengalir darah bercampur air. Sudah wafat mengapa ditikam juga? Apakah mereka itu kliwat kejam dan tak berpri-kemanusiaan? Atau dilakukan secara iseng semata? Jawab yang tepat adalah, untuk memastikan kematian Yesus.Bapa di sorga tentunya dapat menyetujui prajurit itu, dan kita semua selaku pengikut Kristus seharusnya malah berterima kasih kepadanya, sebab dengan demikian kematian Kristus telah terbukti secara terang benderang. Hal ini sangat penting bagi masa depan Kerajaan Allah, agar kekuatan dan kemajuan kita nanti berdasarkan kebangkitanNya yang akurat.
Apa arti sebuah kematian ? Apa arti kematian Yesus Kristus ? Bagi kaum Rohaniwan waktu itu, berarti cita-cita mereka sudah tercapai. Kekuasaan atas umat Allah sepenuhnya ada di dalam tangan mereka. Sekarang tak akan ada lagi saingan atau pihak oposisi yang suka menyerang dan bikin risih. Bagi Pontius Pilatus dan Herodes, sepertinya Yesus orang Nasaret itu tidak begitu penting. Kadang memang bisa bikin repot, maka kematian Yesus lebih cepat lebih baik. Bagi para Rasul dan rakyat jelata, kematian Yesus adalah kematiannya sebuah pengharapan dan masa depan. Jika Tuhan dan Guru mereka mati, maka tak ada lagi yang sungguh-sungguh memperhatikan, mendampingi dengan kasih yang besar, serta mengarahkan jiwa mereka ke jalan Allah yang lurus dan benar. Lalu apa makna kematian Yesus bagi kita sekarang ? Kematian Kristus kemenangan kita! Yesus mati demi kasih kepada Bapa yang telah mengutusNya, dan sesama manusia yang akan diselamatkanNya, berarti kita yang terwakili olehNya ikut memperoleh kemenangan kasih yang diperjuangkan itu. Maka tidak seharusnya kita masih tinggal di dalam dan menyukai kebencian, dendam, iri dan yang sejenisnya yang bertentangan dengan kasih. Yesus mati untuk menebus dosa, yaitu dosa semua umat manusia. Dia telah berhasil sebagai penebus, ditandai dengan hembusan nafasNya yang terakhir. Maka dosa tidak boleh menggila lagi, dan kita jangan menjadi sponsornya yang mengembangkan terus dosa dalam hidup ini. Kematian Yesus berarti kekalahan bagi iblis, sebab selamanya iblis merintangi Yesus menuju ke kayu salib. Sekarang kita semakin percaya diri untuk berdiri di belakang Yesus, dalam memerangi kuasa kegelapan dan semua anteknya. Akhirnya, setelah Yesus berhasil turun ke dalam Kerajaan Maut dan akan bangkit pada hari yang ketiga, berarti kita sudah ikut mengalahkan maut ngeri serta semua yang berbau maut. Jika kuasa maut yang selama ini paling kita takuti sudah dikalahkanNya, apalagi segala persoalan hidup yang tak seberapa menakutkan, pasti lebih mudah dikalahkanNya!
Darah Yesus memunculkan keberanian kita ! Kita menapak jalan yang baru melalui diri-Nya ( Ibrani 10:20 ). Setiap anak Tuhan, di dalam dan melalui Yesus Kristus harus bisa melewati masa lalunya yang kelam, memulai lembar hidup baru yang cerah. Jangan lagi hidup dalam keraguan dan ketakutan. Dengan menyebut Nama Yesus dan berpegang pada karya penebusanNya kita mempunyai keberanian untuk menghadap Bapa. Derita keterpisahan dengan Bapa Sorgawi sudah ditanggung oleh Kristus ( Mazmur 22:2 }. Maka kini semua doa yang kita panjatkan, ibadah yang kita lakukan, macam-macam karya di semua aspek kehidupan ini kita masuki bersama Kristus yang telah menjadi penebus dan sekali gus Imam Besar kita yang sudah mempersembahkan diri, sebagai korban yang satu kali untuk selamanya. Perubahan besar ini, mendatangkan sukacita dan rasa syukur. Suasana hati ini kita jaga agar menetap, dan menggerakkan semangat kebersamaan kita. Mari kita saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik. Mengutamakan pertemuan-pertemuan ibadah dan saling menasehati. Jangan ada yang ketinggalan, ayo kita rayakan hidup baru nan indah ini!
Ada tiga tipe anak Tuhan yang kita jumpai. Tipe pertama seperti Bola Billiard. Untuk menikmati hidup baru yang indah kita harus mau pro aktif dalam setiap kegiatan gereja. Tapi sayang masih saja ada orang-orang yang harus didorong dan “disodok” seperti bola billiard. Awas, yang namanya sodokan itu menyakitkan! Apa kita menunggu hentakan yang menyakitkan dari Tuhan, baru mau bertobat dan maju? Tipe kedua seperti Kapal Layar. Orang yang selalu lihat-lihat dulu, jika bisa menguntungkan dan menyenangkan baru mau kerja bagi Tuhan.. Padahal kita upayakan melayani Tuhan dalam segala situasi ( II Tim 4:2 ). Tipe ketiga seperti Jam Rolex. Melangkah pasti tanpa henti. Menghayati hidup ini sebagai anugerah besar. Jika Tuhan Yesus sudah mengorbankan segalanya, mari kita jawab dengan mempersembahkan hidup yang berkemenangan bagiNya!
Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya Jumat 2 April 2010 Jumat AgungVideo Rabu Abu [1]
Ibadah Rabu Abu di GKI Klaten [17 Feb] adalah ritual yang mengawali masa pra paskah dengan berpuasa selama 40 hari. Jemaat membubuhkan abu di dahinya sebagai simbol pertobatan.
Lari Telanjang
Melihat sekumpulan massa yang mendekat, anak muda ini menjadi panik. Dia melihat ada banyak orang yang bergegas datang sambil membawa pentungan dan senjata tajam. Mereka berjalan dengan wajah beringas. Sambil meneriakkan nama Tuhan, sekelompok orang yang berpakaian jubah dan dikawal tentara ini menerobos kegelapan malam.
Tujuan mereka adalah untuk menangkap sang Guru yang baru saja selesai berdoa. Anak muda ini merupakan salah satu pengikutnya. Gerombolan massa bersenjata itu dipimpin seseorang yang rupanya dikenal baik oleh sang Guru. Dia segera memeluk sang Guru, seraya mencium pipinya. Akan tetapi sesudah itu, massa yang lain segera menggelandang sang Guru dengan mudah. Tanpa perlawanan sedikit pun.
Massa bersenjata ini juga akan menangkap para pengikut sang Guru yang mereka anggap sesat. Melihat situasi ini, anak muda ini menjadi sangat ketakutan. Nalurinya mendorong untuk melarikan. Dia tidak mau mati konyol dan menjadi korban kekejaman massa bersenjata ini.
Malam itu dia hanya mengenakan kain lenan untuk menutup tubuhnya. Ketika beberapa orang mendekatinya dengan wajah murka, maka anak muda ini menanggalkan kain lenan itu dan lari menyelamatkan diri dengan tubuh telanjang!
***
Percaya atau tidak, kisah ini tertulis di dalam Bible. Kisah ini selalu terlewatkan ketika membaca kisah penangkapan Yesus, seperti yang dicatat oleh Markus. Perhatian saya justru tertuju pada perlawanan yang dilakukan oleh salah satu pengikut Yesus yang memotong telinga hamba Imam Besar sampai putus [pada Injil lain, hamba ini bernama Malkhus. Telinganya kemudian dipulihkan kembali oleh Yesus. Ini adalah mukjizat-Nya yang terakhir sebelum kematian-Nya di kayu salib].
Akan tetapi Markus menulis sebuah peristiwa konyol ini, yang tidak terdapat pada Injil-injil yang lain. Mengapa Markus menuliskan hal ini? Siapakah anak muda ini dalam Markus 14:51-52? Mengapa dia juga akan ditangkap?
Beberapa penafsir berpendapat bahwa anak muda ini adalah Lazarus, yang dibangkitkan oleh Yesus dari kematian. Karena mukjizat ini, maka banyak orang yang percaya kepada Yesus. Itu sebabnya, Lazarus menjadi target pembunuhan dari ulama-ulama Yahudi yang tidak menyukai Yesus Yoh. 12:10-11).
Rumah Lazarus di Betania tidak jauh layaknya dari Getsemani. Mungkin pada malam itu, dia terbangun oleh keributan yang sedang terjadi, lalu keluar dengan mengenakan sehelai selimut saja. Di sini timbul persoalan: Apakah orang Yahudi memiliki kebiasaan tidur sambil telanjang? Kata telanjang dalam bahasa Yunani adalah gymnos. Kata ini tidak selalu berarti telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Kata ini juga dipakai untuk melukiskan orang yang hanya memakai pakaian dalam. Mungkin dapat dipahami begini: Ketika kita diajak untuk menghadiri acara resmi atau bepergian, kita akan minta permisi dulu untuk “berpakaian.” Apakah saat itu kita sedang telanjang? Tidak. Kita ingin mengenakan pakaian yang pantas.
Sementara Stefan Leks memberikan penafsiran yang berbeda: Orang muda dalam kisah ini tidak memakai jubah, tetapi hanya mengenakan baju dalam dari kain lenan. Artinya, ia seorang kaya! Ia tidak sempat berpakaian lengkap, sebab ia mau sesegera mungkin sampai ke Getsemani untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh pasukan front pembela Bait Suci ini.
***
Interpretasi lain akan muncul jika kita membaca kitab Amos tentang hari penghakiman. Pada hari penghakiman itu, suasananya sangat mengerikan dan dahsyat sehingga “orang yang berhati berani di antara para pahlawan akan melarikan diri dengan telanjang pada hari itu,” demikianlah firman TUHAN” (Amos 2:16) Penangkapan Yesus adalah awal dari penghakiman yang dinubuatkan Amos.
Banyak orang yang berpendapat bahwa orang muda ini adalah Markus sendiri yang keluarganya memang tinggal di Yerusalem. Menurut tradisi, Yesus mengadakan perjamuan terakhir di rumah Markus. Kalau dugaan ini benar, maka Markus adalah saksi mata kejadian di Getsemani itu.
Usaha penangkapan dirinya diceritakan untuk satu tujuan saja. Ia ingin menegaskan bahwa semua orang yang mengikut Yesus akhirnya melarikan diri dan meninggalkan Yesus. Kata “Seorang muda” dalam bahasa Yunani adalah neaniskos. Kata ini digunakan untuk orang laki-laki yang berusia di antara dua puluh empat dan empat puluh tahun (Arndt, hlm. 536). Yang menarik adalah kata neaniskos juga digunakan untuk menggambarkan seorang muda lainnya, yang menurut Mrk. 16:55, “duduk di sebelah kanan” kubur Yesus yang sudah kosong. Ternyata “orang muda” itu adalah malaikat!
Apakah keduanya merupakan oknum yang sama? Tidak ada keterangan yang pasti. Bisa jadi, keduanya sama. Kedatangan “orang muda” ini di Getsemane adalah untuk menemani Yesus di dalam mengalami pergumulan. Kemungkinan lain, keduanya adalah oknum yang berbeda. Markus menggunakan terminology yang sama untuk membandingkan “pengkhianatan” sebelum penyaliban dan “pemuliaan” setelah kebangkitan, yang sama-sama dilakukan oleh orang muda.
Orang muda biasanya memiliki tubuh kuat, lincah, pemberani dan kadang-kadang nekat. Dalam dua ayat pendek ini kita mendapat pelajaran bahwa kuat dan berani pun tidak cukup untuk mengikut Yesus sampai pada saat penyaliban. Seperti yang dinubuatkan oleh Amos, para prajurit yang punya mental baja juga akan kehilangan nyali pada saat penghakiman tiba.
Hal ini mengingatkan kita supaya tidak menyombongkan kerohanian. Siapakah kita ini dibandingkan murid-murid Yesus. Selama tiga tahun lebih mereka telah dididik oleh Yesus dan menyaksikan sendiri mukjizat yang dilakukan oleh sang Mesias. Namun pada menjelang hari penyaliban tiba, mereka kabur terbirit-birit.
Jika kita masih beriman sampai sekarang ini, itu adalah kasih karunia Allah. Itu sebabnya, saya merasa heran mengetahui ada pendeta yang mengklaim memiliki roh kemartiran. Siapa yang dapat menjamin bahwa kita akan tetap setia pada Yesus jika diperhadapkan pada pilihan antara hidup dan mati? Siapa yang dapat memastikan bahwa kita tidak akan berlari dengan telanjang bulat, tanpa merasa malu, jika kita sudah dikepung oleh musuh-musuh yang ganas?
Menyambut Paskah ini, biarlah dengan kerendahan hati masing-masing berseru: “Kyrie, Kyrie Elesion . . . Tuhan kasihani, Kristus kasihanilah kami.”
Referensi:
Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, Kanisius, 2002
Walter M. Pos, Tafsiran Injil Markus, Kalam Hidup, 1998
http://www.shroud.com/pdfs/n64part4.pdf
http://alkitab.sabda.org/
———————————————–
Saksikan Video Jalan Salib di sini:
Prosesi Jalan Salib:Prelude

Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu, karena pada hari ini kami Kau kumpulkan. Lewat Jalan salib ini kami ingin mengenang kembali Yesus Kristus, yang menderita sengsara demi keselamatan kami.
Semoga Roh Kudus yang Kau curahkan ke dalam hati kami, membuat kami semakin menyadari betapa besar cinta-Mu kepada kami.
Maka lewat Jalan salib ini ajarilah kami, agar kami tidak takut mencintai Engkau dan sesama kami. Demi Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan persekutuan dengan Roh Kudus selalu mendampingi hidup kami, Allah sepanjang masa. Amin.
Ibadah Rabu Abu
Umat kristiani di Indonesia menandai awal penghayatan masa pra paskah dengan mengadakan ibadah Rabu Abu, 25 Februari. Di GKI Klaten, ibadah dilayani oleh Bono Wiratmo, dosen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan dihadiri sekitar 250 jemaat.
Jalan Salib
Catatan Perjalanan oleh Purnawan Kristanto
Akibat dari reformasi gereja yang dilakukan oleh Martin Luther, John Calvin dan kawan-kawan, gereja protestan cenderung ‘lebih miskin’ dalam hal laku spritualitas, seperti yang dimiliki oleh gereja katolik. Ketika akan merayakan hari-hari besar gerejawi, pegiat gereja protestan kadang menemui kesulitan dalam merancang kegiatan. Sebagai contoh, pada saat menggelar ibadah Rabu Abu sebagai penanda masa pra paskah, gereja kami kesulitan m
erancang liturgi ibadah karena belum pernah memiliki tradisi ibadah ini.
Sebelumnya kami membayar retribusi Rp. 6.000,- untuk tiga mobil. Dari tempat parkir, kami harus berjalan meniti tangga sejauh 500 meter sebelum masuk pintu gerbang pertama. Pada bagian luar, berjajar warung sederhana. Yang unik, beberapa warung memutar lagu-lagu rohani dengan suara yang keras. Mungkin ini sebagai alat promosi untuk menarik minat pengunjung. Setelah itu, terdapat kios-kios yang menjual aksesoris kerohanian seperti salib, patung keluarga kudus, lilin, dan jerigen plastik. Untuk apa jerigen plastik? Untuk menampung air yang keluar di gua Maria Lourdess. Mungkin ini semacam air dari sumur Zam-zam yang diyakini umat muslim.| Dari Sireng-sireng |
| Dari Sireng-sireng |
![]() |
| Dari Sireng-sireng |
| Dari Sireng-sireng |
| Dari Sireng-sireng |
| Dari Sireng-sireng |
| Dari Sireng-sireng |


























