Bina Pasutri-Komisi Dewasa

0

Posted on : 06-07-2009 | By : GKI | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Di dalam kehidupan pernikahan, kenyataan kehidupan kadang berbeda dengan harapan seseorang. Akibatnya, pernikahan mereka mengalami guncangan. Pada kenyataannya, memang terdapat perbedaan harapan antara laki-laki dan perempuan. Dari pernikahannya, seorang laki-laki mengharapkan mendapat pemenuhan seksual, teman rekreasi, pasangan yang menarik, penghargaan dan dukungan rumah tangga. Sementara itu, pihak perempuan berharap bahwa dari pernikahan itu dia akan mendapatkan kemesraan, teman bercakap-cakap, kejujuran, keterbukaan, dukungan keuangan dan komitmen.

Jika pengharapan ini tidak terpenuhi, maka pasangan suami-isteri mengalami kekecewaan. Apa yang harus dilakukan jika kenyataan pasangan kita tidak sesuai dengan harapan? Tema inilah yang dibahas oleh pdt. Samuel Hendrarto dari GKI Darmo Satelit Surabaya, pada Bina Pasutri yang diselenggarakan Komisi Dewasa GKI Klaten, 6 Juli 2009.

Akar penyebab dari semua itu adalah budaya patriarkal yang menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.  Budaya ini yang menciptakan peran antara lak-laki dan perempuan dalam konstruksi gender. “Sebagai contoh, selama ini ada anggapan bahwa laki-laki itu harus agresive, pintar berhitung dan memiliki kemampuan visual,” papar pdt. Samuel, “jika ada seorang suami tidak memiliki ciri-ciri itu, maka isterinya menjadi kecewa.” Padahal peran itu sesungguhnya adalah buatan manusia. “Meskipun itu ciri-ciri umum, tetapi tidak semua laki-laki harus memiliki ciri-ciri demikian,” papar pdt. Samuel.

Apabila seseorang merasa tidak puas atas keadaan pasangannya, maka cara yang terbaik bukan mengubah pasangannya, melainkan dengan mengubah persepsinya atas pasangannya. Dengan demikian, dia akan mengalami penerimaan atas kondisi pasangannya apa adanya. Dengan mendasarkan diri pada Filipi 2:5-8, pdt. Samuel menawarkan tips untuk mengatasi kekecewaan yaitu mempersepsi pasangan berdasarkan kebenaran firman Tuhan (ayat 5), menyelami pikiran dan perasaan pasangannya (ayat 6-7), serta penyangkalan diri (ayat 8) untuk menerima keadaan pasangannya dengan utuh.

Acara bina pasutri ini berlangsung selama dia sesi, diselingi dengan makan malam. Acara diakhiri pukul 21:30.

PIC_2313

pdt. Samuel Hendrarto

PIC_2316

pdt. Samuel Hendrarto

PIC_2332

Berdoa: Bpk dan Ibu Bambang Setiabudi, Bpk dan Ibu Rudi Mudita, Ibu Tjondro

PIC_2335

Berdoa: Ibu Ryan, Ibu Payem, Ibu Hanna Yoyok, Bpk dan Ibu Komardiyanto, Bpk. K. Widodo

PIC_2357

Meriah

PIC_2362

PIC_2368

PIC_2374

Foto Retret Pasutri

0

Posted on : 23-09-2008 | By : Purnawan | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Lokasi: Villa Eden II, Kaliurang

Foto Bersama

Pdt. Nico Lomboan


Serius mendengarkan ceramah


Acara santai. Bakar jagung, sosis dan roti tawat.

PERSEKUTUAN PASUTRI

0

Posted on : 09-07-2008 | By : Purnawan | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Komisi Dewasa GKI Klaten menyelenggarakan Persekutuan Pasangan Suami-Isteri (8 Juli) di wisma Narwastu. Temanya yang diangkat adalah “Mengatasi Krisis Keintiman Suami Istri” dengan mengundang pdt. Nico Lomboan dari GPdI Elhadday, Yogyakarta.

Dalam paparannya, pdt. Nico menyatakan bahwa krisis keintiman dapat dihindarkan jika pasutri itu menjalankan fungsinya dengan baik. Dengan mendasarkan pada Efesus 5:22, pria keturunan Manado ini memaparkan bahwa fungsi isteri adalah tunduk pada suami, mengatur rumah tangga dan dapat dipuji, baik di dalam rumah atau di luar rumah. Sementara itu, berdasar ayat 28-29, maka fungsi suami adalah mengasihi isteri, menjadi imam keluarga, serta mempertahankan dan merawat keluarga. Jika fungsi ini dijalankan dengan baik, maka niscaya krisis rumah tangga dapat dicegah.

Pada bagian akhir, pdt Nico memberikan tips-tips praktis dalam membina keintiman. Kuncinya adalah membangun komunikasi yang baik. Komunikasi dalam rumah tangga itu tidak hanya berupa kata-kata saja, tetapi juga berupa tanda-tanda non-verbal seperti isyaratm bahasa tubuh atau kode-kode yang disepakati. Dia menyatakan bahwa sebagian krisis dalam rumahtangga disebabkan karena kegagalan dalam memahami tanda-tanda komunikasi non-verbal.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!