Posts Tagged ‘pelayanan’
PELAYANAN YANG DISERTAI PENDERITAAN
(2 Korintus 4:1-15)
Pengantar
Kata ‘pelayan’ (diakonos) di dalam gereja mengalami perubahan makna secara ameliorasi, dari makna yang negative; pembantu, jongos menjadi makna yang positif; pelayan Tuhan, hamba Tuhan, majelis, pelayanan. Oleh sebab itu jemaat-jemaat yang terlibat dalam berbagai pelayanan gereja merasa dirinya dihargai. Tak jarang ketika ditanya rekan kerja, “Baru dimana nih?” “Di gereja baru pelayanan nih.” orang dapat menjawab dengan mantap. Namun di sisi lain banyak diantara para pelayan Tuhan ini tidak lagi memaknai arti sebuah pelayan yang resikonya tidak jauh berbeda dengan arti pelayan yang ada di luar gereja. Bahwa sesungguhnya terjun ke dalam pelayanan berarti siap untuk merendahkan diri dan menerima tantangan.
MELAYANI DENGAN SUKACITA DAN SUKARELA
Oleh: Pdt. Em Daud Adiprasetya
Minggu, 18 Juli 2010 (Minggu Biasa).
Kejadian 18:1-10a Mazmur 15 Kolose 1:15-28 Lukas 10:38-42

Seorang petani Skotlandia miskin pada suatu hari mendengar tangisan seorang anak kecil yang terperosok ke dalam lumpur yang dalam. Petani yang bernama Fleming itu dengan cepat membantu si anak kecil keluar dari lumpur yang mematikan tersebut. Keesokan harinya, ajah dari anak itu datang untuk berterima kasih kepada Fleming. Orang kaya itu menawarkan apa saja yang diinginkan oleh Fleming, namun petani itu menolaknya. Melihat anak Fleming keluar dari rumah mereka yang sederhana, si orang kaya menawarkan akan membiayai sekolah anak itu dan memberikan fasilitas sekolah yang sama dengan anaknya sendiri. Anak petani itu dimasukkan ke universitas terbaik pada saat itu, yaitu St. Mary’s Hospital Medical School di London, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Anak itu akhirnya menjadi sangat terkenal karena berhasil menemukan obat Penisilin, dan ia bernama Sir Alexander Fleming. Bertahun-tahun kemudian, anak si orang kaya terserang pneumonia dan tahukah obat apa yang mampu menyelamatkannya? Tepat sekali, Penicilin. Nama anak yang diselamatkan itu adalah Sir Winston Churchill. Ingatlah selalu bahwa setiap perbuatan baik, akan mengembalikan perbuatan baik yang lebih besar kepada Anda. ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).
Apa Indahnya Jadi Majelis?
“Apakah menjadi majelis itu sebuah pengalaman yang indah?” Pertanyaan ini dilontarkan oleh Samuel Gunawan dalam Persekutuan Majelis dan pasangannya di GKI Klaten, Selasa 25 Nopember. Kalau mau jujur, sebagian besar majelis mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan selama menjadi pejabat gerejawi ini. “Meskipun dalam lembaga kerohanian, tetapi ada juga intrik dan permainan politik di gereja,” papar pengusaha furniture yang berorientas ekspor ini. “Jika di dalam dunia kerja kita mengenal office politic, maka di gereja ada church politic. Sebagai contoh, ada anggota majelis yang marah-marah karena anaknya harus mengikuti seleksi dalam rekrutmen Guru Sekolah Minggu. Dia menganggap anak majelis tidak harus menjalani proses seleksi untuk menjadi Guru Sekolah Minggu.”
Selanjutnya mantan ketua majelis ini menceritakan pengalaman pribadinya. Ketika menjadi ketua majelis, dia malah sering mendapat cemooha daripada penghargaan. Dia mencontohkan, begitu terpilih menjadi ketua majelis, dia langsung melakukan banyak perubahan. “Saya membentuk badan pemeriksa keuangan. Setiap laporan keuangan dari badan pelayanan harus diaudit,” papar Samuel Gunawan. Ketika dia menemui selisih di dalam laporan keuangan, maka dia mewajibkan pengurus untuk mengganti kekurangan uang itu dari kantong pribadinya.
Kebijaksanaan ini mendapat tentangan dari anggota majelis lain. Mereka menganggap Samuel telah mengelola gereja seperti mengelola perusahaan. Tentu saja Samuel menolak tuduhan ini.”Kita ini sedang mengelola uang Tuhan. Kalau terhadap perusahaan saja kita harus mengelola dengan sangat berhati-hati, apalagi kita sedang mengelola uang dari Tuhan. Kita harus mempertanggungjawabkan setiap sen. Bagaimana kita bisa memotivasi jemaat untuk memberikan persembahan jika kita tidak beres dalam pertanggungjawaban keuangan?”
Semua pengalaman ini akan menjadi kenangan pahit karena kita tidak memiliki perspektif yang benar dalam pelayanan. Untuk menghindari ini, setiap anggota majelis perlu memahami skenario besar Allah. Apa itu Skenario besar Allah? Samuel Gunawan lalu menyampaikan dalam beberapa pokok pikiran:
- Manusia itu telah berdosa dan rusak total
- Oleh sebab itu, manusia harus dihukum
- Namun Allah memutuskan untuk menyelamatkan umat manusia dan dunia.
- Allah menghimpun orang yang diselamatkan ke dalam gereja
- Allah menugaskan dan memakai kita.
“Kita tidak boleh melupakan skenario besar ini sehingga kita tahu indahnya pelayanan karena Allah memakai kita,” tekan Samuel Gunawan,” Sebenarnya dengan memakai kita dalam pekerjaan-Nya, Allah itu malah direpotkan. Bagi Allah, akan lebih mudah merampungkan semua pekerjaan-Nya dengan memakai malaikat.”
“Tetapi mengapa Allah tetap memakai kita? Sebab Allah ingin mendewasakan dan melatih kita supaya semakin serupa dengan Kristus.Pelayanan dan kehidupan keseharian adalah satu-satunya cara yang dipakai Allah untuk memproses kita. Tidak ada cara lain,” kata Samuel Gunawan. Untuk mengakhiri penuturannya, dia mengutipkan sebuah pernyataan yang indah: “Allah MENERIMA kita APA ADANYA, namun Ia TIDAK akan pernah MEMBIARKAN kita TETAP APA ADANYA.”
[purnawan]
Apa Kerjamu di Sini?
Oleh: Dyah Widyastuti
Sabtu sore, 9 Nopember 2008, saya mempersiapkan diri untuk persiapan bercerita kepada anak-anak Sekolah Minggu, tanggal 16 Nopember. Saya memulainya dengan renungan pribadi dengan membaca 1 Raja-raja 19:9-18. Pada perikop ini diceritaka tentang Allah yang menyatakan diri kepada nabi Elia di gunung Horeb.
Elia bukan nabi biasa. Allah menyertai Elia sepanjang hidupnya. Meski begitu, ketika dia mendengar ancaman pembunuhan dari Izebel, timbul perasaan takut dan gentar dalam diri Elia. Dia menjadi patah semangat dan merasa seolah-olah berjuang sendiri. Elia merasa Tuhan telah meninggalkannya sendirian.
Melihat hal ini, Tuhan mendatangi Elia dan bertanya, “APAKAH KERJAMU DI SINI, hai Elia?” Tuhan bertanya sebanyak 2 kali, seperti diceritakan dalam ayat 9 dan 13.
Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raja-raja 19:10).
Dialog antara Elia dan Tuhan ini membuat saya merenung. Saya merasa seolah-olah menjadi Elia yang berhadap-hadapan Tuhan. ” Apakah kerjamu di sini, hai hamba-Ku Dyah?” tanya Tuhan.
Saya ingin memberikan segudang jawaban. Saya ingin melaporkan bahwa saya sudah bekerja sebagai pendidik, sebagai konselor dan sebagai Koordinator selama sekitar 28 tahun. Saya juga sudah bekerja di dunia pendidikan sebagai anggota Komite Sekolah, sampai sekarang. Saya juga masih aktif melayani di gereja. Tapi apakah jawaban ini yang memang dikehendaki Tuhan?
Saya kira bukan itu. Pertanyaan itu bukan ditujukan pada hasil kerja saya selama 28 tahun, melainkan pada APA yang SEDANG saya kerjakan di SINI, hari ini! Saya merenungkan kembali, apakah saya sudah
memberikan yang terbaik dan akan memberikan yang terbaik selama saya hidup kepada Tuhan.
Hari ini, 9 Nopember, tepat enam tahun saya memasuki masa pensiun. Saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan hamba-Nya ini untuk melayani-Nya dengan segala kemampuan, keterbatasan dan kesehatannya. Saya percaya tangan Tuhan memintal dan menenun hamba-Nya supaya memiliki iman yang sungguh-sungguh dan tangguh. “Apakah kerjamu di sini?” Pertanyaan ini diajukan Allah kepada Elia ketika dia merasa patah semangat. Apa yang telah saya lakukan dan akan saya lakukan untuk Tuhan, keluargaku, sesama, sekolah dan gereja yang saya cintai? Izinkan saja menjawab,”Saya ingin bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam.”
Keluarga yang Melayani Tuhan
Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten
“Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.” (Yohanes 12:2)
Kisah tentang Yesus yang diurapi dengan minyak ini amat terkenal di dalam Injil. Dalam Injil Yohanes, kisah ini dikaitkan dengan kisah kebangkitan Lazarus (Yoh.11). Sesudah Lazarus dibangkitkan, Yesus dijamu oleh keluarga Betania ini dengan penuh ucapan syukur. Bahkan Maria mengurapi Yesus dengan minyak narwastu yang amat mahal harganya.
Di sini kita dapat belajar bahwa pelayanan yang penuh ketulusan dan murah hati bagi Tuhan hanya muncul kalau keluarga itu sudah merasakan rahmat Tuhan. Hal ini seperti yang dialami oleh keluarga di Betania ini. Mereka mengucap syukur karena Tuhan telah memberikan kebaikan yang berlimpah-limpah kepada mereka.
Dengan demikian, pelayanan kita merupakan ucapan syukur yang mendalam dan penuh ketulusan. Sudahkah kita mencoba menghayati betapa besarnya rahmat Tuhan dalam keluarga kita masing-masing? Bercermin dari keluarga di Betania, selayaknya keluarga kita pun juga melakukan pelayanan untuk menunjukkan rasa syukur kita? Apa yang dapat dilakukan oleh keluarga Anda di dalam pelayanan?























