Bila Cobaan Mendera

0

Posted on : 31-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

” Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya “

I Korintus 10 : 13

Korintus merupakan kota pelabuhan yang mempunyai keberagaman budaya, suku dan kepercayaan yang mempengaruhi corak hidup berjemaat. Munculnya pengutamaan karunia tertentu ini menyebabkan perpecahan. Di jemaat itu terbentuk kelompok idola, pandangan yang sempit terhadap perkawinan, dlsb. Jemaat Kristen di sana terpilah-pilah berdasarkan tokoh yang diidolakan; ada yang mengklaim pengikut Paulus, pengikut Yesus, atau pengikut Kefas. Semuanya dapat memicu kehancuran sebuah persekutuan.

Hubungan yang indah yang telah diciptakan Tuhan dalam jemaat bisa dirusak oleh kepentingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu rasul Paulus mengajak agar jemaat dapat menciptakan hubungan yang indah baik terhadap Tuhan maupun dengan sesama jemaat. Kemiskinan, bencana alam, kepahitan, pencobaan bisa saja merusak hubungan manusia dengan Allah. Jika semua kesulitan itu tidak dipandang dalam kerangka iman maka akan semakin jauhlah hubungan manusia dengan Allah.

Semakin dekatnya manusia kepada Allah memang meresahkan kuasa jahat, iblis. Maka dia berusaha memanfaatkan berbagai momen dalam hidup manusia agar mereka tidak lagi menyembah kepada Tuhan. Bila hidup keluarga mengalami pencobaan, maka bisa muncul dua sikap, yaitu menerima, dan menolak. Lautan tenang memang sering membuat kita tertidur dengan hembusan angin. Namun ketika badai datang maka keterkejutan membuat iman hilang harganya. Kita tidak pernah tahu bilamana mengalami hal-hal itu .

Memiliki keluarga yang harmonis menjadi idaman setiap orang yang percaya, namun hal ini bisa dirusak oleh kejadian-kejadian yang luar biasa yang mendera kehidupan kita. Bisa saja iman kita menjadi terjatuh, goyah, kehilangan kemudi, namun syukurlah kemudian bila bangun dan berdiri lagi. Keluarga yang dahulunya setia ketika mulai bangkrut, imannya mulai pudar. Keluarga yang dahulu mengasihi Allah kemudian karena bencana alam berubah setia. Berbagai macam peristiwa bisa mempengaruhi iman kita kepada Tuhan.

Pencobaan bukan dari Tuhan, kata Yakobus, tetapi karena keinginan diri sendiri untuk memenuhi apapun yang menjadi kerinduannya. Pencobaan bukan dosa, namun bila kita telah jatuh ke bawah kuasanya dan dikendalikan olehnya maka di situlah dosa mulai bersemayam. Pencobaan yang berlaku dalam hidup kita ada dalam kuasa Allah. Ketika kita mengalaminya maka Tuhan akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Pencobaan menempa hidup beriman, mengasah kepedulian kita akan kehendak Allah, mengikis egois yang kerap menggoda kehidupan kita. Hanya dengan tunduk di bawah tangan kuasa Allah, maka pencobaan menjadi batu loncatan agar iman kita lebih maju lagi.

Siapa yang ingin mengalami penderitaan? Tentu tak ada seorang pun yang menginginkannya bukan ? Tapi bila kita harus mengalaminya tentu suka atau tidak suka kita harus menjalaninya. Contohnya, pencobaan yang saya alami. Waktu itu, saya membeli telur sekilo. Tanpa disangka, uang kembalian yang diberikan penjualnya kelebihan tiga puluh tujuh ribu rupiah. Kebetulan nih, soalnya saat itu saya memang tak punya uang. Sepanjang jalan saya senang karena mendapat uang kaget. Saking gembiranya, saya tidak memperhatikan kalau saya melanggar rambu lalu lintas. . Karuan saja saya ditilang pak Polisi dan didenda tiga puluh ribu. Ya… inikah teguran Tuhan, karena saya telah mengambil yang bukan milik saya. Akhirnya dengan rasa malu saya kembali ke penjual telur dan mengembalikan uang kelebihannya. Terima kasih, Tuhan atas teguranMu.

Bila cobaan mendera kita, obat satu-satunya yang sangat afdol adalah datang kepada Tuhan Yesus. Tetaplah terus menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa, mohonkan kekuatan agar iman kita tetap teguh. Ingat! Cobaan yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita. Tuhan tahu kekuatan kita terbatas. Maka bila kita mohonkan kepadaNya maka Allah yang berkuasa memberikan bonus kekuatan. Pastilah sesudah melewati cobaan kita akan mengalami damai sejahtera dari Tuhan.

Bila kita menyadari keterbatasan kita dan mengakui “ aku manusia lemah “ saat itu kita akan mengalami “ kekuatan ekstra “ dari Tuhan. Sehingga menjadikan pencobaan itu memacu kita lebih setia lagi mengikut Dia. Lebih mengasihi Dia lagi… lebih… dan lebih setia.

Jalan Sempit atau Lebar

0

Posted on : 27-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”” (Matius 7:13-14)

Untuk apa berdesak-desakan melalui jalan yang sempit kalau ada jalan yang lebar dan mulus? Tentu orang akan memilih jalan yang lebar agar merasa nyaman sampai pada tujuan. Tapi, tidak demikian halnya dengan perjalanan rohani menuju kota sorgawi yang kekal itu. Kita harus melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit. Ajaran Yesus ini adalah bagian dari kesimpulan khotbahNya di bukit.

Perjalanan rohani yang tentu tidak mulus, diperlukan pengorbanan diri dalam setiap langkah. Kebanyakan orang enggan menghadapinya. Banyak orang lebih senang mengikuti jalan yang lebar, gampang, menuruti keinginan sendiri, dan berakhir pada gerbang kebinasaan. Bagaimana dengan jemaat Tuhan? Kita harus siap menghadapinya, berjalan melintasi jalan sempit yang tentu saja banyak konsekuensinya. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu ! sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

Berjuang, berarti sesudah kita menerima keselamatan, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi segala rintangan, menyangkal diri, mau membayar harga berapapun besarnya. Jangan sampai kelak ada penyesalan karena ternyata pintu tertutup dan Tuhan berkata: “Aku tidak tahu darimana kamu datang” (Lukas 13:25).

Ketika Keluarga Berada di “Padang Gurun”

0

Posted on : 26-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”(Keluaran 15:26)

Padang gurun merupakan satu tempat yang banyak orang pasti ingin menghindarinya. Mengapa? Karena tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Bila siang, matahari begitu terik menyengat. Sedangkan malam hari, udara yang dingin begitu menggigit. Tidak ada banyak oase yang menyegarkan dan menyejukkan. Begitu kering.

Adakalanya kehidupan kita harus masuk ke dalam “padang gurun.” Air yang direguk bukannya kesegaran, malah membuat lidah menjadi pahit. Oase yang disinggahi tidak memberi kesegaran tapi membuat wajah menjadi muram. Padang gurun itu bisa dalam waktu sesaat, namun ada juga yang harus berjalan dalam rentang waktu yang sangat lama. Padang gurun itu sendiri bisa dalam bentuk apa pun – dalam diri siapa pun.

Responnya? Tidak banyak orang yang melihat padang gurun kehidupan sebagai pelajaran hidup. Kebanyakan orang melihat padang gurun sebagai sesuatu yang negatif. Kecenderungan yang kedua ini tampak di dalam perjalanan Israel menuju tanah terjanji dan yang juga muncul dalam kehidupan keluarga Kristen. Padang gurun itu ditanggapi dengan bersungut-sungut, amarah yang meluap dan menilai Musa sebagai pemimpin yang tidak becus. Bahkan mereka menuduh Musa akan menghabisi mereka di padang gurun yang bernama Mara itu. Dengan kata lain mereka sebenarnya menuduh bahwa Tuhan itu jahat, sebab Musa bertindak atas perintah Tuhan. Bukankah kadang-kadang kita juga berbuat demikian? Kita menuduh Allah berbuat jahat karena membiarkan kita menderita?

Sejatinya, melalui padang gurun kehidupan itu Dia tengah membentuk kita. Jadi, jangan pernah menghindar atau lari dari padang gurun kehidupan sebab Tuhan sedang merenda kehidupan. Hasilnya adalah kehidupan yang indah.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!