
Loading ...
Bacaan:
Matius 9:35 – 10:1,6-8
APABILA teman akrab Anda menawarkan hadiah kepada Anda dan Anda mencoba untuk membayarnya, apakah itu masih dapat disebut hadiah? Tentu tidak! Demikian juga dengan apa yang Yesus lakukan ketika Ia datang ke dunia.
Ia memberikan hadiah terindah bagi kita, sebagai pemenuhan janji Allah. Hadiah yang diberikannya berupa kasih karunia yang dapat kita lihat lewat tugas pewartaan dan kuasa melakukan mukjizat-Nya yang kemudian diberikan kepada para rasul baik itu lewat pengajaran dan juga penyembuhan.
Ingatlah bahwa Yesus adalah perwujudan belas kasihan Allah yang sempurna kepada manusia. Ia adalah Sang Gembala yang baik, yang selalu rindu untuk mempersatukan domba-domba-Nya. Ayat ini begitu ‘pas’ untuk menggambarkan situasi saat ini, yaitu bahwa ada banyak orang yang rindu untuk menerima Kabar Gembira, sedangkan jumlah para pekerja/pewarta Kabar Gembira itu sedikit.
Kita telah diangkat untuk menjadi anggota Kerajaan-Nya. Itu adalah karunia yang diberikan dengan cuma-cuma. Namun, apakah kita sudah sungguh-sungguh layak disebut sebagai anggota Kerajaan-Nya? Apakah kita sudah membuka mata hati kita agar kita dapat melihat tuaian di sekitar kita? Ingatlah bahwa kita telah menerima karunia pengampunan dosa.
Oleh karenanya kita harus memberitakan pengampunan dan memakai kekuasaan mereka untuk menyembuhkan dengan cuma-cuma. Hal ini bukan merupakan ‘hak’ seseorang, melainkan ‘karunia’ yang diberikan bagi kita.
Marilah kita belajar seperti Yesus yang belas kasih-Nya tidak pandang bulu.
ANDA TELAH MEMPEROLEH DENGAN CUMA-CUMA, MAKA BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA
Posted on : 13-10-2008 | By :
GKI | In :
Renungan

Loading ...
Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten
“Barang siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu …..” (Yohanes 8: 7)
Seorang bapak memajang batu sekepalan tangan di atas meja kerjanya. Batu tersebut ditulisi kata PERTAMA maksudnya untuk menjadi pengingat terhadap kata-kata Yesus dalam Yohanes 8: 7. Batu itu akan membantu dia untuk berpikir ulang jika dia punya keinginan untuk terburu-buru menghakimi orang lain.
Dia memang masih menemui kesulitan untuk memberikan pengampunan dan kemurahan hati jika pegawai-pegawainya melakukan kesalahan atau tidak becus bekerja. Batu ini akan selalu mengingatkan dia untuk memberikan pengampunan.
Batu itu juga yang akan diberikan kepada pegawai yang mengadukan perilaku pegawai lain kepadanya. Dan kalau pegawai itu bertanya mengenai arti kata PERTAMA pada batu tersebut, si bapak akan menerangkan artinya. Ternyata dengan cara ini dapat memunculkan semangat baru untuk mengampuni dan bermurah hati. Situasi pun dapat dikendalikan secara damai.
Benar, kita memang tidak dapat membiarkan dosa, tapi kita juga harus sangat berhati-hati memeriksa motivasi kita sewaktu kita ingin “melempari orang lain dengan batu”.
Tuhan tidak memberi toleransi kepada orang-orang yang dengan semangat pembenaran diri merasa diri telah sempurna sehingga berani menghakimi orang lain. Kenyataannya, dosa selalu mungkin hadir dalam hati manusia dan hanya dapat dicegah oleh Roh Kudus. Kendalikanlah lidah dan pikiran yang penuh penghakiman. Hanya mereka yang tanpa dosa yang dipersilahkan menjadi yang pertama untuk melemparkan batu.
Pokok Pikiran: Sewaktu mencari kesalahan pakailah cermin bukan teleskop
0