Ibadah Pra Remaja GKI Klaten
Untuk menyegarkan suasana persekutuan, maka sebanyak 37 orang dari Persekutuan Wilayah 1-2 menggelar acara Refreshing Course di Bandungan, 29-30 Agustus. Dengan menumpang beberapa mobil pribadi dan mobil gereja, mereka berangkat dari Klaten pada pukul 13.00 menuju wisma Elika di Bandungan.

Setelah minum snack, acara pertama adalah ibadah pembukaan dengan mendengarkan renungan yang dibawakan oleh Pnt. Bambang Budiadi. Setelah itu dilanjutkan keakraban yang dipandu oleh Purnawan Kristanto. Suami pendeta Pelangi ini mengajak peserta bermain Zap-Zip-Zup. Usai permainan, peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Tugas mereka adalah membuat pertunjukkan drama Alkitab yang akan ditampilkan pada malam api unggun.
Usai makan malam, peserta sudah sibuk menyiapkan kostum untuk pementasan nanti. Mereka menggunakan bahan koran bekas, kertas krep dan kertas emas untuk membuat pakaian. Mereka menyiapkan dengan sangat serius, antusias dan penuh sukacita.
Maka tibalah waktunya untuk pementasan. Di halaman rumah retret “Elika”, sudah disusun kayu bakar. Di tengah lapangan rumput seukuran dua kali lapangan bulutangkis, diterangi oleh api unggun, keempat kelompok ini mempertunjukkan hasil kreasinya. Penggalan drama yang ditampilkan masing-masing adalah kisah Daud dan Goliat, Simson dan Goliat, Yesus menyembuhkan hamba Perwira Romawi dan nabi Yunus.
Selepas pertunjukkan drama dadakan, acara dilanjutkan dengan membakar jagung, jadah dan tempe gembus. Untuk menghangatkan badan, maka panitia sudah menyediakan wedang ronde.
Dengan menumpang bis pariwisata dan dua mobil pribadi, Persekutuan Wilayah 7-8 GKI Klaten mengadakan wisata ke sejumlah objek di Jawa Timur, 17-20 juli 2008.
Rombongan berangkat dari gereja jago pada pukul 14.00. Setelah beristirahat dan makan malam di Caruban, rombongan tiba di hotel Panorama, Probolinggo pada pukul 23.30. Karena perjalanan sangat lancar, maka rombongan bisa datang 1,5 jam lebih awal. Dari hotel ini, rombongan kemudian berganti kendaraan dengan menumpang empat Izusu diesel.
Berdoa bersama sebelum naik ke Bromo
Diawali dengan doa yang dipimpin oleh bapak Jati, maka pada pukul satu dinihari, rombongan bergegas menuju Pananjakan untuk melihat pemandangan matahari terbit dan gunung Bromo. Perjalanan memakan waktu selama dua jam melewati jalan yang rusak, menanjak dan berkelok-kelok. Namun semua itu tidak menjadi halangan karena keinginan yang kuat untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan.
Pukul 3 pagi, kami sudah sampai di tempat tujuan. Suasana masih sangat gelap namun sudah banyak orang yang berdatangan. Sambil menunggu fajar tiba, beberapa anggota rombongan menikmati sajian minuman panas di warung-warung kopi di sepanjang jalan menuju puncak Pananjakan. Ada juga yang menghangatkan badan dengan menyewa tungku bara arang.

Bapak dan Ibu Agus Handoyo menikmati minuman hangat
Sekitar pukul 5.20, semburat merah sudah menyala di ufuk Timur. Para wisatawan mulai mendongakkan kepala dan mencari tempat yang enak untuk menonton. Ada yang berdiri di atas pagar, ada yang menginjak bangku tempat duduk, ada yang mengabadikan menggunakan kamera ponsel dan kamera digital, ada yang merapatkan diri pada tepi pagar, dan ada pula yang bersedekap menahan dingin sambil menatap ke arah Timur.
Cahaya mentari pagi mulai menerobos di sela-sela punggung gunung. Menyebar ke arah Barat menggapai gunung batok yang masih diselimuti kabut. Hal ini menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Gunung itu seperti batok kelapa yang dikelilingi oleh hamparan kapas.

Gunung Batok
Tidak dapat berlama-lama menikmati pemandangan ini karena mobil sudah menunggu untuk membawa kami menuruni gunung menuju lembah padang pasir. Melewati jalan yang berlubang dan menyusuri jalan sempit di samping jurang yang mendalam, hal itu tidak menciutkan nyali sopir untuk memacu mobilnya. Mereka seolah-olah sudah hapal setiap jengkal jalan sehingga bisa mengantisipasi kelokan dan turunan dengan baik. Sekitar pukul 7.30 kami sudah sampai di hotel Panorama.
Linda, bu Ermintarsih dan bu Jati Sarono
BERSAMBUNG…..
Di dalam kehidupan pernikahan, kenyataan kehidupan kadang berbeda dengan harapan seseorang. Akibatnya, pernikahan mereka mengalami guncangan. Pada kenyataannya, memang terdapat perbedaan harapan antara laki-laki dan perempuan. Dari pernikahannya, seorang laki-laki mengharapkan mendapat pemenuhan seksual, teman rekreasi, pasangan yang menarik, penghargaan dan dukungan rumah tangga. Sementara itu, pihak perempuan berharap bahwa dari pernikahan itu dia akan mendapatkan kemesraan, teman bercakap-cakap, kejujuran, keterbukaan, dukungan keuangan dan komitmen.
Jika pengharapan ini tidak terpenuhi, maka pasangan suami-isteri mengalami kekecewaan. Apa yang harus dilakukan jika kenyataan pasangan kita tidak sesuai dengan harapan? Tema inilah yang dibahas oleh pdt. Samuel Hendrarto dari GKI Darmo Satelit Surabaya, pada Bina Pasutri yang diselenggarakan Komisi Dewasa GKI Klaten, 6 Juli 2009.
Akar penyebab dari semua itu adalah budaya patriarkal yang menempatkan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Budaya ini yang menciptakan peran antara lak-laki dan perempuan dalam konstruksi gender. “Sebagai contoh, selama ini ada anggapan bahwa laki-laki itu harus agresive, pintar berhitung dan memiliki kemampuan visual,” papar pdt. Samuel, “jika ada seorang suami tidak memiliki ciri-ciri itu, maka isterinya menjadi kecewa.” Padahal peran itu sesungguhnya adalah buatan manusia. “Meskipun itu ciri-ciri umum, tetapi tidak semua laki-laki harus memiliki ciri-ciri demikian,” papar pdt. Samuel.
Apabila seseorang merasa tidak puas atas keadaan pasangannya, maka cara yang terbaik bukan mengubah pasangannya, melainkan dengan mengubah persepsinya atas pasangannya. Dengan demikian, dia akan mengalami penerimaan atas kondisi pasangannya apa adanya. Dengan mendasarkan diri pada Filipi 2:5-8, pdt. Samuel menawarkan tips untuk mengatasi kekecewaan yaitu mempersepsi pasangan berdasarkan kebenaran firman Tuhan (ayat 5), menyelami pikiran dan perasaan pasangannya (ayat 6-7), serta penyangkalan diri (ayat
untuk menerima keadaan pasangannya dengan utuh.
Acara bina pasutri ini berlangsung selama dia sesi, diselingi dengan makan malam. Acara diakhiri pukul 21:30.
pdt. Samuel Hendrarto
pdt. Samuel Hendrarto
Berdoa: Bpk dan Ibu Bambang Setiabudi, Bpk dan Ibu Rudi Mudita, Ibu Tjondro
Berdoa: Ibu Ryan, Ibu Payem, Ibu Hanna Yoyok, Bpk dan Ibu Komardiyanto, Bpk. K. Widodo
Meriah
Foto-foto ini sebenarnya sudah lama. Namun tak apalah sebagai pengingat acara Refreshing Course yang diadakan oleh Persekutuan Wilayah 5/6, GKI Klaten, pada September 2007 di Tawangmangu.

Beribadah pada hari Minggu dan menambah keakraban

Berfoto bersama di depan Villa

Berjalan kaki menuju air terjun Gorojogan Sewu. Napas ngos-ngosan, tapi nanti terbayar kalau melihat keindahan air terjun.

Berakrab-akrab dengan permainan yang seru dan lucu. Bu Agus sampai terduduk karena tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah itu bermain basah-basahan di bawah air terjun.

Keindahan air terjun Grojogan Sewu

Sebagian panitia beristirahat sejenak di Kalisoro. Pemandangannya asyik. Koh Yoypk. Yuka, Lia dan Ny. Agus Permadi

Sungainya masih jernih. Agus Permadi, Yuka dan Lia
“Apakah menjadi majelis itu sebuah pengalaman yang indah?” Pertanyaan ini dilontarkan oleh Samuel Gunawan dalam Persekutuan Majelis dan pasangannya di GKI Klaten, Selasa 25 Nopember. Kalau mau jujur, sebagian besar majelis mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan selama menjadi pejabat gerejawi ini. “Meskipun dalam lembaga kerohanian, tetapi ada juga intrik dan permainan politik di gereja,” papar pengusaha furniture yang berorientas ekspor ini. “Jika di dalam dunia kerja kita mengenal office politic, maka di gereja ada church politic. Sebagai contoh, ada anggota majelis yang marah-marah karena anaknya harus mengikuti seleksi dalam rekrutmen Guru Sekolah Minggu. Dia menganggap anak majelis tidak harus menjalani proses seleksi untuk menjadi Guru Sekolah Minggu.”
Selanjutnya mantan ketua majelis ini menceritakan pengalaman pribadinya. Ketika menjadi ketua majelis, dia malah sering mendapat cemooha daripada penghargaan. Dia mencontohkan, begitu terpilih menjadi ketua majelis, dia langsung melakukan banyak perubahan. “Saya membentuk badan pemeriksa keuangan. Setiap laporan keuangan dari badan pelayanan harus diaudit,” papar Samuel Gunawan. Ketika dia menemui selisih di dalam laporan keuangan, maka dia mewajibkan pengurus untuk mengganti kekurangan uang itu dari kantong pribadinya.
Kebijaksanaan ini mendapat tentangan dari anggota majelis lain. Mereka menganggap Samuel telah mengelola gereja seperti mengelola perusahaan. Tentu saja Samuel menolak tuduhan ini.”Kita ini sedang mengelola uang Tuhan. Kalau terhadap perusahaan saja kita harus mengelola dengan sangat berhati-hati, apalagi kita sedang mengelola uang dari Tuhan. Kita harus mempertanggungjawabkan setiap sen. Bagaimana kita bisa memotivasi jemaat untuk memberikan persembahan jika kita tidak beres dalam pertanggungjawaban keuangan?”
Semua pengalaman ini akan menjadi kenangan pahit karena kita tidak memiliki perspektif yang benar dalam pelayanan. Untuk menghindari ini, setiap anggota majelis perlu memahami skenario besar Allah. Apa itu Skenario besar Allah? Samuel Gunawan lalu menyampaikan dalam beberapa pokok pikiran:
- Manusia itu telah berdosa dan rusak total
- Oleh sebab itu, manusia harus dihukum
- Namun Allah memutuskan untuk menyelamatkan umat manusia dan dunia.
- Allah menghimpun orang yang diselamatkan ke dalam gereja
- Allah menugaskan dan memakai kita.
“Kita tidak boleh melupakan skenario besar ini sehingga kita tahu indahnya pelayanan karena Allah memakai kita,” tekan Samuel Gunawan,” Sebenarnya dengan memakai kita dalam pekerjaan-Nya, Allah itu malah direpotkan. Bagi Allah, akan lebih mudah merampungkan semua pekerjaan-Nya dengan memakai malaikat.”
“Tetapi mengapa Allah tetap memakai kita? Sebab Allah ingin mendewasakan dan melatih kita supaya semakin serupa dengan Kristus.Pelayanan dan kehidupan keseharian adalah satu-satunya cara yang dipakai Allah untuk memproses kita. Tidak ada cara lain,” kata Samuel Gunawan. Untuk mengakhiri penuturannya, dia mengutipkan sebuah pernyataan yang indah: “Allah MENERIMA kita APA ADANYA, namun Ia TIDAK akan pernah MEMBIARKAN kita TETAP APA ADANYA.”
[purnawan]
Pada musim kemarau, wilayah selatan kabupaten Gunungkidul membutuhkan pasokan air bersih. Menanggapi situasi ini, persekutuan kelompok 3-4, GKI Klaten mengirimkan 22 tangki air bersih ke jemaat GKI Baran dan GKI Kemadang. Dana yang dipakai adalah hasil tabungan anggota persekutuan kelompok yang dikhususkan untuk aksi sosial. “Tahun lalu, kami mengadakan Refreshing Course dengan tema tentang berubah,” terang ibu Johana Christiani, ketua Persekutuan Kelompok 3-4, “Usai acara RC, setiap anggota jemaat mendapat celengan. Mereka dihimbau untuk mengisi celengan. Setelah setahun, celengan itu dibuka dan dikumpulkan untuk aksi sosial.”

Hari Senin pagi, 18 Agustus 2008, sebanyak 18 orang dari Persekutuan kelompok 3-4 meluncur dengan dua mobil ke arah Gunungkidul. Tujuan pertama adalah GKJ Baran yang berjarak lebih dari 100 km. Di sana, rombongan diterima oleh pdt. Suparman. Mewakili jemaat GKJ Baran,pdt. Suparman berterimakasih karana bantuan air ini memang sangat dibutuhkan warga sekitar. “Pada bulan ini, gereja kami sedang merayakan ulang tahun ke-40,” jelas pdt. Suparman, “kebetulan dalam agenda perayaan ini kami juga ada acara aksi sosial.”
untuk penyaluran perdana, bantuan air dilakukan di pepanthan Karangwuni.
Usai dari Baran, rombongan melanjutkan perjalanan ke pepanthan Banjarrejo, GKJ Kemadang. Di sana sudah menunggu satu tangki air siap untuk disalurkan. Kedatangan rombongan disambut dengan tiupan angin yang sangat kencang. Mewakili jemaat, Bapak Warsito selaku Sekretaris Majelis mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah disertai jamuan es kelapa muda.

Lewat tengah hari, rombongan menuju pantai Baron yang hanya berjarak 10 km. Sesampai di sana, mereka langsung memesan ikan segar dan meminta dimasak langsung di sana. Perjalanan di akhiri dengan santap siang bersama di pinggir pantai.

Untuk melihat video bantuan air bersih dapat dilihat di sini . Sedangkan untuk melihat suasana makan siang di pantai Baron dapat dilihat di sini.









































0