Sekolah Minggu GKI Klaten telah mengadakan perayaan Natal tanggal 18 Desember 2009 di GKI Klaten. Perayaan yang dihadiri lebih dari 300 anak dari induk, bajem Pesu, bajem Mireng dan pos Karangri ini dimeriahkan dengan pertunjukan operet kelahiran Yesus
Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan acara pembinaan Guru Sekolah Minggu.
Hari/Tgl: Jumat, 20 Nopember 2009
Jam : 17.00 WIB
Tempat: Wisma Narwastu
Tema: Psikologi Anak
Pembicara: Dra. Julia Suleeman, MA,Phd [Psikolog Universitas Indonesia].
Menumpang dua bus pariwisata dan satu mobil gereja, anak-anak Sekolah Minggu GKI Klaten, bersama dengan orangtua dan kakak pendamping berwisata ke taman wisata Kyai Langgeng, Magelang, Minggu 23 Agustus 2009.
Sejak 6.30, anak-anak sudah berkumpul di halaman SD Kristen III untuk mendengarkan penjelasan dari kak Widi. Untuk mempermudah pengawasan dan koordinasi, maka anak-anak dibagi lagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi dua kakak pendamping. Selanjutnya kak Widi menjelaskan bahwa setiap anak dan pendamping mendapatkan tiket masuk dan tiga tiket wahana hiburan, meliputi kereta mini, kereta air dan masuk pesawat.
Pukul 07.40, rombongan bergerak meninggalkan Klaten. Setelah menempuh perjalanan sekitar 90 menit, rombongan sudah sampai di Taman Kyai Langgeng yang terlihat sepi. Meski hari Minggu, saat itu tidak banyak orang yang mengunjungi lokasi wisata yang asri ini. Ini mungkin terkait dengan awal bulan puasa.
Rommbongan diarahkan berjalan menunju Gelanggang Remaja di tengah taman. Kak Esti memulai acara ibadah Padang dengan mengajak anak-anak menyanyi dan berdoa. Selanjutnya giliran kak Robert untuk bercerita. Mantan guru Sekolah Minggu ini menceritakan kisah raja Yoram yang tidak takut meskipun kerajaannya dikepung musuh.
Supaya dapat memahami cerita dengan lebih baik, maka kak Robert mengajak anak bermain domba dan serigala. Sebagian kecil anak diminta berperan sebagai domba yang akan dikejar oleh serigala. Sementara anak-anak yang lain berperan sebagai kandang. Jika masuk ke dalam kandang, maka domba menjadi aman.
Dengan permainan ini, kak Robert mengajarkan bahwa dalam perlindungan Tuhan, maka anak-anak akan merasa aman karena dijagai. Anak-anak tidak hanya aman ketika berada di dalam kandang. Bahkan ketika berada di luar kandang pun, mereka tetap aman. Tuhan Yesus mendampingi mereka kemana pun mereka pergi. Ketika menghadapi bahaya, Tuhan Yesus akan menggendong anak-anak. Untuk menunjukkan cara menggendong, maka kak Robert lalu menggendong salah satu anak Sekolah Minggu.
Gendongan ala mbah Surip: “Tak gendong kemana-mana”

Kak Robert

Ibadah Padang ini diakhiri dengan makan siang. Selanjutnya acara bebas. Anak-anak boleh menikmati wahana hiburan yang ada di taman ini sampai pukul dua siang.
Pukul 17.00 rombongan sampai di Klaten.
Saksikann videonya di sini:
Tanggal 21 Juni 2009, bertempat di wisma Narwastu, Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan Pelatihan untuk Guru-guru Sekolah Minggu. Bertindak sebagai pembicara adalah kak Agustina Wijayani, seorang penulis buku tentang Sekolah Minggu dan editor di penerbit Gloria. Acara yang dihadiri lebih dari 35 orang ini diisi dengan ceramah dan icebreaker.

Agustina Wijayani

Kak Kiki, Kak Yuda, Kak Nita

Kaos bikinan Komisi Anak
Suasana Pelatihan
GSM GKI Klaten
Pada remaja yang diasuh oleh Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum (Yakkum) Yogya mengadakan pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu di GKI Klaten.
Berikut kesaksian dua orang yang kehilangan anggota tubuhnya dalam musibah yang tragis. Bagaimana mereka menghadapi kenyataan itu? Simak saja videonya.

Bukannya ikut-ikutan dengan Pdt. Andar Ismail yang mengarang buku seri selamat tapi saya memang senang dengan kata PROSES. Buat saya yang penting adalah prosesnya. Tapi kalau hasil akhirnya bagus, maka saya menganggapnya sebagai bonus. Tapi kalau hasilnya kurang bagus ya sudah, nggak apa-apa….yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin.
Saya dilahirkan sebagai anak paling kecil di antara 3 bersaudara. Kakakku pertama laki dan yang kedua perempuan. Di sekolah dasar saya anak yang biasa-biasa saja dan cenderung pendiam. Ikut Sekolah Minggu juga ogah-ogahan karena lebih senang menonton tv- si unyil. Kalau saya hitung, saya ikut Sekolah Minggu kurang dari 3tahun. Akan tetapi saya bersyukur karena kakak saya yang perempuan selalu giat mengajak saya datang ke Sekolah Minggu.
Menginjak masa remaja saya sedikit lebih aktif. Saya tidak begitu ingat apakah saya pernah menjadi pengurus komisi remaja atau tidak. Masih pada masa remaja, sekitar kelas 2 SMP, saya diajak menjadi Guru SM. Yang mengajak adalah cik Gien Gien dan Wimmy (thanks ya buat duet mentor saya …). Saya pun mula-mula hanya sekadar ikut-ikutan saja karena masih belum PD alias percaya diri. Namun lama-kelamaan bisa juga memimpin dan mengajar anak-anak SM.
Dan di sinilah proses awal itu mulai. Saya belajar memimpin, belajar untuk berorganisasi, belajar berpikir ke depan, berkreatif, dsb. Justru di Komisi Sekolah Minggu inilah Tuhan memproses saya dengan luar biasa. Betul sekali! Sampai sekarang, saya sendiri masih heran akan perubahan diri itu. Buat saya pelayanan di ladang Tuhan tidak akan pernah sia-sia asal kita all out asal kita mengerjakannnya dengan sungguh-sungguh. Dan itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi secara luas.
Proses berikutnya terjadi pada Oktober 1998, saya ditawari untuk mengadakan KKR se-Klaten. Kembali saya tidak percaya diri untuk menyelenggarakan kegiatan besar ini. Bagaimana sih Tuhan?! Siapa sih saya ini sampai nekat mau ngadain KKR?! Tapi setelah saya sharring dengan 4 teman saya, akhirnya kami berani mengadakannya. Awal Januari 1999, KKR itu berhasil digelar di GOR bersama GS Ministry, GMB, Pdt. Samiton Panggelah.
Apa yang terjadi? Karya Tuhan luar biasa, kami terheran-heran karena yang datang itu mencapai 4000 orang! Sekali lagi Tuhan memproses saya untuk melihat bahwa kalau bekerja bersama Tuhan, saya tidak perlu ragu-ragu. Kalau Tuhan sudah membuka pintu siapa sih yang bisa menutupnya?!
Efek yang luar biasa di dalam diri saya ini(dan mungkin teman2 seperjuangan…) membuat saya semakin yakin untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Event semakin banyak kami kerjakan tapi buat saya sekali lagi bahwa Tuhan memproses dengan luar biasa. Dari tidak mungkin, jadi mungkin terjadi. Pada setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Ada sukacita tersendiri bagi saya kalau bisa melewati rintangan, dan yang lebih penting adalah Tuhan menyadarkan saya untuk bersyukur akan hal-hal yang justru simple, bukan hal-hal yang besar.
Sharring saya ini bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai ungkapan syukur saya atas karya Tuhan dalam hidup saya. Sampai saat ini saya terkadang masih heran: ‘Kok bisa ya, saya berubah seperti ini, Tuhan?’ Proses dalam hidup saya akan terus berlanjut dan saya lebih menghargai sebuah proses. Hasilnya? Terserah Tuhan saja deh….kalau bagus ya…bonus itu!!! Mari kita nikmati proses yang ada sambil mengucap syukur….selamat berproses yang positif dan GBU. (Ratnawati Bram/noel-trinity)
























0