Christmas Carol

0

Posted on : 08-12-2008 | By : Purnawan | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Catatan: Purnawan Kristanto

Pemazmur berkata bahwa rata-rata masa hidup manusia adalah tujuh puluh tahun. Jika kuat maka dapat sampai delapan puluh tahun. Hari ini saya menyaksikan orang-orang yang mendapat ‘bonus’ umur dari Tuhan.

Setiap bulan Desember, gereja kami mengadakan acara Christmas Carol. Namun berbeda dengan tradisi barat yang menyanyikan lagu-lagu Natal di keramaian atau ke rumah-rumah untuk mendapatkan sedekah, kami memodifikasinya dengan mengunjungi anggota-anggota jemaat yang karena mengalami keterbatasan fisik mereka tidak dapat merayakan Natal. Kami menghadirkan perayaan Natal ke rumah mereka.

Bertepatan dengan hari Idul Adha, kami membagi diri ke dalam lima kelompok, masing-masing dengan dua mobil menuju tempat-tempat yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan rombongan saya adalah rumah pak Karyono. Hari ini dia merayakan ulang tahun yang ke 102 tahun! Wow, umurnya sudah lebih dari satu abad. Dan yang lebih mengherankan, dalam usia sebanyak itu, kesehatannya masih sangat baik. Pendengarannya masih sangat baik, pandangannya masih sangat jernih dan yang lebih dahsyat adalah ingatannya masih sangat kuat. Kepikunan belum menyentuhnya sama sekali.

Pak Karyono

Sebagian dari anggota rombongan kami adalah mantan-mantan murid pak Karyono di SMP Kristen Klaten. Begitu ketemu, pak Karyono langsung mengingat wajah-wajah mereka. “Kamu dulu ‘kan yang jadi mbok emban,” kata pak Karyono kepada bu Diah, pensiunan guru Petra Surabaya. Pak Karyono teringat pada pementasan wayang orang yang sebagian dimainkan oleh orang-orang keturunan Tionghoa di Klaten. Pak Karyono yang melatih mereka.
Ketika melihat pak Komardiyanto, pak Karyono segera memeluknya dengan erat-erat. Pak Komardiyanto bercerita, ketika menjadi dia menjadi murid SMP Kristen, dia senang bermain ke rumah pak Karyono sebab di sana sering mendapat wejangan-wejangan tentang kehidupan. Pak Ko, demikian panggilan akrab pak Komardiyanto, mengagumi kesederhanaan pa Karyono. Meski bergaji pas-pasan, tetapi pak Karyono tidak pernah mengeluh. Setiap tugas diterimanya dengan ikhlas dan penuh sukacita.
“Pada hari ulang tahun ini, apa doa permintaan pak Karyono?” tanya bu Diah.Pak Karyono
“Saya tidak minta umur panjang. Saya hanya minta kesehatan yang baik,” kata pak Karyono dengan lantang. Menurutnya, umur manusia merupakan misteri dari Allah. Sebelum berdoa, pak Karyono bercerita bahwa dia sebenarnya masih berdarah biru. Dia adalah keturunan dari sultan Cirebon.
“Saya bersyukur karena memiliki bapak tiri,” kata pak Karyono dengan suara bergetar, “sebab berkat dia, saya bisa mengenal Kristus.” Dia dibaptis oleh pendeta Belanda yang ada di Klaten. Namun karena sebagian besar jemaatnya tidak bisa berbahasa Belanda, maka gereja yang menjadi cikal bakal GKI Klaten itu lalu dilayani oleh pendeta berdarah Ambon yang berbahasa Indonesia.
Hari itu, saya baru pertama kali bertatapan muka langsung pak Karyono. “Saya suami pendeta Pelangi, pak” kata saya memperkenalkan. “Wah, Anda tambah gemuk,” kata pak Karyono dengan spontan.
“Lho tahu dari mana, pak?” tanya saya.
“Ketika kalian menikah, saya datang kok,” sahut pak Karyono, ”waktu itu, Anda memakai pakaian Jawa.”
Saya mengangguk penuh kekaguman. Peristiwa empat tahun yang lalu itu masih diingatnya dengan baik.
***
Selain mengunjungi pak Karyono, kami juga mengunjungi mak Kuat. Usianya sudah mencapai 85 tahun, tapi tubuhnya masih kuat. Karena osteoporosis, tubuhnya mulai bungkuk. Tapi dia masih kuat berjalan ke Mak Kuatgereja menempuh jarak lebih dari dua kilometer. Dia selalu ikut kebaktian pagi, pukul enam.
Ketika yang orang-orang yang lebih muda, selalu datang terlambat, mak Kuat selalu datang awal. Setengah jam sebelumnya, dia sudah duduk manis di bangku gereja. “Saya malu kalau datang terlambat ke gereja” kata mak Kuat.
Kami juga mengunjungi ibu Tan Lay Tjie (80 tahun), mak Yun dan pak Kamto.
***
Dalam perjalanan pulang, saya mengagumi kesetiaan iman mereka. Dalam usia senja dan keringkihan tubuh, mereka tetap memiliki pengharapan yang kuat di dalam Kristus. Semoga saya dapat meneladani iman sederhana mereka.

Christmas Carol

Setia Sampai Mati

0

Posted on : 03-11-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

Sesuatu yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan ialah ’setia’ atau ‘kesetiaan’. Sebab kesetiaan merupakan sikap dan tindakan seseorang yang lahir dari hati nurani yang suci, bukan berpura-pura atau lamis.

Pepatah Jawa mengatakan: “Jer Basuki Mawa Beya” Jika kita menginginkan hal yang baik, maka ada harganya yang harus dibayar. Tidak bisa cukup mengucao “sim salabim abrakdabra.” Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi harus diupayakan, diperjuangkan, dan dibuktikan! Sungguh berat dan sangat sulit, namun demikian bagi kita sebagai orang percaya. “Sulit bukan berarti tidak bisa”, bersama Tuhan pasti bisa!

Konteks dalam perikop ini adalah surat yang ditujukan kepada jemaat di Smirna. Kota yang paling makmur di Asia Kecil dan mendapat nama Metropolis. Tetapi di sini terdapat orang-orang Yahudi dalam jumlah dan kekuatan yang luar biasa,. Mereka memberikan permusuhan yang pahit terhadap jemaat Kristen. Dalam keadaan seperti itu, jemaat di Smirna menghadapi penderitaan dan dukacita. Karena itu pada ayat 10 menjadi penghiburan dan menguatkan. Ayat ini mengatakan, “Jangan engkau takut terhadap apa yang harus engkau derita ! sebab penderitaan ini hanya berlangsung sepuluh hari.” Ini artinya bahwa penderitaan ini hanya berlangsung singkat, semacam penganiayaan lokal.

Perkataan penghiburan yang menguatkan itu ditegaskan kembali dalam ayat 10c, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”. Perkataan ini sungguh hebat dan luar biasa. Kata setia dalam bahasa Yunani adalah ‘pistos‘ yang artinya bisa dipercaya, handal (bahasa Jawa: iso diandelake). Jemaat di Smirna pada saat itu menghadapi penderitaan, tantangan serta hambatan dari luar (orang-orang Yahudi). Maka mereka didorong semangatnya agar tidak menjadi lemah atau nglokro, tetapi tetap setia, bisa dipercaya, bisa diandalkan untuk menghadapi semuanya itu dengan gigih. Bukan hanya untuk sementara saja atau angin-anginan tetapi setia sampai mati. Seperti semangat Pandawa Lima dalam pewayangan ketika menghadapi angkara murka “rawe-rawe rantas, malang-malang putung, tak sampar tak sandung“. Seperti itulah perjuangan iman kita.

Aplikasinya bahwa GKI Klaten semakin hari semakin dewasa, semakin bertambah berat tugas dan tanggungjawabnya dalam mengembang amanat agung Yesus Kristus di dunia. Banyak hambatan dan banyak pula tantangan yang dihadapinya seperti halnya jemaat di Smirna. Oleh sebab itu segala tantangan yang ada dari luar kita hadapi bersama dengan penuh kesetiaan. Lalu bagaimana kalau tantangan itu berasal dari dalam diri kita sendiri? Amit-amit, jangan sampai itu terjadi! GKI Klaten harus terus berjuang dalam pengembangan pelayanan di segala bidang untuk memenuhi panggilanNya:

* Terus berjuang untuk mengembangkan pelayanannya di Bajem Pesu yang sedang merindukan tempat ibadah baru. Oleh sebab itu setialah, jangan lesu dan nglokro.

* Di bajem Mireng, agar semakin bertumbuh dan berbuah lebat.

* Di Pos Jemaat Karangri agar semakin mantap dan bersemangat.

Dan pada akhirnya, marilah kita sebagai warga jemaat GKI Klaten, dari kelompok hingga bajem-bajemnya. Hendaklah engkau setia sampai mati dalam melayani Tuhan. Segala bentuk tantangan dari luar itu hal biasa, asalkan jangan membuat persoalan dan masalah dari dalam diri sendiri. Sebab di dalam Tuhan pelayanan kita tidaklah sia-sia:…”dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Bila Cobaan Mendera

0

Posted on : 31-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

” Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya “

I Korintus 10 : 13

Korintus merupakan kota pelabuhan yang mempunyai keberagaman budaya, suku dan kepercayaan yang mempengaruhi corak hidup berjemaat. Munculnya pengutamaan karunia tertentu ini menyebabkan perpecahan. Di jemaat itu terbentuk kelompok idola, pandangan yang sempit terhadap perkawinan, dlsb. Jemaat Kristen di sana terpilah-pilah berdasarkan tokoh yang diidolakan; ada yang mengklaim pengikut Paulus, pengikut Yesus, atau pengikut Kefas. Semuanya dapat memicu kehancuran sebuah persekutuan.

Hubungan yang indah yang telah diciptakan Tuhan dalam jemaat bisa dirusak oleh kepentingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu rasul Paulus mengajak agar jemaat dapat menciptakan hubungan yang indah baik terhadap Tuhan maupun dengan sesama jemaat. Kemiskinan, bencana alam, kepahitan, pencobaan bisa saja merusak hubungan manusia dengan Allah. Jika semua kesulitan itu tidak dipandang dalam kerangka iman maka akan semakin jauhlah hubungan manusia dengan Allah.

Semakin dekatnya manusia kepada Allah memang meresahkan kuasa jahat, iblis. Maka dia berusaha memanfaatkan berbagai momen dalam hidup manusia agar mereka tidak lagi menyembah kepada Tuhan. Bila hidup keluarga mengalami pencobaan, maka bisa muncul dua sikap, yaitu menerima, dan menolak. Lautan tenang memang sering membuat kita tertidur dengan hembusan angin. Namun ketika badai datang maka keterkejutan membuat iman hilang harganya. Kita tidak pernah tahu bilamana mengalami hal-hal itu .

Memiliki keluarga yang harmonis menjadi idaman setiap orang yang percaya, namun hal ini bisa dirusak oleh kejadian-kejadian yang luar biasa yang mendera kehidupan kita. Bisa saja iman kita menjadi terjatuh, goyah, kehilangan kemudi, namun syukurlah kemudian bila bangun dan berdiri lagi. Keluarga yang dahulunya setia ketika mulai bangkrut, imannya mulai pudar. Keluarga yang dahulu mengasihi Allah kemudian karena bencana alam berubah setia. Berbagai macam peristiwa bisa mempengaruhi iman kita kepada Tuhan.

Pencobaan bukan dari Tuhan, kata Yakobus, tetapi karena keinginan diri sendiri untuk memenuhi apapun yang menjadi kerinduannya. Pencobaan bukan dosa, namun bila kita telah jatuh ke bawah kuasanya dan dikendalikan olehnya maka di situlah dosa mulai bersemayam. Pencobaan yang berlaku dalam hidup kita ada dalam kuasa Allah. Ketika kita mengalaminya maka Tuhan akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Pencobaan menempa hidup beriman, mengasah kepedulian kita akan kehendak Allah, mengikis egois yang kerap menggoda kehidupan kita. Hanya dengan tunduk di bawah tangan kuasa Allah, maka pencobaan menjadi batu loncatan agar iman kita lebih maju lagi.

Siapa yang ingin mengalami penderitaan? Tentu tak ada seorang pun yang menginginkannya bukan ? Tapi bila kita harus mengalaminya tentu suka atau tidak suka kita harus menjalaninya. Contohnya, pencobaan yang saya alami. Waktu itu, saya membeli telur sekilo. Tanpa disangka, uang kembalian yang diberikan penjualnya kelebihan tiga puluh tujuh ribu rupiah. Kebetulan nih, soalnya saat itu saya memang tak punya uang. Sepanjang jalan saya senang karena mendapat uang kaget. Saking gembiranya, saya tidak memperhatikan kalau saya melanggar rambu lalu lintas. . Karuan saja saya ditilang pak Polisi dan didenda tiga puluh ribu. Ya… inikah teguran Tuhan, karena saya telah mengambil yang bukan milik saya. Akhirnya dengan rasa malu saya kembali ke penjual telur dan mengembalikan uang kelebihannya. Terima kasih, Tuhan atas teguranMu.

Bila cobaan mendera kita, obat satu-satunya yang sangat afdol adalah datang kepada Tuhan Yesus. Tetaplah terus menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa, mohonkan kekuatan agar iman kita tetap teguh. Ingat! Cobaan yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita. Tuhan tahu kekuatan kita terbatas. Maka bila kita mohonkan kepadaNya maka Allah yang berkuasa memberikan bonus kekuatan. Pastilah sesudah melewati cobaan kita akan mengalami damai sejahtera dari Tuhan.

Bila kita menyadari keterbatasan kita dan mengakui “ aku manusia lemah “ saat itu kita akan mengalami “ kekuatan ekstra “ dari Tuhan. Sehingga menjadikan pencobaan itu memacu kita lebih setia lagi mengikut Dia. Lebih mengasihi Dia lagi… lebih… dan lebih setia.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!