Suami yang Takut Akan Tuhan

0

Posted on : 24-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.”

(Mazmur 128:4)

Seorang laki-laki bercakap-cakap dengan temannya. “Aku baru saja bertengkar dengan istriku.”

“Oh, ya. Lalu bagaimana akhirnya?” tanya temannya.

“Saat selesai, istriku mendatangiku sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.”

“Wah hebat, dong,” ujar temannya kagum, “lalu dia bilang apa?”

“Dia berkata begini: “Hei keluar dari bawah ranjang, Pengecut!”"

Dalam kenyataan, ternyata tidak sedikit para suami yang bersikap seperti humor di atas, lebih takut sama istri dari pada takut akan Tuhan. Penyebabnya bisa banyak faktor: Mungkin karena tidak ingin ribut, tingkat pendidikan yang tidak sepadan atau bisa juga karena latar belakang sosialnya.

Renungan hari ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam tentang kepada siapakah rasa takut dan gentar itu ditujukan! Tema kita sudah jelas, sikap takut dan gentar ditujukan kepada TUHAN! Caranya bagaimana? “..hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya!”(ayat.1)

Artinya segala sesuatu yang dirasa, dipikirkan,diucapkan dan diperbuat tidak menyimpang dari firman Tuhan. Tidak berprasangka buruk terhadap sesamanya, tidak mudah mengumbar emosi, baik melalui kata-kata maupun perbuatan. Jujur dan tekun di dalam mengusahakan rezekinya. Demikianlah dia akan disebut orang yang berbahagia. Hai para pria! Apakah hidup Anda ingin diberkati? Takutlah pada Tuhan.

Keluarga yang Saleh

0

Posted on : 18-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten

“Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5)

Hidup saleh berarti ada ketaatan dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah agamanya. Dalam kamus bahasa Indonesia menurut Purwodarminto, kata “saleh” berarti “hidup suci.” Hidup suci seringkali hanya dikaitkan dengan kegiatan yang menyangkut gerejawi. Misalnya, giat atau rajin datang kebaktian, mengikuti kegiatan gereja, dll. Itu memang benar dan harus. Namun kesalehan juga harus dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Saleh bisa diartikan hidup suci sehingga pikiran, perkataan maupun perbuatan yang selalu memandang Tuhan.

Roma 12:2 mengingatkan kita untuk mempraktikkan hidup suci dengan sukarela, tanpa paksaan, tanpa beban dan dengan senang hati. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ayub:

1. Ayub tekun beribadah

2. Ayub rela dan mau berbuat baik demi orang lain walaupun orang itu tidak tahu. Misalnya dengan mendoakan orang tersebut dalam doa syafaat.

3. Ayub itu takut akan Tuhan. Dengan kata lain segala pikiran dan tindakannya selalu dihubungkan dengan Tuhan. Dia menyadari bahwa semua miliknya adalah milik Tuhan (Ayub 1:21-22). Dalam setiap hal, Ayub selalu berpikir: “Apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan kehendak Tuhan?” Dalam istilah keren, Ayub sedang berimajinasi “What Would Jesus Do?” (WWJD).

4. Ayub mengenal Tuhan secara pribadi (Ayub 42:5)

Dengan belajar melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ayub, maka kita telah mendorong keluarga kita menjadi keluarga yang saleh.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!